Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 32. Informasi Dari Monic


__ADS_3

Alasan Adam memilih tetap kamar Ketimbang keluar dengan Rara, karena dia ingin menelpon Rain untuk membahas masalah pekerjaan yang tadi siang sekertaris itu kirimkan.


Namun mendadak Adam mengurungkan niatnya saat melihat chat di aplikasi WhatsApp dari sebaris nomor yang dia beri nama Monica.


Pria itu mengernyit dahinya, merasa heran, bagaimana bisa Monica punya nomornya dan mengirim WhatsApp padanya.


Meskipun Adam terpesona dan tertarik pada janda itu tapi dia memang bukan sosok yang ganjen, malah Adam sendiri lupa jika menyimpan nomor Monica.


Karena kenyataannya dia memang jarang menyimpan nomor wanita hanya untuk iseng-iseng seperti tadi siang, karena biasanya saat bertukar nomor dengan perempuan semua itu karena alasan pekerjaan, tidak lebih. Dia juga buka tipe pria yang suka pergi keluar dengan sembarang wanita.


Apakah Marcel yang memberikan nomor ku padanya, pikir Adam.


Baru saja Adam memikirkan sahabat itu, sudah muncul WhatsApp dari Marcell di HP-nya.


[Sorry Dam. Aku berikan nomor mu pada Monica, karena sepertinya dia tertarik dengan mu.]


[Dia juga sangat antusias saat aku bilang jika kamu juga tertarik padanya.]


[Semoga berhasil.]


Adam tertawa sejenak, heran dengan sikap sahabatanya.


Apa-apa ini? Apakah Marcell menyuruh ku selingkuh dengan Monica, batin Adam.


"Dasar wong edan," guman Adam.


Bagaimana bisa dia punya sahabat stres seperti itu, menyuruhnya berselingkuh dengan pacar sendiri.


Padahal sahabatanya itu jelas tahu Adam begitu membenci perselingkuhan, menurutnya selingkuh itu adalah suatu penyakit dan apa bila sudah terjangkit akan sulit di sembuhkan.


Bukan hanya itu saja, berselingkuh saat masih menjalani hubungan dengan orang lain itu juga bukan sikap yang gentle dan dia bukanlah sosok pengecut seperti itu.


Katakanlah dia memang belum bisa mencintai Rara, tapi bukan berarti dia ingin berselingkuh dengan wanita lain di belakang istrinya.


Pernikahan mereka memang terjadi karena perjodohan, tapi kala itu keluarganya meminta Rara secara baik-baik untuk menjadi istrinya, tentu saat Adam ingin mengakhiri bersama mereka dia harus mengembalikan istrinya ke rumah orang tua secara baik-baik juga, tidak dengan cara menghianati.


Adam membuka pesan yang di kirimkan Monica padanya.


[Assalamu'alaikum mas Adam.]


[Ini Monica.]


[Mas Adam lagi apa?]


[Aku ganggu kah?]


Tanya wanita cantik nan seksi itu.


Lekas Adam membalas sampaan pacar Marcell.


[Walaikumsalam.]


[Aku lagi di kamar.


Gak ganggu kok. Mas lagi nganggur.]


Balas Adam.


Tak seberapa lama pesan Adam pun terbalas. Rupanya perempuan itu telah menunggu disana.


[Sama dong mas aku juga lagi nganggur, sendiri di kamar. Agak ada yang di kerjakan.]


Balas Monic.


[Marcell kemana? Bukanya tadi bareng kamu?]


Tanya Adam lagi.

__ADS_1


[Sudah pulang, dia cuma nganterin Monik pulang doang, gak mau mampir. Katanya mau ketemu klien tadi.]


[Oh... ]


Balas Adam.


[Mas Adam sih. Istrinya dimana? Gak marah kah mbak Rara kalau kita ngobrol begini.]


[Dia sedang pergi keluar.]


[Oh....]


Balas Monik


Selanjutnya chatingan berisi obrolan dan canda-canda ringan pun terjadi, sampai akhirnya Monica mengirim pesan lagi.


Kita telpon saja yuk mas? Capek Monic nulis trus.


Pinta janda beranak satu itu manja.


[Iya deh terserah kamu.]


Balas Adam.


Tak seberapa setelah pesanan yang Adam kirim bertanda ceklis dua warna biru, handphone Adam berbunyi menampilkan gambar Monic di layarnya.


Cepat Adam mengeser panggilan itu lalu menempelkan benda pipih hitam harga belasan juta ke telinga.


"Hallo Monic!'


Sapa Adam.


"Iya mas."


Balas wanita pemilik suara serak-serak basah itu mengoda iman.


Setan yang mendukung kedekatan mereka berdua lebih banyak ketimbang malaikat yang mengingatkan saat Adam sudah membuka diri untuk bermain api.


Ditambah suara manja Monica mendayu-dayu membuat Adam menjadi lebih terpesona hingga meminta lebih dari sekedar telpon saja.


"Monic, kita VC saja yuk biar mas bisa melihat wajah cantik kamu!" pinta Adam di ujung panggilan nya.


"Boleh mas, Monic juga pengen lihat wajah mas Adam," jawab pacar Marcell.


Dari telpon, mereka beralih pada video call.


Pertama yang tampak dari layar handphone Adam adalah obyek pemandangan sebuah kamar tidur sederhana, tidak tampak ada orang di kamar itu.


"Monic, kamu dimana? Kok gak keliatan?" Tanya Adam.


"Oh iya mas, maaf itu pakai kamera belakang," jawab suara di seberang.


Tak seberapa lama kemudian tampak lah wajah cantik Monic di depan mata Adam. perempuan itu tersenyum cantik membuat iman suami Rara kembali teruji.


Apalagi saat yang terlihat olehnya bukan hanya wajah Monic, melainkan belahan dada perempuan yang hanya mengenakan tank top merah itu juga tampak begitu sempurna membuat Adam seketika istighfar dalam hati saat di suguhkan pemandangan sedemikian rupa.


Sungguh dia merasa matanya ternoda namun sayang jika di lewatkan begitu saja.


"Hallo mas Adam!"


Monica menyapa sambil melambaikan tangan saat melihat Adam hanya terdiam dengan mata membulat sempurna saat menyaksikan parit dianatara bukit kembar yang penuh berisi itu.


Merasa lucu dengan ekspresi Adam, Monica pun tertawa.


"Gak usah gitu amat kali mas lihatinnya. Kayak gak pernah tahu yang beginian saja," goda Monic.


"Bisa ditutup dulu gak itu Monic. Mas jadi gak fokus ngobrol sama kamu kalau lihat begituan!" Pinta Adam polos.

__ADS_1


Seketika Monica malah tertawa terbahak-bahak, lebih gilanya lagi janda satu anak itu tidak menutup aset berharganya seperti yang Adam minta tapi malah berpose eksotis disaat ranjang.


Adam jadi tahu jika Monic hanya mengenakan tank top dan hot pants munico warna hitam, membuat Adam bingung, yang dia lihat sekarang itu rezeki atau musibah sebenarnya.


Dan sekali lagi Monica pun tertawa saat melihat perubahan pada raut wajah Adam.


Puas mengerjainya barulah mereka ngobrol kembali layaknya teman biasa.


Hingga akhir Monic buka kartu as yang dia dapatkan tentang Rara pada Adam.


"Aku gak nyangka mbak Rara bisa bersikap begitu pada mas Adam," ucap Monic.


Membuat Adam mengernyit kan dahinya heran, "begitu bagaimana?" Tanya papa Ali.


Apakah Rara ada salah, pikir Adam


"Ya, ninggalin mas Adam sendirian di kamar dan lebih memilih jalan dengan orang lain. Padahal kalian liburan bersama suami istri, tapi Kenapa dia malah jalan-jalan dengan orang lain ketimbang dengan mas."


"Oh...itu."


Adam mulai paham maksud Monica itu apa.


Namun sebelum Adam sempat menjelaskan semuanya. Monica sudah bersuara lagi.


"Memang mas gak cemburu lihat mbak Rara jalan berduaan dengan laki-laki? atau jangan-jangan mas Adam gak tahu kalau mbak Rara ketemuan dengan pria lain di luar sana?"


"Maksud kamu apa? Siapa yang ketemuan? Rara?" tanya Adam.


Karena setahu Adam, Rara pergi dengan teman-teman sekantor istrinya, dan tentu saja seorang perempuan. Itu yang tadi terlintas di pikiran Adam saat dia memberi izin pada Rara untuk keluar sendiri.


"Ya siapa lagi kalau bukan mbak Rara? memang istri mas ada yang lain?


"Tapi istriku tadi islzin pergi dengan teman sekantornya."


"Jangan begitu yakin mas. Bukankah bukti nyatanya sekarang Rara malah makan-makan berdua dengan pria lain."


"Maksud kamu apa? Rara makan malam dengan siapa?" Adam kaget mendengar perkataan Monica.


"Memang mas gak tahu, kalau mbak Rara jalan-jalan berdua dengan mas Marcell di luar sana. Mereka makan-makan berdua sambil bercanda dan tertawa."


"Kamu tahu dari siapa? Bukannya kamu telpon bareng aku di sini?"


"Iya, ini temen aku barusan ketemu mereka dan ngirimin foto mas Marcell dengan mbak Rara. Dan mas Marcell aku tanya juga dia bilang kalau lagi jalan-jalan bareng mbak Rara," Monic memberi tahu Adam.


Karena tadi sebelum mereka VC teman Monica mengirim pesan, memberi tahu Monic jika Marcell selingkuh dengan wanita lain, dan dia mengirim kan foto mereka berdua yang diambil diam-diam.


Monica juga mengkofirmasi itu semua dengan bertanya pada Marcell sedang apa Dan dimana? Dan Jawaban Marcell sesuai dengan foto yang dia kirim temannya tadi, sedang di alun-alun kota, makan sate bareng Rara jawabnya.


Otomatis saja Monica marah dan cemburu, karena tadi saat di tawari suruh mampir ke rumah orang tuanya Marcel menolak nginap di rumah dengan alasan mau ketemu kelien tapi nyatanya dia malah pergi kencan bareng Rara.


Adam yang mendengar penuturan Monica langsun mengakhiri telponan mereka berdua.


Lekas papa Ali menelpon Rara namun HP istrinya tidak aktif.


Entah kenapa dia itu merasa tidak rela jika ternyata istrinya pergi dengan Marcell si playboy cap kadal. Dan Adam juga semakin kesal saat teringat jika Rara adalah tipe wanita idaman pria itu.


Belum lagi, cerita mama Eka tentang Rara yang di tuduh menjadi pelakor dalam rumah tangga Kamal beberapa waktu lalu.


Bayangan Rara yang bejalan dengan Marcell sambil tertawa hinggap di pikirannya berganti dengan bayangan Rara yang berjalan dengan Kamal, membuat Adam jadi emosi.


Dia merasa jika selama ini terlalu membebaskan Rara sehingga istrinya itu bebas jalan dengan pria mana saja yang dia mau dan bermain api dengan banyak laki-laki di luaran sana.


Apalagi saat dia melihat jam di dinding kamar yang menunjukkan sudah pukul sebelas malam tapi Rara belum juga kembali.


Sekali lagi Adam menelpon Rara, dan hasilnya sama saja, handphone istrinya tidak aktif, membuat pria tampan itu lebih memilih keluar kamar mencari sang Rara ketimbang diam menunggu.


*****

__ADS_1


Wah tanda-tandanya mau ada perang ini


__ADS_2