Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 110. Tidak Jodoh


__ADS_3

"Bukan begitu ibu. Saya hanya ingin menagih janji ibu saja!"


"Janji?"


Riyan mengangguk, "Kan dulu ibu berjanji bakal jadi istri saya kalau saya sudah sukses. Karena sekarang ibu sudah menikah makanya ibu jadi selingkuhan saya saja," tutur Riyan tanpa dosa, membuat Rara kembali memukul bahu pria di depannya.


"Coba ibu ingat-ingat? Apa jawaban ibu saat saya minta ibu jadi pacar saya dulu?"


Ingat Rara kembali pada kejadian delapan tahun lalu, saat Riyan memintanya menjadi pacarnya. Kala itu memang Rara memberi jawaban, 'jangan kan menjadi pacar mu! Ibu bahkan rela menjadi istri mu jika kamu memang jodoh ibu. Tapi bukan sekarang? Tunggu kamu dewasa dan sukses dulu! Apakah kamu mampu untuk menjadikan ibu istri kamu atau hanya omong kosong belaka?'


'Karena itu belajar dan gapai cita-cita mu! Ibu akan lihat apakah kamu itu pria sejati atau hanya seorang banci?'


Rara mengatakan itu semata-mata hanya demi memotivasi muridnya agar mau belajar dan tidak membuang-buang waktu percuma.


Selain itu, saat itu posisi Rara juga masih gadis, belum menikah dengan siapa pun juga. Meski setatus dia pacar Rangga, tapi Rara sadar seratus persen jika jodoh, mati, rezeki itu rahasia Allah. Bisa saja jodoh dia memang Riyan, lelaki yang empat tahun lebih muda darinya.


Tapi sayangnya mereka memang tidak jodoh. Seminggu setelah itu Rara di lamar Adam dan seminggu kemudian dia menikah.


Dan Rara tidak menyangka jika ucapannya itu yang menjadi motivasi untuk Riyan untuk sukses seperti sekarang ini.


"Ya ibu ingat dengan semua yang ibu kantakan hari itu, dan ibu minta maaf karena ternyata kita tidak jodoh. Ibu juga minta maaf karena tidak bisa jadi selingkuhan mu," tutur Rara sambil terkikik.


Jujur saja dia tidak mungkin menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang guru dengan berselingkuh dengan muridnya sendiri. Karena guru adalah panutan, di gugu dan di tiru.


Bahkan ada peribahasa yang mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Mereka para guru yang sudah berprilaku baik saja belum tentu bisa menciptakan generasi yang baik, apalagi jika Rara menjadi guru yang tak bermoral? Mau jadi apa muridnya?


"Ibu mengatakan itu semata-mata hanya suapaya kamu rajin belajar dan mengapai cita-cita kamu. Namu jika seandainya sampai sekarang ibu belum menikah, mungkin ibu akan menerima lamaran mu ini?"


"Lalu bagaimana sekarang Bu? Saya sudah dewasa? Dan sekarang sudah sukses? Tapi malah ibu menolak lamaran saya?" Tanya Riyan dengan wajah sedih.


"Alah lebay loh! Gaya mu ngomong gitu. Padahal kemarin juga barusan godain cewek!"


Sambung teman pria di sebelah Riyan sambil memukul lengan sang murid.


Rara langsung tersenyum penuh arti pada Riyan, "siapa Ri? Gak di kenalkan nih sama ibu? Mumpung kita ketemu?"


Wajah Riyan memerah, "gak ada kok Bu."


Rara tertawa, "udah gak usah malu. Kalau memang sudah mampu dan mapan, langsung di halalin saja, jangan di tunda-tunda. Ibu tunggu undangan pestanya sampai rumah ibu."


"Amin, semoga saja secepatnya Bu."


Rara mengaguk setuju.


"Ibu kesini sama siapa?" Tanya putri.


Dari Riyan, pandangan Rara beralih pada Putri di samping kirinya, "suami," jawab Rara.

__ADS_1


"Suami ibu ada di sini juga?" Tanya Riyan serasa suprise.


"Iya, kamu mau kenalan?"


"Boleh, biar saya tahu seperti apa saingan saya itu."


Riyan tertawa di akhir katanya.


"Padahal kamu datang pas ibu menikah dulu masak gak tahu suami ibu siapa."


"Ck, Ck Ck," Rara geleng-geleng kepala.


"Ketemu pas pernikahannya ibu itu saja, habis itu tidak ketemu lagi. Wajar jika saya lupa Bu. Apalagi itu sudah delapan tahun yang lalu, bahkan hampir sembilan tahun," Riyan.


"Siapa sih Bu? Aku penasaran deh sama suami ibu, soalnya emang jarang terlihat!" Sambung Andi yang ikut menoleh ke kiri-kanan guna mencari dimana suami Rara berada.


"Astaga! Segitu penasarannya kalian sama laki ibu!"


Rara terkikik geli melihat tingkah murid-muridnya.


"Siapa sih Bu?"


Rupanya putri begitu penasaran hingga ke tahap tidak sabar untuk tahu.


Rara hanya terkikik geli melihat wajah penasaran semua orang yang ada di meja itu. Pada sedari tadi Adam membawakan mutar-mutar kenalan dengan berbagai tamu yang datang, tapi Bisa-bisanya mereka tidak melihat Rara dia sana.


Rara menatap Adam yang terus menatapnya hingga membuat tatapan mereka bertemu dan senyum Rara langsung hilang di telan alam lantaran mata tajam Adam yang menghujam.


"Tuh suami ibu yang lagi berdiri di atas panggung," ucap Rara.


Refleks semua orang menatap pria yang tengah mengucap salam diatas panggung untuk memberi sambutan, menggantikan pak Dani.


"Pak Adam!"


Kompak semua orang mengucapkan itu.


Rara mengangguk.


"Jadi suami ibu itu pak Adam?" Tanya putri tak percaya.


"Iya," jawab Rara manatap.


"Jadi suami ibu itu CEO kan Petra ini?" Tanya Andi.


Rara mengangguk.


"Pantas aja ibu gak mau sama aku. Orang suami ibu sendiri CEO," kata Riyan sedih, "kalah saing deh aku!"

__ADS_1


"Bukan cuma kalah saing, malah kalau sampai pak Adam tahu kamu godain istrinya bisa-bisa kamu di pecat juga," ucap teman Riyan yang Rara tahu bernama Tedi, karyawan Kan Petra juga.


Semua orang tertawa, membenarkan ucapan Tedi, membuat Riyan semakin kicep saja.


"Tenang saja, suami ibu bukan tipe pria seperti itu. Dia cukup profesional orangnya. Tidak mungkin dia bakal mecat kamu cuma lantaran kamu cuma gara-gara masalah sepele seperti ini."


Rara menenangkan Riyan yang tersudutkan.


Obrolan mereka masih berlanjut sampai tahap pemberian hadiah pada para pemenang lomba kompetensi yang diadakan oleh perusahaan.


Begitu melihat Adam sudah kembali turun dari pentas, Rara pun minta izin untuk kembali kemeja dimana suaminya berada. Meninggalkan meja sang murid yang mengangguk setuju melepaskan dirinya.


"Siapa mereka sayang?" Tanya Adam seraya berbisik di telinga Rara saat mereka sudah duduk berdampingan.


"Murid-murid aku mas. Lama aku gak ketemu mereka, ternyata mereka bekerja di perusahaan mu. Mereka karyawan tetap di sini. Sebagai drafter.


"Oh....," Adam membulatkan mulutnya, "aku pikir mereka siapa kok tampaknya akrab sekali. Aku sampai cemburu melihatnya."


Rara terkikik, "cemburu kok terus."


"Wajar lah, kamu kelihatan begitu cantik malam ini. Aku saja sempat beberapa kali nge-gep pria beberapa pria yang diam-diam mengamati mu. Mengagumi mu tanpa sepengetahuan ku. Mungkin bagusnya kamu pakai cadar saja deh Ra, biar kecantikan kamu hanya mas yang lihat," usul Adam.


"Akan aku pikirkan permintaan mas," jawab Rara.


Adam mengaguk, "pikirkan betul-betul ya, jangan cuma PHP saja?"


Rara mengangguk.


****


Acara demi acara pun berlalu, kini tinggal santai saja. Beberapa orang ada yang tengah ngobrol bersama rekannya, ada juga yang makan dan minum menu yang sudah di sediakan, ada sebagian lagi yang tegah berdansa di iringi live musik yang perusahaan sewa.


Adam meminta istrinya berdansa bersama beberapa orang lain yang salah satunya adalah Niken dan Tony.


"Aku gak bisa loh mas!" Tolak Rara pada sang suami.


"Nanti mas ajarin," ucap Adam.


Adam meminta Rara melingkarkan kedua tangan sang istri di lehernya, dan menumpangkan sedikit ujung high hell Rara di ujung sepatu Adam, supaya Rara tahu kemana arah kaki Adam melangkah. Sedangkan tangan pria itu sendiri memegang kedua pinggul Rara.


Mereka melangkah ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan musik yang ada sambil berbincang-bincang, sesekali juga keduanya saling tersenyum saat ternyata Rara salah langkah atau kaki Adam yang terinjak.


****


Sedangkan di meja, dimana Aisyah dan Rangga berada.


"Kamu tidak ingin mengajak ku berdansa? Seperti mereka?" Tunjuk Aisyah pada beberapa orang di dance floor.

__ADS_1


*****


Apa ya Jawaban Rangga atas permintaan Aisyah?


__ADS_2