
"Kamu lupa sama aku? Apa wajah aku banyak berubah sampai kamu gak kenal?" Tanya Tony penuh semangat membuat Rara yang masih berfikir jadi bingung.
"Astaga! Abang kah itu? Tony Kurniawan?" Tanya Rara penuh semangat. Rara menutup mulutnya yang terbuka dengan sebelah tangannya.
Binar bahagia tampak jelas di wajahnya, membuat Rara tak dapat menyembunyikan senyum manis yang dia miliki.
Hanya satu orang yang memanggil dia Fira dan dia adalah sang idola. Pria yang Rara idolakan saat dia SMA. Seorang cowok yang sempat membuat dia bucin dan nge-halu layaknya gadis remaja pada umumnya dan itu adalah sang ketua basket yang merangkap jadi ketua OSIS di SMA-nya dulu.
Tony mengangguk, "iya, itu Abang! Akhirnya kamu ingat juga!"
Melihat kebahagiaan sang perempuan yang dia cintai dengan pria lain di depan matanya membuat Adam dan Rangga cemburu. Namun Rangga yang sudah biasa mengontrol emosi saat Rara bermesraan dengan Adam dapat menahan diri. Sedangkan Adam yang selama ini merasa Rara adalah miliknya mulai terbakar.
Adam mencengkram tangan Rara, membuat Rara dan Tony ketika menatap ke arahnya. Rara menarik jemarinya dari genggaman Tony berlahan.
"Kamu apa kabar? Aku pikir kita gak akan pernah bertemu lagi setelah hari itu," Tony tersenyum tampak dia bahagia sekali bisa menemukan Rara dan melihat gadis itu di depannya.
"Kabar aku baik, Abang sendiri apa kabar?"
Rara yang melihat atmosfer di sebelahnya berubah tegangan mencoba untuk tidak terpengaruh meski itu sulit.
"Alhamdulillah kabar aku juga baik."
Meski begitu, rasa bahagia karena ketentuan sang idola memang sulit untuk di sembunyikan dari wajahnya, karena itu Rara memilih untuk pura-pura tidak melihat Adam saja, meski suaminya sudah memberikan tatapan membunuh.
Cukup lama Rara mencari lelaki itu, lelaki yang meninggal dirinya sehari setelah memberikan sekotak coklat berbentuk love di hari valentine untuknya.
Serasa jemuran yang di gantung, cinta Rara kandas tanpa kejelasan lebih lanjut. Cowok yang kalau rapat OSIS memintanya duduk di sebelah dia agar tangannya bisa menggegam jemari Rara tidak ada lagi.
Cowok yang membuat Rara, meloncat bahagia sambil berteriak-teriak Tony! Tony! Tony! saat melihat pria itu mendribble bola basket atau melemparkan ke dalam di ring telah pergi.
Cowok yang selalu membuat Rara ikut semua kegiatan ekstrakurikuler lantaran biar bisa melihat wajahnya sepanjang waktu sudah tidak ada.
Cowok yang membuat Rara selalu pulang sekolah sore lantaran ngelihatin anak-anak latihan basket dulu sudah hilang.
__ADS_1
Membuat masa SMA Rara kelabu layaknya seragam sekolah menengah atas. Abu-abu. Sang idola pergi meninggalkannya dia dengan sejuta pertama yang tak pernah terjawab begitu saja.
"Kenapa Abang tiba-tiba pergi dan gak kasih kabar?"
Akhirnya Rara bertanya apa yang sudah bertahan-tahun hinggap di otaknya, membuat Adam tambah syock saja.
"Maaf!" Satu kata yang sukses membuat semua orang di meja itu cemburu.
"Saat itu Abang harus ikut ayah pindah ke Singapura. Karena kakek yang ada disana sakit," jelas Tony.
"Kenapa Abang gak ngomong sebelumnya?"
Sebenarnya Abang mau ngomong sama kamu, tapi Abang gak tega. Abang gak tega lihat wajah sedih kamu. Lihat kamu nangis. Makanya Abang pergi diam-diam saja. Abang juga nyesel saat itu. Pas Abang sadar dan mau telpon kamu buat kasih kabar, ternyata Abang gak punya nomor kamu."
Saat itu Rara memang tidak punya HP. Komunitas dengan teman-teman Hanya mengunakan handphone ayah-ibunya sehingga Rara tidak bisa sembarang memberikan nomor handphone kedua orang tuanya pada teman-teman di sekolah.
"Pas Abang balik lagi ke Indonesia, ternyata Fira udah nikah."
"Kecewa deh! Patah hati!" Lanjut Aisyah yang tahu akan kelanjutan kisahnya.
Kalau kamu mau bikin perang juga gak yang? Kalau iya aku siap jadi lawan kamu?" Tanya Aisyah sambil menatap Rangga intens.
"Nge-halu terus aja," jawab judes Rangga yang hatinya tiba-tiba sakit banget akibat Rara dan Tony.
Bukanya marah, Aisyah malah terbahak ketika menyadari wajah jengkel pasangan masing-masing akibat temu kangen fans dan idolanya yang ternyata saling cinta di masa putih abu-abu itu.
Melihat raut kesal semua orang di meja itu, membuat Rara sadar jika dia telah bersalah pada semua orang. Untuk menghindari rasa canggung yang dia ciptakan sendiri, Rara berdiri, permisi mau ke kamar mandi. Dengan dada berdetak cepat perasaan tak menentu karena tatapan kesal Adam dan Rangga mengiringi kepergian Rara.
****
Rara sedang merapihkan make-up nya di depan cermin wastafel saat mendengar seseorang berkata dengan nada yang tidak sopan.
"Dasar cewek bodoh! Sudah di sakiti juga, masih mau balikan! Sok mesra lagi! Dasar gadis tolol!"
__ADS_1
Ibunda Ali menoleh kiri-kanan mencari siapa sosok yang di maki prempuan itu. Namun dia tidak menemukan siapa pun selain dirinya disana, membuat Rara menatap pada seorang perempuan bergaun kuning gading yang mencuci tangan nya di wastafel sebelah, yang berbicara itu.
Rara terkejut saat melihat siapa prempuan yang berdiri di sebelahnya, namun cepat dia menyembunyikan itu, mengubah raut wajahnya kembali seperti semula.
Rara mengernyitkan dahinya heran, apakah prempuan itu bicara padanya?
Rara menunjuk diri sendiri? "Ngomong sama saya?" Tanyanya.
Tampak prempuan itu mencebikkan bibirnya kesal, "memang sini ada berapa banyak orang sampai bertanya ngomong sama siapa segala?"
Melihat kekesalan wanita itu Rara terbahak, merasa lucu.
"Gue yang mesra kenapa elo yang sewot? Mau gue balikan sama dia, mau aku pelukan sama dia, mau dia gue ***** di depan elo juga sah-sah saja dong, kan dia laki gue sendiri.
Elo itu yang aneh. Laki orang kok di cintai, pakai acara cemburu lagi?"
Rara tertawa menghina seraya mengeleng-geleng kepala.
"Sorry ya, gue gak tertarik sama laki-laki plin-plan model Adam begitu."
"Hahaha..." Rara kembali tertawa, "baguslah kalau gitu. Aku jadi tenang karena pelakornya kini sudah tobat, jadi suamiku aman."
Ucap Rara membuat Monika geram setengah mati, meski begitu istri Adam tidak perduli sama sekali.
Merasa pertemuan dengan Monica mengancam ketenangan hidupnya, Rara memilih mengakhiri kegiatannya di toilet.
"Duluan ya Monica!"
Rara menepuk pundak Monica yang berdiri di depannya dengan gaya sok akrab.
"Daaa...." Rara melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang lagi, membuat selebgram cantik itu kesal setengah mati hingga meremas udara di depannya guna melampiaskan rasa kesal.
****
__ADS_1
ikutan itu yuk. biar novel CINTA KU SALAH KAMAR bisa dapat banyak bintang dan pembacaannya!