
"Om Rangga!" Teriak Ali saat melihat Rangga berjalan masuk ke dalam restoran sambil menarik koper.
Rangga yang semula hendak menuju meja kosong langsung menghentikan aksinya saat mendengar suara pangeran kecilnya itu. Matanya memindai seluruh ruangan mencari dimana sosok keponakannya berada.
Senyum Rangga langsun merekah begitu mendapatkan Ali.
Melihat ada Rangga Ali berlari menghampiri pria berusia awal tiga puluh tahunan itu dan seperti biasa anak Rara langsung melompat ke dada Rangga minta gendong, begitu pun dengan Rangga yang langsung menyambut aksi ponakannya menjadi sebuah dekapan agar bocah Lima tahun itu tidak terjatuh.
Aksi kedua bagaikan ayah dan anak yang sudah lama tidak bertemu, berujung menjadi pusat perhatian seluruh orang yang sedang makan siang.
Rangga kembali berjalan sambil menggendong Ali. Menahan tubuh kecil itu dengan lengan kanannya, sedangkan tangan kirinya menarik koper, mereka berdua menghampiri meja Rara.
Sesuai janjinya pada kakak ipar dia langsung ke Yogyakarta begitu pula dari Singapura, untuk menjemput Ali agar tidak menganggu liburan Rara bersama teman-temannya. Meskipun Rara bilang jika ada Adam yang menjaga Ali tapi Rangga tetap memaksa.
Mengingat hubungan Ali dan Adam yang tidak terlalu dekat karena jarang bertemu, Rangga tidak mau keponakannya hanya di kurung di hotel saja tanpa di bawa jalan-jalan oleh papanya.
Karena itu Rangga datang untuk membawa bocil itu melalang buana, meski tidak dengan Rara, tapi tetep saja Ali bisa jalan-jalan dan berbahagia.
"Mas Adam kemana?" Tanya Rangga pada Rara.
Saat dia sudah duduk di kursi dimana Rara berada, dengan Ali yang duduk di pangkuan Rangga Sabil bermain handphone sang Oom dan bersandar pada bahunya. Posisi sangat wenak sekali.
"Tuh, lagi ngobrol bareng temannya," tunjuk Rara pada meja sebelah dimana Adam berada.
"Udah makan belum?" Tanya Rara.
"Kebenaran aku belum makan, boleh kalau di pesankan."
Rara mengaguk setuju, kemudian dia memanggil pelayan untuk memesan makanan buat Rangga.
Sambil menunggu makanan datang, mereka ngobrol-ngobrol ringan. Tak lupa Rara mengenalkan Monica pada Rangga, dan menyuruh mereka saling tukar nomor biar bisa lebih dekat lagi. Mana tahu kedua bisa jodoh, mumpung sama-sama single, hehehe...
Meskipun Monica bilang kalau untuk berumah tangga lagi dalam waktu dekat ini dia belum siap, lantaran masih trauma dengan pernikahan dia yang dahulu, tapi siapa tahu dengan sosok Rangga yang hangat dan perhatian bisa mengubah pandangan Monic dan membuat janda beranak satu itu membina rumah tangga lagi.
Sedangkan di sisih lain, tepatnya di meja Adam dan Marcell berada.
__ADS_1
"Siapa dia? Tampaknya akrab sekali dengan anak dan istri mu?" Tanya Marcell begitu penasaran dengan sosok pria tampan yang begitu akrab dengan Ali.
"Dia Rangga, adik kandung ku."
"Oh....kok tampak nya sangat dekat dengan anak mu."
"Ya begitulah, anak ku memang lebih dekat dengan dia ketimbang dengan aku."
"Kamu tidak cemburu melihat adik kandung begitu itu sama istri mu?" Tanya Marcell.
Karena jika itu dia tentu dia pasti akan cemburu dan tidak suka melihat kedekatan anak istri kepada pria lain, meski itu saudara kandung sendiri.
"Ya gak lah, ngapain aku harus cemburu sama mereka. Aku tahu benar hubungan mereka hanya sebatas kakak dan adik ipar jadi ngapain juga aku harus cemburu. Cemburu itu hanya untuk mereka yang tidak percaya diri, dan aku bukan tipe pria seperti itu."
Jawab Adam sombong, tak lupa pria itu tertawa lebar, menertawakan pertanyaan konyol Sahabatanya yang menurut dia tidak masuk di akal.
"Ya, ya, ya, aku percaya dengan mu. Pria tampan dan rupawan yang selalu jadi rebutan para gadis mana pernah merasakan cemburu itu apa."
"Tentu saja pernah."
"Ya jangan berlebihan begitu. Aku tetep saja cemburu jika istri ku bersama dengan pria lain. Tapi tidak jika dengan adik ku sendiri. Karena aku sangat mengenal siapa mereka berdua. Dan tidak mungkin Rara atau pun Rangga bakal berkhianat di belakang ku," sanggah Adam.
Meski dalam hati Adam juga heran, kenapa dia tidak marah melihat keakraban Rara dan Rangga? Apakah karena dia tidak mencintai Rara atau karena dia tidak perduli dengan apapun yang istrinya lakukan.
Dan kenapa Marcell harus marah pada dia saat melihat kedekatan Rara dan Rangga, toh Marcell tidak mengenal keduanya. Dasar pria aneh, pikir Adam.
Dari dulu sampai sekarang, sifatnya tetap saja belum berubah selalu cemburuan, batin suami Rara mengomentari tingkat dan sikap Marcell.
Obrolan keduanya seputar Rara terhenti saat Rangga ikut bergabung di meja Adam dan Marcell.
****
Perjalanan mereka selanjutnya adalah ke pantai. Karena Yogyakarta memiliki banyak pantai yang indah dan mereka juga tidak mau melewatkan tempat itu.
Selama dalam perjalanan, dari restoran menuju pantai para kaum bapak-bapak memilih untuk istirahat. Keadaan perut kenyang dengan suasana bus yang ber-AC memang enak untuk tidur, sedang para ibu-ibu lebih senang bergosip, meski ada sebagian kecil yang terlelap.
__ADS_1
Rara yang pura-pura tidur memilih diam saat dirinya di jadikan trending topik bahan gosip oleh teman-temannya yang mengatakan jika Rara perempuan paling beruntung karena bisa menikah dengan Adam.
"Bener lah, kalau Rara gak mau selingkuh dengan pak Kamal. Orang suami dia saja lebih segala-galanya dari pak Kamal. Pak Adam itu sudah tampan, kayak, karirnya bagus orang nya perhatian sama keluarga, sayang sama anak lagi. Kalau sampai Rara ninggalin pak ada demi pak Kamal itu namanya perempuan bodoh. Punya berlian kok malah milih batu krikil," komentar teman Rara yang dari suaranya dia tahu itu Bu Nurma.
Ya, semua orang memang akan berfikir begitu. Beranggapan jika dirinya adalah wanita yang paling beruntung, mempunyai suami tampan, kayak dan mapan.
Mobil bagus, rumah bagus, semua serba kecukupan, tapi mereka tidak tahu jika Rara sering kesepian, karena Adam tidak pernah perduli dengan dia dan Ali. Rara mejalani hari-hari seorang diri, tanpa adanya suami di sisihnya.
Dia memang tidak pernah mengeluh, tidak pernah mengadu dan tidak pernah menceritakan semua masalah yang dia alami pada orang lain, baik itu orang tuanya maupun teman-teman, karena bagi Rara itu sebuah aib suaminya dan sebagai istri tentu Rara harus bisa menjaga itu, karena membuka aib suami sama halnya membuka aib sendiri, maka dari itu Rara selalu tersenyum bila di hadapan mereka, menampilkan wajah yang selalu bahagia, mesti dalam hati dia sering menangis.
Terlebih saat dia harus semalam tidak tidur karena menjaga anak yang sakit. Jika saat itu posisi dia seorang janda tentu Rara bisa sabar dan tabah menerima takdirnya, tapi nyatanya dia punya suami namun selalu bernasib seperti janda.
Rara menghapus air matanya yang tiba-tiba keluar lantaran hatinya melow dengan alasan mengubah posisi tidur, supaya tidak ketahuan oleh mereka semua jika dia pura-pura tidur.
Tak seberapa lama setelah kejadian itu semua, tour guide yang mereka sewa membangunkan seluruh penumpang dan mengatakan jika mereka sudah sampai pada pantai Parangtritis.
Rara turun bersama dengan Ali dan Rangga yang keluar dari dalam mobil.
"Lho kalian kesini juga?" Tanya Rara kaget.
"Iya dong, kan kita ngikutin mama biar gak diambil orang. Iya kan om," jawab Ali seraya tersenyum sambil menoleh pada Rangga minta dukungan.
"Ish, anak kecil, memang siapa yang mau ngambil mama mu yang jelek ini," Rara menjitak kepala anaknya.
"Kata om Rangga, para bule bakal nyulik mama jika di biarkan mama pergi sendiri dan tidak di jagain."
Rara melotot sewot pada adik iparnya yang sudah meracuni otak polos Ali.
"Om Rangga bohong tuh, gak bakal ada yang nyulik mama selama ada papa di sini. Karena papa bakal jaga mama terus," ujar Adam yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Rara.
"Hm, tuh betul apa yang papa bilang. Gak akan ada yang nyulik mama selama masih ada papa," tukas Rara membenarkan ucapan suaminya.
Kemudian mereka berempat bersama-sama berjalan ujung tepi pantai.
*****
__ADS_1