
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
Bola mata Sherry masih menatap tajam ke arah pria paruh baya di depannya. Berarti kebaikan pria tua ini palsu. Dia baik karena selama ini Ve menjadi gadis penurut. Jadi saat melihat tingkah Ve terasa mengancam, pria ini juga ikut berubah.
"Aku tidak pernah tahu kalau kau bisa melihat orang dengan tatapan tajam seperti itu, bocah. Bukankah kau biasanya selalu ketakutan?" Pria berjas ini mendekatkan wajahnya hingga menunjukkan mata yang kejam. Di tambah dengan seringaiannya yang menakutkan.
Sherry mendengkus tidak gentar. Walaupun tubuhnya gemetar, dia berusaha tampak tangguh.
Plak!
Tiba-tiba tamparan mendarat dengan keras pada pipi Sherry. Pria itu menampar tanpa ragu. Perih terasa di pipi.
"Kau memang butuh di bekukan," ujar pria ini sinis.
"Semuanya akan terkuak orang tua. Apapun yang kau lakukan di keluarga Santana akan terkuak."
"Tidak akan ada yang percaya ucapan bocah ingusan. Akulah yang akan mengendalikan keluarga itu. Jadi kau juga akan aku lenyapkan."
Sementara itu Daniel merangkak dengan sekuat tenaga. Rasa pusing di kepalanya semakin kuat. Pandangan matanya juga mulai kabur. Dia ingin menolong gadis itu. Disana. Sherry tengah sendirian. Setidaknya dia ingin melihat keadaan gadis itu.
"Apa itu?" Salah seorang laki-laki melihat seseorang di dekat mobil mereka. Mata mereka membelalak melihat bagasi mobil terbuka.
"Kenapa bagasi mobilmu terbuka?" tanya bos mereka.
"Sial! Mayat itu bos!"
"Bagaimana mungkin mayat bisa membuka pintu bagasi, bodoh!" teriak bos marah.
"Sebaiknya kita lihat saja," ajak kawannya agar bos mereka tidak marah. Dua laki-laki itu mendekati mobil dan menemukan Daniel yang menyeret dirinya sendiri di atas tanah. "Bos! Dia belum mati! Pria muda ini belum mati!" teriak pria itu panik yang langsung membuat pria tua, tapi masih gagah itu terkejut. Dengan kasar pria itu menarik tubuh pria muda yang berusaha keras berjuang mendekati Sherry.
Daniel! pekik Sherry dalam hati terkejut. Bermacam-macam perasaan saat ini berkecamuk di hatinya. Lega dan senang jadi satu karena akhirnya melihat dia tidak sendirian. Ada Daniel di sana. Namun melihat keadaan Daniel yang sekarang dia juga khawatir. Rasa takut juga semakin parah melihat Daniel tak berdaya di tangan orang-orang itu. Mereka berdua akan benar-benar berakhir disini tanpa ada seorang pun tahu.
Napas Daniel terengah-engah tak berdaya. Dia mulai kehilangan kesadaran akibat darah yang mengalir dari kepalanya.
Bos mereka mendatangi mobil mereka. Meninggalkan Sherry yang terbaring lemah dan kesakitan. Bekas di tendang dan ikatan mereka menyisakan rasa sakit yang masih terasa.
"Seharusnya kau juga tidak ikut campur. Kau tidak akan mengalami hal seperti ini jika tidak mengikuti gadis bodoh itu. Dia tidak mengerti mana yang bisa di jadikan sebuah permainan, mana yang harus di hindari sejauh mungkin." Mata pria tua itu menatap iba dan juga tidak suka pada Daniel.
__ADS_1
"K...kau..." Daniel terbata melihat pria itu.
"Seharusnya dari awal kau mendengarkan semua perkataan dari bibir mamamu. Bukan mengikuti keinginan gadis bodoh itu. Bukankah menjadi keluarga kaya adalah keinginan kalian berdua? Aku sudah mengangkat kalian dari bawah dan membuat kalian berdua bisa menikmati kekayaan ini, tapi kau menghancurkan dengan cepat takdirmu yang sudah dirubah olehku." Di sela kesadarannya yang berkurang, mata Daniel melihat ke arah pria yang selama ini di panggilnya papa. Ya. Pria ini adalah pemilik perusahaan SMART. Gio Santana, papa Vermouth.
Sherry melihat Daniel dengan takut yang semakin menjadi. Daniel! pekik Sherry dengan mulut masih lemah untuk berteriak saat melihat pria itu menghajar Daniel. Tubuh Daniel terkulai lemas. Tubuh Sherry bergetar membayangkan keadaan Daniel selanjutnya.
Kaki Gio Santana menendang tubuh Daniel. Pria itu tidak berkutik. Daniel tewas.
"Sepertinya dia sudah tidak bernyawa Tuan," ujar anak buah Gio.
...----------------...
Sementara itu di tempat Relly berdiri setelah menerima informasi dari Daniel.
"Kita harus segera menemukan lokasi ini Erick. Dia ada di sana. Sherry ada di sana." Relly mengucapkannya dengan menggebu-gebu. Semangatnya semakin berkobar. Tangannya kembali mengguncang-guncangkan bahu Erick.
"Kau tidak takut ini jebakan?" tanya Erick dengan hati-hati.
"Daniel mungkin merasa aku adalah saingannya dalam merebut hati Sherry, tapi dia tidak akan berusaha meminta bantuanku jika ingin mendapatkan perhatian gadis itu. Jika mampu, dia cukup menolong Sherry tanpa memberitahuku."
"Mungkin ini tipuan orang yang menelepon barusan agar kau tampak buruk di depan gadis bernama Sherry."
Tekad Relly begitu tinggi. Erick tidak bisa memadamkannya.
"Oke. Kita pergi menuju lokasi yang di tunjukkan ponsel Daniel." Erik memberikan jalan bagi Relly untuk maju. Dukungan penuh di berikan pada tuan muda ini.
Relly bergegas masuk ke dalam mobil dan di ikuti Erick. Namun Relly justru masuk lewat pintu kanan.
"Aku yang menyetir."
"Baiklah." Erick kembali memutar untuk masuk lewat pintu yang lain. Dengan tatapan mata nyalang dan raut wajah serius, Relly memacu mobil dengan kecepatan yang penuh. Dia tidak mau menghabiskan waktu. Dia harus cepat dan bergegas. Mungkin jika Daniel benar, Sherry tidak punya waktu banyak.
Banyak pikiran buruk berkecamuk di pikiran Relly. Untung saja malam semakin larut. Kendaraan semakin sedikit. Namun lebih berbahaya karena setiap kendaraan melaju dengan cepat karena jalanan lengang.
...----------------...
Karena fokus pada Daniel yang telah menjadi mayat, mereka tidak memperhatikan tentang gadis yang berada di pinggir danau. Sherry berusaha keras untuk berdiri dengan tubuhnya yang sakit.
Sherry akhirnya bisa berdiri. Kakinya sedikit nyeri, tapi dia masih bisa berjalan. Lalu dia memaksakan diri untuk berlari. Pelan, pelan dan akhirnya dia mampu menggerakkan kakinya untuk berlari.
__ADS_1
"Bos! Gadis itu tidak ada! Dia kabur!" teriak anak buah Gio.
"Apa?! Cepat kejar. Dia harus di tangkap dan di habisi sekarang juga. Dia sepertinya tahu siapa aku sebenarnya." Gio memberi perintah. Mereka berdua mengejar Sherry yang sudah lumayan jauh.
Kaki Sherry terasa sakit. Bukan hanya kaki, tapi sekujur tubuhnya sakit. Namun dia harus berlari demi menyelamatkan nyawanya.
Daniel... Sherry terisak sambil berlari. Dia teringat lagi pria itu. Daniel telah mati. Kini dia harus bisa menyelamatkan nyawanya sendiri demi membalaskan dendam pada penjahat itu. Dia yang tahu tentang operasi wajah itu.
Napas Sherry tersengal-sengal. Kadang kakinya tersandung dan tubuhnya terjerembab. Membuat sakit di tubuhnya semakin terasa. Aku harus terus berlari. Harus! Tekad kuatnya untuk selamat membuahkan hasil. Akhirnya dia sampai pada jalan besar.
Meskipun jalanan terlihat sepi, setidaknya Sherry bukan lagi di tempat itu. Tempat terpencil yang terlihat menakutkan. Sherry kebingungan dengan arah yang akan di tuju. Dia tidak tahu arah yang mana. Kakinya segera mengambil keputusan cepat. Dia harus cepat pergi karena orang-orang itu sudah mulai terlihat.
...----------------...
Sementara itu Relly masih berada di dalam mobilnya. Dia mengikuti lokasi yang di tunjukkan ponsel Daniel. Tampak tanah kosong terhampar luas di sebelah kanan dan kiri.
"Sepertinya kita sudah dekat dekat lokasi, Erik." Relly berujar seraya melihat ke sekeliling.
"Ya. Tempat yang sangat menakutkan," ujar Erik saat melihat suasana sekitar begitu sunyi. "Jalanan ini hanya di lewati truk pengangkut ilegal. Karena jalan ini begitu terpencil dan tersembunyi. Juga mungkin bagi mereka yang ingin segera ke kota lebuh cepat."
Relly melihat ke arah jalan, dan di rasa tidak ada kendaraan lewat dia membelokkan mobil ke arah hamparan tanah kosong dengan banyak ilalang.
Namun, sebelum Relly berhasil menjalankan mobil memasuki padang ilalang, dari arah depan terdengar teriakan yang riuh.
"Cepat! Gadis itu harus segera di tangkap. Bos ingin gadis itu di lenyapkan."
"Ada apa itu, Rel?" tanya Erik sambil melongok ke arah suara. Namun mereka masih belum terlihat.
Sherry? Relly menjalankan mobil menuju arah depan. Tidak jadi membelokkan mobil ke padang ilalang.
Sherry masih berlari. Raut wajahnya kesakitan. Kakinya yang tidak beralaskan apapun terasa perih.
Dari tempat Relly, dia mulai bisa melihat dua pria brewok dan gondrong yang sedang mengejar seseorang. Siapa? Siapa yang mereka kejar?
Saat mata mereka menemukan target di depan laki-laki pengejar tadi, mata Relly membulat panik.
Sherry!
__ADS_1