
Baca Sambil mendengarkan lagu
Mendua dari Astrid.
Happy reading.
*****
"Brak!"
Adam membuka pintu secara kasar.
"Rara!" Teriaknya.
Rara yang duduk di atas kasur sambil memeluk lututnya mengangkat wajah menatap Adam yang ada di depan pintu.
Tatapan mereka beradu, Adam terkejut mendapati penampilan sang istri yang jauh dari kata cantik. Mata merah besar dengan sisa air mata mengenang di pelupuknya, hidung merah berair yang sesekali di tarik ingusnya dan rambut hitam yang bergelombang di biarkan terurai begitu saja, mirip orang gila baru.
Melihat penampilan Rara yang sangat memperihatinkan membuat emosi Adam menguap seketika berganti hanya rasa iba. Namun berbeda dengan Rara yang menatap kedatangan Adam dengan penuh kebencian. Bola api di matanya siap dia lemparkan ke arah Adam kapan saja.
"Ra!"
Panggil Adam sekali lagi dengan suara lebih lembut dari yang pertama. Adam berjalan menghampiri sang istri, begitu pun dengan Rara yang langsung turun dari ranjang, berjalan menghampiri Adam.
Mereka melangkah bersama, berjalan saling mendekati satu sama lain. Hingga jarak keduanya hanya tiga puluh sentimeter.
"PLAK!"
Rara menpar pipi Adam secara tiba-tiba. Hingga tangannya terasa kebas saking kencangnya tampran itu. Membuat mata Adam melebar, tidak percaya. Refleks dia mengusap pipinya yang terasa panas.
"Laki-laki br*ngsek!" Maki Rara.
Di dorongnya dada Adam dengan kuat, hingga pria itu mundur beberapa langkah sebagai penyeimbang tubuhnya agar tidak jatuh.
"Apa salahku pada mu hingga kamu perlakuan aku seperti ini mas? Apa salah ku?
Apa salah ku hingga kamu sakiti aku seperti ini? Kamu permainan perasaan ku? Kamu dua kan cinta ku dengan prempuan lain dan kamu hianati pernikahan kita? Kenapa mas? Kenapa?" Tanya Rara sambil terus memukuli dada pria itu.
"Jika kamu ingin punya anak, aku akan memberimu anak sebayak yang kamu mau.
Kalau kamu gak puas dengan teknik permainan ku di ranjang aku bisa mengubah teknik baru seperti yang kamu mau.
Saat kamu pengen aku jadi anjing, aku juga jadi anjing dan menggogong kepadamu? Saat kamu pengen aku jadi kucing, aku juga akan jadi kucing dan mengeong kepada mu. Aku akan melakukan apa saja yang kamu mau tapi kenapa kamu malah selingkuh di belakang ku? Memang apa kurangnya aku di mata mu sampai kamu tega menghianati aku seperti ini mas? Apa kurangnya aku?
Jika kamu tak suka pada ku tinggal kamu bilang apa yang tidak kamu suka dan aku bisa merubahnya. Tidak dengan kamu selingkuh seperti ini, Adam." Teriak Rara menyuarakan semua rasa sedihnya dan terlukanya dia selama ini.
__ADS_1
Selama ini dia hidup sesuai yang Adam mau tanpa protes dan tanpa menuntut.
Bahkan saat Adam bilang kalau tidak bisa pulang setiap Minggu karena capek di jalan Rara juga bisa mengerti. Saat Adam bilang tidak bisa pulang setiap bulan hingga akhirnya pulang ke rumah setelah empat bulan atau tiga bulan sekali juga Rara bisa sabar menunggu. Ketika Adam bilang tidak sempat menelpon karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan juga Rara bisa memahami.
Bahkan saat Adam melupakan hari ulang tahun dia, tanggal ulang tahun Ali atau Anniversary pernikahannya mereka pun Rara bisa memaklumi. Rara tidak marah, tidak protes atau pun menekan.
Jika Adam selingkuhan karena hubungan mereka yang LDR juga Rara pernah menawari apakah dirinya pindah kerja biar selalu dekat dengan Adam, biar mereka bisa tinggal bersama. Tapi kata Adam tidak usah, Rara tinggal di rumah ini saja biar dekat dengan mama Eka. Karena mama dan papa sekarang sudah tua jadi sekalian bantu ngawasin orang tuanya, lagi pula kasihan jika mama dan papa harus pisah dengan Ali, cuci satu-satunya.
Saat Rara menawarkan diri untuk berhenti dari pekerjaannya demi bisa menemani Adam juga suaminya melarang. Katanya sayang jabatan Rara sebagai PNS.
Lalu kenapa, setelah semua yang dia lakukan, setelah semua pengertian yang dia berikan, dia harus di hianati seperti ini? Kenapa Adam malah selingkuh di belakangnya.
Apakah karena dia terlalu baik sehingga Adam memanfaatkannya, apakah karena dia terlalu menerima sehingga Adam menyepelekan dirinya. Karena dia tidak pernah menuntut makanya Adam tidak perduli padanya.
Sekarang Rara hanya dapat menangis. Menangisi nasip nya yang tidak beruntung mendapatkan suami Adam.
Secara kasat mata dan pandangan orang Rara memang beruntung mempunyai suami Adam yang tampan, kaya, sopan dan beriman. Tapi hanya itu, selebihnya tidak ada lagi. Bahkan jika boleh memilih Rara milih punya suami yang sederhana saja asal setia dan selalu ada untuknya.
Adam yang sedari tadi mendengarkan semua unek-uneknya Rara pun tidak bisa berkata-kata karena memang itu kenyataan yang ada.
"Ra, dengarkan mas!" Adam memegang kedua tangan Rara yang memukuli dadanya.
"Mas gak selingkuh di belakang kamu. Mas gak menghianati pernikahan kita," aku Adam jujur.
"Bohong aku gak percaya. Aku gak percaya pada mu, mas!" Rara melepaskan tangannya dari genggaman Adam.
"Tatap mata ku, Ra!" Pinta Adam saat Rara menunduk, membuat Rara mendongak, menatap mata Adam dan tatapan mereka saling bertemu.
"Mas gak bohong sama kamu. Kamu itu istri ku, kenapa kamu lebih percaya pada orang lain ketimbang aku suami mu, Hem?"
"Suami?" Rara mengulang kata itu, kemudian terseyum mengejek. Rara melepaskan tangan Adam darinya lalu mendorong tubuh pria itu agar menjauh dari tubuhnya.
"Ya, benar. Mas Adam adalah suamiku. Suami yang tidak perduli pada istrinya, suami yang membiarkan aku hidup sendiri bertahun-tahun layaknya seorang janda. Suami yang selalu membiarkan aku kesepian setiap malam.
Suami yang tidak pernah ada saat aku membutuhkan mu, suami yang tidak pernah ada sat aku ada masalah. Suami yang tidak pernah perduli pada ku dan anak ku. Kamu menang suami ku mas, suamiku di atas kertas. Suami ku di KK dan buku nikah," sinis Rara.
"Setelah semua yang kamu lakukan pada ku, setelah kamu menyakiti ku seperti ini, kamu mengaku menjadi suamiku. Lalu kemana saja kamu selama ini mas? Kemana?" Ulang Rara.
"Kenapa sih kamu susah banget di omongin Ra? Kenapa kamu tidak percaya pada ku? Kenapa?" Tanya Adam dengan nada tinggi sambil tangannya menguncang bahu Rara.
Dia yang mencoba bersabar dengan sikap Rara akhirnya tidak tahan juga dengan ke egois sang istri. Meski semua yang Rara katakan tentang dia itu benar. Tapi paling tidak Adam tetap bertanggung jawab terhadap dia dan Ali. Lalu kenapa istrinya seolah tidak mau tahu tentang itu semua.
"Aku sudah bilang berkali-kali pada mu jika aku tidak selingkuh tapi kamu tidak percaya pada ku. Memang siapa yang bilang pada mu jika aku punya prempuan lain dia luaran sana? Siapa?" Adam menatap Rara dengan tatapan mengimindasi. Tapi Rara yang sudah kelewat kesal dengan Adam tidak takut itu semua.
"Memang siapa lagi yang bilang pada ku kalau bukan Gundik mu itu yang bilang. Dia ngomong kalau sekarang dia sedang hamil, mengandung anak mu. Kenapa? Kamu senang harus kah aku mengucapkan selamat pada mu karena sebentar lagi kamu akan jadi ayah dan Ali akan punya saudara," Tantan rata yang sudah habis rasa sabarnya mengahadapi Adam yang tidak juga mau ngaku.
__ADS_1
"Gundik ku siapa? Ak..."
Rara memotong ucapan Adam yang belum selesai begitu saja, "Siapa lagi dia kalau bukan pacar mu itu. Memang berapa banyak wanita yang menemani mu setiap malam di apartemen mu itu sehingga kami tidak tahu siap? Memang berapa banyak perempuan yang merayap di tubuh mu setiap malam sampai kamu tidak tahu. Atau jangan-jangan setiap malam kamu di temani oleh wanita-wanita yang berbeda. Sungguh menjijikkan sekali kamu mas."
"Cukup Ra!" Bentak Adam. Sambil mendorong tubuh Rara hingga terduduk di ranjang.
"Kata-kata mu sudah kelewatan. Bisa-bisanya kamu menuduh ku seperti itu," tunjuk Adam pada sang istri.
Rara mengepalkan tangannya menahan geram, "Kenapa tidak, nyatanya kamu menghianati cintaku. Nyatanya kamu mendua di belakang ku. Tentu wajar jika aku berfikir seperti itu mas," sarkas Rara.
"Tapi itu semua tidak benar dan aku tidak terima atas tuduhan mu yang tidak mendasar dan memiliki bukti nyata."
"Tidak mendasar katamu? Bahkan Monica sendiri mengakui hubungan kalian dan dia bilang sedang memandang anak mu, tapi kamu bilang tidak mendasar. Apa kamu tidak mau mengakui anak mu mas?"
Seketika Adam mendapat titik cerah akar masalah yang menimpanya sekarang. Ini kah surprise yang Monica bilang tadi. Pertengkaran dia dan Rara. Kenapa dia tidak menyadari itu semua dan kenapa Rara termakan jebakan wanita gila itu.
Adam mengusap wajahnya kasar karena dia sudah terjebak dalam permainan Monica.
"Ra dengarkan mas. Aku dan Monica itu tidak ada hubungan apa-apa. Kita berdua hanya rekan kerja, tidak lebih."
Adam menyentuh bahu Rara lagi. Kali ini lebih lembut dan hati-hati, supaya prempuan di depannya itu tidak tersinggung.
"Kami memang pernah beberapa kali makan siang dan makan malam bersama. Pernah juga aku menemani dia belanja tapi cuma hanya itu tidak ada yang lain," Adam mencoba menjelaskan dan memberi pengertian secara pelan-pelan supaya Rara paham.
"Aku gak percaya. Mana ada istilah rekan kerja kok sampai tidur bersama segala."
"Astaga Rara, sumpah demi Allah. Aku gak pernah tidur bersama dengan Monica."
Meremas bahu Rara kencang, sampai prempuan itu meringis akibat ulah sang suami.
"Gak usah bawa-bawa Allah untuk menutupi kebohongan mu mas. Bagus kamu ngaku saja. Mungkin jika kamu ngaku dan merasa bersalah aku masih bisa memaafkan kamu ketimbang kamu terus-menerus menyangkal dan berbohong begini."
Adam meremas rambutnya dengan kedua tangan karena frustrasi. Memikirkan Rara yabg tidak juga percaya padanya.
"Kamu itu bego atau gimana sih. Bagaimana bisa orang yang cuma keluar makan bersama kamu katakan selingkuh. Jika aku yang hanya makan berdua saja selingkuh lalu bagaimana dengan kamu? Bukankah kamu juga pernah menghianati pernikahan kita dengan selingkuh sama Kamal. Apa kamu lupa? Saat istri Kamal datang ke rumah marah-marah karena kamu telah mengoda suaminya.
Atau perlu aku tunjukkan rekaman cctv nya biar kamu ingat hah? Iya?" Tanya Adam dengan tampang merendahkan, "bahkan hubungan kamu dengan Kamal lebih parah ketimbang aku dan Monica. Hampir setiap Minggu Kamal datang ke rumah ini ngapelin kamu dengan alasan membantu mu mengerjapkan tugas sekolah. Apakah itu bukan selingkuhan namanya? Kamu mengadili aku sedemikian rupa dan menuntut ku mengakui apa yang terjadi aku lakukan, tapi perbuatan kamu lebih buruk dari itu. Oh ya bukan hanya Kamal. Sekarang pun kamu selingkuh kan dengan Rangga, adik ipar mu sendiri.
Boleh kan aku menuduh mu selingkuh dengan adik ku, karena nyatanya kalian selalu bersama-sama selama ini?" Adam kembali memojokkan Rara, "bukankah skor kita satu sama sekarang. Oh tidak kamu lebih unggul. Karena kamu selingkuh dua kali. Dengan Kamal dan Rangga?" Balas Adam tak kalah sengit.
Bersambung......
*****
Sekian untuk pertengkaran versi pertama Adam dan Rara ya....
__ADS_1
Lanjut besok lagi....
Jangan lupa kasih bunga yang banyak biar Rara semangat buat ngebunuh Adam ok!