Diary Sherry

Diary Sherry
Abstrak


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


Ini pertama kali kaki Daniel memasuki kamar tidur adiknya. Meskipun sudah lama menjadi adik-kakak secara resmi, dia tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di atas lantai yang terbuat dari batu granit yang berwarna senada dengan dindingnya.


Warna dinding dan langit-langit memang berwarna mint green, tapi entah kenapa nuansa kamar menjadi nampak terkesan dark dan misterius saat lampu-lampu sorot di letakkan sedemikian rupa.


Seperti dua kepribadian yang bercampur jadi satu. Namun menilik aura yang muncul belakangan ini, sungguh cocok dengan dia. Gadis yang saat ini memakai celana pendek tiga perempat warna hitam dengan atasan berbahan kaos berwarna putih.


"Sekarang serahkan nampan itu," pinta Sherry tanpa mempersilakan Daniel untuk duduk. Dia juga tidak duduk, hanya berdiri dengan canggung di dekat sofa yang ada di balik pintu.


"Kamu tidak mempersilakan aku duduk?" tanya Daniel seperti ingin mencairkan suasana canggung gadis itu. Ini pertama kali nya ada seorang lelaki memasuki kamar tidurnya. Bukan Aska atau bapak, tapi seorang lelaki asing. Meskipun ini bukan kamar tidur sesungguhnya, saat ini kamar tidur yang besar ini menjadi miliknya.


"Tidak perlu. Kamu bisa segera pergi setelah aku makan," jawab Sherry ketus dan kentara. Tanpa basa-basi atau kata lain untuk di gunakan sebagai awalan kalimat penolakan. Itu memang gaya Sherry. Daniel tidak pernah merasa sakit hati saat gadis itu mengucapkannya. Bagi Daniel itu seperti pertahanan diri saja. Dia tidak benar-benar mengatakannya untuk menyakiti.

__ADS_1


"Makanlah. Aku akan duduk di sofa untuk memperhatikanmu memakan semua makanan di atas nampan." Daniel menyerahkan nampan dan duduk di sofa meskipun tidak di persilakan.


Dia tidak mengindahkan kalimat penolakan gadis itu. Karena selain tidak mungkin terus saja berdiri saat Sherry memakan nasinya, dia juga masih ingin berada dalam kamar ini lebih lama. Melihat itu gadis ini hanya menipiskan bibir saat melihatnya. Lalu berusaha tidak memperdulikannya.


Sherry mengajak kakinya melangkah menuju sofa single yang terletak di dekat rak buku. Dengan meletakkan nampan di atas meja nakas di sebelah sofa single-nya Sherry mengambil piring dan mulai memakan nasinya pelan-pelan.


Masih memakai setelan jasnya Daniel memperhatikan adik tirinya. Kalimat Daniel tadi soal memperhatikan Sherry saat makan, bukan hanya kata kiasan. Lelaki yang berumur jauh beberapa tahun di atasnya itu sungguh-sungguh memperhatikannya dengan baik.


Netra Daniel memperhatikan gerak gerik gadis yang ternyata bisa membuatnya penasaran. Pada bibirnya yang mengunyah pelan-pelan. Pada matanya yang menatap ke arah piring yang di letakkan di atas pangkuannya. Dia terlihat tak berminat pada makanan yang di bawakan, tapi tangannya masih terus saja menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Setelah beberapa menit Sherry sibuk dengan urusan perut, matanya mulai menyadari bahwa lelaki itu sedang memperhatikannya.


"Berhenti memperhatikanku saat makan," dengus Sherry tidak suka saat dia mendongak mendapati lelaki itu memindainya.


Sherry menghempas napas kemudian menyuap makanan ke dalam mulutnya. Dia memang sedang malas untuk makan bersama di meja makan. Dia ingin makan sendirian di kamarnya. Sebenarnya menyendiri di kamar terasa lebih baik, karena dia bisa jadi dirinya sendiri seutuhnya. Tidak harus bersusah payah menyeimbangkan dirinya yang kaku dan Ve yang lembut.


"Aku takjub kamu juga menyukai lukisan abstrak yang tidak mudah di pahami itu," Ujung ekor mata Daniel melihat pajangan-pajangan abstrak di dinding yang begitu cocok untuk menggambarkan gadis di depannya yang juga begitu sulit di pahami. Sherry ikut melihat lukisan itu juga.


"Tidak. Aku hanya memungutnya dari tempat sampah di luar. Hanya ingin memajangnya tanpa ada ketertarikan dengan nilai seni dan sebagainya. Aku cukup bodoh memahami hal seperti itu," Meski enggan, Sherry cukup panjang memberi penjelasan. Daniel berganti melihat ke gadis yang berdiri di depannya. Sherry kembali melihat ke makanannya.


Gadis ini memang memungut gambar yang hanya berisikan warna-warni yang di campur jadi satu seperti coretan anak kecil yang tidak perlu berpikir saat melakukannya itu dari suatu tempat di dalam rumah ini. Dia ingin memajang hanya karena merasa lukisan itu sama dengannya, abstrak. Semua warna bercampur aduk jadi satu dalam wadah bingkai yang membungkusnya. Itu seperti dia.

__ADS_1


Perasaan jiwa Sherry dan tubuh Vermouth seperti bertumpuk tidak beraturan yang kadang membingungkan. Lukisan itu seperti dirinya yang tidak jelas di gambarkan sebagai apa. Abstrak itu enggak jelas. Itu yang bisa di pahami Sherry melihat lukisan itu. Makanya dia sangat ingin memajangnya. Dia tidak perlu gambar dirinya saat ini. Karena semua gambar pasti berisi wajah Vermouth.


Daniel mengedarkan pandangan menyeluruh. Melihat-lihat lagi apa saja yang membuatnya tertarik tanpa beranjak dari tempat duduk empuknya. Pandangan itu tertuju pada secarik kertas di bawah tempat tidur.


Setelah memperhatikan ternyata bukan hanya secarik kertas, itu berlembar-lembar kertas yang berserakan di atas lantai di sana. Kertas-kertas itu sepertinya sudah sengaja di sembunyikan dengan terburu-buru hingga akhirnya membuatnya menyembul keluar dari balik bawah tempat tidur. Daniel melihat banyak coretan di atas kertas berwarna putih itu.


Apa yang sedang di tulisnya di atas kertas itu? Apakah tadi dia panik karena keberadaan kertas yang berserakan itu?


Saat mendengar Daniel akan memasuki kamarnya dia memang segera menyingkirkan coretan-coretan tidak jelas yang di tulisnya pada kertas karena sedang rindu pada rumah. Tulisan itu menyuarakan ceritanya saat berada pada tubuh Ve. Terutama saat Relly mengatakan hal aneh dan gila waktu itu.


Tok! Tok!


Pintu kamar di ketuk oleh seseorang.


"Masuklah," seru Sherry menyuruh orang yang berada di balik pintu masuk. Perlahan pintu terbuka. Dari sofa Sherry, dia bisa melihat siapa yang datang. Daniel yang berada di balik pintu ikut menoleh.


"Ada apa Elda?" tanya Sherry yang menangkap raut wajah cemas dari mimik Elda.


"Aku dengar dari anak-anak klub beladiri kamu sedang mengadakan acara makan-makan untuk senior karena mereka sedang mengerjaimu," Elda langsung meluapkan kecemasannya. Dia masih berada di depan pintu tanpa tahu ada Daniel di balik pintu. Retina Sherry bergeser ke arah Daniel saat mendengar kecemasan Elda.


Mata Daniel melebar sekejap saat mendengar adik tirinya ini ikut kegiatan beladiri. Menatap Sherry dengan heran kemudian tersenyum yang menyatakan dia takjub Ve yang lemah dan penakut ikut kegiatan yang membutuhkan fisik yang kuat. Sangat bertolak belakang.

__ADS_1



__ADS_2