
Setelah pertemuannya dengan Marcell di Yogjakarta beberapa bulan lalu, komunikasi Adam dengan sahabat berjalan baik.
Saling bantu membantu dan memberi saran juga solusi pada bisnis dan pekerjaan keduanya.
Siang ini Marcell berencana mengunjungi Adam di kantor untuk membicarakan mengenai kerja sama persis dia dengan perusahaan Adam yang bergerak di bidang konstruksi dan properti.
Karena Marcell berencana membuka cabang baru di daerah tempat Adam bekerja.
Marcell adalah direktur sekaligus putra pemilik salah satu bank swasta di Indonesia. Cabang bank keluarga mereka sudah ada di berbagai kota besar di seluruh Indonesia. Namun kata Adam, belum ada di kota kecil tempat tinggal nya. Dan berdasarkan informasi dari sang sahabat jika perekonomian rakyat di daerah Adam yang makmur karena kelas menengah ke atas maka Marcell berniat melebarkan sayap hingga di kota itu.
Sebenarnya bisa saja dia menyuruh orang kepercayaan untuk mengurusi masalah ini tanpa Marcell Harus turun tangan sendiri, tapi selain karena urusan perjalanan pria blesteran itu juga ingin mengunjungi sahabatanya.
"Sebegitu senangnya kamu mau mengunjungi Adam," ujar Marcel, saat sedari tadi dia melihat Monica yang di sebelahnya selalu tersenyum bahagia.
Karena Monica langsung bilang ikut saat dia bilang akan mengunjungi Adam dan membicarakan kerja sama dengan lelaki tampan itu.
Monica memeluk lengan sebelah lengan Marcel dengan manja, merebahkan kepalanya di pundak sebelah kiri pria itu.
"Kamu cemburu kalau aku dekat dengan mas Adam?" Tanya janda cantik nan seksi itu.
"Sedikit. Karena bagaimanapun juga kamu adalah pacarku, dan aku tidak suka lihat ekspresi kamu yang begitu sangat berbahagia saat akan menemui pria lain. Meski pria itu sahabat ku sendiri."
"Gak usah berlebihan gitu. Kan kamu tahu aku hanya cinta sama kamu saja. Aku dan mas Adam hanya teman saja tidak lebih. Memang salah kalau aku berteman dengan teman mu juga?" Tanya Monica dengan wajah sedih.
Adam memang lebih ganteng dari Marcell. Pria itu memiliki garis wajah yang tegas, mata tajam, alis hitam yang tebal, hidup mancung, serta bibir yang menawan. Perawakannya tinggi besar, juga perfeck sempurna layaknya model. Pergi keluar dengan Adam bisa membuat pasangannya lebih percaya diri kare berhasil membawa pria tampan, meski begitu kedudukan Adam hanyalah seorang CEO di perusahaan orang, berbeda dengan Marcell. Meski tidak semempesona Adam tapi Marcel juga lumayan tampan. Postur tubuhnya sebelas dua belas dengan Adam, dan yang lebih membuat Monica tidak mau melepaskan pacaranya tentu saja ke uangan Marcell.
Meskipun jabatan dia sekarang baru seorang direktur tapi dia anak laki-laki nya pemilik bang Diamond yang suatu saat pasti semua itu akan menjadi miliknya.
Tentu saja saat sudah mendapatkan pria tampan dan mapan seperti itu Monica tidak mau melepaskannya.
Sayangnya setelah mereka menjalani hubungan hampir dua tahun Marcell tidak pernah sekalipun mengajak Monica untuk menikah, bahkan saat Monica memilih berbohong jika dirinya hamil pun Marcell malah dengan santainya berkata 'ya sudah lahirkan saja anak itu, kelak kalau dia sudah lahir biar aku yang mengurus dan mendidiknya. Kamu gak usah kuatir masalah dia lagi,' bener-benar gila. Karena Marcell mengucapkan itu semua dengan begitu santai.
Marcell mulai cemburu pada Monica saat dia mendekati Adam. Karena itu Monica selalu antusias jika bicara masalah Adam. Karena dia berharap jika Marcell cemburu pria itu bakal mau menikah dengan nya.
Tapi jika memang Marcell benar-benar tidak mau ya sudah, mungkin dia memang di takdir kan untuk bersama Adam yang dari Marcell katanya begitu tertarik pada dirinya.
****
__ADS_1
Mobil yang membawa mereka berdua dari bandara berhenti di sebuah hotel bintang lima.
Keduanya, Marcell dan Monica keluar dari mobil secara bersamaan. Sedangkan supir taksi mengeluarkan koper mereka dari bagasi.
Kedua pasangan kekasih itu membawa koper mereka masing-masing menuju kamar yang mau mereka tinggali.
"Mau tidur sendiri atau bareng?" Tanya Marcell saat mereka sampai di lobby.
"Bareng saja."
Marcell mengaguk setuju.
Kemudian melanjutkan langkahnya kakinya yang terhenti menuju ke resepsionis, menanyakan kamar yang sudah sekretarisnya pesan kemarin pagi.
Bersama seorang pelayan pria yang mengambil alih koper dari tangan keduanya, mereka diantara ke kamar yang sudah Marcell pesan.
"Habis ini kegiatan mu apa? Mau langsung kerja atau gimana?" Tanya Monica saat mereka sudah sampai di dalam kamar dan sedang istirahat.
"Aku akan langsung ke kantor Adam. Kamu gimana? Mau ikut atau mau tinggal di sini? Atau mungkin mau jalan-jalan?"
"Aku ikut kamu saja. Biar aku juga tahu kantor mas Adam seperti apa."
Setelah istirahat sebentar, mereka mandi membersihkan diri kemudian makan siang di restoran hotel. Baru kemudian mereka pergi ke kantor Adam.
****
Setelah mengubungi memberitahu pada resepsionis yang ada di lobby, Monica dan Marcell di antarkan oleh seorang perempuan menuju ruangan Adam, karena Marcell bilang jika dirinya sudah membuat janji temu dengan sang bos.
"Silahkan pak. Itu ruangan pak Adam," ujar perempuan yang di tag name bernama Xinan.
Begitu Marcel mendaki ruangan bertulang CEO itu, seorang perempuan mejanya berada di dekat meja ruang Adam langsung berdiri menyambut mereka berdua.
"Pak Marcell ya? Mari bapak saya antara ke ruangan pak Adam. Beliau sudah menunggu," ucap perempuannya berusia dua puluhan itu ramah.
Sambil berjalan mendahului Marcel lalu mengetuk pintu coklat di depannya, sebagai bentuk sopan santun jika dirinya hendak masuk.
Setelah di beri izin oleh sang pemilik ruangan.
__ADS_1
Rain membuka pintu itu, "silahkan masuk pak Bu!" Perintah nya sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih," Marcell membalas senyuman Rain, perempuan cantik yang tampaknya cukup mengerti sopan santun.
Sedangkan di dalam ruangan, Adam yang melihat kedua temannya datang langsung bangkit dari kursi kerjanya, lalu berjalan menghampiri mereka berdua.
"Apa kabar kamu?" Sampa Adam sambil menjabat tangan Marcel dan Monica secara bergantian.
Kemudian mengajak kedua tamunya duduk di sofa.
"Kabar baik? Kamu sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah baik."
"Istri dan anak mu apa kabar?"
"Alhamdulillah mereka baik juga."
Setelah membersihkan kedua nya duduk, Adam meminta Rain untuk membuatkan minum sang tamu.
"Gimana jadi buka cabang di daerah sini kan?" Tanya Adam to point.
"Jadi donk."
"Terus gimana masalah tempatnya. Mau nyewa atau bangun sendiri?" Tanya Adam.
"Kalau bangun sendiri kira-kira butuh waktu berapa lama?" Tanya Marcell sambil menatap Adam yang duduk di depannya.
"Tergantung ukuran. Mungkin tiga bulan itu sudah bisa di bisa di tempati. Tapi kalau kamu mau milih bangunan yang sudah ada juga boleh. Aku menyediakan banyak hal seperti itu."
Kemudian Adam menunjukkan beberapa ruko yang jual atau di tawarkan oleh perusahaan Adam, begitu pun lahan kosong yang bisa di jadikan lokasi jika Marcell menginginkan membantu gedung sendiri."
Saat dia orang pria yang berstatus pengusaha itu sibuk membahas masalah kerja, Monica lebih memilih berkeliling mengamati ruang kerja Adam yang dominan berwarna grey dan hitam putih itu.
Ruang kerja yang di desain sedemikian rupa. Desain sederhana dengan minimalis aksesoris namun tidak meninggal kesan mewah dan elegan sama seperti pemilik nya.
Benar-benar mengesankan. Membuat Monica makin terkagum-kagum akan sosok Adam yang penuh misteri.
__ADS_1
Setelah selesai dengan obrolan seputar pekerjaan, mereka bertiga keluar kantor untuk survey beberapa lokasi yang akan Adam tunjukkan pada Marcell.
*****