
"Assalamu'alaikum!"
Menandakan jika ada tamu yang datang yang tak seberapa lama muncul Ali dan Rangga dari balik pintu ruang tamu yang memang sengaja di biarkan terbuka, sebagai tanda jika pemiliknya ada di rumah.
Rara yang melihat anak dan adik iparnya datang pun menghentikan pijatannya pada kaki Adam. Begitu pun Adam, dia menurunkan kakinya dari paha sang istri.
"Papa!" Teriak Ali antusias, kemudian menghampiri sang papa yang duduk di sofa ruang depan TV, menyalami Adam lalu memeluknya. Melepaskan kangen pada sang papa, begitu pun Adam yang balik memeluk tubuh anaknya.
"Udah sayang jangan lama-lama meluknya, papa lagi sakit!" Rara mengingatkan.
Ali pun melepas pelukan dari Adam dan berjalan menghampiri sang mama, lalu mencium tangan Rara, seperti biasa saat dia pulang sekolah.
"Ma aku lapar!" Rengek bocah enam tahun itu.
Sekarang hampir setengah lima tentu saja Ali sudah lapar lagi. Karena biasanya jam segini emang waktu dia makan cemilan.
"Ya udah, Ali taruh tas dulu ke kamar, habis itu nanti kita makan!" Perintah Rara pada sang anak.
Ali pun mengangguk setuju, kemudian bocah kecil itu lari ke lantai dua, dimana kamarnya berada.
"Sakit mas?" Tanya Rangga sambil menjatuhkan tubuhnya pada kursi single sebelah kiri Adam.
"Yang kamu lihat bagaimana?" Adam balik bertanya.
Rangga mencebikkan bibirnya, "dasar tua, belum apa-apa sudah sakit duluan. Gimana mau lembur coba kalau gitu," cibir Rangga.
Adam yang kepalanya masih pusing memilih tidak memperdulikan cibiran Rangga.
"Jadi beneran nih, sekarang mau ke dokter?" Tanya Rangga sambil menatap Adam.
"Iya lah, orang mas Adam udah lemes gini masak mau kita biarin dia rumah aja."
Karena tadi Rara telpon kalau Adam ada di rumah dan dia sedang sakit sehingga meminta Rangga untuk mengantarkan ke dokter langganan untuk berobat.
"Tapi nanti, sekerang abang makan dulu saja. Abang kan belum makan juga, pulang kerja langsung kesini. Pasti lapar."
"Memang si mbok masak apa?" Tanya ipar Rara yang kebiasaan kalau di suruh makan tanya lauknya dulu.
__ADS_1
"Bikin sup ayam, sama sambel ijo kerang dan ayam goreng bumbu."
Rangga terseyum lebar, "mantap nih," ujarnya setelah mendengar rentetan menu yang Rara miliki, "kamu udah makan belum?" Tanya Rangga balik.
"Belum," jawab Rara jujur.
"Pasti gara-gara kamu sibuk ngurus pak tua yang sakit ini, makanya belum makan sepulang sekolah. Bener-bener bukan suami yang perhatian," cibir Rangga sambil melirik Adam yang ada di sebelahnya.
"Tiga bulan tidak pulang ke rumah, bukannya memberi servis yang memuaskan pada sang istri malah sakit. Benar-benar apes nasip mu Ra. Punya suami tua dan sakit-sakitan kayak gini," ucap Rangga yang mulutnya asal kalau ngomong.
Rara yang mendengar penuturan Rangga hanya dapat tertawa, sedang Adam diam dengan ekspresi tak perduli, selain karena adiknya emang selalu begitu, kenyataan juga pas. Dia memang sama sekali tidak perhatian pada Rara.
Padahal jelas Adam tahu begitu istrinya datang langsung membangunkan dirinya untuk makan, bahkan Rara sendiri belum ganti baju dan masih memakai seragam kerjanya. Tapi entah kenapa Adam emang tidak kepikiran sampai ke sana. Malah begitu sampai bawah Adam langsung minta sang istri mijitin dia tanpa menyuruhnya makan dulu.
Bener-benar suami yang tidak perhatian, pikir Adam.
Begitu Ali selesai menaruh tas, mereka bertiga langsung pergi ke meja makan, sebelum mengantarkan Adam pergi berobat.
Begitu selesai makan, Rangga langsung mengeluarkan mobil Jazz warna putih milik Rara dari garasi.
Ya, Rara memang punya mobil sendiri, hadiah anniversary ke limanya dari Adam, tapi mobil itu jarang di pakai karena Rara belum bisa.
"Kamu duduk depan saja Ra. Males aku kalau kalian di belakang. Entar di kira aku supir kalian lagi!" Rangga menjulurkan kepalanya keluar dari jendela mobil.
Namun permintaan Rangga tidak di penuhi oleh Rara, karena Adam meminta sang istri duduk di belakang sedangkan dirinya duduk di sebelah Rangga.
***
Begitu pulang dari klinik dokter Nanda, hari sudah malam. Untung tadi Rara sudah daftar via telepon jadi mereka tidak harus ngantri dulu. Meski begitu tetap saja sampai rumah setelah sholat magrib.
Setelah semua sholat magrib berjamaah terkecuali Adam dan Ali. Kalau Adam memilih sholat sendiri sambil duduk di ruang tengah sedangkan Ali, sepulang mereka dari klinik anak itu tidak ada di rumah karena sudah pergi mengaji di musholla kompleks bersama anak-anak tetangga kiri-kanan rumah.
Rara menghampiri sang suami dengan membawa sepiring nasi lengkap lauk pauk dan sayur-sayuran juga segelas air minum. Di ikut Rangga dari belakang dan si mbok masuk ke kamar. Mereka berkumpul di ruang keluarga sambil nonton TV.
Dengan telaten, perempuan berhijab kuning ini menyuapi suaminya sesuap demi sesuap hingga nasi di pirangnya habis.
Kemudian Rara menyodorkan empat butir obat Berbeda-beda yang sudah dia buka dari bungkusnya pada Adam bersama dengan segelas air.
__ADS_1
Saat kini mereka bertiga sudah pulang dari klinik dan sedang duduk di ruang keluarga milik Rara.
"Minum dulu mas biar cepat turun demamnya."
Adam yang duduk di samping sang istri pun menuruti permintaan Rara, mengambil satu persatu obat dari telapak tangan Rara dan memindahkan ke mulutnya, menelan dengan bantuan air.
"Mas mau rebahan? Biar Rara ambilkan bantal?" Tanya Rara.
Adam mengangguk setuju.
Kemudian Rara beranjak dari duduknya menuju kamar tamu, mengambilkan batal untuk Adam.
Sedangkan Rangga yang duduk tak tak jauh dari mereka hanya mengamati interaksi kemesraan kakak dan kakak iparnya dengan senyum kecut, hati cemburu dan rasa tak rela.
"Aku dengar kamu sekarang pindah kerja di dekat sini?" Tanya Adam setelah beberapa saat keduanya saling diam, "kenapa? Perasaan masa jabatan mu yang dulu juga belum habis."
Rangga Menghembuskan nafasnya berlahan, dengan mata masih fokus pada TV di depan.
"Pengen aja. Pengen cari yang deket dari rumah biar bisa jagain mama. Karena kasihan mama kesepian kalau aku gak ada di rumah."
"Makanya buruan nikah, biar mama gak kesepian. Kalau kamu punya istri dan anak kan rumah mama jadi rame."
Rangga menghembuskan nafas kasarnya kembali.
"Belum ketemu jodoh," jawabnya enteng.
Adam mencibir, "kamu yang terlalu pemilih makanya gak dapat-dapat. Jangan kelamaan di tunda-tunda, ingat usia kamu sudah tidak muda lagi. Takutnya kamu sudah tua anak mu masih kecil-kecil."
Rangga menatap Adam yang juga sedang menatap dirinya.
"Aku sebagai kakak hanya pengen nasehati dan mengingat kamu saja, supaya kamu tidak menyesal di kemudian hari," Sambung Adam sambil memencet-mencet tombol remote di di tangan menganti saluran yang dia suka.
"Gak usah sok bijak. Aku gak butuh nasehat dari orang munafik seperti kamu."
Seketika Adam menatap sang adik, menaikkan sebelah alisnya.
"Dari pada kamu nyuruh aku cepat-cepat menikah Mending kamu bikin anak lagi saja. biar Ali punya adik dan cucu mama juga bertambah. Karena Ali juga sekarang sudah besar, sudah pantas punya adik."
__ADS_1
*****
Wah ada yang berencana bikin adik buat Ali nih!!