
Karena bisa jadi semua itu karena Rara tidak bahagia selama menjadi istri Adam.
Adam yang mendengar pertanyaan Jamil terdiam sejenak. Apakah benar yang di katakan Jamil jika selama tujuh tahun ini Rara tidak bahagia menikah dengan nya? Tanya pria itu dalam hati.
Tapi selama ini Rara tidak pernah komplain tentang sikap cuek Adam padanya. Dia tidak menuntut saat Adam jarang pulang dan juga tidak marah.
Dengan sifat Rara yang menerima begitu bukankah berati Rara bahagia menikah dengannya?
Melihat Adam yang terdiam Jamil pun kembali bertanya.
Meyakini jika selama ini memang Rara bahagia makan Adam pun mengeleng, "Seperti tidak. Rumah tangga ku dengan Rara selama ini baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah yang berarti, hingga membuat mereka ribut."
Adam pun jadi teringat jika setahun lalu ada gosip yang mengatakan jika Rara perselingkuhan dengan Kamal.
Meski seluruh anggota keluarga Adam percaya jika Rara tidak selingkuh tapi mungkin gosip itu sampai pada manatan pacar Rara dan membuat pria itu berargumentasi jika selama ini Rara tidak bahagia saat hidup berumah tangga dengan Adam.
Adam menceraikan hal itu pada Jamil, meminta saran dan pendapat sahabatnya.
"Bisa jadi memang begitu. Dia dengar gosip itu dan berfikir jika Rara tidak bahagia sama kamu sampai dia nekat selingkuh di belakang mu."
"Lalu aku harus bagaimana? Kenapa Rara tidak pernah cerita masalah ini pada ku?"
Adam bercerita jika sekarang hatinya terasa hancur setelah membaca surat itu. Dia merasa di khianati oleh Rara.
"Kamu tahu Mil, melihat pacar selingkuh itu tidak sesakit saat mengetahui istri selingkuhan. Karena jika pacar selingkuh kita bisa bilang putus dan mencari yang lain lagi, tapi jika istri yang selingkuh itu rasanya sakit sekali. Karena dia adalah aku. Rasanya tubuh ini di paksa dibelah menjadi dua dan itu sangat sakit sekali."
"Aku memang belum menikah, tapi aku tahu apa yang kamu rasakan. Kamu yang sabar."
Jamil menepuk bahu Adam yang duduk di sebelah. Pengusaha muda itu prihatin melihat nasip Adam. Selama mereka kenal dan berteman Jamil belum pernah melihat Adam seputus asa sekarang.
"Apa kamu tahu siapa kira-kira mantan Rara dulu?" Tanya Adam dengan wajah serius.
"Tentu saja aku tidak tahu," jawab Jamil sambil tersenyum.
"Kamu ini aneh. Aku datang ke sini saja kalian sudah menikah bagaimana aku bisa tahu siapa pacar Rara."
Jamil memang belum lama tinggal di kota ini. Dia baru pulang dari negeri Jiran Malaysia lima tahun yang lalu. Dulu saat teman-temannya mendaftar kuliah atau bekerja, Jamil memilih mendaftar menjadi TKI di negri seberang.
Keluarganya yang miskin membuat dia tidak dapat melanjutkan pendidikannya meskipun dia ingin, maka untuk memperbaiki perekonomian keluarga Jamil memilih mengadu nasip di negara tetangga.
Disana dia bekerja sebagai karyawan di sebuah peternakan unggas. Bertahan-tahun bekerja di peternakan membuat Jamil tahu bagaimana cara merawat dan memelihara ternak.
Saat uang yang dia kumpulan dari sebagian gajinya sudah cukup untuk modal usaha, Jamil kembali ke Indonesia. Dan di kota kecil kelahiran ini lah dia mempraktekkan ilmu yang selama ini dia dapatkan dari Malaysia. Jamil membuka usaha peternakan.
Lima tahun berbisnis, dan setelah jatuh bangun berkali-kali usaha yang semula kecil-kecil kini sudah memiliki banyak cabang dimana-mana dan omset yang di peroleh juga sudah ratusan juta pertahun.
__ADS_1
Dari si miskin yang tidak punya apa-apa, sekarang Jamil menjadi jutawan. Meski begitu pria berusia sama dengan Adam itu belum juga menikah, karena saking sibuknya ngurusin bisnis dia sampai lupa sama urusan asmara, jadi lebih baik nunggu orang tuanya datang membawa jodoh idaman untuk nya ketimbang dia milih sendiri. Yang berujung salah pilih nantinya.
"Aku mana tahu jika Rara pun pacar, karena saat aku pergi dulu Rara masih kecil, masih SMP dan saat aku kembali dia sudah punya anak."
Kemudian Jamil juga menjelaskan jika mengingat tabiat pak Heru ayah Rara, yang merupakan tipe orang tua kolot dan ketinggialan jaman ketika berfikir tentang pergaulan anak gadisnya mustahil jika Rara sampai bisa pacaran. Karena jaman Lani gadis saja dulu dia tidak pernah di izinkan keluar rumah sendirian. Lani selalu di kawal oleh Alan atau pak Heru setiap keluar rumah, meski itu untuk kelompok di rumah teman.
Malah pak Heru lebih senang jika kerja kelompoknya di rumah mereka saja ketimbang di rumah teman-teman Lani. Tentu saja, suapaya sang ayah tidak susah payah mengawasi anaknya.
Melihat perlakuan Heru pada Lani membuat Jamil yang dulu sempat naksir kakaknya Rara itu tidak berani mengungkapkan isi hatinya, takut ketahuan pak Heru dan langsung di suruh nikahin Lani saat itu juga. Jadi untuk bertemu dan ngobrol dengan Lani, Jamil selalu modusin pak Heru dulu dengan berbagai alasan. Bisa alasan mau ngajak pergi Alan, mau main poli bareng dan segala macamnya. Padahal niatnya cuma pengen ketemu dan menegur Lani yang saat itu jadi kembang desa karena kecantikan dan sopan santun juga lemah lembut tutur katanya.
Pokoknya jaman Jamil dulu Lani adalah sang primadona desanya. Gadis yang paling di minati oleh seluruh penduduk kampung wetan ini.
Dan pria yang beruntung mempersunting bunga desa itu adalah Furqon. Anak pak camat dari desa sebelah, yang merupakan teman SMA juga kuliah Lani.
Meski begitu, karena tidak tega melihat wajah Adam yang kusut dan putus asa makan Jamil memberi semangat dengan bertanya pria mantan Rara pada beberapa karyawannya yang merupakan penduduk asli desa kampung wetan ini, siapa tahu diantara mereka ada yang tahu atau mendengarkan gosip tentang Rara pada jaman itu.
"Olah mas, itu jaman sudah lama sekali, tujuh tahun yang lalu. Yang dua tahun lalu saja saya tidak ingat apa lagi yang sudah tujuh tahun," jawab Latip saat Jamil bertanya tentang siapa pacar Rara jaman dahulu.
"Ya siapa tahu kamu ingat gitu."
"Mas Jamal sama mas Adam itu aneh-aneh saja. Memang sinetron, orang masih bisa inget kejadian tujuh sampai delapan tahun yang lalu."
Latip menertawakan kekonyolan kedua bosnya yang menurut dia aneh malam ini.
"Memang kenapa sih mas? Kok tanya siapa mantan mbak Rara segala? Bukanya mas itu suaminya? Kan harusnya mas yang lebih tahu ketimbang kita yang hanya tetangga satu desa."
"Penasaran saja. Katanya dia pria hebat," Jawab Adam sekenanya.
"Ya kalau gitu gampang mas. mas Adam tinggal tanya saja sama mbak Rara langsung. Siapa manatan dia dan orang mana," ujar lelaki yang usianya hampir sama dengan Rara itu.
"Iya lah nanti biar aku tanya langsung sama istri ku," putus Adam mengakhiri percakapan mereka.
Sebelum Adam dan Kamal meninggalkan gudang penyimpanan pakan ayam, Arip yang sedang memindahkan karung-karung berisi pakan dari mobil truk ke kandang pun menghentikan kegiatannya, pria itu kembali buka suara.
"Inget secara langsung tentu tidak mas karena itu kejadian sudah lama banget. Tapi sepertinya tidak pernah ada gosip kalau Rara itu punya pacar deh mas. Gak ada kabar dia pacaran tiba-tiba datang kabar dia menikah. Saya saja sempet kaget karena tahu-tahu dia mau nikah saja."
"Bener yang di katakan Arip mas. Gak pernah ada kabar kalau Rara itu punya pacar. Lagipula aku juga tidak pernah lihat dia pergi keluar dengan pria lain selain Alan. Gak tahu kalau di sekolahnya sana, karena Rara kan kuliah di kota."
Latip ikut membenarkan perkataan Arip tentang Rara. Anak guru mereka saat SMP dulu.
Kekecewaan nampak jelas di wajah suami Rara, apa yang dia cari tidak berhasil.
"Sudah gak usah galau begitu. Kalau masih penasaran kamu bisa minta bantuan detektif swasta buat menyelidikinya, atau kalau tidak kamu tanya langsung saja pada Rara seperti saran Arip dan Latip tadi."
Jamil menepuk bahu Adam, memberi saran pada lelaki yang wajah kusut itu.
__ADS_1
"Rara pasti tidak bakal mau ngaku."
"Ya coba saja. Coba di tanya dan omongin baik-baik, kenapa pria itu sampai mengirim surat padanya? Apakah selama menikah dengan kamu Rara tidak bahagia atau bagiamana kok sampai lelaki itu bicara begitu pada istri? Maksud dia apa Ngomong begitu?
Jika ternyata selama ini kamu ada salah ya kamu yang minta maaf sama Rara, di perbaiki Diaman salahnya begitu juga sebaliknya. Buat saja istri mu jatuh cinta pada mu, jika dia cinta nyaman dan bahagia kan nanti dia sendiri yang bakal menyingkirkan semua lelaki yang dekat dengannya karena dia takut buat kehilangan kamu."
Jamil memberi nasehat layaknya pakar cinta sesungguhnya, padahal dia sendiri saja takut jatuh cinta. Memang benar-benar aneh.
****
Tengah malam Adam baru pulang dari kandungan ayam. Saat sampai rumah posisi posisi rumah sudah sepi. Sebagai lampu sudah dimatikan, mungkin Ibu, Rara dan Ali sudah terlelap tidur.
Adam masuk lewat pintu belakang, sekali memasukkan motor ke dapur, karena pintu belakang kuncinya di gabung dengan kunci kontak motor milik Ratna.
Adam masuk ke dalam kamar. Mendapati Rara dan Ali yang sudah tidur dengan cara berpelukan.
Adam mengamati wajah kedua orang yang dia sayang satu persatu, keduanya tampak imut dan lucu saat tertidur pulas begitu.
Adam menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Rara, di pandangi wajah putih dan cantik sang istri yang malam itu terlihat tenang. Bibir pink yang penuh itu sedikit terbuka menandakan jika pemiliknya benar-benar sudah terlelap.
"Maafin mas Ra, mas selama ini terlalu egois hingga tidak pernah memikirkan kebahagiaan kamu."
Sesal Adam seraya mengelus wajah sang istri.
"Mungkin karena mas terlalu cuek dan gak perhatian sehingga kamu berencana untuk selingkuh di belakang ku. Mas janji hal itu gak akan terjadi. Gak akan mas biarkan kamu pergi ninggalin aku Ra. Aku akan melakukan apapun untuk kamu tetap tinggal di sisih ku."
Gerakan Adam mengelus-elus wajah Rara membuat tidur prempuan itu terganggu, sehingga mama Ali terbangun.
"Mas, kamu sudah pulang?"
Tanya Rara saat melihat Adam duduk di sebelahnya.
"Iya."
"Mas udah makan belum?"
"Sudah. Tadi mas sudah makan dengan Jamil. Kamu tidurlah, aku tahu kamu lelah," perintah Adam.
"Mas juga tidur!"
"Iya. Mas gosok gigi dulu, nanti kita tidur sama-sama."
Pamit Adam, kemudian beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.
Sebenarnya Rara ingin bertanya Adam dari mana saja, tapi Rara takut jika suaminya marah lagi sehingga prempuan itu mengurungkan niatnya untuk bertanya, apalagi di lihatnya Adam juga melupakan kejadian tadi pagi, sehingga Rara pun lebih memilih mengikuti mau Adam juga untuk menganggap pertengkaran mereka tadi pagi tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Jika memang perlu di bahas, ya di bahas besok siang saja, Sekarang sudah malam, jadi lebih baik mereka istirahat saja dulu.
****