
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Namun mulut Sherry tidak bisa diam, mulutnya gatal untuk tidak membalas.
"Sepertinya aku gak salah tempat. Bukankah di sini ada boneka di depanku," tunjuk Sherry dengan pandangan matanya yang di tujukan ke Edgar. Devon melirik ke arah Sherry mendengar kata-kata barusan. Mendengar itu, Edgar naik darah. Dia termakan hasutan Sherry yang di sengaja.
"Kau...!!" Edgar hendak menyerang Sherry tapi langsung di cegah Nano, Lido dan Neymar. Mereka bertiga menangkap tubuh Edgar agar tidak bisa bergerak.
"Hentikan!!!" Devon melerai. Edgar mengurungkan niatnya. Jadi Lido, Nano dan Neymar melepaskannya. Devon marah atas sikap anggotanya barusan.
"Bagaimana pun, pengalaman senior pasti lebih banyak daripada seorang junior. Jadi junior juga harus tetap hormat kepada seniornya." Devon memberi teguran kepada Sherry. Matanya menatap serius ke arah gadis yang masih berdiri di dekat matras. Kepala Sherry menunduk menyadari kekeliruan mulutnya barusan.
Kampreeeetttt!! Ini gara-gara orang darah tinggi itu.
Edgar menyeringai senang melihat Sherry mendapat teguran.
"Bagaimanapun banyaknya pengalaman seorang senior, dia akan hancur dengan cepat kalau merasa dia sudah di atas yang lainnya." Kali ini teguran di tujukan untuk Edgar. Devon ganti menatap tajam ke Edgar sekarang. Raut muka Edgar kecut. Kepalanya menunduk untuk menunjukkan penyesalannya tapi ekor matanya masih menatap tajam ke arah Sherry.
"Seorang karateka selain harus kuat, juga harus bersikap seperti seorang ksatria. Berani, adil dan bijaksana. Baik laki-laki maupun perempuan!" Aura ketua memang beda. Saat Devon mengucapkannya semua langsung diam mendengarkan.
"Baikk!!" jawab mereka bersamaan dengan tegas. Sherry memperhatikan semuanya. Wow ... ini seperti dalam film marinir. Matanya berseri-seri membayangkan latihan dengan mereka semua.
__ADS_1
Aku sangat menyukai tempat ini!!!!
"Maafkan saya, senior!" tiba-tiba Sherry membungkuk di hadapan Edgar dan meminta maaf. Semua mata melihat gadis ini. Seisi ruangan, memperhatikan tingkah Sherry.
Aku harus membuat suasana kembali menjadi baik. Terlalu mencolok bila aku harus menunjukkan seorang Sherry di sini dengan terburu-buru.
Gara-gara Edgar yang sok, mulut Sherry jadi tidak bisa tahan juga. Sherry yang biasanya mampu membungkam mulutnya dengan omongan orang, mulai hilang kendali gegara orang sok yang banyak ngomong itu. Suasana jadi runyam karena dia membalas omongan Edgar. Devon juga menegurnya di saat pertama masuk klub. Kesan buruk bagi seorang Vermouth.
Haduhhhh payaahhh ... Dikiranya orang bar-bar niiihhh. Mungkin sedikit iya. Keceplosan ngomong, ah. Padahal Ve itu orang baik.
Sherry tadi merasa harus bisa mendiamkan mulut itu. Sebenarnya dia juga bukan gadis yang gampang ikut campur urusan orang. Tapi Edgar tadi memang seperti sengaja mau melemahkan mental tubuh ini. Jadi dia sangat kesal mendengar Edgar yang seakan-akan menjadi yang paling kuat diantara orang-orang di dalam ruang latihan. Apalagi menyebut perempuan tidak pantas ada di ruang latihan karate. Siapa dia seenaknya bilang begitu.
Tapi ini tubuh Vermouth, bukan miliknya. Dia tidak harus membuat pemilik tubuh ini menjadi sasaran amukan Edgar. Bisa saja sih, Sherry melawannya. Tapi ... karena Sherry sangat menyukai suasana latihan ini, dia akan berjuang keras untuk bisa menjadi bagian dalam klub karate yaitu awalnya dengan meminta maaf. Walaupun bukan dia yang memulai.
"Sekali lagi...maafkan saya kakak senior!" teriak Sherry bersungguh-sungguh. Semua tersenyum melihat anak baru bertingkah sangat lucu.
"Sudah hentikan permintaan maafmu. Ayo, semua istirahat dulu," ujar Devon memecah keheningan seluruh anggota klub. Semua bubar. Sherry memang berhenti mengucapkan maaf, tapi tubuhnya masih membungkuk.
"Apakah aku dimaafkan?" tanya Sherry bermuka polos. Untuk kali ini, dia memang harus berwajah polos untuk membuat suasana ruang latihan kembali damai. Dia harus berwajah bodoh untuk menutupi sikapnya yang tadi. Harus mengalah pada mereka semua karena mereka adalah senior.
"Ya. Sekarang istirahat dulu."
Mungkin untuk Devon sebagai ketua iya, tapi mata Edgar masih menatapnya tajam. Cowok itu pasti menumpuk rasa kesal. Sherry tidak mau ambil pusing.
Sherry duduk sendiri di sudut ruangan. Sepertinya Vermouth memang tidak punya teman. Buktinya beberapa cewek yang sedang duduk berbarengan enggan menyapanya yang masih jadi anak baru.
Awalnya Sherry ingin mendekati tapi enggak jadi saat melihat ekor mata mereka seperti sudah menggosipkan dirinya. Mungkin mereka jadi kaget juga dengan perubahan yang ada pada tubuh ini. Wajah cantik yang biasanya menggunakan tutur kata yang lembut sekarang jadi bersikap serampangan dengan ucapan menantang seperti tadi.
__ADS_1
"Hai," sapa Lido mendekati Sherry. Kepala Sherry mendongak. Dia tidak mengenal wajah ramah itu, tapi dia tersenyum.
"Kamu anak yang sekelas sama Frans kan?" Sherry mengangguk.
"Tumben ikut latihan karate?"
"Iya karena suka," ini jawaban jujur. Namun berhubung yang ngomong itu mulutnya Vermouth yang manis dan pemalu, cowok itu merasa aneh saat mendengarnya. Tidak mungkin tiba-tiba Ve menyukai hal semacam ini setelah label lemah, penakut ada pada dirinya. Sepertinya Sherry harus menjawab dengan jawaban bohong. "Eh, iya sekarang aku ingin bisa seperti itu," jawab Sherry sembari tersenyum pada akhirnya dengan jawaban palsu. Tapi Lido lebih bisa menerima jawaban yang kedua daripada jawaban jujur dari Sherry. Ternyata orang lebih suka kita menjawab suatu pertanyaan yang sesuai dengan keinginan mereka daripada menjawab pertanyaan dengan jujur.
Terserahlah..
Nano dan Neymar mendekat.
"Kamu hebat juga bisa memancing emosi Edgar," kata Neymar antara memuji dan menyindir. Tapi lebih kebanyakan menyindirnya. Sherry menyoroti cowok itu.
"Aku bukan sedang menghina atau apa, aku memang salut sama kamu saat menyikapi kelakuan Edgar. Biasanya anak baru langsung nangis di perlakukan gitu sama Edgar." Neymar paham mata itu menatapnya kurang setuju dengan kalimatnya. Karena sama-sama kelas 2 mereka jadi lebih mudah ngobrolnya.
"Itu sih Edgarnya aja yang kurang waras. Masak dia segampang itu ngolok dia, hanya karena dia perempuan. Apalagi dia anak baru juga," jelas Nano. Sherry hanya diam sambil mendengarkan mereka. Ada pendukungnya nih. Tiba-tiba Edgar juga nyamperin Sherry.
Gadis itu langsung berdiri lihat si 'kurang waras' datang. Devon memperhatikan dari tempat duduknya.
Bahaya nih, bisa-bisa di hajar di sini. Nero, Lido dan Neymar pasang muka tegang karena barusan aja mereka ngomongin dia. Edgar mungkin tidak terima di sebut kurang waras. Ketiga manusia itu menatap ke arah Edgar yang sudah berdiri di depan Sherry. Mata mereka menatap was-was.
Apa yang akan di lakukan dia?
"Nama kamu siapa?" tanya Edgar dengan nada sedikit tinggi daripada orang bertanya pada umumnya.
"Ve, kak." Sengaja Sherry menambahkan embel-embel kak untuk meredam kekurangajaran tadi.
__ADS_1
"Kamu anggota baru kan?" Sherry mengangguk.