
Sudah setengah tiga sore, tapi Rara belum juga bangun dari tidur siangnya. Membuat Ratna yang semula nonton TV pun beranjak pergi ke kamar anaknya.
"Tok tok tok."
"Ra!"
Tak seberapa lama setah itu, Rara muncul di balik pintu. Dengan wajah khas orang bangun tidur.
"Buruan sholat, keburu waktu Dzuhur habis," Ratna mengingatkan buah hati, yang di jawab anggukan oleh Rara.
Setelah sholat Rara menujunya meja makan untuk makan siang, karena perutnya sangat lapar.
"Ra, kalau mau makan panggil Adam dulu, suami mu juga belum makan dia. Tadi sudah ibu suruh tapi dia gak mau. Katanya bareng kamu saja."
Ratna yang melihat putrinya sudah duduk di kursi pun memberitahu prihal menantunya.
"Sekarang dia ada di belakang rumah Lani, sedang bantuin Furqon bikin kandang ayam," lanjut Ratna.
Dengan rasa enggan Rara pun pergi menuju belakang rumah kakak iparnya, dimana suaminya berada.
Sebenarnya Rara sudah bangun dari tadi, tapi dia enggan untuk ngomong sama Adam maka memilih pura-pura tidak sampai Adam pergi dari kamar.
Rasa dongkolnya pada sang suami membuat prempuan itu pura-pura tidak tahu saat Adam membangunkan dirinya untuk sholat juga makan siang. Dan sekarang saat ibu sudah ikut campur gini tentu Rara tidak bisa lagi bersikap cuek saja, karena ujungnya bakal panjang nanti. Meski dengan cemberut dan hati dongkol tetap saja Rara pergi menghampiri Adam dan mengajaknya makan siang bersama, semua Rara lakukan demi sang ibu.
*
Rara duduk di teras depan. Matanya menatap Adam yang sedang bermain bola dengan Ali, Furqon, Alan dan kedua anak Lani juga beberapa anak tetangga yang lain. Tapi sebenarnya fokus Rara bukan pada mereka karena dia sedang melamunkan tingkah suaminya.
Kemarin-kemarin Adam baik, tapi beberapa hari ini Adam kembali bersikap menyebalkan membuat Rara tidak tahu apa maunya pria itu.
Saking asiknya melamun Rara sampai tidak sadar jika sang ibu sudah duduk di sebelahnya.
"Ra!" Panggil Ratna.
Rara menoleh, menatap Ratna yang sudah duduk di sebelahnya.
"Ibu panggil dari tadi kamu diem aja. Kenapa? Apa ada yang menganggu pikiran mu?"
Rara mengeleng, "gak ada Bu?"
Rara mencoba berbohong karena dia gak mau bercerita pada Ratna prihal masalahnya dengan Adam yang itu akan membuat ibunya sedih.
"Jangan bohong nak. Ibu sudah menjadi orang tua mu hampir tiga puluh tahun. Dan ibu tahu benar kamu seperti apa. Kamu akan sering melamun jika ada masalah."
Ratna memang tahu kebiasaan putri bungsunya yang akan sering bengong dan melamun jika ada masalah yang dia tidak bisa menyelesaikannya.
Terlebih melihat perlakuan Rara kepada Adam membuat Ratna begitu yakin jika sedang ada masalah dalam rumah tangga anaknya. Karena selama ini Rara tidak pernah bersikap kurang ajar sampai dalam tahap tidak perduli pada suami sendiri. Karena Ratna selalu mengajari putrinya untuk selalu nurut dan berbakti pada suami.
"Cerita sama ibu! Siapa tahu ibu bisa bantu."
"Gak ada Bu."
Rara berusaha meyakinkan Ratna bahwa dia baik-baik saja.
Ratna mengangguk, setuju dengan sang putri. Mungkin Rara tidak bisa langsung cerita tapi harus di panci dulu, pikir ibu tiga anak itu.
__ADS_1
"Baik. Jika kamu gak mau bercerita sama ibu gak masalah."
Ratna mengusap bahu Rara lembut, bersikap bijaksana.
"Makasih ibu."
Rara memeluk Ratna erat. Lalu menyandarkan kepalanya pada bahu sang ibu, begitu pun Ratna, dia mengusap kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu tahu Ra, untuk orang tua seperti ibu ini, melihat kamu sehat, Ali sehat, Adam sehat, dan anak-anaknya yang lain sehat, saling bahagia bersama pasangan dan keluarga masing-masing itu sudah lebih dari cukup meskipun tidak harus di kasih banyak uang.
Karena untuk kami para orang tua, kebahagiaan anaknya adalah yang paling penting."
Ratna memberitahu apa yang sebenarnya dia rasakan, supaya anaknya juga tahu.
Rara mendogak menatap wajah sang ibu.
"Karena itu, apa pun yang terjadi ibu harap kamu selalu bahagia. Karena ayah dan ibu menikah kamu ke Adam juga supaya kamu bahagia. Ibu tidak butuh menantu tampan dan kaya tapi yang ibu harapkan adalah laki-laki yang selalu bisa Membuat anak ibu selalu bahagia, terseyum dan tertawa meskipun dia tidak selalu bisa ngasih uang ke orang tua."
"Lalu bagaimana jika pernikahan itu karena amanat orang tua, dan anaknya tidak bahagia dengan pasangan yang di jodohkan? Apa jika dia memilih cerai akan menjadi anak durhaka juga? Karena tidak bisa memenuhi permintaan orang tuanya?"
Rara menanyakan hal yang mengganjal di hatinya selama ini pada sang ibu.
Ratna yang mulai paham dengan pokok masalah yang di hadapi anaknya mengelus rambut Rara berlahan. Dalam hati wanita itu berkata, mungkin kah selama ini pernikahan anaknya dengan Adam tidak bahagia?
Sambil menatap wajah sang putri pun Ratna kembali buka suara.
"Ra, ayah dan ibu menjodohkan kamu sama Adam dengan harapan supaya kamu bahagia dalam berumah tangga, karena ayah tahu dia laki-laki yang baik yang bisa bimbingan kamu dan bahagiakan kamu. Tapi jika nyata kamu tidak bahagia dalam pernikahan itu berpisah adalah cara yang baik. Karena bagaimanapun juga ayah dan ibu ingin kamu bahagia bukan bersedih."
"Lalu, apakah aku akan jadi anak yang durhaka Bu? Jika aku pisah dengan mas Adam?"
"Kira-kira ibu pilihan mana? Pilih aku lanjut sama mas Adam atau pilih pisah?"
Rara menatap wajah sang ibu, meminta jawaban pasti.
"Memang ada apa sebenarnya antara kamu dan suami mu. Beritahu ibu biar ibu bisa kasih keputusan yang tepat buat kamu!" Pinta Ratna.
Rara mengeleng, "ibu jawab dulu pilih yang mana?"
Ratna terseyum.
"Apapun keputusan kamu ibu akan dukung, yang penting kamu bahagia. Sekarang kamu ceritakan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ratna.
Rara pun menceritakan semua masalah yang terjadi dengan Adam dari a hingga z dan balik lagi ke a. Begitu pun dengan Ratna dia mendengarkan cerita anaknya dengan seksama, tanpa memotong Rara saat berbicara.
Dan di situlah Ratna baru tahu jika ternyata rumah tangga Rara tidak seindah dan Semanis yang dia lihat selama ini. Meski sedikit banyak Ratna menyadari kejanggalan sikap Adam setiap kali mereka berkunjung namun Ratna tidak tahu jika salah mereka serumit itu.
"Sekarang aku harus bagaimana Bu? Aku sendiri juga bingung milih pisah atau lanjut. Jujur saja jika aku lanjut aku masih ragu dengan persamaan mas Adam pada ku. Tapi jika aku pisah bagian dengan Ali?"
Kini air mata Rara sudah mengenang, sekali kedip saja pasti langsung tumpah.
Rara merengkuh tubuh putrinya penuh haru.
"Aku benar-benar tidak bisa mengambil keputusan untuk saat ini Bu. Aku bingung," jujur mama Ali.
"Ibu tahu sayang. Ibu ngerti perasaan mu. Tenangkan pikiran mu dulu, jangan mengambil keputusan saat kamu sedang marah atau tergesa-gesa. Karena buru-buru itu sifat setan. Jadi pelan-pelan saja, jika perlu sholat istikharah dulu minta petunjuk sama Allah.
__ADS_1
Yang jelas kamu tidak usah khawatir ibu akan slalu dukung apa pun keputusan yang kamu ambil yang penting itu bisa bikin kamu bahagia."
Rara mengangguk setuju, "lalu aku harus bagaimana, bu? Jika aku mimilih tidak cerai sama mas Adam apa yang harus aku lakukan?"
Ratna menghela nafas. Ibu tiga anak itu menjelaskan jika rumah tangga jarak jauh seperti yang di jalani Rara sekarang ini memang kemungkinan pasangan untuk selingkuh lebih besar ketimbang mereka yang tinggal bersama. Meskipun pada dasarnya semua itu berdasarkan kepribadian orang masing-masing, juga kesetiaan mereka pada pasangannya.
Karena itu untuk menekan Adam supaya tidak selingkuh lagi maka Rara harus tinggal bersama dengan Adam. Rara bisa mengajukan pindah kerja di kota, di sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggal Adam.
"Kalau Ngajuk pindah kan tidak bisa secepatnya Bu. Paling tidak aku harus menunggu setahun dulu baru bisa pindah. Sedangkan selama itu apa ada jaminan mas Adam setia pada ku?" Tanya Rara meragu.
Ratna berfikir, mencari jalan keluar untuk masalah putrinya.
"Oh ya Ra, kamu kan punya mobil kan?" Tanya Ratna tiba-tiba.
"Iya Bu."
"Kamu seriusin belajar mobilnya. Biar bisa kemana-mana bawa mobil sendiri. Jadi kamu bisa datang ke apartemen Adam sesuka hati, kapan pun kamu mau. Dengan begitu kamu akan tahu apa yang di lakukan suami mu di apartemen sana. Apakah dia selingkuh atau tidak. Apakah dia bersama prempuan lain atau tidak. Usahakan jika datang diam-diam tanpa kabar."
"Rara tahu. Maksud ibu Rara sering kasih surprise sama mas Adam dengan cara datang tiba-tiba begitu kan?"
"Iya begitu."
"Dengan begitu kamu akan tahu kegiatan suami mu."
"Kalau kangen langsung datang saja gak usah di tunda ya kan Bu."
"Iya sayang, gak harus di tunda-tunda. Lagu pula kan demi ketemu suami sendiri."
Ratna juga menasehati putrinya untuk menjadi wanita yang kuat dalam memperjuangkan rumah tangganya jika Rara memang akan memberi kesempatan ke dua. Siapa tahu Adam Memang benar-benar berubah dan layak mendapatkan kesempatan kedua.
"Makasih ya Bu atas saran dan nasehatnya."
Rara memeluk sang ibu dengan erat dan penuh sayang.
"Sama-sama sayang," jawab Ratna seraya balas memeluk Rara.
Saat sedang asik berpelukan datang Zaskia menghampiri mereka dan meminta tolong pada Rara untuk momong Husein karena dia mau berkemas untuk kepulangan mereka ke Lampung nanti habis magrib.
"Adam jadi nganterin mas ke agen bis nanti malam kan Ra?" Tanya Alan yang sudah berdiri di belakang Rara yang sedang mangkuk Husein.
"Jadi kayaknya mas. Tapi lebih pastinya tanya sama orangnya langsung saja."
Untuk memastikan apakah Adam beneran akan mengantarkan mereka pulang nanti atau tidak maka Alan langsung bertanya pada Adam yang kebetulan sudah selesai main bola bareng anak dan keponakannya.
"Dam nanti jadi nganterin aku pulang kan?"
"Jadi mas. Soalnya aku juga sudah janji sama anak-anak mau ngajak mereka jalan-jalan keluar."
"Kalau memang mau jalan-jalan sekaligus ajak Lani sama Furqon juga sekalian. Biar makin rame," usul Ratna.
"Boleh bu. Nanti biar Rara yang bilang sama mbak Lani. Iya kan sayang?" Tanya Adam sambil mengusap bahu sang istri.
Rara mengangguk setuju.
*****
__ADS_1