Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 88. Mencari Informasi


__ADS_3

Adam memacu motornya pergi menuju ke kandang ayam milik Jamil, menemui pria itu disana.


Jamil adalah teman Adam saat SMA. Dulu Jamil tinggal bersama kakek neneknya yang rumahnya dekat dengan sekolah Adam sehingga Jamil juga sekolah disana.


Hubungan mereka memang tidak seakrab sekarang, saat Adam sudah menjadi suami Rara dan pria tampan itu tahu jika Jamil adalah tentang depan rumah sang istri.


Dulu hubungan Adam dan Jamil hanya sebatas saling kenal saja, tidak terlalu akrab karena beda teman nongkrong meski keduanya tidak bermusuhan.


Mereka berdua pernah beberapa kali terlibat dalam belajar kelompok. Karena Jamil masuk sekolah Adam lewat jaringan beasiswa berprestasi, tentu nilai rapot Jamil harus selalu bagus jika ingin beasiswa itu berlanjut dan disanalah Jamil di sarankan oleh guru untuk belajar kelompok dengan Adam suapaya nilainya tidak turun. Karena Adam memang murid yang cerdas kala itu. Dia selalu mendapat rangking satu terus.


Beruntung Adam bukan sosok siswa yang sombong. Meski dia pintar tapi suami Rara tidak pernah menghina atau merendahkan teman-teman yang meminta bantuan dia dalam belajar.


Kekurangan Adam hanya satu, pendiam, pria itu ngomong seperlunya saja. Tidak suka membual ataupun becanda seperti teman-teman yang lain.


"Ada apa? Kenapa wajah mu kusut begitu?"


Tanya Jamil yang menyambut kedatangan Adam di rumah kandungan ayamnya sana.


Jamil memang punya usaha peternakan, dan yang terbesar adalah ayam potong. Selidik punya selidik usaha ayam potongnya sudah mempunyai lebih dari sepuluh cabang yang tersebar di seluruh penjuru kota. Bahkan bisa di bilang kebutuhan ayam orang satu kabupaten itu terpenuhi oleh peternakan milik Jamil.


Dan atas usaha kerjasama dia dengan Adam, peternakan Jamil juga menjadi salah satu pemasok daging ayam dia gerai restoran cepat saji dengan menu utama ayam goreng yang berada di kota tempat tinggal mereka ini.


Jamil mempersilahkan teman sekaligus sahabatnya duduk di ruang tamu, tempat dimana biasanya Jamil menerima tamu-tamu pentingnya dalam berbicara urusan bisnis.


"Kamu tahu siapa manta Rara gak?"


Tanya Adam terus terang pada Jamil, mengingat rumah Jamil tepat di depan rumah Rara, pria itu pun berfikir jika sahabat tentu tahu siapa lelaki yang berhubungan dengan istrinya di masa lalu.


Jamil yang sedang membuka kulkas, mengambil minuman dingin untuk Adam seketika menghentikan kegiatannya saat mendapati pertanyaan yang menurut dia sangat aneh.


"Memang kenapa?"


Tanya Jamil sambil menoleh pada Adam yang duduk di sofa.

__ADS_1


"Pria itu masih menghararapkan istri ku hingga sekarang."


"Bagaimana bisa? Bukankah pernikahan kalian sudah lama? Apa iya mungkin ada lelaki bodoh yang mengharapkan istri orang lain saat prempuan itu sendiri bahagia dengan perjodohannya?"


"Itu lah. Aku juga mulanya tidak percaya saat Rara bilang jika manatannya belum menikah dan masih mengharapkan dirinya, tapi barusan aku mendapatkan suratnya yang di kirim kan untuk istri ku.


Dia mengatakan jika memang Rara tidak bahagia dengan ku, Rara bisa pergi bersama dia, dan itu di kirimkan satu tahun yang lalu."


Adam pun menceritakan kejadian yang terjadi antara dia dan Rara barusan, yang membuat mereka berdua berujung ribut.


"Bukan itu saja, seperti keluarga istriku juga tahu semua tentang itu semua dan mendukung hubungan mereka berdua."


Jamil menaikkan alisnya saat mendengar pengakuan Adam.


"Apa kau yakin?"


Adam mengangguk mantap.


Suami Rara pun bercerita bagaimana reaksi keluarga Rara saat dia bertanya prihal pria dari masa lalu Rara. Mereka semua tidak mau jujur. Seolah-olah mereka semua menutup-nutupi kejadian itu suapaya Adam tidak tahu.


Flashback on


Malam itu Alan mengajak adik iparnya untuk pergi ke kedai kopi yang ada di dekat persawahan. Sekedar menikmati kopi sambil ngobrol-ngobrol ringan dengan beberapa pengunjung yang sebagian besar bapak-bapak. Petani di daerah situ juga.


Namun permintaan itu di tolak Adam. Dari pada nongkrong di kedai kopi suami Rara lebih menyarankan mereka nongkrong di cafe yang banyak buka di sepanjang jalan raya menuju desa mereka.


Disana mereka bisa nobar bareng pengunjung yang lain karena malam ini memang ada pertandingan persahabatan antar propinsi di negeri tercinta.


Alan pun setuju dengan usul adik iparnya sehingga kedua bersaudara itu pergi ke salah satu cafe yang malam ini tampak rame.


Adam memilih cafe yang posisinya agak naik ke bukit, karena view di sana kelihatan lebih indah di banding cafe yang berada di dataran. Mereka bisa nobar lewat layar proyektor yang di sediakan di depan mereka untuk menayangkan pertandingan bola, selain itu mereka juga bisa melihat indahnya lampu warna-warni yang ada di lembah.


Sambil menunggu kopi dan beberapa cemilan untuk menemani mereka nongkrong, mereka pun mulai bercerita satu sama lain. Di mulai aktivitas masing-masing keduanya sampai akhirnya Adam bertanya tentang kedipan Rara sebelum menjadi istrinya.

__ADS_1


Menurut Adam wajar saja jika dia ingin tahu bagaimana Rara pada jaman dahulu. Saat istrinya bayi, kecil, remaja dan dewasa. Mengingat pernikahan mereka karena perjodohan dan Adam juga tidak kenal dengan Rara sebelumnya. Sekarang dia ingin tahu lebih banyak tentang prempuan itu.


Namun sepertinya niat baik Adam tidak di sambut baik oleh Alan. Saat Adam bertanya apakah Rara pernah pacaran atau punya pacar sebelum nikah.


"Rara tidak pernah pacaran sebelumnya. Dia tidak pernah dekat dengan pria manapun juga selain sama kamu."


"Tapi Rara bilang dia pernah dekat dengan seorang lelaki?"


"Bukankah wajar jika dia dekat dengan seseorang. Berarti dia normal jika Rara bisa menyukai lawan jenis.


Sudahlah tidak usah bertanya tentang siapa mantan Rara, karena kamu gak akan sanggup menerimanya jika sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena kamu tidak akan bisa menang jika bersaing dengan dia.


Lebih baik kamu tidak usah tahu saja. Jika kamu sampai tahu kebenarannya, aku takut kamu akan merasa bersalah dan menyesal karena telah menikah dengan adik ku."


Kata-kata Alan membuat Adam sangat kesal. Suami Rara jadi bertanya-tanya sehebat apa kah pria yang menjadi mantan istrinya itu sampai Alan bilang jika dirinya tidak akan mampu bersaing.


Bukan sombong ataupun jumawa karena dasarnya Adam sendiri adalah sosok pria yang hebat.


Apakah pria itu anak presiden, anak bupati ataupun pak ustadz yang tingkat kealimannya tidak di ragukan lagi. Tapi jika pak ustadz tidak mungkin juga dia mau pacaranya bukan? Lalu siapa pria itu.


Begitu banyak pertanyaan yang hinggap di otak Adam dan tak satupun Jawab yang dia temukan. Meski begitu, Alan tampak tak perduli dengan rasa penasaran Adam. Kakak ipar itu memiliki bersikap pura-pura tidak tahu dan tidak terjadi apa-apa.


Flashback off.


Bukan hanya Alan, tapi seluruh anggota keluarga Rara, baik itu Lani, Furqon dan ibu juga seperti sekongkol untuk menyembunyikan Kisah masa lalu anak gadis mereka dari Adam.


Karena saat dia bertanya Jawab mereka selalu sama tidak tahu dan tidak pernah pacaran. Seperti sebuah lobang yang sengaja mereka tutupin dari dirinya.


Tidak tahukah jika lelaki itu hingga sekarang masih menjadi duri dalam rumah tangga mereka berdua.


Adam yang tidak mendapatkan apa-apa dalam penyelidikannya menjadi sangat kesal di tambah sikap Rara yang seolah tidak perduli dengan dirinya membuat emosi Adam selalu naik.


Pertama saat dia kesal dengan Alan, Rara malah dengan santainya minta izin untuk pergi dengan Zaskia dan meminta ibu menjaga anak-anak, prempuan itu seperti tidak mengerti apa kemauan suami. Dan sekarang saat semua orang mengatakan Rara tidak pernah pacaran Adam harus menemukan surat cinta dari pria itu untuk istrinya yang isinya mengajak Rara pergi kabur.

__ADS_1


Adam memijat pelipisnya, pusing rasanya memikirkan rumah tangga yang kian hari bukan makin tenang tapi makin gundah saja. Sedangkan Jamil menatap prihatin pada Adam.


"Apa selama ini rumah tangga kalian ada masalah? Apa selama ini Rara tidak bahagia jadi istri kamu?" tanya Jamil.


__ADS_2