Diary Sherry

Diary Sherry
Meyakinkan Aska


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


"Kalau kamu bisa membiarkan kita bicara berdua. Aku akan memberi tahu." Sherry memberi pilihan. Aska diam. Sabo dan Aldo cekikikan sambil menggoda Aska saat mendengar cewek asing ini mengajak bicara hanya berdua. Dia pasti mencoba mempertimbangkan banyak hal. Yah ... Aska orang yang sangat terperinci. Berbeda dengan Sherry yang sering bertindak dulu daripada berpikir.


"Berhenti bercanda." Aska menghentikan tawa mereka. Dua cowok itu diam. Aska memutar tubuhnya ke arah dua bocah ini. Lalu berbicara dengan mereka sebentar. Mereka mengangguk dan pergi.


"Bisa bicara di tempat yang tidak terlalu ramai?" Sherry mengajak Aska di cafe di dekat sekolah, tapi agak menjorok masuk kedalam. Jadi tidak terlalu kelihatan dari sekolah Aska.



Sesampainya di sana, Sherry membuka tudung jaketnya. Dan terlihat semua wajah di balik tudung itu. Setelah memesan dua jus buah, Sherry mulai berbicara.


"Kamu mengenalku?" tanya Sherry menguji. Menatap saudara laki-lakinya dengan tatapan berharap dia menyadarinya. Aska diam. Keningnya berkerut karena sedang berpikir. Mencoba meneliti wajah cantik di depannya.


"Tidak." Sherry menghela nafas sambil menunduk. Jelas tidak mungkin kan... Wajah ini adalah wajah orang lain. Wajah gadis bernama Ve. Bukan wajah Sherry Anugerah. Lalu Sherry membenahi rambutnya karena menutupi wajahnya saat dia menunduk.


"Tapi aku ingat kamu. Kita pernah bertemu di depan pertokoan itu," ujar Aska.


Ctak!


Sherry menjentikkan jarinya sambil menggeram senang. Berarti Aska tidak lupa. Kamu sangat pintar adikku.


"Oke. Aku memang orang itu." Sherry mengaku.


"Ada hal yang perlu kamu selesaikan sampai harus mencari ku seperti ini?" tanya Aska heran.


"Aku tahu tentang dirimu." Sherry mencondongkan tubuhnya. Aska memicingkan matanya. "Bukan. Aku bukan mencari informasi tentangmu, tapi aku memang tahu siapa kamu," ralat Sherry saat melihat Aska menatapnya remeh karena berkata mengetahui tentang dia.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa tahu aku, kalau kamu sendiri tidak sedang mengumpulkan informasi?" Aska balik tanya.


Karena aku adalah kakakmu,bodoh! umpat Sherry dalam hati.


"Karena aku memang tahu kamu sejak lama."


"Kamu mengikutiku?"


Ya. Sejak kau bayi!!!


"Tidak. Begini ... aku akan mengatakan hal yang tidak masuk akal, jadi tolong ...."


"Kalau memang yang akan kamu bicarakan adalah hal yang tidak masuk akal, itu pasti omong kosong. Dan aku rasa tidak perlu berlama-lama aku berada di sini. Karena ini hanya membuang waktuku saja." Aska memotong kalimat Sherry dan mulai berdiri dan akan pergi. Melihat ini Sherry panik. Dia sudah bersusah payah berbicara dengan Aska.


"Maaf, tapi aku adalah ... kakakmu," ungkap Sherry akhirnya. Aska terdiam menatap gadis cantik di depannya dengan aneh. Dia masih berdiri di depan Sherry dengan matanya yang semakin menatap heran.


"Kamu cukup gila untuk ukuran cewek cantik," kata Aska memuji wajah cantik Ve. Ya, wajah gadis ini memang cantik. Aska tidak hanya memuji, tapi juga mengejek kelakuannya.


Meski Aska bilang wajah didepannya itu cantik, tapi raut wajahnya tetap datar dan tidak seperti menggoda. Dia hanya mengatakan kenyataan yang ada. Aska memang cool.


"Benar. Aku memang sedikit gila. Jadi tolong dengarkan aku bicara dulu." Sherry mendongak melihat adiknya yang masih diam disana. Menatapnya serius dan berharap Aska mau sedikit mendengarkan. Akhirnya dia menurut dan duduk lagi.


"Minumlah dulu jusnya. Itu jus jambu kesukaanmu. Tanpa ampas," kata Sherry tanpa sadar. Aska mengangkat kepala lalu melihat dengan kaget. Sherry melebarkan mata. Lalu menutup mulutnya dengan cepat. Karena sadar dia mengatakan apa yang seorang Sherry biasa katakan saat memberi jus ke adiknya. Itu kebiasaan. Tidak bisa di hindari.


Aska memiringkan kepala sejenak. Mencoba mencerna kalimat cewek di depannya. Lalu menggelengkan kepala, membuang perasaan aneh yang menyusupinya.


"Aku katakan sekali lagi. Aku adalah kakakmu, Sherry Anugerah kakakmu," ulang Sherry.


"Kamu sudah mengintai kemana-mana, ya? Sampai bisa tahu nama lengkap kakakku," kata Aska masih tetap berpendapat bahwa Sherry sudah menghasilkan banyak informasi tentangnya. Sherry tak menghiraukan.


"Jiwa Sherry sekarang ada pada tubuh ini. Gadis dengan wajah ini bernama Ve." Sherry menunjuk ke arah wajahnya sendiri. "Lalu jiwa tubuh ini ada pada tubuh kakakmu. Jadi sekarang yang ada di dalam tubuh Sherry di rumah adalah pemilik tubuh ini, Ve." Sherry berupaya menjelaskan semampunya dia.


"Sherry memang tukang mimpi yang ulung sih ... tapi tidak pernah seekstrim ini." Sherry menghela napas mendengar Aska berpendapat. Sangat meremehkan.

__ADS_1


"Ini bukan khayalan, ini nyata." Sherry kesal.


"Tidak ada kenyataan yang sangat aneh seperti ini. Kalau kanu hanya ingin mendekatiku tidak perlu sampai begini. Kita hanya perlu berkenalan dan tukeran nomor ponsel," kata Aska dengan wajah dingin dan mengejek. Sherry menipiskan bibir geram. Ingin sekali tangannya terulur dan menjitak kepala adiknya itu.


"Ayolah, Aska. Aku tahu kanu tidak sebodoh ini. Kamu adalah bocah pintar," ujar Sherry tidak lagi menahan diri.


Brak! Aska menggebrak meja dan berdiri. Orang-orang di cafe menoleh. Mereka berpikir ada sepasang kekasih sedang bertengkar. Sherry terkejut. Kemudian dia mencoba menenangkan pandangan orang-orang sambil tersenyum. Bertingkah tidak ada apa-apa.


Sialan si Aska!


"Kau tahu apa, tentang aku dan kakakku?" tanya Aska serius. Dia mulai marah terhadap orang asing yang tetap saja mendesak Aska dengan mengatakan kalau dirinya adalah jiwa dari kakaknya. Jelas Aska menganggap tubuh Vermouth ini gila.


"Oke, maaf kalau mengganggu." Sherry menyerah dan mulai putus asa. Tidak mungkin ada orang yang langsung percaya begitu saja soal takdir aneh ini. Kalau langsung percaya mereka memang tergolong gila, seperti Elda. Akhirnya Sherry berhenti meyakinkan adiknya kalau dia adalah Sherry Anugerah.


Pembicaraan berhenti di sana.


"Maafkan aku kalau menyinggungmu soal kakakmu, tapi ... ingat baik-baik kata-kataku. Kamu pasti tahu perbedaan kakakmu yang asli dan palsu. Kau tahu pasti kakakmu tidak akan melakukan hal yang tidak cocok dengan karakternya." Aska mendengarkan penuturan cewek cantik itu dengan seksama karena raut wajahnya berubah sangat serius.


"Kanu perhatikan baik-baik bagaimana Sherry belakangan ini dengan Sherry yang dahulu. Kamu pasti merasa ada yang aneh dengannya. Cobalah untuk menerima keanehan itu sebagai titik awal kau mulai mencoba membandingkan kakakmu yang sekarang dengan dia yang dulu. Aku tahu kau adalah orang yang paling paham siapa Sherry Anugerah sebenarnya."


Setelah mendengarkan kalimat panjang cewek yang sedang duduk sambil mendongak melihatnya itu, Aska pun pergi keluar dari cafe. Meninggalkan Sherry yang masih melihatnya dari belakang. Walaupun tidak berhasil, Sherry lega. Bisa bertemu keluarganya merupakan kebahagiaan tersendiri.


Ponsel Sherry berdering. Ada nama Elda.


"Dimana kamu sekarang?!" teriak Elda nyaring. Karena berisik, Sherry menjauhkan ponsel dari telinganya. Di dengar dari suaranya, Elda panik.


"Di jalan."


"Nenek sihir heboh melihatmu tidak muncul! Aku jemput! Share loc...," perintah Elda.


"Oke."


__ADS_1


__ADS_2