
Rara sedang makan siang bersama rekan kerjanya ketika Adam dan Ali datang ke restoran yang sama.
"Mama!" Sapa Ali yang langsung menghampiri dimana meja Rara berada.
"Loh, anak mama ada disini juga," ujar Rara terkejut ketika mendapati anaknya tiba-tiba nongol di sebelah dirinya.
"Iya, kata papa kita makan siang di sini."
"Lha papa mana?"
"Tuh," Ali menunjuk arah di mana Adam berada.
Berhubung ada anak dan suaminya, Rara yang sedang menunggu makanan yang dia pesan memilih duduk bergabung dengan Adam dan Ali ketimbang dengan teman-teman.
Karena rasanya kurang nyaman saat melihat suami duduk sendiri sedangkan Rara ketawa-ketawi bareng teman-teman dan mengacuhkan Adam sendiri.
Tak seberapa lama setelah dia duduk makanan yang mereka pesan pun datang.
"Ma, suapin! Pinta Ali manja.
Membuat Rara yang hendak menyuapkan nasi ke dalam mulut menghentikan kegiatannya demi menyuapi sang anak.
Melihat Rara yang menyuapi Ali, Adam yang baru datang dari kamar mandi langsung komen.
"Memang Ali tidak bisa makan sendiri pakai acara dia suapin segala?"
"Bisa tapi tadi dia yang minta."
"Jangan di biasakan manja. Dia sudah besar harus bisa mandiri jangan apa-apa minta di layani, sampai makan saja di suapin begitu," protes Adam.
Tidak mau berdebat dengan sang suami di tempat umum, maka Rara memilih menuruti permintaan Adam.
"Ali makan sendiri ya? Mama juga mau makan. Biar kita bisa makan sama-sama, ok," ujar Rara.
Merasa takut dengan sang papa, akhirnya Ali pun mengangguk setuju.
******
Adam dan Rara sudah selesai makan, tapi Ali belum. Karena mereka masih istirahat dan belum pergi maka Rara lebih memilih menyuapi putra nya ketimbang nganggur main HP, sedang Adam sudah sibuk dengan benda pintar milik nya sedari tadi.
Saat keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai datang seorang pria dan wanita menghapiri meja mereka.
"Hai Adam!" Sapa sang pria dengan akrab.
"Hai, Marcell apa kabar?" Jawab dan tanya Adam, saat yang dia tahu yang menyapanya adalah Marcell.
Suami Rara itu berdiri, guna menyalami dan memeluk Marcell dengan akrab. Layaknya bertemu teman lama.
"Kabar baik? Kamu sendiri apa kabar?" Tanya Marcell.
"Alhamdulillah aku juga baik."
Binar kebahagiaan terlihat jelas di wajah Adam saat bertemu dengan Marcell, sahabat sekaligus room meet saat dia kuliah di Inggris dulu.
"Kesini sama siap?" Tanya Marcell lagi, sambil menunjuk Rara dengan tatapan matanya.
"Oh iya, kenalin itu istri ku dan itu anak ku," Adam memperkenalkan keduanya pada Marcell.
__ADS_1
Rara berdiri sebagai bentuk menghormati sahabat suaminya.
"Rara," ujar Rara menyebutkan namanya saat bersalaman dengan Marcell.
"Ali, om," ucap Ali saat melakukan hal yang sama seperti Rara.
"Dan itu siapa? Istri kamu?" Tanya Adam seraya menuju wanita cantik nan seksi yang berdiri di sebelahnya Marcell.
"Dia Monica, Pacar ku," Marcell memberi tahu.
"Monic, kenalkan ini Adam teman ku saat di Inggris dulu dan itu istrinya.
Kemudian semua orang yang ada di meja itu saling bersalaman guna memperkenalkan diri mereka pada Monica.
Merasa bertemu teman lama dan ada banyak hal yang ingin di tanyakan satu sama lain maka Adam dan Marcell memilih memisahkan diri dari Rara dan Ali. Begitu pun Monica, yang tahu diri dan tidak mau menganggu dua orang yang sedang temu kangen, wanita berambut pirang itu lebih memilih duduk di meja Rara Sambil menuggu makanan dia datang ketimbang bergabung dengan Marcell dan Adam.
Sedangkan di meja sebelah, dimana Adam dan Marcell berada.
"Kelihatan anak mu sudah besar, berapa tahun?"
"Sudah lima tahun."
"Berarti begitu nikah langsun hamil."
"Ya begitulah lah.
"Kamu sendiri, aku dengan kamu cerai dengan istri mu, kenapa?" Tanya Adam.
"Karena tidak cocok. Saling beda pendapat yang berujung ribut setiap hari, jadi aku memilih mengakhiri saja dari pada pertengkaran kami menganggu pertumbuhan mental anak ku."
"Memang kamu sudah punya anak?" Tanya Adam kaget dan tidak nyangka.
"Dan sekarang dia ikut siapa? Kamu atau ibunya?"
"Dia ikut aku. Tinggal bersama ibu ku di Jakarta. Karena aku pikir Indonesia adalah tempat yang baik untuk dia tumbuh kembang, agar lebih manusiawi dan sopan santun kepada orang lain. Dan aku juga lebih tenang dia ada bersama ku ketimbang dengan ibunya."
"Kamu ini, gak tahu kapan kamu nikah, tahu-tahu dengar kabar kamu sudah cerai," tutur Adam.
Karena kenyataannya begitu. Setelah Adam pulang ke Indonesia delapan tahu yang lalu baru kali ini dia bertemu dengan Marcell lagi.
Awal-awal kepulangan Adam ke Indonesia dulu mereka masih berkomunikasi dengan baik, namun saat beredar kabar perceraian Marcell dengan sang istri membuat pria berdarah Solo, Betawi dan timur tengah itu hilang bagai di telan bumi, hingga pertemuan mereka yang tak di sengaja ini.
"Kamu sendiri bagaimana bisa menikah dengan istri mu itu, padahal aku dengar kamu belum bisa melupakan Maelin."
"Hasil perjodohan. Aku di jodohkan oleh ibuku dengan dia."
Marcell mengaguk ngerti, "beruntung sekali kamu bisa di jodohkan dengan wanita seperti Rara. Kapan-kapan boleh dong minta ibu mu buat jodohkan aku juga? Siapa tahu dia masih punya stok perempuan seperti dia," canda Marcell tapi serius.
"Hahaha...." Adam tertawa mendengar permintaan konyol Sahabatnya.
"Kamu sudah menemukan Monica, perempuan cantik dan seksi disisih mu, tapi masih saja mengharap hal konyol. Jangan suka mempermainkan perasaan anak gadis orang, jika memang suka dan cocok langsung di sahkan saja, jangan di PHP."
Nasihat Adam Sok bijak. Seolah diri sudah benar saja.
"Monic tidak gadis lagi, dia sudah janda."
"Nah, terus kenapa memang kalau janda. Yang penting kan dia sayang dan cinta sama kamu. Kurang apa lagi dia buat kamu?"
__ADS_1
"Ck, kamu masih saja seperti dulu. Menilai orang berdatangan cantik dan fisiknya saja."
"Bukan kah kenyataan begitu. Wajah cantik dan body seksi itu yang bisa bikin kita tertarik, berujung mendekati dan baru berakhir cinta," kilah Adam.
"Bukan kah itu prinsip jatuh cinta mu selama ini. Yang kata mu hukum alam," lanjut suami Rara.
"Mungkin dulu iya, aku berfikir seperti itu. Saat kuliah dulu. Namun bersama dengan berjalannya waktu semenjak pernikahan pertama ku gagal, aku baru tahu jika nyatanya mencari istri yang Sholehah dan mau menerima kita apa adanya itu lebih sulit ketimbang mencari uang dan berlian."
"Hahaha, kamu ngaco saja kalau ngomong."
"Terserah mau percaya atau tidak," Marcell mengibaskan tangannya.
"Jadi gimana tipe perempuan idaman mu sekarang? Yang ingin kamu jadikan istri?" Tanya Adam penasaran juga dengan tipe wanita idaman temannya.
"Seperti istri mu, Rara."
Seketika Adam tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Marcell yang menurutnya sangat lucu dan tidak masuk akal.
"Lalu Monic?" Tanya Adam lagi.
"Dia untuk mu. Sebagai gantinya Rara untuk ku, nanti aku tambahin satu lagi perempuan seperti Monic, yang cantik dan menarik juga mencintai kamu. Dari pada kamu tidak bahagia hidup bersama istri mu karena masih mencintai Maelin. Bagus kalian cerai saja, biar Rara bersama ku. Aku mau kok menerima Ali sebagai anak ku dan menyayangi dia layaknya anak kandung ku sendiri. Dengan sepenuh hati," tutur Marcell serius.
Adam merasa kehilangan kata-kata nya karena ucapan Marcell, dia tidak tahu harus menjawab apa akan permintaan konyol Sahabatanya itu.
"Ya, jangan konyol kamu. Memang sejak kapan wanita idaman mu berubah menjadi seperti Rara?," Tanya Adam penasaran.
"Semenjak aku bertemu istri mu. Atau bagaimana jika Rara aku tukar dengan informasi tentang Maelin. Karena aku bertukar kabar dengan nya beberapa tahun terakhir ini. Bukan kamu masih mencintai dia dan ingin bersamanya. Maelin juga masih mencintai kamu kok," Marcell memberi tahu info bagus.
Dan itu cukup membuat binar bahagia di mata Adam. Saat mendengar informasi tentang mantan yang masih menduduki peringkat pertama di hatinya.
"Dia sering datang ke Indonesia. Nanti kalau pas datang aku kabari."
"Beri saja aku nomor nya."
"Baik lah."
Marcell meminta nomor wa Adam lalu mengirim nomor kontak Maelin yang terbaru pada suami Rara.
"Itu nomornya. Kamu bisa menghubungi dia di nomor itu. Dia pasti suka saat kamu hubungi dia," Marcell menjelaskan.
"Lalu Monic?" Tanya Adam.
Marcell yang merasa jika sahabat tertarik dengan perempuan cantik seperti Monic pun tersenyum, lalu mengirim kan sebaris nomor lagi pada Adam.
"Itu nomor Monica," ujar Marcell.
"Dekati dia pelan-pelan. Anaknya baik dan humoris, juga mudah gaul."
"Memang dia gak marah kamu perlukan dia seperti ini."
"Hubungan ku dengan Monica hanya friends and benefit. Dia bersedia pergi jika aku menemui wanita yang cocok untuk ku nikahi. Aku jadikan istriku."
"Memang kenapa kamu tidak nikah sama dia saja?"
"Dia masih trauma dengan pernikahan. Karena itu dia maunya pacaran saja."
Adam mengangguk mengerti, kenapa sahabat bersikap seperti itu pada pacaranya sendiri. Karena Monica memang belum ingin berkomitmen dalam rumah tangga.
__ADS_1
Obrolan dua orang pria dewasa itu di hentikan oleh suara Ali yang menyapanya seseorang.
*****