
Maaf up-nya malam. Karena seharian memang sibuk berat.
Happy Reading...
*****
"Aaaaaggghhh....!!!" Teriak Marcell kencang.
Seketika pria itu membuka matanya, dengan nafas yang tersengal-sengal dan detak jantung cepat tak beraturan, peluh membanjiri tubuhnya hingga basah.
Kantuk Marcell langsung hilang, mimpi buruk tentang dirinya yang di dorong seseorang hingga jatuh dari atas gedung membuat dia ketakutan hingga terbangun sempurna.
"Untung hanya mimpi," guman Marcell saat menyadari dirinya masih ada di tempat tidur. Pria itu mengelus dadanya sebagai wujud syukur.
Kemana Monic? Tanya Marcell, saat menyadari kekasihnya tidak ada di tempat. Apa dia sudah bangun? Pikir pria itu.
Marcell melirik jam duduk yang ada di atas nakas. Jam putih itu menunjukkan pukul empat pagi, yang artinya dia sudah tidur hampir tiga jam, karena dia masuk kamar tadi jam satu lebih beberapa menit, tidak terlalu lama setelah Marcell mengantarkan Adam yang mabuk ke kamar tamu. Sedangkan Monica sendiri sudah tidur sebelum jam dua belas malam.
Marcell menurunkan kakinya ke lantai. Rasa haus membuatnya harus pergi ke dapur sekalian mencari Monica yang kemungkinan sedang memasak disana.
Apakah wanita itu sesenang ini diajak pindah ke apartemen, Sehingga pagi-pagi buta begini sudah bangun untuk menyiapkan sarapan bagi mereka berdua, karena selama di hotel Monica memang tak pernah bangun pagi. Karena sarapan mereka sudah di sediakan oleh pihak hotel, mereka tinggal telpon dan minta di antarkan saja.
Mengingat alasan Monica mengajak Marcell tinggal di apartemen karena perempuan itu ingin lebih pintar dalam memasak.
'aku pengen pinter masak loh mas. Bisa masak ini dan itu semuanya. Juga bisa bikin macem-macem kue buat mas. Nanti mas mau nyobain kue dan masakan ku kan? Gak bakal ngeluh mesti gak enak kan?' tanya Monica kala itu.
Marcell mengaguk.
'nanti mas carikan chef buat ngajarin kamu masak,' jawab Marcell yang juga senang dengan keinginan Monica. Jujur Marcell memang lebih senang makan masakan rumah ketimbang beli di luar karena itu dia berharap banget kalau punya istri yang pintar masak dan memanjakan suami. Dia lebih senang perempuan yang duduk diam di rumah menunggu suami pulang kerja dari pada istri yang ikut berkarir mencari nafkah, apalagi sampai mengambilkan tangung jawab seratus dirinya sebagai seorang istri.
Hal itu juga yang mendasari pernikahan pertama dia kandas di tengah jalan. Lantaran sang istri yang lebih suka berkarir dan bekerja di luar rumah ketimbang ngurus anak dan suaminya.
Marcell merasa heran ketika mendapati apartemen dalam posisi gelap, tidak ada tanda-tanda kehidupan karena semua lampu masih seperti saat terakhir kali dia masuk kamar. Mati.
Kemana perempuan itu? Pikir Marcell, sambil berjalan menuju dapur yang ada di sebelah ruang tamu.
Marcell mengambil air minum dari dalam kulkas dan meneguk nya langsung dari botolnya, sambil matanya mengamati sekeliling siapa tahu Monica bersembunyi disana. Bahkan Marcell berjalan ruang kerja dia dan Monica yang berdampingan dengan dapur tapi lagi-lagi ruangan itu kosong.
Setelah cukup meyakinkan diri jika kekasihnya tidak ada di ruangan itu Marcell berniat kembali ke kamar, mengambil HP untuk menelpon Monica, mencari tahu dimana keberadaan sang pacar saat ini, mengingat Monica pergi bersama dia tentu keselamatan perempuan itu adalah tangung jawabnya, tapi langkah Marcell terhenti saat dia mendapati ponsel Monica tergeletak diatas meja ruang tengah begitu saja.
Yang menandakan jika perempuan itu tidak pergi keluar.
"Tapi kemana?" Guman Marcell, "semua tempat sudah ku cari tapi tidak ketemu. Apakah mungkin..."
Tatapan Marcell beralih pada kamar tamu yang berada di sebelah ruang keluarga. Berkali-kali dia menyakinkan diri jika tak mungkin Monica ada di dalam sana, tapi rasa penasaran memaksa Marcell memutar hendle pintu coklat itu.
Dikunci. Mungkin Adam memang sedang tidur, pikirnya berpositif thinking.
Saat Marcell hendak pergi meninggalkan kamar itu mendadak pintunya terbuka, bersama dengan sosok Adam yang setengah telanjang.
Keduanya sama-sama terperanjat kaget.
"Marcell!" Ujar Adam yang terkejut saat mendapati Marcell di depan kamarnya. Wajahnya memucat, dengan mata yang melirik kiri kanan tak tenang membuat Marcell curiga jika Adam menyembunyikan sesuatu.
'Brak'
Marcell mendorong pintu itu hingga terbuka sempurna. Tatapannya langsung jatuh pada sosok tubuh telanjang yang ada diatas kasur.
Marcell menatap tajam mereka secara bergantian yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Apa yang kalian lakukan!" Terikanya marah.
Kaget, shock dan kecewa semua tumplek jadi satu di hatinya, membuat dadanya begitu sesak karena emosi yang tiba-tiba tinggi. Melihat Marcell yang begitu emosi Adam menjadi takut. Dia mencoba menjelaskan tapi lidahnya kelu, sedangkan Monica yang ada di atas kasur sudah menangis.
Sejak kapan air mata wanita itu datang? Pikir Adam saat melihat Monica sudah menangis sesenggukan hingga bahunya terguncang hebat.
Monica langsung memeluk pinggang Marcell erat saat pria itu melepaskan ikatan di tubuhnya dan membenamkan wajahnya dalam perut datar sang pacar.
"Ma...mas...Adam mau memperkosa ku," aku Monica yang membuat mata Adam membulat sempurna karena kaget. Begitu dengan Marcell yang telah kalah kaget dengan Adam.
"Aku takut mas, aku takut banget," suara Monica kembali terdengar.
__ADS_1
Mendengar penuturan Monica yang berusaha memfitnah nya Adam pun jadi berang
Dengan langkah lebar Marcell berjalan menuju Monica melewati Adam yang berdiri disisih pintu begitu saja.
"Jangan sembarang kamu Monic!" Teriak Adam marah, sambil menunjuk Monic, dia tidak terima dengan tuduhan dari perempuan itu.
"Kalian berdua benar-benar brengsek!" Maki Marcell.
'Bhug'
Tanpa aba-aba Marcell melayangkan pukulan ke wajah Adam hingga suami Rara tersungkur di lantai.
"Brengsek kamu Dam! Aku anggap kamu sahabat dan saudara tapi kamu malah selingkuh di belakangnya ku."
Marcell yang masih di lingkup rasa kecewa kembali menendang perut Adam, hingga pria itu meringis sakit.
"Jika kamu menginginkan Monica dan mencintainya aku bisa merelakan dia untuk mu, tapi tidak seperti ini, kalian berhiyanat dan selingkuh di belakang."
"Aku tidak pernah selingkuh dengan Monica. Perempuan mu sendiri yang melemparkan tubuhnya ke atas ranjang ku," Adam menangkis setiap serangan dari Marcell dan mencoba menjelaskan.
"Jika begitu kamu kan bisa menolak, setan! Tidak malah menikmati tubuhnya!"
"Aku sudah menolak tapi dia yang memaksa. Dia yang terus-terusan datang padaku minta ku sentuh!"
"Tidak usah sok, dia seperti itu karena kamu juga mau!"
Adam menyerah tak ada gunanya menjelaskan pada Marcell yang sedang cemburu buta. Akhirnya suami Rara juga balas memukul Marcell yang sedari tadi memukulnya hingga keduanya saling serang sampai wajah mereka bengkak dan biru.
"Pergi kau dari rumah ku! Aku tidak mau melihat wajah brengsek mu itu!" Maki Marcell pada Adam.
Tidak membantah ucapan Marcell, Adam mengambil celana dan kausnya, juga kunci mobil dan handphone lalu pergi meninggalkan kamar terkutuk itu.
Marcell mengiringi kepergian Adam dengan tatapan yang sulit diartikan. Saking sulitnya sampai athor juga gak tahu itu apa.
Sepeninggalan Adam, Monica yang sudah mengenakan lingerie menghampiri Marcell yang masih berdiri tegak di kamar itu.
"Mas, maafkan aku," aku perempuan itu dengan menyentuh dada Marcell. Wajahnya menunjukkan rasa menyesal dan bersalah yang teramat sangat.
Marcell yang tahu kebohongannya itu menghentikan gerakan jemari Monica dan menghempaskan tangan itu begitu saja.
Monica terhenyak kaget, namun cuma sedikit, selanjutnya dia akting lagi, "Mas, aku gak bohong. Tolong percayalah pada ku."
'Plak'
Marcell menampar pipi Monica dengan kencang, hingga itu memerah seketika. Monica memegang pipinya yang terasa panas.
"Kamu menamparku mas?" Tanya tidak percaya.
"Kamu berhak mendapatkan itu!" Tajam Marcell.
"Kenapa?"
"Karena kamu telah berbohong pada ku?"
"Berbohong apa? Aku tidak berbohong pada mu mas. Aku mengatakan yang sejujurnya."
'Plak'
'Plak'
Marcell menampar pipi Monica sebanyak dua kali. Dan itu sukses membuat Monica jadi berang.
"Apa maksud mu? Kenapa kamu menamparku terus mas?" Teriak Monica yang kesakitan. Pipinya sakit hatinya juga lebih sakit.
"Mau sampai kapan kamu bohong pada ku j*lang!"
"Siapa yang bohong padamu Marcell!" Balas Monica.
"Mau mengelak lagi kamu. Kamu pikir aku tidak tahu perbuatan mu di belakang ku, yang mengoda Adam agar tidur dengan mu."
Marcell berkacak pinggang sambil menunjuk wajah Monica.
__ADS_1
"Terus kenapa kalau aku mengoda dia dan tidur dengannya? Kenapa memangnya kalau Aku mencintai Adam, hah? Kenapa?"
'Plak'
Sekalian lagi Marcell menampar Monica.
"Sia-sia aku mengeluarkan banyak uang untuk perempuan murahan seperti kamu!" Tajam Marcell lalu pergi meninggalkan Monica begitu saja.
"Braakk!"
Marcell membanting pintu kamar begitu saja.
"Marcell....!!!" Teriak Monica yang begitu sakit hati pada pacaranya.
Marcell kembali ke kamar dengan perasaan kacau. Dia memang belum bisa mencintai Monica tapi kebersamaan mereka yang lebih dari dua tahun membuat dia sayang pada perempuan itu dan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakannya.
Namun jika ternyata dalam kebersamaan mereka Monica menemukan orang yang dia cintai Marcell rela mengalah dan membiarkan perempuan itu bahagia bersama orang lain. Tapi tidak begini caranya, tidak dengan di khianati. Karena dia khianati itu sangat sakit sekali.
Dan lagi-lagi sekarang dia harus di tusuk dari belakang oleh orang yang dia sayang.
Marsel terduduk dilantai. Meratapi nasib percintaan nya yang tidak pernah beruntung. Mungkin semua itu memang karma untuknya.
Dan dia juga begitu kecewa pada Monica yang berbohong tentang keadaan. Padahal jelas-jelas dia yang mengoda Adam. Jika memang Adam berniat memperkosa tentu tubuh Monica akan penuh kissmark dari Adam bukan malah sebaliknya.
Lamunan Marcell terhenti karena Monica mengedor-gedor pintu kamarnya dari luar. Hingga membuat Marcell lebih marah lagi dengan perempuan itu.
Marcell pergi ke wall on close untuk mengambil koper Monica dan memasukkan semua baju-baju Monica dari lemari kedalam koper.
"Pergi kamu dari apartemen ku dan jangan pernah kembali lagi."
Marcell melemparkan koper itu ke depan Monica begitu saja.
"Mas...!" Teriak Monica tidak terima.
"Kamu gak bisa kayak gini sama aku."
Marcell terseyum sinis.
"Mas...." Suara Monica melembut.
"Pergi atau kau mau mati di tangan ku sekarang juga!" Bentak Marcell.
"Brak!"
Marcell kembali ke kamar dengan membanting pintu, membuat Monica terlonjak kaget karenanya.
****
Monica duduk di lantai menekuk kedua lututnya dengan kedua lengan bertumpu diatasnya. Monica meletakkan kepalanya di atas tangan tatap matanya kosong, tak ada emosi juga semangat hidup disana.
Sudah seminggu dia keluar dari apartemen Marcell dan tinggal di hotel seorang diri, dan selama itu juga Marcell tidak menghubungi ataupun mencarinya. Air mata penyesalan juga sudah habis dan tak tersisa lagi.
Monica menyesal pernah menyukai Adam dan berniat selingkuh dengan pria itu. Nyatanya gara-gara pria itu hubungan dia dan Marcell berakhir di tengah jalan dan dia harus hidup menderita. Tidak punya ATM berjalan lagi dan tidak ada seseorang yang selalu mendampingi dalam suka dan duka. Terlebih tidak ada sosok yang selalu perhatian padanya seperti dulu.
Semua itu karena Adam. Ya gara-gara pria itu. Jika malam itu Adam tidak sok jual mahal dan mau kerjasama pasti semua ini tidak akan terjadi.
Mengingat semua itu membuat kebencian Monica kepada Adam semakin besar.
"Awas saja kamu mas Adam, aku pasti bakal membalas apa yang sudah kamu lakukan pada ku," guman Monica.
"Kamu sudah membuat hubungan ku dengan mas Marcell hancur dan aku juga akan membalas hal yang sama dengan mu."
Monica bangkit dari duduknya setelah mendapat ide bagaimana cara membalas sakit hatinya pada Adam.
Perempuan itu membuka laptop guna berselancar di dunia Maya. Senyum licik tercetak jelas di bibirnya saat mendapati apa yang dia mau.
******
Hayo....apa yang mau Monica lakukan sekarang???
Jangan lupa, kasih hadiah untuk bab ini!!!
__ADS_1