Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 36. Pulang


__ADS_3

Selsai adegan panas pagi hari yang mereka lakukan, kedua mandi bersama dan sholat subuh berjamaah, setelah itu lanjut tidur lagi.


Mengingat Adam ingin mereka pergi dua membuat Rara tidak harus buru-buru bangun pagi karena takut ketinggalan bus, sehingga membuat dia memilih tidur lagi ketimbang beraktivitas, apalagi tubuhnya capek dan matanya juga masih ngantuk.


Jam sembilan pagi baru kedua keluarga dari kamar dan sarapan bersama di restoran hotel yang bersamaan dengan Rangga dan Ali juga tengah sarapan, sehingga mereka ber empat kumpulan dan sarapan bersama untuk mengawali pagi, setelah itu baru mereka jalan-jalan bersama, tidak jadi berdua sesuai pesanan Adam, tapi berempat karena Rangga dan Ali tak mau ketinggalan.


****


Satu Minggu telah berlalu, dan liburan pun telah usai, kini rombongan mereka harus kembali ke tempat asal dan pulang ke rumah masing-masing.


Semua staf dan para guru SMA Nusantara sedang duduk di lobby bandara untuk mengurus bagasi dan cek in.


"Ma, Ali lapar," ujar anak Rara yang duduk di sebelahnya.


Rara yang tahu jika siang tadi Ali cuma makan sedikit memaklumi jika sore gini dia lapar, karena biasanya jam empatan memang waktu nya Ali makan cemilan atau buah, untuk mengisi perutnya.


"Ya udah yuk kita makan dulu di restoran!"


Setelah meminta izin pada Adam yang mengurus bagasi mereka Rara mengajak Ali pergi.


"Kakak mau kemana?" Tanya Rika saat melihat Rara keluar dari lobby.


"Mau makan dulu, kamu mau ikut?" Tawar Rara.


Rika agak ragu, karena dia juga menuggu barang-barang nya sebelum cek in.


Melihat keraguan pada wajah sahabatanya, Rara pun memberi saran.


"Kamu ikut aku aja, titipkan barang kamu pada Awal atau Rangga untuk ngurus bagasinya. Kita tunggu mereka di restoran sana yuk?"


Rika mengangguk setuju, kemudian cewek itu pergi menuju ke arah Rangga meminta adik ipar Rara mengurus koper-kopernya.


Setelah percakapan singkat yang Rara lihat dari jauh tanpa Rika mendekatkan koper dan tasnya pada Rangga yang kemudian di jawab anggukkan oleh adik Adam, Rika pun berjalan menuju ke arah Rara kembali. Mereka bertiga pergi menuju dimana restoran berada.


*


"Ali mau makan apa?" Tanya Rara sambil menunjuk buku menu pada sang buah hati saat mereka sudah duduk di sebuah meja.


Ali melihatnya buku bergambar makanan itu guna melihat apa yang menggugah selera dia.


"Ali mau ini ma."


Bocah berusia Lima tahun dua bulan itu menuju gambar bertuliskan nasi goreng kambing.


"Ok," jawab Rara.


Dari Ali Rara pun beralih ke Rika yang duduk di depannya.


"Kamu mau makan apa Ka?" Tanya Rara pada Rika sambil menyerahkan buku menu yang dia pengen.


Bingung, mau pesan apa karena semua menggugah selera, Rika pun malah balik bertanya pada Rara.


"Kakak sendiri mau makan apa?"


"Kakak mau stik ayam saja. Karena belum terlalu lapar juga," Rara memberi tahu.


"Aku sama saja dengan kakak," jawab calon adik ipar yang gagal itu memberi tahu pesanan mereka.

__ADS_1


Akhirnya Rara memanggil pelayan guna memesan makanan dan tiga es jeruk untuk mereka.


Sambil menunggu makan mereka datang ketiga nya ngobrol-ngobrol ringan.


"Ma, Ali besok kalau besar mau jadi kayak gitu," tunjuk Ali pada pengunjung restoran yang baru masuk.


Rara yang semula ngobrol pada Rika memindai ke arah tangan Ali menunjuk.


Pandangan Rara jatuh pada Sepang pilot yang kini duduk tak jauh dari meja mereka.


Rara terseyum, "kalau Ali mau jadi pilot seperti mereka harus belajar yang rajin, jangan main game terus dan juga bahasa Inggrisnya harus di lancarkan. Kau mama suruh ngapalin jangan males-males," Rara memberi nasehat pada anaknya.


"Biar pinter kayak papa ya ma?" Tanya bocah itu.


Rara mengangguk.


Karena Ali memang kerap mendengar Adam berbicara pakai bahasa Inggris kalau sedang telponan dengan klien yang dari luar negeri. Kadang Rara juga merasa gak sebanding dengan Adam, melihat suaminya yang begitu pintar membuat dia jadi minder sendiri.


"Besok kalau karnaval sekolah juga Ali bisa pakai baju kayak gitu kok. Baju pilot," Rika ikut bersemangat pada bocah kecil itu.


"iya ma?"


Ali menoleh pada Rara yang duduk di sebelahnya minta jawaban.


"Iya," jawab Rara.


"Kalau gitu besok Ali mau minta belikan baju pilot sama om Rangga, terus di bawa ke sekolah."


Bocah itu mengungkapkan hanyalannya dengan penuh semangat.


Membuat Rara gemas karenanya, "Pasti anak mama baka jadi anak paling ganteng sedunia kalau pakai baju kayak gitu," ujarnya sambil mengusap kepala Ali, lalu memeluknya penuh sayang.


"Amin," jawab Ali dan Rika bersamaan.


"Kak, tapi kalau Rika lihat-lihat tuh pilot perempuan kok mirip kakak ya?," Komentar Rika saat memperhatikan perempuan cantik berseragam putih bersih dan berhijab hitam yang sedang memesan menu makanan itu.


"Ish, gak mungkin lah kak. Cantik dia kemana-mana lagi Ka, ketimbang kakak," Rara tidak membenarkan itu semua.


"Tapi beneran deh kak, sekilas kalian tuh mirip," kekeh Rika.


"Gak ada yang mirip, beda jauh gitu kok," komentar pemilik seorang pria yang sudah berdiri di belakang Rika yang tak lain adalah Rangga, tidak setuju dengan pendapat gadis itu.


"Gak usah bilang-bilang mirip nanti ada yang gak terima," ujar Rangga lagi dengan nada tidak suka, membuat Rika menjadi salah tingkah.


"Memang siapa yang tidak suka?" Tanya Adam, "cuma di bilang mirip doang juga bukan suatu hal yang besar."


"Orang yang di bilang mirip yaitu Rara dan orang yang menyukai dia. Pasti gak suka juga kalau gebetannya di kembar-kembarkan sama orang lain," Rangga menjelaskan.


Aku yang tidak suka jika Rara di kembar-kembarkan sama orang lain, guman hati Rangga.


Bang Rangga tuh apa-apaan sih, kenapa Ngomong gitu juga, guman hati Rara.


Mereka berdua Adam dan Rangga ikut bergabung di meja Rara.


"Bukanya dalam dunia ini memang ada tujuh orang yang mirip dengan kita. Mama juga pernah bilang begitu sama kita," tutur Adam memberitahu sang adik.


Rangga terseyum masam.

__ADS_1


"Itu hanya alasan mereka orang jelek yang tidak percaya diri dengan penampilan mereka dan berusaha mencari kawan dengan mengatakan mereka mirip atau kembar. Padahal nyatanya tidak sama sekali.


Dan aku sama sekali tidak setuju dengan pernyataan yang tidak mendasar itu. Saudara bukan, kenal juga gak kok bisa di bilang kembar dan mirip. Dari namanya coba?"


Adam yang hendak membalas perkataan adiknya langsun di putus oleh suara Rara yang keluar lebih dahulu.


"Apaan sih kalian berdua ini. Kalau ketemu berantem terus, kayak bocah aja. Mending kalian pesen makan sana, aku yang traktir," Rara melerai pertengkaran keduanya.


Kedua kakak beradik itu pun mulai memesan makanan pada pelayanan.


Beruntung makanan mereka datang secara bersamaan sehingga semua bisa makan dengan tenang.


"Wah...kenyang," ucap Angga sambil mengusap perutnya.


"Alhamdulillah om. Kalau habis makan baca Alhamdulillah," Ali menasehati.


Rangga nyengir.


"Maaf boy lupa," Jawab jujur.


"Dasar om, kebiasaan yang buruk," omel anak Rara.


"Om, aku mau besok kalau karnaval kelulusan di belikan baju pilot kayak gitu ya!" Pinta Ali sambil menunjuk pada sepasang pilot yang sedang makan.


"Okey boy."


Rangga mengacuhkan jempolnya.


"Heran gue, bapaknya CEO tapi anaknya minta apa-apa sama aku. Apa jangan-jangan tuh bapak pelit kali ya," kata Rangga sambil melirik Adam yang duduk di sebelah Rangga.


"Syukuri saja pak. Berarti Ali perhatikan sama bapak," Rika menenangkan.


"Bener Ka, karena nyatanya aku jadi adik CEO juga tiket pesawat kelas satu suruh bayar sendiri. Gak dikasih geratis," komen Rangga.


Tidak menanggapi cemooh sang adik yang emang tukang usil, maka Adam berucap.


"Kalau mau gratis ya tuker tiket mu sama milik Rara sana."


Tiket gratis Rara yang dari sekolah memang diambil untuk perjalanan pulang, dan itu kelas ekonomi. Jadi kalau Rangga mau tukar dengan Rara tentu mama Ali bersyukur banget.


"Sudah sih bang, syukuri saja. Kan kemarin kamar hotel Abang sudah mas yang bayarin," Rara membela suaminya.


Kerena kenyataan nya Memeng begitu, kamar hotel Rangga menginap kemarin memang Adam yang bayarin. Tapi memang Rangga kalau sama Adam tidak pernah baik Sehingga orang luar yang tidak tahu akan berfikir jika Adam memang beneran pelit jika dengan keluarga, padahal tidak seperti itu.


Setelah selesai makan, semua orang pergi. Dan kali ini tidak jadi Rara yang bayar, karena kakak beradik itu merasa malu jika yang mentraktir mereka adalah seorang perempuan.


Setelah melakukan perdebatan sengit akhirnya Rangga yang membayar makan mereka sore itu.


Rombongan sudah mau keluar dari restoran ketika terdengar seseorang perempuan memanggil.


"Mas, mas baju merah!" Teriak perempuan itu


Membuat rombongan Rara berbalik badan untuk melihat siapa pemilik suara merdu itu.


"Mas berbaju merah, ini dompetnya ketinggalan," ujar seorang wanita cantik berseragam pilot.


Yang Rara ketahui dari tag namenya bernama Aisyah Al Fatih.

__ADS_1


Seorang pilot yang tadi sempat mereka obrolan dan mereka bilang mirip dengan dirinya.


__ADS_2