
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
Aldo memberitahukan nama rumah sakit dimana Vermouth di bawa. Rumah sakit? Kalau begitu, bukankah gadis itu sudah bisa di pastikan babak belur? Sherry dan Aska berjalan dengan setengah berlari mendatangi ruangan tempat Vermouth di rawat. Pikiran mereka kalut. Kecemasan Aska terungkap. Dia salah menduga bahwa Sherry yang asli yang mengalami kejadian ini. Firasat buruknya ternyata untuk Vermouth.
Setengah membanting, Aska membuka pintu. Sherry melongok dari bahu Aska yang lebar dan mendorong tubuh Aska yang tidak segera masuk. Aldo dan Sabo ada di sana. Berada di samping ranjang rumah sakit yang beralaskan sprei berwarna putih bersih.
Dia sedang terbaring lemah. Sherry menatap tubuhnya sendiri dengan tatapan ragu dan sedikit takut. Matanya nanar dan berkaca-kaca. Bukan karena tubuh itu lemah dan tak berdaya. Itu karena ada rasa anehyang menyerang di dada saat melihat tubuhnya sendiri. Di depan matanya ada tubuhnya yang asli, seakan secara ajaib dia bisa masuk begitu saja berganti tempat saat itu juga. Namun nyatanya tidak bisa. Aldo dan Sabo yang menemani heran melihat Aska datang bersama seorang gadis cantik.
Mata mereka masih saja menatap ke arah Sherry yang mendekat dan menunjukkan kesedihan yang mendalam yang di depan mereka hanya terlihat ikut sedih karena melihat tubuh gadis yang terbaring lemah itu. Aska datang menghampiri Sherry dan berdiri di sebelahnya.
"Apa yang di lakukan mereka?" tanya Aska yang menahan marah yang terlihat di matanya.
"Tiba-tiba saja seseorang mencegat kak Sherry dan mulai memukulnya. Aku yakin itu anak sekolah X. Sebenarnya kejadiannya hanya sebentar karena kita yang berada di belakangnya segera menghampiri. Tapi entah kenapa Kak Sherry langsung pingsan tidak berdaya. Dia langsung tersungkur di tanah. Ini jelas membuat kita khawatir," terang Sabo yang melihat pertama kali. Mata mereka menatap Sherry cemas dan juga heran.
Dari tatapan dan kalimat Sabo tadi, Aska tahu mereka terkejut bukan karena anak-anak itu menyerang tubuh Sherry. Melainkan karena tidak berdayanya tubuh gadis yang biasanya jadi jagoan di depan mereka. Serangan yang Aska yakin sebenarnya tidak seberapa parah -melihat keadaan Sherry yang tidak terluka parah- mampu membuat gadis ini pingsan.
"Mungkin Kak Sherry sedang tidak sehat atau sebagainya?" tanya Aldo ke Aska. Bibir Aska hanya diam. Bukan tidak fit, melainkan karena jiwa itu bukan milik Sherry yang sebenarnya. Sherry yang berdiri di samping ranjang masih terdiam dan terus saja memandangi wajahnya sendiri. Tangannya yang terulur untuk menyentuh kulit wajah yang sudah lama di diami sejak lahir, jadi terasa aneh.
Sebelum tangan itu berhasil menyentuh permukaan kulit, Sherry sudah menarik sendiri tangannya untuk tidak menyentuh. Ada marah, sedih, dan rindu yang menahannya untuk tidak menyentuh. Aska melirik ke arah Sherry yang sedang merasakan gejolak di hatinya. Bertarung dengan perasaannya sendiri.
Aska yang tidak mampu membayangkan bagaimana hati kakaknya saat mata itu melihat tubuhnya sendiri di depannya tapi tidak bisa memilikinya. Aska membiarkan interaksi diam Sherry dengan tubuh lamanya.
__ADS_1
Aldo dan Sabo akhirnya bertanya soal Sherry.
"Bukankah dia adalah gadis yang pernah datang ke sekolah kita, Ka? Yang datang mencarimu itu," tanya Aldo. Aska mengangguk.
"Kenapa bisa bersamamu?" selidik Sabo. Aska hanya mengangkat bahu.
"Apakah orang rumah tahu?" tanya Aska tegang yang baru teringat akan hal itu sekarang. Sabo dan Aldo menggeleng.
"Kita tidak berani memberitahu Ibumu," jawab Sabo pengertian. Aska menghela napas lega.
"Terima kasih," ucap Aska sambil menepuk bahu mereka bergantian. Merasa beruntung ada mereka yang menyelamatkan Vermouth. Aska menoleh lagi ke Sherry yang masih tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia pasti terguncang, bisa bertemu dengan cangkang asli miliknya.
"Kita keluar dulu yah, mau makan. Lapar," kata Aldo. Aska mengangguk. Sebelum mereka keluar dari pintu kamar pasien yang masih terbuka, muncul seseorang yang tidak terduga dari sana. Orang itu melongok dengan ragu ke dalam kamar. Namun saat matanya tertuju pada tubuh Sherry yang berada di sebelah Aska dia mengela napas lega.
Aska melebarkan mata terkejut saat lelaki itu muncul di ambang pintu. Melangkah masuk tanpa permisi yang membuat semua orang di dalam ruang kamar pasien yang kecil itu terperangah. Sherry masih terpaku pada tubuh miliknya sehingga tidak menyadari kedatangan lelaki itu.
Legenda jagoan dikalangan anak SMA semacam mereka muncul di sana. Didepan mereka tanpa mereka undng.
"Ka, Ka.. di-dia.... Jagoan itu kan?" tanya Aldo terbata-bata sambil menunjuk ke tubuh pemuda di depan mereka dengan lambat. Sabo ikut mengangguk tanpa bisa menoleh ke Aska karena tidak ingin melewatkan kesempatan melihat wajah tampan yang lebih di kenal karena kekuatannya.
Aska bukannya tidak tahu. Dia bisa melihat dengan jelas, dia yang berjalan perlahan masuk. Hanya saja mulutnya tidak bisa bergerak untuk berucap saat langkah itu semakin mendekat. Pun dia masih terkesiap, kenapa pemuda ini bisa ada di sini. Di dalam kamar ini.
"Halo," sapa Hansel singkat karena mereka semua menatapnya dengan pandangan tertegun.
"Benar Ka. Dia Hansel jagoan hebat itu," seru Sabo akhirnya. Mereka berdua merasa girang tapi juga gugup karena bertemu secara langsung. Jagoan dari sekolah elit yang sangat terkenal itu. Juga, mereka menganga karena kagum akan ke tampanan Hansel. Aldo dan Sabo saling dorong dan gugup. Tubuh mereka belingsetan di sisi lain ranjang rumah sakit.
Mata Hansel langsung ke arah Sherry yang sampai detik ini masih saja tidak bisa mendengar atau mempedulikan keberadaan Hansel yang menghebohkan itu disana. Setelah berhasil menguasai keterkejutannya Aska mendehem. Berusaha menghindarkan kekeringan yang tiba-tiba saja menyerang
__ADS_1
tenggorokannya.
"Kau cowok yang tadi di sekolah kan?" tanya Hansel ke arah Aska yang saat ini sudah melepas topinya. Aska tidak tenang dengan kedatangan Hansel yang mengetahui keberadaanya. Aska hanya diam sambil terus melihat Hansel dengan waspada.
"Ve," tegur Hansel. Padahal Aska bermaksud memberitahu kedatangan Hansel sebelum akhirnya Hansel lebih dulu memanggil nama itu. Mendengar panggilan asing yang di dengarnya di ruangan ini, dimana tidak akan muncul nama itu dari mulut-mulut orang-orang yang ada di sini, Sherry seperti di tarik dalam dunia nyata. Dia seperti terbangun dari mimpi. Lalu menolehkan wajah ke arah asal suara.
Matanya membulat dan nanar melihat Hansel ada di depan matanya.
"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Sherry dengan perlahan bergerak maju mendekati Hansel. Ekor matanya sekilas melihat ke arah Vermouth yang terbaring lemah. Dia tergerak untuk langsung melindungi cangkangnya yang ada di atas ranjang dari mata Hansel yang belum melihat ke Vermouth yang terbaring.
Mata Hansel tak melepaskan Sherry yang terus saja menatapnya dengan pandangan terkejut. Hansel merasakan ada yang aneh di dalam sini.
"Hansel, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Sherry lagi yang tahu Hansel akan mencoba mencermati keadaan. Dia sengaja menyebut nama Hansel dengan memberi tekanan di sana hanya untuk mengaburkan tujuan Hansel untuk mengamati keadaan. Sherry menoleh ke Aska sebentar. Mata Aska paham arti tatapan mata itu.
"Aldo, Sabo kalian bisa keluar dulu," pinta Aska. Aldo dan Sabo menoleh dengan heran. Memang awalnya mereka berdua ingin segera keluar dari kamar ini karea lapar, tapi saat Aska justru memintanya keluar seperti sedang mengusir mereka. "Tolong..," pinta Aska dengan sedikit memohon. Aldo dan Sabo yang tadi sibuk berpikir bahwa Aska mengusirnya, akhirnya menuruti permintaan Aska. Sebagai teman dekat mereka bisa menemukan ada hal penting yang membuat raut wajah Aska yang biasanya datar dan dingin menjadi nanar dan sedikit tertekan.
"Ba...ik. Kita akan menunggu di luar," jawab Sabo lambat dengan pengertian yang langsung di ikuti anggukan kepala Aldo. Sekarang kepala mereka sedang diserang pertanyaan. Bukan hanya satu, tapi banyak dan menumpuk. Namun sebagi teman, mereka menurut tanpa banyak tanya.
"Hansel, aku bertanya. Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Aku mengikutimu," jawab Hansel tanpa menutup-nutupi. Setelah dua pertanyaan dia lewati dengan diam akhirnya setelah Sherry mempertanyakan lagi, Hansel baru menjawab. Dan sebenarnya ini juga sudah di duga mereka berdua. Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua mungkin sudah ada dalam jalan takdir.
"Kenapa mengikuti aku?" tanya Sherry dengan nada berhati-hati yang sangat kentara juga rasa penasaran. Sherry berdiri di sisi depan ranjang yang tidak memungkinkan untuk Hansel melihat siapa yang sedang terbaring di atas ranjang.
__ADS_1