
"Ra, maafin aku!" ucap Adam.
"Untuk apa?"
"Maaf untuk apa mas? Kamu tidak bersalah kenapa harus minta maaf segala?"
Rara menarik tangannya dari genggaman Adam.
"Karena aku sudah marah dan membentak mu, bahkan sudah kecewa pada mu,"tutur Adam lembut namun matanya menunjukan ketegasan.
Rara mencibir. Bangkit berdiri membelakangi Adam sambil melihat tangannya di dada.
"Namun sungguh aku...."
"Tidak masalah mas, aku maklum." Potong Rara pada ucapan Adam yang belum selesai, "Sudah sepantasnya seorang istri mengalah pada selingkuhan suaminya dan sudah sepantasnya seorang istri di perlukan tidak adil jika di depan selingkuhan suaminya, dan itu rumus dunia jadi aku tidak kaget lagi. Karena bagaimanapun juga selingkuhan memang lebih di sayang ketimbang istri sendiri," sindir Rara yang menohok hati Adam.
Membuat Adam terperangah tak percaya dengan pemikiran Rara yang menuduhnya seperti itu. Sedangkan Rara meski sekarang hatinya terasa sesak namun dia tidak ingin menangis terutama di depan Adam.
"Astaga Ra! Kenapa kamu berfikir seperti itu? Sungguh aku berani sumpah, aku gak ada hubungan apa-apa sama Monica."
Adam menghampiri Rara, menatap mata perempuan itu, menelisik wajahnya. Adam tahu ada rasa sakit di hati Rara dan itu membuat Adam begitu menyesal.
Adam meraih bahu Rara memeluk tubuh prempuan yang tanpa dia sadari sudah menyatu dalam hidupnya. Mungkin kebodohan terbesar Adam adalah terlambat menyadari cintanya pada Rara.
Berlahan tapi pasti Rara melepaskan dirinya dari pelukan Adam. Dia tidak ingin jatuh dalam pesona Adam untuk kesekian kalinya. Sudah cukup Rara dikecewakan dan disakiti seperti ini. Sebelum Adam benar-benar membuktikan kesungguhan ucapannya dia tidak ingin percaya begitu saja.
Biarlah dikatakan terlambat namun saat ini Rara benar-benar ingin menjaga hatinya.
Adam yang melihat penolakan istrinya tidak ingin memaksa lagi, takut jika Rara akan semakin marah padanya.
"Aku tulus minta maaf pada mu atas semua kesalahan ku. Tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya takut kamu berurusan sama Monica, sama prempuan itu yang berujung dia akan menyakitimu. Aku khawatir dengan itu semua. Karena aku tahu siapa Monica, dia itu prempuan gila dan dia rela melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya," Adam menjelaskan maksud dan tujuan sebenarnya pada Rara.
Bukanya Rara simpati dengan apa yang di ucapkan Adam, namun dia malah tertawa sumbangan, menertawakan kebodohan suaminya yang terang-terangan mengungkapkan isi hatinya pada Rara.
Ibarat luka, bukan di obati malah ditaburi garam itulah yang Rara rasakan saat ini. Rara menyusut air diujung matanya. Mengigit bibir bawahnya menahan Isak tangis agar tidak keluar.
__ADS_1
Adam yang melihat Rara menangis menjadi lebih bingung lagi, dia tidak tahu dibagian mana dia salah hingga membuat Rara semakin sedih.
"Ra!"
Rara mendongak, menatap mata hitam yang menatapnya tajam.
"Kenapa kamu menangis? Kenapa kamu bersedih? Apalagi salah ku?" Tanya Adam dengan polosnya.
"Ka...kamu suguh jahat mas...!" Rara tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Pertahanannya jebol sudah di berjongkok, memeluk diri sendiri, menangis sesenggukan disana.
Adam bilang dia mencintainya, menyayangi dirinya tapi nyatanya semua itu palsu. Ucap Suaminya itu palsu. Adam tidak pernah benar-benar mencintai dan menyayangi Rara. Melihat orang yang berbagi tempat tidur dengannya menipu dirinya hingga seperti ini siapa yang tidak sedih?
Rara pikir Adam sudah benar-benar berubah ketika pertengkaran mereka terkahir kali kemarin, namun semua itu masih pura-pura saja.
"Ra!"
Adam memeluk Rara, namun cepat Rara mendorong tubuh pria itu menjauh.
"Jangan sentuh aku!" Tolak tegas Rara.
"Kamu apa-apaan Ra? Kenapa kamu seperti ini?"
Adam meremas kepalanya, dia sangat frustasi.
"Kamu yang apa-apa." Rara menatapnya jijik, "kamu bilang kamu mencintai ku dan menyayangi ku, tapi nyatanya kamu lebih bisa memahami prempuan gila itu ketimbang istri kamu sendiri. Jika memang kita tidak bisa bersama jangan memaksakan diri untuk bersama mas, kita bisa bercerai.
Kamu mulai hidup baru dengan wanita pilihan mu. Wanita yang kamu sayang dan kamu cintai dan biarkan aku bahagia bersama Ali, ketimbang kamu selalu menyakiti ku seperti ini.
Selama kita menikah kamu bahkan tidak tahu apa makanan kesukaan ku dan apa yang aku benci tapi kamu bisa mengatakan di depan ku dengan ringan jika kamu mengerti Monica dengan baik di bandingkan kamu mengerti tentang aku."
Kata-kata Rara bagikan tamparan keras bagi Adam yang membuat pria itu seketika terdiam. Dia sadar kesalahan terbesarnya itu apa dan dapat memaklumi jika istrinya benar-benar marah.
Adam memang pria brengsek dan tolol sedunia, karena selama ini karena dia tidak pernah memahami istrinya dengan baik.
Sekarang dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu lagi. Memohon jika perlu untuk memperoleh maaf Rara dan memulai semua dari awal lagi. Adam ingin menjadi pria yang terbaik untuk istrinya sehingga membuat Rara tidak bisa berpaling darinya.
__ADS_1
Adam tersenyum, mendekati Rara, meraih jemari prempuan itu kemudian berucap, "aku tahu kesalahan ku dan aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Rara menarik tangannya, menatap Adam acuh tak acuh, "Jadi yang kemarin kamu akan mengulanginya lagi?"
"Ra, aku serius?"
"Lalu yang kemarin kamu bercandaan?"
"Maksud aku bukan begitu. Aku benar-benar ingin memulai semua dari awal lagi."
"Apa yang kemarin dari tengah-tengah?"
Adam menyugar rambutnya, merasa frustasi.
"Rara aku serius!" Adam menatap Rara tajam.
"Aku juga serius," Rara menatap balik suaminya.
"Kata orang, Seseorang yang bijak tahu siapa yang harus di percaya, bukankah begitu?" Tanya Rara dengan membuang pandangan ke samping.
"Jadi aku tidak bisa di percaya?" Tanya Adam kecewa.
"Lelaki sejati tidak akan mudah mengobral janji dan memberi mimpi-mimpi. Mengobral janji itu mudah, menepatinya adalah amanah dan akan jadi munafik jika mengingkarinya.
Disini berjanji, disana berjanji, janji mana yang akan kamu tepati?"
****
Adam menghempaskan tubuhnya diayunan kayu. Dia teringat kata-kata Rara tadi.
Bukan maksudnya mengobrol janji pada sang istri dia hanya tidak tahu jaminan apa yang harus dia berikan pada Rara agar perempuan itu percaya pada perasaannya.
Namun rupanya rasa kecewa Rara seakan jadi benteng penghalang baginya. Semakin sakit hatinya maka semakin Koko jugalah pertahannya. Semakin membentang luas jarak diantara mereka. Dan begitu banyak rasa sakit yang telah Adam torehkan pada hati Rara, tidak heran jika sekarang Rara membencinya.
Meskipun begitu, sesulit apapun istrinya, akan dia perjuangkan, tidak akan dia sia-siakan. Sudah cukup kebodohan karena mengabaikannya, terlebih ada sosok Ali yang akan senantiasa membatu dan mengingat Rara untuk tidak pergi.
__ADS_1
****