Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Tangisan itu


__ADS_3


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


.


.


Masih di rumah sakit, di dalam kamar pasien.


Vermouth menyeka hidungnya yang basah dengan tisu yang di berikan oleh Aska. Pemuda yang telah jadi adiknya secara ajaib. Namun saat ini, setelah Aska mengatakan bahwa dia tahu jika tubuh Sherry di huni oleh jiwa lain, Vermouth seperti kembali hidup seperti dirinya lagi.


Sebenarnya saat matanya membuka perlahan, dia terkejut melihat tubuhnya sendiri ada di hadapannya. Dari tempatnya terbaring, Vermouth dapat mengenali langsung tubuh seorang gadis yang sesekali menoleh ke samping untuk sekedar menajamkan telinga, mendengarkan dengan seksama apakah tubuh yang sedang terbaring ini sudah terbangun apa tidak.


Tubuh itu milikku!


Vermouth semakin terkejut saat matanya dapat melihat orang-orang dari sekolahnya dulu. Bahkan dia, orang yang selalu jadi favoritnya, Relly. Cowok itu ada di dalam kamar pasien ini juga. Hingga bibirnya tanpa sadar menyebut nama itu meskipun tertahan.


Ada rindu, sedih dan perasaan aneh lainnya yang bergejolak di hatinya. Apalagi saat mendengar gadis yang memakai tubuhnya itu menawarkan dirinya menjadi kekasih Relly. Dirinya terguncang mendengar hal itu. Ingin rasanya berteriak dan menghambur pada Relly lalu mengatakan bahwa dia bukan Vermouth yang asli. Namun apa gunanya, Relly sepertinya lebih menyukai tubuhnya karena ada jiwa Sherry di dalamnya.


Ini adalah pertama kalinya dia bisa bertemu dengan orang yang di cintainya. Menyenangkan juga menyedihkan.


"Dia... kekasihmu?" tanya Aska. Vermouth menatap Aska sambil mengerjap, "Relly. Nama yang kau sebut tadi," mata Aska menunjuk ke arah pemuda tadi berdiri. Vermouth menggeleng. "Lalu, kenapa kau menangis?" Vermouth hanya diam tidak menjawab.


"Baiklah. Aku tidak perlu bertanya lebih jauh soal itu," Aska berhenti melanjutkan pertanyaannya.


"Dia orang yang aku kagumi..." Vermouth membuka cerita. Mengatakannya dengan menunduk. Aska memutar tubuhnya. Mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi dari bibir ranjang. "Karena dia aku bisa bertahan dalam rumah itu. Aku yang seperti merasa sendirian sedikit merasakan keindahan. Dia tidak pernah marah, tidak pernah mencaci, dan tidak pergi. Meskipun aku tahu dia tidak ada perasaan khusus padaku, dia selalu ada untukku tanpa mengeluh. Aku seperti di jaga oleh ksatria." Vermouth mulai menceritakan kisah hidupnya dengan senyum sedih.


"Mungkin dia iba melihatku, jadi dia membiarkanku berada di sekitar dirinya. Padahal yang lain mencemo'ohku karena aku selalu mengikutinya, tapi dia diam saja tanpa mencela walaupun dia tidak menginginkanku," lanjut Vermouth tersenyum geli dan juga kasihan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mungkin sebenarnya dia punya perasaan istimewa untukmu. Hanya saja mungkin belum bisa mengatakannya." Aska punya pendapat lain. Vermouth menggeleng.


"Tidak. Aku tahu dia hanya melihatku dengan mata sebagai teman, aku tahu itu," jawab Vermouth yakin.


"Jadi, kamu menangis karena ternyata kakakku yang sekarang ada di dalam tubuhmu yang menjadi kekasih Relly?" Vermouth mengusap lagi air matanya yang menggenang di ujung mata. Dia masih ingin menangis.


"Tentu saja iya. Aku yang ingin jadi kekasih Relly, kenapa dia yang bisa jadian," sungut Vermouth akhirnya. Menyeka airmatanya dan mengkerucutkan bibirnya. Relly tersenyum.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Kamu tidak ingin kembali pada tubuhmu? Kamu bisa menemui orang-orang itu lagi kalau kamu kembali pada tubuhmu," Aska memang ingin menyinggung hal ini. Misteri mungkin terungkap kalau pemilik tubuh keduanya saling mencari tahu dan punya keinginan yang kuat untuk kembali pada cangkang masing-masing.


Namun bibir Vermouth membungkam. Tidak ada jawaban. Aska langsung bisa mengambil kesimpulan, bahwa Vermouth tidak ingin kembali pada tubuhnya. Dia merasa nyaman hidup sebagai Sherry.


"Kau akan tahu, hidup Sherry tidak seindah seperti yang kamu rasakan saat ini. Setiap kehidupan, semua manusia punya masalah dan kebahagiaannya sendiri-sendiri. Begitupun kamu dan Sherry," Vermouth yang benar-benar sudah pulih dari tangisannya mendongak melihat Aska yang berwajah serius.


"Seperti halnya saat ini. Kamu bisa berada di rumah sakit ini karena tubuhmu adalah milik Sherry. Kamu belum tahu kehidupan Sherry sebenarnya."


"Apa... dia tiap hari di hajar oleh-oleh orang-orang asing?" tanya Vermouth seakan ngeri membayangkan kejadian seperti itu. Aska mendehem.


Aska ragu untuk mengungkapkannya. Apakah dia cukup percaya saat dia menceritakannya? Namun Aska harus menceritakan sebenarnya.


"Sebaliknya. Sherry sering menghajar mereka," ujar Aska entah kenapa jadi malu sendiri menceritakan kelakuan kakak perempuannya itu. Mata Vermouth melebar. Lalu mengkerjap berulang-ulang. Dia seperti barusan mendengar sesuatu lalu hilang tak berbekas.


"Bisa kamu ulangi?" tanya Vermouth merasa pendengarannya yang mengalami gangguan


"Iya. Sherry sering berkelahi layaknya laki-laki, dengan semua atribut yang menutupi identitasnya," jelas Aska. Vermouth termangu. "Intinya, kamu tidak aman ada pada tubuh Sherry kalau tidak punya kemampuan berkelahi seperti Sherry. Kamu bisa babak belur." Aska menekankan kalimat terakhirnya. Vermouth merasa ngeri karena itu sama sekali tidak pernah terbayang olehnya.


Melihat kejadian Hansel menghajar seseorang saja membuatnya merinding apalagi jika harus mengalami kejadian itu sendiri.


"Aku juga tidak tahu bagaimana cara kalian bisa kembali, tapi pertama yang harus kamu lakukan adalah... cobalah untuk memberi hatimu keyakinan, bahwa kau ingin kembali pada tubuhmu. Tekankan terus menerus," pinta Aska bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Kehidupanku tidak sebagus pemukaannya, Ka. Sulit rasanya ingin kembali pada kehidupanku. Aku tidak bisa," Vermouth merasa ngeri.


"Ubah cara pandangmu, Ve.." ujar Aska menyebut nama itu. Aska langsung tersadar. "Maaf, aku menyebut nama..."


"Tidak apa-apa. Kamu bisa menyebut namaku saja. Toh, kamu tahu aku bukan Sherry kakakmu," potong Vermouth. Mata Aska melihat sebuah hodie milik Sherry di atas kursi.


***


Tidak ada luka serius yang di alami Vermouth, hanya lecet dan syok yang tidak berbahaya. Namun ada satu lagi yang membuat Aska pusing memikirkannya. Bagaimana cara membayar biaya perawatan yang tidak lama ini? Walaupun sebentar, mereka tetap menagihkan biaya perawatan. Aska jelas tidak punya. Uang sakunya juga sedikit.


"Sher, bisa kesini?"


"Ada apa?" tanya Sherry yang masih belum pulang. Dia masih bersama Hansel dan juga jumper milik cowok itu yang melekat pada tubuhnya.


"Tolong bayarkan biaya rumah sakit. Aku tidak punya uang untuk membayarnya. Aku juga tidak bisa memberitahu Ibu," pinta Aska memelas sambil berbisik.


"Hah? Kamu pikir aku juga banyak uang, Ka? Walaupun tubuh ini kaya, sakuku terbatas karena Ibu tiri!! Tubuh ini hanya permukaannya aja banyak uang," gerutu Sherry. Hansel melirik mendengar percakapan Sherry barusan. Sherry lupa bahwa masih ada Hansel di belakangnya. Merangkum dan menyimpan semua pembicaraan Sherry melalui handphone barusan.


"Terus bagaimana dong, Sherr..." rengek Aska.


"Aduhhh... Aku terpaksa harus menelepon Elda nih untuk memintanya membayar biaya rumah sakit. Dia juga pasti gembira jika bertemu dengannya."


"Baiklah. Cepat! Aku tidak betah di sini," tekan Aska.


"Sialan nih adik kecil. Beraninya dia membentakku," Sherry mengucapkannya dengan kesal. Lalu Sherry menghubungi Elda. Menceritakan semua perkaranya. Elda menyanggupi karena itu bukan nominal yang banyak. Namun bagi Aska tetap saja uang segitu mencekik lehernya.


"Aku kesana? Aku sedang... " Mata Sherry menatap cowok yang berdiri tidak jauh darinya. "Aku tidak bisa kesana, aku sedang bersama Hansel," bisik Sherry. Akhirnya Elda mau ke rumah sakit sendirian, tanpa dirinya.


"Aku bisa mengantarmu, kalau kamu mau." tawar Hansel yang ternyata bisa mendengar pembicaraan Sherry. Kepala Sherry menggeleng kuat. Tidak mungkin Sherry mengajak cowok ini kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


Sebentar lagi Elda akan bertemu Vermouth. Mereka akan bertemu lagi setelah sekian lama berpisah.



__ADS_2