
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Frans kaget mendengar ucapan polos dan cuek gadis itu. Walau bagaimana pun itu tidak mungkin kan ...
Pritt!
Namun Mr. Ryan memperbolehkan. Sherry dan cowok berkacamata itu mulai berlari. Tubuh ini memang milik Ve. Namun jiwa dan hatinya milik Sherry. Dan Sherry bukan gadis lemah. Meskipun awalnya berat karena tubuh ini sudah lama tidak di biasakan seperti ini, Sherry berjuang keras agar tubuh barunya mau mengikuti kemauannya. Perlahan dan pasti tubuh itu mengikuti apa yang dikehendakinya.
Lari dan berlari dengan cepat. Tubuhnya mulai membiasakan diri dengan keinginan jiwa yang ada di dalamnya.
"Benar itu Ve si lemah?"
"Gak salah lihat nih ..."
"Gak mungkin kan itu si cewek lemah ... Masak sih?"
Lontaran kata-kata keheranan bermunculan dari mulut-mulut mereka. Jelas sekali mereka terkejut dengan Ve yang aktif seperti itu. Relly juga memandang tak percaya ke arah gadis yang sedang berlari mengelilingi lapangan.
"Kamu hebat Vermouth!" teriak Mr. Ryan memberi pujian dengan tulus. Ini seperti bapak yang telaten menanti puterinya bisa jalan sendiri. Beberapa anak mulai mendekati Ve yang sudah menyelesaikan larinya. Mereka jadi kagum mendapati Ve dengan mudah berlari mengalahkan mereka yang tidak punya tubuh penyakitan, tapi lari dengan lamban. Walaupun terengah-engah, bibirnya tersenyum dengan senang.
Aku berhasil mengalahkan tubuh ini. Aku benar-benar bisa mengendalikan tubuh ini. Bagus tubuh cantik. Kau akan menjadi jagoan dengan mengikuti kata jiwa yang singgah di tubuhmu.
Bruk!! Tiba-tiba tubuhnya lunglai dan ambruk. Semua kaget dan mengerumuninya.
"Frans!" teriak anak-anak. Frans menyenggol lengan Relly.
"Pasti gadis itu pingsan lagi. Tidak mungkin dia berhasil mengitari lapangan dengan kondisi tubuh lemahnya itu," kata Frans. Relly diam. Sudah bukan rahasia lagi Ve mudah pingsan. Biasanya cowok inilah yang terpaksa memapah gadis itu saat dirinya pingsan. Karena semua orang tahu Ve adalah pemuja Relly abadi, mereka sengaja bikin lelucon yang menyedihkan. Saat Ve pingsan, Relly di panggil untuk memapah gadis itu.
__ADS_1
Relly tidak suka dengan ledekan konyol itu. Namun dia tidak bisa membiarkan gadis yang lemah itu tergeletak pingsan tanpa ada yang menolongnya. Walupun kadang dia juga harus tidak peduli pada Ve karena sebal. Dan ajaibnya Ve selalu sadar lebih cepat kalau Relly yang memapahnya. Mungkin inilah kekuatan cinta. Yah ... walaupun itu cinta bertepuk sebelah tangan.
Frans mendekati. Sudah siap akan menolongnya jika gadis itu pingsan. Namun yang di lihatnya, gadis itu tersenyum dengan tubuhnya di atas lantai. Dia hanya ambruk bukan pingsan.
"Air. Aku butuh air. Tolong...," pinta Sherry membuat Frans terkejut sampai dia linglung.
"Dia butuh air," tegur Relly. Kebetulan Relly yang sedang membawa botol air mineral menyodorkannya. Dia terpaksa memberikannya, karena melihat gadis itu seperti akan kekeringan. Sherry beranjak duduk perlahan dan meraih botol. Kemudian meneguknya sampai habis.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Sherry heran melihat Frans yang sedang mengkedip-kedipkan matanya tak percaya.
"Kamu ... tidak apa-apa?" tanya Frans masih tidak percaya.
"Tidak."
"Biasanya kamu langsung pingsan."
"Aku kan bilang tidak akan pingsan hari ini karena aku sudah makan yang banyak," tutur Sherry dengan lugu. Relly memperhatikan gadis di hadapannya dengan penuh selidik.
Sherry yang sedang meneguk air berhenti minum. "Iya, aku memang aneh," jawab Sherry yang merujuk pada takdir anehnya sambil mendongak. Relly terdiam mendapat jawaban lugas dari gadis di depannya. Dia terusik oleh nada sedih yang tersirat dalam kalimat gadis di depannya.
"Buang itu di tempat sampah," ujar Relly menunjuk botol air plastik di tangan Sherry. Lalu dia menjauh setelah itu. Frans mengikuti dengan bingung juga. Kenapa gadis itu tidak pingsan? Lalu kenapa Relly mengeluarkan kata-kata yang biasanya tidak terucap saat mereka bertemu?
Melihat cowok-cowok bermain basket mengingatkan Sherry dengan adiknya. Rasa rindu akan keluarganya muncul lagi. Dan ini membuat raut wajahnya sedih. Sherry berpikir keras bagaimana caranya mendekati adiknya.
Aska, kamu tidak mungkin tidak sadar kalau Sherry yang sekarang adalah bukan diriku yang sesungguhnya. Karena aku dan Sherry jelas tidak sama. Sangat berbeda. Kenapa kamu tidak merasa aneh? Semoga kamu cepat sadar. Sebelum itu aku harus bisa melatih tubuh ini. Aku harus bisa bersenang-senang. ( Sherry )
"Tumben dia tidak ikut menonton kamu yang lagi main basket?" tanya Ernest saat melempar bola ke arah Relly.
"Siapa?" tanya Relly tidak paham.
"Penggemar sejati mu. Tuh, di bawah pohon itu," tunjuk Ernest ke arah Sherry yang sedang sibuk sendiri. Relly hanya menoleh tanpa komentar.
__ADS_1
"Iya. Biasanya kan dia selalu di depan sendirian sambil menatap kagum ke Relly yang lagi lempar bola. Lalu menyerahkan botol minuman dengan wajah berseri-serinya," tambah Eliot dengan memperagakan.
"Lalu di tolak mentah-mentah sama Relly, bwahahahaa..." serobot Virga yang membuat lainnya juga ikut terbahak-bahak. Semua menertawakan gadis itu.
"Heiiii, kalian ini...," protes Frans. Relly tak merespon. Menurut mereka hari ini Ve memang terlihat aneh. Pemuja yang malu-malu itu tidak lagi meluangkan waktunya untuk memberi minuman dingin atau makanan ringan ke idolanya.
"Bosan kali, di tolak mulu sama Relly."
"Iya kali yah..." Lagi-lagi mereka tertawa. Sebenarnya Relly tidak terlalu memperhatikan, tapi jadi terasa saat teman-temannya membahas. Ada yang aneh dengan gadis itu. Sejak pertama masuk sekolah setelah lam sakit.
"Dia kesini, dia kesini." Cowok-cowok heboh karena yang di bicarakan berjalan mendekati mereka.
"Halo Ve. Nyari Relly, nih?" tanya Ernest setengah menggoda. Biasanya juga begitu saat Ve sudah mendekat. Lalu dengan malu-malu Ve mengangguk. Ve muncul di depan mereka kalau sedang ada perlu sama Relly. Mau memberi sesuatu biasanya.
"Enggak. Lagi nyari Frans," jawab gadis ini santai. Semua melihat ke arah Frans. Mereka kaget dan syok. Hari ini sangat berbeda. Pemuja sejati Relly tidak ada lagi.
"Kenapa nyari Frans, kan ada Relly?" tanya Virga.
"Kenapa nyari Relly? Kan aku butuhnya sama Frans," balas Sherry bingung. Mereka semakin syok. Sherry tidak paham.
"Frans, aku minta tolong jangan ikutkan aku ke dalam ekskul PMR. Gak jadi. Gak mau." Entah kenapa Frans jadi merasa tidak enak ke Relly, tapi dia bahagia melihat yang lain kebingungan saat gadis ini bilang lebih butuh dia daripada Relly.
"Kenapa?" tanya Frans.
"Aku pikir dulu deh."
"Kalau bisa segera ya. Waktunya mepet."
"Gitu ya ... Kalau gitu, taekwondo deh."
Semua terbelalak kaget. Bagaimana mungkin gadis lemah di depan mereka ikut ekskul taekwondo. Bisa-bisa tiap hari babak belur. Lebam di sana sini. Dan kemungkinan besar bisa pingsan tiap hari. Mereka menoleh ke arah Relly bersamaan. Lalu mereka tertawa terkekeh kekeh. Relly tahu maksud mereka. Jika gadis ini terus menerus pingsan, Relly akan kerepotan.
__ADS_1