
"Huff!" Rara mendengus.
Dia menatap kepergian Adam dengan kesal, bagaimana bisa suaminya tidak percaya dengan yang dia omongkan malam menuduh dirinya yang mempengaruhi Zaskia untuk pergi keluar. Padahal jelas tadi dia mengatakan jika kakak iparnya yang ingin.
Karena Zaskia bilang di Lampung mereka tinggal di desa, yang jauh dari keramaian kota. Tidak ada mall mewah seperti di tempat ibu, karena itu dia ingin shopping sekaligus ke salon. Mumpung di tempat ibu dan juga ada Rara yang bisa menemani, karena jika pergi dengan Lani kurang seru orangnya.
Mbak Lani memang kurang seneng shopping ataupun menghambur-hamburkan uang. Bagi dia ketimbang membuang waktu percuma lebih baik di rumah membuat pesenan kue pesanan tetangga. Karena Lani memang punya usaha catering jadi tetangga dan teman-teman yang ada kegiatan selalu pesan kue atau makanan sama dia.
Dari Lani juga lah Rara pinter masak dan bisa membuat berbagai macam kue.
Beda dengan Rara yang fashionable. Rara suka berbelanja meski tidak berburu barang mewah. Namun apapun yang Rara beli akan berbeda hasilnya jika sudah dia pakai, apalagi jika ditambah dengan sedikit ketrampilan dirinya dalam memadukan mode, membuat semua menjadi sesuatu yang baru dan indah.
Sedangkan masalah perawatan tubuh ke salon, dia juga kerap melakukannya, minimal sebulan sekali.
Rara sadar dirinya istri seorang CEO. Meskipun mereka jarang bertemu dan Adam tidak pernah mengenalkan dia pada teman-temannya tetap saja Rara harus selalu tampil cantik setiap saat suapaya suaminya tidak malu.
Apalagi uang bulanan yang Adam berikan padanya juga cukup banyak, 20jt perbulan. Itu untuk kebutuhan rumah tangga dan uang saku Rara saja. Kalau kurang boleh minta lagi. Tapi biasanya tidak pernah habis, selalu sisa sehingga bisa Rara simpan.
Sedangkan untuk uang saku dan biaya sekolah Ali, Adam memberi 5jt perbulan.
Meski uang jajan Ali banyak tapi anak Rara juga tidak boros malah Ali jarang beli jajan di luar karena Rara kerap membuat makanan di rumah sehingga Ali jarang beli Snack di warung-warung. Uang jajan Ali paling sebulan cuma habis satu juta. Itu juga sudah termasuk biaya sekolah, SPP dan tabungan anaknya setiap hari.
Di TK memang anak-anak di wajibkan menabung setiap hari, sebagai bentuk upaya belajar berhemat maka mereka bisa menyisihkan sebagian uang sakunya untuk di tabung. Dan salah satunya adalah Ali yang melakukan kegiatan rutin itu setiap hari.
Rasa kesal Rara pada Adam membuat dia memilih diam. Mengacuhkan Adam ketimbang harus ribut.
Hingga menjelang jam makan siang. Ali yang baru pulang dari rumah budenya menghampiri Rara yang baru siap masak di dapur.
"Ma, mama masak apa?" Tanya bocah itu pada sang mama.
Rara yang sedang menuang sayur ke panci pun menoleh pada putranya.
"Sayur bayam. Ali mau makan?
"Iya ma. Ali lapar!" Jujur bocah itu sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Ok. Sayang biar mama dinginkan nasinya dulu ya. Sekalian tolong panggil mas Azam dan kakak Mecca sayang buat makan siang bareng kamu!" Pinta Rara pada putranya.
Ali mengangguk setuju, kemudian bocah kecil itu lari ke luar untuk memanggil kedua saudara sepupunya juga kedua temannya untuk makan bersama.
Setelah menaruh sayur dan lauk yang selesai dia masak ke meja makan Rara pun menyiapkan makanan untuk lima anak kecil yang ada di hadapannya. Memberi piring plastik yang berisi nasi, sayur dan lauk juga kerupuk pada masing-masing anak.
"Kita makan di terasa depan saja yuk!" Ajak Fino anak tetangga depan rumah Ratna yang merupakan teman sekelas Azam.
"Ayuk!" Sambung ke empat anak itu bersamaan.
Rara mengikuti mereka dari belakang dengan membawa sebuah teko dan lima gelas plastik di tangan untuk anak-anak itu minum.
Bukan karena Ratna tidak punya gelas dan piring kaca ya. Namun karena Rara pikiran tempat makan dan minum dari bahan plastik lebih baik untuk anak-anak sehingga tidak kuatir melukai mereka saat jatuh nanti.
"Nanti kalau sudah selesai makan, langsung pada pulang terus tidur siang ya! Nanti sore main lagi. Karena Ali juga mau tidur siang!" Ujar Rara memberitahu.
Sambil tangannya membantu mengupaskan duri ikan lele dari piring ke piring anak-anak satu persatu.
"Iya Bu, siap!" Jawab Azam sambil mengacungkan jempolnya, di ikuti dengan yang lain.
****
"Mecca, Azam ambil tas kalian ayok kita belajar bareng Ali di kamar Bulek!" Pinta Rara pada kedua keponakan yang kelihatan akan ikut bubar keluar rumah juga.
"Azam tidur di rumah saja bulek. Tidak di sini," tolak bocah berusia lima tahun itu.
Rara yang tahu akal bulus keponakannya, yang bakal nonton TV ketimbang tidur siang pun menambahkan bahu bocah kecil itu.
"Kalau begitu kamu gak usah pulang. Ikut bulek saja langsung," tutur Rara langsung menyeret Azam masuk kamar. Membuat Mecca dan Ali terseyum puas akan aksi sang ibu. Sedangkan Azam sudah cemberut karena menjadi tawanan.
"Aku gak bisa tidur siang kalau tidak di peluk nenek loh bulek."
"Nanti bulek yang peluk kamu. Tenang saja."
"Ish, bulek ini."
__ADS_1
Azam nampak kesal karena niatnya untuk main PS gagal gara-gara mama Ali. Meski begitu Rara tidak perduli.
"Jangan cemberut mas. Kalau belajar sambil marah-marah nanti ilmunya gak mau masuk ke otak. Iya kan ma?" Tanya dan beritahu Ali pada Azam dan Rara.
"Iya sayang. Kalau belajar gak tulus dari hati nanti ilmunya gak mau masuk. Dan Waktu kita ke buang sia-sia saja," Rara menjelaskan.
"Aku mau belanja kok bulek."
Mecca yang tadi kembali ke kamar Alan kini sudah masuk ke kamar Rara dengan membawa tas punggung warna pink bergambar my little pony miliknya yang di belikan oleh Adam kemarin sebagai oleh-oleh.
Rara mengajarkan ketiga anak kecil beda usia masing-masing satu tahun itu belajar membaca dan menulis.
Suasana dalam kamar yang tengah dan adem, lantaran kipas angin yang bekerja maksimal sambil tengok kanan kiri, di tambah kondisi perut kenyang membuat ketiganya ngantuk yang berakhir tidur di kamar Rara.
Rara membaringkan Ali kedua ponakannya di atas kasur. Sesuai janji pada Azam dia pun memeluk sang ponakan sebagai gantinya Ratna sang ibu. Karena memang hari-hari Azam selalu sama sang nenek maka tidak heran jika keponakan Rara lebih dekat kepada Ratna ketimbang Rani.
Antara sadar dan tidak sadar, sayup-sayup Rara mendengar anggota keluarganya pulang satu persatu.
Tadi memang Rara di rumah hanya bersama Zaskia yang ngurung diri di kamar. Mungkin ngambek atau marah sama Rara dia juga tidak tahu karena saat Rara masak di dapur juga Zaskia tidak nongol buat membantu, mungkin kakak iparnya ketiduran karena tadi dia izin pada Rara kalau mau nidurkan Husein dulu, mungkin sekarang kebablasan dia ikutan tidur sehingga tidak membantu Rara.
Meski begitu tetep no problem masalah buat Rara, karena dia memang hobi masak. Lagipula Rara juga udah hafal dengan tabiat kakak iparnya yang kalau main ke rumah sang ibu tidak pernah mau masuk ke dapur.
Alasannya sih karena dia gak pinter masak, sehingga masakan dia gak enak. Karena itu Zaskia lebih memilih beres-beres rumah seperti nyapu, mengepel ketimbang sibuk di dapur.
Sedangkan ibu meminta Adam mengantarkan beliau ke sawah. Katanya orang kerja disana, begit. Kalau Alan dan Furqon sudah pergi sejak pagi hari dan Rara tidak tahu kemana.
Rara yang merasa semua itu mimpi memilih tak perduli, dia pun kembali tidur siang.
*
Adam dan ibu pulang dari sawah saat sudah tengah hari. Berbarengan dengan anak SD pulang sekolah. Sehingga mereka sekalian menjemput Wahid dari sekolah.
Adam memang mengantarkan ibu mertuanya ke sawah karena kata ibu ada orang kerja disana jadi ibu ingin melihat sekaligus membawakan makanan untuk mereka. Jarak sawah dan rumah yang lumayan jauh, kira-kira dua puluh menit dengan naik motor membuat ibu tidak bisa pergi sendiri lantaran tangan Ratna masih sakit akibat terkilir dua Minggu lalu.
Saat itu ibu sedang duduk di kursi pasti yang ada di dapur Lani. Azam yang pulang main langsung lari dan melompat ke pangkuan sang nenek, membuat ibu yang kaget hingga ke hilang keseimbangan dan akhirnya jatuh dari kursi. Nah di situlah tangan ibu terkilir Karena menahan beban tubuh Azam agar tidak jatuh.
__ADS_1
*****