
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Sherry mengusap wajahnya gelisah.
Semoga saja yang sedang mengkoreksi bukuku adalah Frans. Aku yakin dia bisa sedikit memperbaiki jawabanku. Atau paling tidak, dia akan diam saja kalau seandainya nilainya jeblok. Dia cowok baik selama ini. Jadi mungkin dia akan berbaik hati kepada tubuh ini.
Setelah di bagikan secara acak. Diskusi di mulai. Semua mengacungkan tangan. Memberikan kemungkinan jawaban yang benar. Sherry memperhatikan mereka semua yang berani mengacungkan tangan dan menjawab dengan benar.
Sherry melihat ke samping saat di lihatnya Relly sedang menatapnya. Hanya sebentar lalu kembali fokus memperhatikan diskusi. Sherry mengedikkan bahu sendiri karena tidak paham cowok itu menatapnya sebentar barusan. Ada pula yang di tunjuk untuk menjawab.
Waa ... kalau di sekolah Sherry yang dulu tidak seperti ini. Tugas di kumpulkan dan di koreksi dan di nilai sendiri oleh guru mata pelajaran. Sherry gugup, saat Mr. Seno mengakhiri pengkoreksian. Semua buku di kumpulkan. Lalu di bagikan oleh Frans.
"Semoga nilaimu bagus," kata Frans pelan. Entah itu harapan atau menyindir, Sherry tidak paham. Yang pasti dan yakin, tidak akan ada nilai bagus untuknya. Karena dia tidak mengerjakan delapan puluh persen soal yang ada.
Atau jangan-jangan Frans yang mengoreksi dan memperbaikinya? Hihihi... tidak mungkin. Tapi semoga aja.
Sherry menghela napas dulu sebelum membuka buku. Lucu juga. Kenapa harus deg-degan. Bukankah sudah tahu nilainya akan anjlok. Jeng, jeng, jeng ....Dan ternyata nilainya tidak anjlok. Mata Sherry menyipit melihat nilainya itu.
Bagaimana mungkin? Ajaib sekali.
Apakah benar Frans membantu memperbaiki tugasnya? Sherry coba meneliti tugasnya. Beberapa soal sudah di isi dengan jawaban. Wow menakjubkan. Tulisan tangan yang asing. Namun jelas semuanya memang asing di mata Sherry. Karena Sherry memang tidak pernah mengenal mereka sebelumnya. Benarkah ini tulisan Frans?
Mata Sherry menangkap nama seseorang di sana. Sherry coba mendekatkan matanya sekali lagi. Benar. Itu memang namanya. Ternyata nama Relly terpampang di sana. Kepala Sherry langsung menoleh cepat ke samping. Ke arah cowok itu. Dia sedang bersandar ke badan kursi dan memperhatikan penjelasan guru.
Jadi ini tulisan cowok itu?
__ADS_1
Maka sebab itu Relly melihat ke arah Sherry sebentar tadi. Tulisannya rapi, tapi juga enggak bagus-bagus amat. Terlihat jelas dan tegas.
Dia bersusah payah mengisi tugasku.
Alis Sherry terangkat dan menipiskan bibir. Membayangkan raut wajah cowok itu saat pertama kali membuka bukunya dan menemukan hanya lima soal yang ada jawabannya. Dan melihat dengan heran soal-soal lainnya kosong tanpa coretan apapun. Dia pasti syok sekali. Apalagi dengan nama Ve tertera di sana. Pasti dia berpikir begitu bodohnya Ve kali ini.
Sherry menggeleng-gelengkan kepala. Tidak bisa membayangkan respon Relly dengan tugasnya yang di jawab dengan asal. Namun cowok itu tidak terlihat terkejut tadi. Apakah dia cukup lihai menyembunyikan ekspresi? Yah... mendengar kata mereka, Ve selalu mengejar Relly dengan norak, tapi sikap cowok itu biasa saja. Itu membuktikan dia cukup cool menghadapi hal-hal seperti itu. Dan pasti dia juga menanggapi dengan tenang kebodohan Ve kali ini.
"Rel!" panggil Sherry yang melintas di area parkir. Sengaja Sherry mengejar cowok itu untuk bilang terima kasih. Relly berhenti dan memutar tubuhnya. Wajah Relly datar seperti biasanya. Sherry paham, cowok itu memang sangat terbiasa di samperin oleh tubuh ini. Frans yang sedang bersamanya menoleh.
"Ada apa, Ve?" tanya Frans.
"Ada perlu sama Relly." Sherry nunjuk cowok itu. Frans menoleh pada Relly. "Terima kasih atas yang tadi," ucap Sherry sambil membungkuk sebentar. Relly diam sejenak. Apa mungkin Relly enggan ngomong sama Ve?
"Kamu memang sering membiarkannya seperti itu?" Relly mau ngomong rupanya. Dia pasti bahas tugas Sherry yang bersih dan rapi tanpa jawaban.
Salah kali ya, ngomongnya. Wajah itu sampai melihatku iba. Memangnya mengenaskan sekali keadaanku? Di sekolahku sih sudah biasa. Sherry menggaruk pipinya pelan.
"Soal apa, Rel?" tanya Frans kepo. Relly diam tidak menjawab. Masih menatap gadis di depannya dengan banyak pertanyaan.
"Tugasku itu di koreksi sama Relly," sahut Sherry menjawab pertanyaan Frans.
"Lalu? Kenapa berterima kasih? Itu kan sudah biasa," ujar Frans heran.
"Kamu kan tahu aku belum mengerjakan semua tugas itu. Relly dengan baik hati mau mengerjakan saat mengoreksinya." Sherry mengatakannya tanpa malu. Frans melirik Relly yang sejak tadi tidak mengatakan apa-apa.
"Waa ... Han. Ini kan cewek yang kapan hari muncul di atap!" tiba-tiba muncul cowok berbadan besar yang ada di atap, Dexy sambil menunjuk ke Sherry. Hansel yang tadinya terus berjalan, berhenti dan melihat ke arah Sherry.
Aduh, preman itu. Sherry menghindari tatapan Hansel.
__ADS_1
"Hei, Kau gadis waktu itu kan?" tanya Hansel. Sherry diam. Kedatangan Hansel dan menyapa Sherry membuat Relly dan Frans heran. Mereka melihat ke Sherry yang pura-pura tidak dengar. Dexy tersenyum melihat Hansel terabaikan. Bukan takut, tapi mengabaikan pertanyaan Hansel. Lihat ini Hansel tak membiarkannya begitu saja. Dia mendekatkan wajahnya ke Sherry.
"Aku lagi bertanya ke kamu ...," ujar Hansel yang membuat Sherry menggertakkan gigi sambil terpaksa menggeser bola matanya ke arah Hansel.
"Oh, lagi nanya ke aku?" tanya Sherry akhirnya noleh sambil sok baru dengar.
"Kamu cewek itu kan?" tanya Hansel.
"Ya sepertinya," jawab Sherry dengan enggan.
"Sedang apa?"
"Ngobrol sama mereka," jawab Sherry nunjuk Relly dan Frans dengan santai. Hansel gantian yang melihat mereka. Kedua mata Relly melihat interaksi ini dengan raut muka dingin. Frans terkejut melihat mereka. Selama ini Ve tidak banyak mengenal orang. Dia lebih sering bersembunyi daripada berinteraksi dengan orang. Obrolan dengan Hansel ini sangat tidak biasa.
Apalagi dengan reputasi Hansel di sekolah sebagai berandal sekolah membuat Frans semakin tak percaya. Bagaimana mungkin Ve bisa ngobrol santai dengan mereka. Mata Hansel juga memperhatikan mereka berdua.
"Kau sedang mengganggu dia, Han?" tanya Frans membuat Dexy ketawa ngakak. Hansel hanya tersenyum geli. Sherry kaget mendengar pertanyaan Frans.
"Mengganggu dia? Yang benar saja." Hansel masih tersenyum menahan geli sambil mengusap rambutnya.
"Dia yang sedang mengganggu Hansel. Bukan kita yang sedang mengganggunya," kata Dexy sambil menunjuk Sherry. Cowok ini juga tersenyum geli.
"Aku? Yang benar saja." Sherry tidak terima. Frans melihat Sherry semakin heran. Tidak mungkin. Apakah mungkin seorang Ve mengganggu Hansel si berandal itu? Hansel melihat nama di seragam Sherry.
"Jadi Namamu, Vermouth?" Sherry diam saja sambil menatap Hansel enggan. Hansel mengangguk paham.
"Oke. Lain kali kita ketemu lagi, Ve," kata Hansel sambil senyum dan pergi.
"Kau mengenalnya?" tanya Relly pada Hansel di luar dugaan. Wajahnya seperti terusik. Frans melirik. Relly bertingkah aneh.
"Ya ... mungkin." Hansel sengaja memberi teka-teki.
__ADS_1