Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 34. Pinjam Bentar


__ADS_3

Begitu sampai hotel Adam bertanya pada Rangga.


"Ali jadi tidur dengan kamu kan?"


Rangga menoleh pada Adam yang berjalan di sebelahnya, "Kenapa memang?"


"Kan kamu janji sama dia ngajak tidur bareng."


"Kan kamu bapaknya?"


"Kan katamu bapaknya suruh bikin Adek baru," jawab Adam dengan cengiran yang khas.


"Dasar," balas Rangga kesal.


Adam berjalan mengikuti Rangga menuju ke arah kamar sang adik yang berlawanan arah dengan kamar dirinya, meski masih dalam satu lantai.


"Mangkanya sih kamu buruan nikah, biar ngerasa enaknya malam pertama. Dosa loh lelaki yang sudah berusia dan mampu tapi tidak mau menjalankan sunah nabi," tutur Adam menasehati saat mereka berdua sudah berjalan beriringan lagi, karena Rara tidak ikut.


"Lebih dosa lagi tuh kalau katanya gak cinta tapi di makan juga," bisik Rangga tapi masih dapat di dengar Adam.


Membuat sang kakak menajamkan matanya pada sang adik.


Sialan nih bocah, pikir Adam.


Meski begitu pria tampan bersetatus suami Rara tetep saja gak mau kalah.


"Kan mending sama yang halal dari pada main sama yang haram," balasnya.


Sialan nih Adam, ada aja jawabnya, batin Rangga.


"Makanya sih kamu jangan alasan melulu, biar tahu rasanya enak," tutur Adam.


"Makanya sih pinjemin bentar, biar aku tahu rasanya enak."


"Pinjemin siapa?" Tanya Adam, mengerenyitkan dahinya.


"Pinjemin Rara, semalam aja. Biar aku ngerasain malam pertama bareng dia. Kan katamu enak tadi," tutur Rangga dengan wajah polosnya.


Adam melebarkan matanya, terkejut juga kaget dengan perkataan sang adik.


"Sialan!" Marah suami Rara, "cari sendiri dong, masak pinjem punya orang, emang kamu pikir bini ku itu apaan," papa Ali nge-gas.


"Ya kan elo tahu aku gak ada calon. Makanya pinjemin bini elo, buat gue ngerasain malam pertama."


Rangga menaik-naikan aliasnya, "Gimana?"


"Gila aja Lo ndro. Ogah, gak sudi gue."


"Ayolah, jangan pelit gitu. Itung-itung sebagai ucapan terimakasih kamu sama aku karena udah selalu jagain anak mu ini!"


"Gila Lo ya!" Balas Adam.


Seraya bergidik ngeri dengan kelakuan sang adik.


"Jangan-jangan virus pembinor beneran udah nyerang kamu, makanya kamu jadi oleng gini," Lanjut suami Rara.

__ADS_1


"Kalau pembinornya tampan model aku gini mah pasti jadi rebutan."


"Cih, ngarep."


"Mau coba? Godain Rara boleh?" Tantang Rangga.


Seketika Adam memukul bagian belakang kepala adiknya karena kesal.


"Inget bocah, dia itu kakak ipar mu, jangan lupa daratan kamu. Perempuan di luaran sama masih banyak. Cari yang lain, jangan istri mas mu mau kamu embat juga."


"Kalau aku naksir nya sama dia gimana?" Tanya Rangga sambil cengengesan, membuat Adam tambahan kesal.


"Langkahin dulu mayat ku."


"Ya udah buruan baring biar aku langkahin!"


Perintah adik gak ada akhlak, kemudian tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal pada wajah Adam yang begitu sangat ketara.


"Udah sono masuk kamar!" Adam mendorong tubuh Rangga mendekat ke arah pintu.


Setelah pintu terbuka, Adam menyerah Ali yang ada di gendongannya pada Rangga.


"Bagus kamu berhenti kuliah S3 aja deh! Daripada banyak gelar bikin kamu jadi sakit jiwa gini," tutur Adam.


Rangga tertawa.


"Pinjem istrinya ya mas Adam. Semalam saja kok!" Ulang Rangga pada sang kakaknya, dengan wajah menyebalkan yang khas.


Membuat suami Rara menendang tulang kering adiknya karena kesal, hingga Rangga meringis sakit dan berjalan pincang masuk kamar.


****


Begitu sampai kamar, Rara langsung melepas hijabnya dan duduk di depan meja rias untuk menghapus make up.


Selanjutnya mama Ali itu mengambil piyama dari lemari dan pergi ke kamar mandi untuk ganti baju sekali gosok gigi dan cuci muka.


Rara keluar kamar mandi bersamaan dengan Adam yang masuk ke kamar.


"Ali jadi tidur sama bang Rangga mas?" Tanya Rara, sambil melangkah ke arah meja rias lagi, untuk melakukan rutinitas perawatan tubuh wajah dan bibir sebelum tidur.


"Jadi," jawab Adam sambil duduk di sofa bawah tempat tidur.


"Ini apa?" Tanya Adam pada sang istri sambil menunjuk kantong plastik di sebelahnya.


Seingat Adam itu plastik yang tadi Rara bawa dari alun-alun.


"Oleh-oleh dari Marcell buat kamu?" Tanya Adam menyelidiki.


"Bukan," Rara mengeleng cepat, "lagi pula ngapain pak Marcell ngasih aku begituan, kenal juga gak?"


"Nah terus? Itu apa?"


"Kurang tahu, bu Lina yang kasih ke aku tadi. Katanya sih baju tidur, cuma modelnya gimana aku gak tahu."


Karena tadi pas mau keluar jalan-jalan Rara ketemu Bu Lina di lobby, dan istri bang Faisal itu memberikan bingkisan pada Rara yang katanya bonus buat dia karena sudah ngasih banyak rezeki.

__ADS_1


"Kenapa dia ngasih baju ke kamu?" Selidik Adam.


"Sebagai ucapan terimakasih karena sudah ngasih dia banyak orderan kue."


Adam mengernyit dahinya, meminta penjelasan lebih.


Rara pun menjelaskan pada sang suami jika beberapa waktu lalu di rumah Bude Sari mau ada acara arisan, tapi istri pak RT di kompleks rumah Rara itu bingung pesen kue dimana, karena penjual kue langganan beliau sedang punya bayi dan tidak terima orderan.


Sehingga Rara mengenalkan bude Sari pada bu Lina, karena teman sekantor Rara itu memang punya usaha sampingan buka ketering dan Alhamdulillah bude Sari suka dengan semua kue bikinan Bu Lina, yang berujung tetangga Rara itu merekomendasikan teman-teman kalau mau pesen kue buat acara sama Bu Lina saja.


Dan sebagai ucapan terimakasih kepada Rara yng sudah memberitahu banyak rezeki maka guru PKN itu membelikan dia baju tidur, dan tadi pagi saat ketemu dia berikan pada Rara.


Rara menjelaskan pokok permasalahannya pada Adam sambil tangannya mengusap-usap pipi dan bibirnya guna melakukan perawatan kulit sebelum tidur.


"Oh..." Ujar Adam.


"Ya udah di pakai bajunya," lanjut sang suami, "mas mau lihat!"


"Hm, bentar, nanti aku pakai," ucap Rara.


Setelah selesai dengan semua kegiatan pada kulit dan tubuhnya Rara mengambil kantong plastik putih itu kemudian pergi ke kamar mandi untuk ganti baju lagi.


"Kenapa gantinya di kamar mandi segala, disini saja udah," goda Adam, yang tidak di dengarkan oleh Rara karena perempuan itu keburu masuk kamar mandi dan menutup pintunya.


Rara yang berada di dalam kamar mandi merasa ragu untuk keluar dari sana saat melihat ternyata baju tidur yang rekannya belikan adalah jenis baju tidur kekurangan bahan.


Menatap pantulan dirinya dari kaca wastafel, Rara merasa malu karena sebagian besar lekuk tubuh dia terlihat samar-samar dari balik kain tipis berwarna hitam itu, sangat kontras dengan kulit putihnya.


Setahu Rara baju model minimalis ini ada dress nya, tapi entah kenapa Bu Lina memberi pada Rara cuma bagian dalamnya saja, bagian luarnya tidak ada.


Aku sendiri yang lihat aja malu, apalagi kalau sampai mas Adam ikutan lihat juga, pikir Rara


Istri Adam lebih memilih mengganti baju kurung bahan itu dengan piyama tidur yang semula dia pakai, karena selama ini Rara memang tidak pernah memakai baju yang tidak senonoh, selain lantaran tidak PD alasan lain yang mendasari juga karena dia tidur sekamar dengan Ali.


Adam yang sudah menunggu kedatangan istrinya mendadak kecewa saat melihat Rara keluar dari kamar mandi dengan baju yang sama.


"Lho gak jadi ganti?" Tanya sang suami.


"Gak ah, bajunya kurang layak pakai," jawab Rara.


Adam bangkit dari duduknya, lalu menghampiri sang istri dan menarik baju tidur dari tangan Rara untuk melihat modelnya.


Tersenyum lembut, Adam kembali berkata, "udah ganti sana, mas mau lihat kamu pakai baju ini!" Pinta Adam


"Tapi aku malu," jujur Rara dengan wajah bersemu merah.


"Orang sama mas kok malu, aku juga pernah lihat kamu yang lebih dari sekedar ini kan?"


Rara "...." Diam.


"Sana ganti! Mas tungguin di sini. Mumpung gak ada Ali juga," ujar Adam sambil kembali mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


*****


Ada yang penasaran dengan profil Rara, Adam dan Rangga gak nih???

__ADS_1


__ADS_2