Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 59. Bermain Cantik


__ADS_3

Monica berdiri di balkon kamarnya, matanya menatap jauh ke depan. Sepi rasanya saat dia sendiri seperti ini, punya banyak uang tapi tidak punya teman untuk di ajak jalan. Pergi sendiri juga tidak seru.


Adam adalah satu-satunya teman yang di miliki di kota ini dan hubungan mereka semakin memburuk setelah kejadian beberapa hari lalu, saat dia emosi dan menampar wajah Adam dengan tas tangan, sejak saat itu Adam tidak pernah menghubunginya lagi.


Meski sebelumnya juga Adam tidak pernah menghubungi dirinya semenjak kejadian di apartemennya dulu, tapi paling tidak mereka masih berteman dan Adam juga masih mau mengangkat telepon ataupun pesanannya. Dan sesekali mereka masih tetap bercanda.


Tapi tidak untuk kali ini. Pertengkaran dia dan Adam bagaikan buah simalakama bagi Monic. Saat dia begitu merindukan pria itu tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam di tempat dan mematung, membuat hampir gila rasanya.


Dan sialnya si br*ngsek Adam juga tidak minta maaf, malah Seolah tidak perduli dan tidak bersalah, benar-benar membuat Monica tidak terima di perlakukan secara tidak adil begini.


Monica mencari cara supaya bisa berbaikan dengan Adam meski harus menurunkan harga dirinya sedikit.


Monica menjentikkan jarinya begitu mendapat ide yang menurutnya sangat berlian. Membuat sebaris senyum muncul di bibir, sehingga wajah yang semula mendung jadi cerah lagi.


Perempuan itu kembali ke dalam kamar untuk mengambil handphone, kemudian keluar lagi, duduk di kursi balkon.


Monica memainkan ponselnya mengetik sebuah pesan.


Me:


[Mas Adam, maafkan kesalahan ku kemarin yang sudah memukulmu. Aku bener-bener khilaf dan emosi kemarin. Kamu mau kan memaafkan aku?]


Meskipun harus menurunkan harga dirinya Monica harus meminta maaf pada Adam karena dia tidak mau di acuhkan oleh pria itu lagi. Rasa cinta dan rindunya terlalu besar sehingga membuat otaknya tidak dapat berfungsi normal.


Senyum Monica mereka saat mendapati pesannya ceklis dua yang artinya sudah terbaca.


Kemudian ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Mas Adam:


[Aku sudah memaafkan mu. Kita lupakan saja semua yang terjadi dan anggap tidak pernah terjadi apa-apa.]


Monica meremas ponselnya begitu membaca pesan Adam. Melupakan semua yang terjadi dan menganggap tidak terjadi apa-apa. Padahal jelas-jelas pria itu menyakiti hatinya tapi bukannya meminta maaf malah meminta melupakan semua itu.


"Dasar br*ngsek!" Guman Monica.


Tapi tak apa lah, jika memang itu mau Adam dia akan mengikuti permainan pria itu melupakan semua yang terjadi untuk kali ini, tapi tidak untuk besok-besok Monica harus mendapatkan Adam bagaimana pun caranya, tekat perempuan yang sudah mabuk kepayang boleh suami Rara.


Dengan cepat jemari lentik nan Putih itu menari di tuts ponsel untuk mengetik jawab bagi Adam.


Me:


[Sebagai permintaan maafku bagaimana jika kita makan siang bersama.]


Mas Adam:


[Maaf aku tidak bisa aku sibuk. Dan aku harap kita tidak bertemu lagi.]


Me:


[Bukan hanya berdua tapi dengan Rain juga.]


[Kamu tahu kan aku tidak punya teman di sini? Aku butuh seorang teman yang bisa aku ajak jalan. Jadi tolong dekatkan aku dengan Rain.]


Mas Adam:

__ADS_1


[Kalau mau berteman dengan Rain, langsung saja nanti ku kirimkan nomornya.]


Me:


[No mas, Rain terlalu sensitif jika hanya berdua dengan ku. Tolong bujuk dia. Mungkin jika kamu yang ngomong di akan lebih nurut.]


[Gimana?]


Setelah di tunggu beberapa saat tak ada jawaban akhirnya Monica mengirim pesan lagi.


Me:


[Tolong aku please 🙏.]


Mas Adam:


[Baiklah.]


Senyum kemenangan terukir jelas di wajah Monica setelah membaca jawaban dari Adam. Kemudian jemari putih itu mengetik lagi.


Me:


[Ok. Otw.]


Monica masuk kamar dengan perasaan bahagia, serasa di atas awan. Hingga mini dress dari bahan sutra tipis yang dia gunakan ikut mengembang saat dia memutar-mutar tubuhnya.


Wanita itu melemparkan ponselnya begitu saja di atas kasur, kemudian sambil bersenandung Monica berjalan ke kamar mandi untuk berendam dan membersihkan diri sebelum bertemu sang pujaan hati.


*******


Tidak menjawab sapaan Monic, wanita itu menatap sinis ke arahnya.


Monica juga tidak perduli dengan tatapan Rain yang tidak suka padanya, karena dia juga tidak suka dengan sekertaris Adam itu.


Traktiran makan siang yang tadi Monica ucapan pada Adam hanya sebagai alasan supaya dia bisa bertemu pria tampan itu bukan serius untuk berteman dengan Rain.


Siapa yang sudi punya teman sinis dan menyebalkan begitu, pikir Monica


"Mas Adam ada kan?" Tanya Monica sengaja mengoda Rain agar marah padanya.


"Gak ada, dia sedang rapat," jawab Rain judes.


Monica terseyum mengejek menanggapi kebohongan Rain yang sangat tampak, kalau memang Adam rapat kenapa dia tidak ikut? Kenapa dia jogrog aja disana? Meski begitu dia tidak perduli dengan jawaban tak bersahabat dari Rain.


"Oh gak apa-apa, biar aku tunggu di dalam saja," jawab Monica enteng.


"Selamat bekerja Rain!"


Sapanya dengan ramah kemudian meninggalkan meja prempuan berusia dua puluh enam tahun itu dengan senyum kemenangan tercetak di bibirnya. Tak lupa sebelah tangan Monica memilih-milih ujung rambutnya sambil bersenandung kecil, dan mengoyangkan tas tangannya dengan tangan yang satu lagi.


Langkahnya di buat sebagus mungkin, melenggak-lenggok layaknya bintang model, membuat bodinya yang seksi lebih aduhai lagi, menuju pintu ruangan kerja Adam yang ada tepat di depan mata Rain.


"Dasar pelakor," guman Rain yang masih dapat di dengar Monica, membuat langkah kaki pacar Marcell berhenti sesaat.


"Sirik, bilang neng," ujar Monica sambil menoleh pada Rain, dengan senyum meremehkan. Membuat Rain meremas kertas HVS di depannya sambil membayangkan meremas wajah Monica.

__ADS_1


Jangan sok cantik kamu, akan ku buat semua permainan mu mengoda pak Adam tidak akan berhasil, guman hati Rain.


Kemudian Monica melanjutkan kegiatannya mengetuk pintu ruang kerja Adam dan langsung masuk ke dalam.


Dengan sengaja Monica menutup pintu itu cuma separoan sehingga membuat Rain bisa melihat aktivitas dia di dalam ruang kerja sang atasan.


"Mas Adam, i Miss you," ucap Monica dengan suara manja yang agak keras agar di dengar oleh Rain dan berhamburan ke pelukan Adam yang sedang duduk di kursi kerjanya. Memeluk tubuh pria itu yang juga kaget akan aksinya. Tapi Monica tidak perduli karena niatnya adalah untuk membuat sekertaris nyinyir itu kesal dan marah.


Nyatanya aksi Monica juga membuat Adam muak, hingga suami Rara langsung menyingkirkan tubuh Monica dari pelukannya.


"Kamu sudah datang!" Sapa pria itu dingin.


"Hem," Jawab Monica, "kita pergi sekarang?" Tanyanya seraya berdiri tegak di sebelah Adam guna memeluk lengannya.


Tanpa basa-basi Adam mengajak Monic langsung pergi keluar menghampiri Rain yang sudah berdiri menyambutnya.


"Bapak mau kemana?" Tanya Rain lebih dahulu sebelum Adam mengeluarkan suara.


"Makan siang bersama Bu Monica. Ayo Rain Bu Monica ingin traktir kamu juga," Adam memberi tahu.


Rain menaikkan alisnya.


Tumben, pikir gadis itu.


Pasti siular keket punya maksud tersembunyi. Oh tidak bisa, ujar hati Rain.


Senyum manis tercetak di bibirnya ketika dia mengetahui akal bulus Monica.


"Dalam rangka apa pak? Tumben?"


Adam pun menjelaskan maksud Monica mengajaknya makan bersama, dan itu sukses membuat Rain ngakak dalam hati.


"Maaf pak, saya lupa menyampaikan kalau sekarang kita ada rapat sama orang pemerintah di restoran hotel Ibis," ujar Rain dengan wajah bersalah.


"Maksud kamu apa Rain? Bukanya rapat dengan orang pemerintahan itu besok?" Tanya Adam kaget.


Perusahaan Adam memang ada kerjasama dengan pemerintah setempat dalam pembangunan jalan tol yang tendernya di menangkan oleh KAN PETRA. Tapi setahu Adam rapat dengan pejabat pemerintah yang mengurusi masalah itu adalah besok siang.


"Tidak pak, barusan tadi mereka telpon, kalau rapat di ajukan sekarang, saat jam makan siang."


"Kenapa mendadak sekali?"


"Saya juga kurang tahu pak," tutur Rain dengan penuh penyesalan.


"Ya sudah kalau begitu siapa semua keperluan rapat kita untuk mereka," ujar Adam.


Dari Rain tatapan Adam pindah ke Monica.


"Maaf Monic, saya harus rapat dulu. Makan siangnya kita batalkan saja ok!" Ujar Adam yang tanpa mendengar jawaban dari Monica dia langsung berbalik pergi ke ruangannya guna mengambil beberapa keperluan rapat seperti laptop dan beberapa berkas yang akan di gunakan untuk kerjasama.


"Dasar rubah licik," maki Monica sambil menatap tajam Rain.


Rain menjawab ucapan Monica dengan menjulurkan lidahnya untuk mengejek prempuan ganjen itu, membuat Monica mencengkram kencang tali tas yang dia pegang hingga otot tangannya tampak.


*****

__ADS_1


Jangan lupa kasih hadiah ya buat Rara.


__ADS_2