Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Penyelamat


__ADS_3


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


.


.


Sherry menyadari dirinya yang terjatuh dari atas tangga. Namun samar-samar dia melihat ada sesuatu sedang membungkus tubuhnya dengan erat. Menghindarkan dirinya terantuk banyak bibir anak tangga. Setelah tubuh Sherry sudah berguling dan berhenti di bawah tangga disana, Sherry berusaha melebarkan mata. Pelan dan lambat. Ada rasa nyeri selain pada perut, di tubuhnya yang lain. Itu sudah pasti rasa sakit karena berguling di atas tangga ini.


Dia merasakan sedang menindih sesuatu. Setelah mampu membuka mata dengan benar, Sherry mampu melihat ada apa. Seseorang sedang memeluknya. Masih dengan kesadaran yang belum penuh, dia melihat sherry dengan cemas. Dari atas dahinya ada darah segar mengalir. Tidak banyak tapi cukup mengkhawatirkan karena itu berasal dari sela-sela rambutnya yang artinya ada yang robek di kulit kepalanya.


Mata Sherry melebar.


"Rel, Relly...," ujarnya terbata. Ternyata Sherry menindih tubuh Relly. Meskipun dengan darah segar mengalir, Relly tetap memaksakan diri untuk membantu Sherry bangkit dari jatuhnya. Kali ini Sherry sudah terduduk. Relly juga duduk di sebelahnya. Masih dengan sakit pada perut yang menyiksa, kini juga terasa ngilu di tubuhnya, Sherry meringis dan mendesis menahan sakit. Melihat ini Relly segera mengambil handphone dari saku jasnya.


Jas? Pemuda ini memakai jas? Jas resmi kantoran seperti milik Daniel saat sedang bekerja. Mengapa dia memakai setelah jas?


"Cepat datang ke pintu darurat A. Aku butuh orangmu di sini, cepat!" telepon Relly dengan setengah membentak.


"Kau tidak apa-apa?" Relly menyentuh lengan Sherry mencoba melihat keadaan. Sherry memejamkan mata. Sambil menekan perutnya. Perutnya sakit lagi. Lengan Relly langsung meraup tubuh kecil milik Vermouth dan membawanya naik. Relly mencoba bertahan dengan merasakan ngilu di sekujur tubuhnya dan memaksa membawa Sherry keluar dalam gendongannya dari tangga darurat. Lelaki bermata runcing itu sudah tidak ada.


Relly kesulitan membuka pintu karena harus menggendong tubuh Vermouth, tapi orang-orang milik keluarganya sudah datang di sana, membukakan pintu. Membawa tubuh itu ke mobil di luar, milik keluarga Relly.


"Bawa kita ke rumah sakit keluarga," perintah Relly dengan memeluk tubuh Sherry yang masih meringis kesakitan.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai pada tujuan. Sebuah rumah sakit besar di kota ini. Karena yang datang adalah putra keluarga pemilik rumah sakit, mereka langsung menyediakan penangan paling cepat. Sherry langsung bisa ditangani para petugas medis.


"Sebaiknya, anda di periksa dulu tuan muda. Ada robekan kecil di pelipis anda. Atau mungkin saja ada luka di kepala yang menyebabkan darah mengalir dari sana," kata seorang dokter yang sudah mengenal siapa Relly.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kau cepat periksa gadis itu, dokter."


"Tim kami sudah memeriksa gadis itu dengan baik Tuan muda," kata Dokter perempuan itu membungkuk. Relly mengangguk. Tangannya mengusap darah yang menetes dari atas dahinya.


"Apa yang sedang kau lakukan Rel? Mengapa kau membawa seorang gadis? Dan juga... dengan penampilan seperti ini," tanya Erik. Lelaki muda berumur sekitar dua puluh tujuhan. Dia sering menjadi pendamping Relly layaknya seorang sekretaris, yang di teleponnya tadi. Saat ini matanya sedang menilai penampilan tuan mudanya.


"Aku menemukannya di serang seseorang."


"Siapa yang menyerangnya?"


"Aku tidak tahu. Dia di dorong dari atas tangga darurat perusahaan itu," Erik memanggil dokter lagi untuk mendekat.


"Tolong periksa tuan muda. Disini saja," perintah Erik karena dokter itu ragu. Setelah melalui proses pemeriksaan singkat, dokter keluar dari kamar pasien. Relly yang sudah selesai di periksa juga berdiri.


"Bagaimana dia?" tanya Relly.


"Dia tidak apa-apa. Aku sudah memberinya pereda nyeri. Itu mungkin hanya maag. Tapi karena sangat parah, sakitnya menjadi lebih sakit dua kali lipat, bahkan lebih. Sepertinya dia punya riwayat sakit maag yang lumayan lama," jelas dokter dengan nada berusaha yang bisa membuat Tuan muda mereka tenang.


"Meskipun dia punya penyakit maag, tubuhnya nampak bugar. Walaupun kecil, sepertinya tubuh itu sudah mengalami latihan berat belakangan ini. Hingga goncangan dan benturan di tangga -seperti yang anda bilang tadi- mungkin tidak terlalu membuatnya mengalami luka dalam,"


"Latihan berat?" tanya Relly heran.


"Dia seperti melakukan latihan olah raga yang mengandalkan kekuatan semacam tendangan dan pukulan, mungkin beladiri, karate dan semacamnya," tebak dokter itu tidak yakin.


Berarti soal di cafe itu memang dia pemicunya. Dia sengaja ikut kegiatan karate hanya untuk membuat onar? Relly mendengkus membayangkan gadis aneh itu semakin aneh dan misterius. Semua hal padanya sangat membuat Relly terusik dan tertarik.


"Itu berarti dia tidak apa-apa?" selidik Relly.


"Benar." Dokter itu mengangguk. "Mungkin seperti tubuh anda yang setiap hari di tempa latihan. Walaupun terlihat lemah, tubuhnya mampu menahan benturan semacamnya."

__ADS_1


Relly lega. Upayanya membungkus gadis itu dengan cepat membuahkan hasil. Yaitu gadis itu tidak apa-apa. Relly meringis lagi merasakan tubuhnya yang terasa ngilu saat ini karena terbentur anak tangga tadi.


"Aku ingin melihatnya," pinta Relly. Dokter mempersilahkan. Relly diantar menuju kamar tempat Sherry terbaring. Ternyata gadis itu sudah tidak sepucat tadi. Warna kulitnya kembali normal. Dia juga tidak terbaring dengan lemah, dia setengah duduk sambil memijit pundaknya dan juga bagian tubuh lain yang terasa sakit. Tapi dia juga segera memekik sendiri saat menekan salah satu bagian tubuhnya yang ternyata memar. Banyak memar yang bermunculan di sana. Di tubuhnya.


"Apakah kau tidak tahu bahwa tubuh yang memar tidak boleh di tekan?" tegur Relly sedikit menekan pada kalimatnya yang langsung membuatnya menoleh ke arah Relly. Pemuda ini masuk ke kamar ini dengan pelipis yang sudah tidak ada darah mengalir lagi.


"Relly? Kau tidak apa-apa?" tanya Sherry hendak beranjak dari ranjangnya.


"Berhenti! Aku sudah menghampirimu. jadi jangan sia-siakan pengorbananku dengan kamu yang akan mendatangiku. Sudah cukup aku yang mendekatimu," Sherry tidak jadi bangkit dari ranjangnya karena sudah ada Relly yang mendekat ke arahnya. Lalu dia duduk di bibir ranjang.


Erik sudah menyuruh orangnya untuk menggeser sofa agar dekat dengan ranjang. Supaya tuan muda nyaman melihat gadis yang di bawanya itu dari sofanya. Relly menahan usaha mereka dengan mengangkat tangan. Itu tidak perlu di lakukan karena dia ingin duduk di bibir ranjang.


Penampilan Relly semakin terlihat bagus dengan balutan setelan jas pada tubuhnya. Dia terlihat sangat dewasa apalagi dengan rambutnya yang tersisir rapi ke belakang. Walaupun saat ini sedikit acak-acakan karena berusaha menolongnya tadi. Itu masih bisa menunjukkan dia tampak keren.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Sherry lagi.


"Aku bisa mendatangimu jadi tentu saja aku tidak apa-apa. Lalu bagaimana dengan dirimu?" Relly memeriksa keseluruan tubuh gadis di depannya dengan matanya. Dia merasa punya kewajiban melihat keadaan gadis yang sudah berguling di tangga darurat tadi. "Kau merasa lebih baik?" Sherry mengangguk.


"Untuk tubuh ini mungkin masih butuh proses. Namun aku merasa lebih baik," kata Sherry menjelaskan memar-memar pada tubuhnya.


"Apakah kau sering melewatkan makan?" tanau Relly. Sherry mencoba berpikir. Dulu tubuh ini memang sering melewatkan makan tapi saat Shery sudah bertekat membuat tubuh jadi berotot, dia tidak pernah melewatkan jan makan. Makanan apapun akan masuk mulutnya. Tapi belakangan ini dia jadi sering melewatkan jam makan lagi. Nafsu makannya jadi berkurang, seperti banyak hal yang membuatnya perlu banyak berpikir.


"Mungkin," jawab Sherry seraya mengangkat alis. Tidak menyangka saat ini perutnya sangat lapar. Bunyi-bunyian karena perutnya menagih makan terdengar. Sherry meringis malu karena ada cowok di depannya.


"Kau sangat lapar rupanya," kata Relly seperti menemukan sesuatu yang bisa membuat dia bisa terus menahan Sherry disini "Apa yang kau inginkan?"


"Apapun." Sherry langsung menutup mulutnya karena tidak bisa sedikit menahan image wajah cantik dan elegan milik Vermouth. Sherry merasa malu di sana.


"Kau tidak perlu malu mengatakannya. Aku bisa menerimanya. Bukankah sekarang kau adalah gadisku?" tanya Relly tanpa malu. Benar. Walaupun tanpa melalui proses jadian pada mestinya, Relly dan dia sudah jadian. Sherry mengusap wajahnya. Dia lupa bahwa dia telah berjanji akan menjadi kekasihnya Relly.

__ADS_1


Aaahhhh!! Ini sangat melelahkan!



__ADS_2