Cintaku Salah Kamar

Cintaku Salah Kamar
Bab 142. Kangen


__ADS_3

Selesai dari Singapura mereka berdua lanjut ke Brunei Darussalam. Negara bebas pajak dengan mayoritas penduduknya beragama Islam itu menyajikan beberapa bangunan masjid yang begitu indah sebagai tempat wisatawan berkunjung. Bangun masjid itu di desain dengan sangat mewah seolah menunjukkan kepada dunia betapa kayanya negara kecil itu dan betapa makmur nya kehidupan mereka.


Karena negara Brunei juga tidak terlalu besar maka hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk mereka berdua berkeliling, mengunjungi semua wisata yang di miliki negara yang mendadak kaya tersebut.


Setelah dari Brunei Darussalam mereka berdua langsung terbang ke Australia, Karena jadwal akhir liburan mereka memang di Australia sebelum pulang ke Indonesia lagi.


"Kemana mereka mas?"tanya Rara sambil tengok kiri-kanan saat sudah sampai di lobby bandara Melbourne. Karena kata Adam tadi Ali dan Rangga sedang menunggu mereka di lobby kedatangan internasional. Ali kangen pengen ketemu Rara, karena itu keduanya nyusul ke Australia sekaligus liburan bersama.


"Entahlah padahal Rangga bilang kalau dia sudah datang satu jam yang lalu."


"Coba mas telpon mereka dulu, tanya mereka ada dimana? Masih di bandara atau sudah ke hotel duluan!" Pinta Rara pada sang suami.


Adam mengikuti permintaan sang istri, mereka berdua berhenti di lobby bandara untuk menelpon Rangga bertanya tentang posisi adiknya saat ini.


Melihat ekspresi Adam yang tidak membaik Rara tidak tahan untuk bertanya, "gimana mas? Diangkat gak?"


Adam menghela nafas pendek, "gak diangkat Ra, malah HP Rangga juga gak aktif."


"Terus gimana mas? Kita langsung ke hotel atau nunggu mereka disini?" Tanya Rara dengan nada sedih, bagaimana pun juga dia sudah kangen pada Ali. Saat Adam bilang putranya datang dan menunggunya di bandara Rara seneng banget tapi ternyata malah gak ketemu.


Melihat raut sedih istrinya Adam pun jadi tidak tega, "mungkin handphone Rangga habis baterai jadi gak bisa di hubungi," Adam mencoba menjelaskan, "Biar aku kirim pesan ke Rangga kalau kita langsung ke hotel. Jadi nanti kalau handphone dia sudah aktif dia bisa langsung tahu dan gak usah nyari-nyari kita lagi."


"Hem, cepet kasih kabar ke mereka mas."


"Iya sayang," Adam mengelus kepala Rara, kembali mengeluarkan handphone dan mengetik pesan untuk Rangga sebelum memasukkan kembali handphonenya ke kantung celana. Adam kembali meraih dua koper miliki dan berjalan jalan beriringan menuju ke petugas hotel yang menjemput mereka di bagian luar bandara.


Namun baru berjalan beberapa langkah kedua menghentikan kakinya lalu menoleh kanan kiri mencari seseorang.


Adam yang ada di sebelah Rara pun ikut berhenti bergerak, "ada apa Ra?" Tanya Adam penasaran dengan tingkah sang istri.


"Aku dengar suara Ali manggil, tapi kok anaknya gak ada ya?"


"Masak Sih?" Tanya Adam gak percaya, "kamu gak lagi berhalusinasi kan, karena begitu merindukan Ali, soalnya aku gak dengar apa."


"Beneran deh mas aku gak bohong. Aku dengar suara Ali kok." Rara menyakinkan suaminya, "tunggu sebentar de, nanti kalau dia gak muncul kita lanjutkan jalan!" Pinta Rara sambil celingukan mencari sosok anak kecil dari banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.

__ADS_1


"Mama!" Teriak Ali lagi.


Rara yang jelas mendengar suara itu menajamkan pandangan nya pada sekitar. "Mas denger kan suara Ali yang manggil aku mama?" Tanya Rara pada Adam minta persetujuan sang suami.


"Dengar sih suara Ali manggil kamu jelas banget. Tapi anaknya yang gak tahu dimana," jawab Adam seraya ikut Mangamati wilayah sekitar mencari kebenaran putranya di wilayah sekitar.


"Mama aku di sini!" Ucap Ali lagi.


Saat kedua orang tua itu bingung, tiba-tiba.


"Baa....!"


Ali menapakkan tubuhnya di depan tepat di depan Rara, Membuat sang mama terlonjak kaget karena tiba-tiba nongol.


Ternyata bocah kecil itu mengenakan masker dan topi juga kacamata hitam, selain itu Ali juga berjalan di sebelah seorang turis berjubah hitam sehingga tubuh kecilnya tidak kelihatan.


"Bocah bandel, bikin Mama kaget tahu gak. Kalau jantung gimana coba?" Omel Rara sambil mencubit kecil lengan anaknya karena gemas lantaran iseng kelewatan.


Bukannya marah, Ali malah tertawa lucu. "Maaf, habis ekspresi mama kalau bingung itu lucu, Ali jadi senang godaan," jujur bocah itu.


"Tapi gak boleh gitu sayang itu bahaya. Kalau yang di kagetin punya sakit jantung kayak nenek bisa berbahaya, jadi jangan kebiasaan ngagetin kayak gitu ya?!" Rara memberikan pengertian.


"Kalau anak mama selucu ini mana bisa marah," jujur Rara sambil mencubit pipi kedua Ali. "Mama kangen sama kamu sayang," peluk Rara pada tubuh kecil itu sambil berjongkok agar tinggi mereka sejajar.


"Ali juga kangen banget sama mama," jawab Ali seraya balik memeluk Rara. Hingga kedua beranak itu saling berpelukan melepas kangen beberapa saat.


"Kemana om Rangga?" Tanya Rara saat Ali sudah mengurai pelukannya pada Rara.


"Disini. Aku juga mau di peluk karena kangen banget," ujar suara yang membuat Rara mendongak menatap suara yang berada tak jauh dari nya, tampak dari belakang Ali Rangga merentangkan tangan untuk menerima Rara dalam pelukannya.


"Pengen dipeluk ya? Sini mas peluk?" jawab Adam yang langsung menyambut tubuh sang adik dalam dekapannya.


Perbuatan Adam sontak membuat Rangga jijik hingga mendorong dada sang kakak yang mencoba memeluknya dan mencoba menjauh dari tubuh sang kakak, "Ogah. Don't touch me!" Rangga meminta Adam berhenti bergerak. "Aku gak mau ada yang salah paham dan berfikir aku ini hompimpa gara-gara dipeluk kamu."


"Gak bakal ada yang mikir gitu karena jelas aku tertarik sama wanita cantik. Buktinya aku punya istri dan anak," Adam memotong pemikiran liar Rangga, "tapi kalau kamu gak tahu ya kalau emang hompimpa, secara kamu kan masih jomblo sampai sekarang," Adam menaikan alisnya menggoda Rangga, "iya gak sayang?" Tanya Adam minta persetujuan Rara yang sudah di rangkul bahunya oleh Adam.

__ADS_1


"Sembarang," Rangga tidak terima dengan tuduhan sang kakak, "aku mah pria sejati. Lihat aja sekali colok besok pasti istri ku langsung tekdung."


"Ah masa? Coba buktikan? Jangan asal ngomong doang?" Tantang Adam.


"Ah sudah. Apaan sih kalian berdua, ngomongin hal yang gak penting gitu, gak ingat ada anak kecil juga," lerai Rara sambil melirik kearah Ali yang sibuk menatap dua pria dewasa secara bergantian tanpa paham dengan apa yang sedang mereka obrolkan. "Mending kita buruan ke hotel, aku mau istirahat. Udah capek banget!" Imbuhan Rara lagi.


Menuruti permintaan Rara Adam meminta mereka kembali jalan, namun saat hendak melangkah pergi Ali mendadak minta gendong Rara lantaran capek. Biasa bocah itu meski usianya sudah hampir tujuh tahun namun tetep saja manja.


"Gendong papa saja ya?" Tawar Adam pada Ali, "Perut mama ada adik bayinya jadi mama gak bisa gendong Ali, nanti adik bayinya kejepit," ucap Adam sambil mengelus perut rata Rara dengan binar bahagia begitu tampan jelas di wajahnya berbanding terbalik dengan Rangga yang juga ikut mendengarkan ucapan itu.


Rangga yang kaget wajahnya langsung berubah jadi pucat dan sedih, hatinya serasa di remas tangan tak kasat mata yang membuat terasa sangat sakit dan perih, meski begitu dia mencoba tersenyum seolah ikut bahagia dengan kenyataan jika Rara hamil lagi layaknya seorang munafik.


"Wah berarti sebentar lagi Ali bakal jadi kakak dong?" Tanya Rangga sambil tersenyum bahagia.


"Ali mau adik cowok biar bisa diajak main bola," rikues Ali seraya mengusap perut Rara.


"Tenang saja pasti bakal di kabulkan," jawab Adam.


"Emang udah berapa bulan Ra?" Tanya Rangga.


"Berapa bulan apanya bang?" Rara menoleh pada adik iparnya yang sedang berjalan membawa koper di sebelahnya.


"Hamil. Kok gak ada tanda kalau hamil. Gak mual-mual kayak jaman Ali dulu?"


Karena seingat Rangga saat hamil Ali dulu Rara mual-mual sampai izin tidak sekolah hampir dua bulan lantaran mesti di infus selama di rumah.


Rara tipe perempuan yang mengalami morning sick parah saat hamil pada trimester pertama karena itu sekarang dia heran saat melihat Kakak ipar sekaligus mantan pacarnya baik-baik saja.


"Belum hamil bang, baru rencana. Mas Adam pengen punya anak lagi makanya kita progam anak ke dua gitu."


"Oh....aku pikir udah jadi," Rangga tersenyum, ada rasa lega di hatinya ketika mendengar penjelasan Rara jika itu baru program. Yang namanya program kan bisa gagal juga, pikiran jahat Rangga mulai mengintrupsi otaknya.


Bagaimana jika saat program Rara hamil anak ku saja biar dia cerai sama mas Adam. Akal busuk tiba-tiba terlintas di otak Rangga yang membuat pria tampan itu mengelengkan kepalanya untuk merontokkan setan-setan yang melekat di otaknya. "Mikir apa sih aku, gak mungkin aku merundung paksa kakak ipar ku hanya demi kebahagiaan ku sendiri," batin Rangga mengingatkan.


Saat Rangga masih sibuk dengan batin dan pikirannya sendiri, Adam yang berjalan di belakang mereka sambil menggendong Ali pun menjawab, "belum jadi memang sekarang. Tapi nanti pulang liburan aku pastikan bayi Cebongan ku sudah bersarang di perutmu sayang." Suara Adam yang tegas menunjukkan jika dia sangat percaya diri tentang hal itu.

__ADS_1


"Amin," jawab Rara mengamini doa sang suami.


Obrolan mereka terhenti saat melihat lelaki bule berusia setengah baya mengangkat papan nama bertuliskan 'Adam' yang menunjukkan jika itu supir mobil hotel mereka yang menjemput.


__ADS_2