
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Welly mengerutkan kening saat Relly menjelaskan soal Ve dan Sherry. Itu memang mustahil. Sangat tidak bisa di percaya. Tidak mampu di nalar dengan logika.
"Ceritaku mungkin seperti dongeng, Pa. Namun ini benar." Setelah menceritakan garis besar permasalahan, Relly mulai memberikan waktu papanya berpendapat.
"Dari sisi mana kamu bisa percaya bahwa itu adalah benar?" tanya Welly.
"Karena gadis bernama Sherry itu ada. Ketika jiwanya masuk ke dalam tubuh Ve, dan bahkan saat dia kembali ke tubuh aslinya, Sherry tetap ada. Maka dari itu semuanya adalah benar. Aku bukan sedang bermimpi."
"Jadi Sherry yang kamu maksud adalah gadis yang di katakan orang-orang papa saat mereka mengikutimu?" Sebelah mata Welly memicing.
"Ya, itu dia."
"Makanya kamu yang mulai sadar bahwa jiwa Sherry sudah kembali pada tubuh aslinya, kecewa sudah mengikat tali pertunangan dengan Ve, putri Gio?"
"Benar. Itu kesalahanku. Meskipun tujuanku awal adalah menolong Sherry yang aku pikir jiwanya masih berada di dalam tubuh, Ve." Relly teringat lagi soal kesalahannya itu. Entah beliau percaya atau tidak, Relly tetap yakin pada keputusannya mengungkap jati diri Sherry.
"Jadi ... Gio adalah dalang dari semua kejadian yang terjadi pada gadis bernama Sherry itu? Hingga kamu perlu menyembunyikannya di rumah sakit kita agar Gio tidak bisa menemukan dirinya."
"Ya. Sherry asli sudah memberi kesaksian bahwa itu adalah ulah Gio."
"Jika Gio yang sekarang adalah palsu, dimana Gio yang asli?"
__ADS_1
"Untuk itu aku belum bisa menemukan informasinya, Pa. Hanya dari perkataan Gio saja aku tahu bahwa Gio asli mungkin sudah di bunuh." Welly mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak beliau berpikir. Melihat Relly sesekali kemudian berpikir lagi.
"Papa akan melakukan kunjungan ke rumah Gio seperti yang kamu minta, tapi ingat ... Jika setelah kunjungan ini hubungan papa dan Gio semakin dekat dan semua ceritamu tidak terbukti, itu artinya kamu harus tetap melangsungkan pernikahan dengan Ve kelak. Setelah kalian lulus sekolah tentunya."
Relly mengetatkan gigi-giginya dalam bungkam. Itu kenyataan yang sulit di terima. Namun, jika yang di katakan Sherry benar soal ketegangan yang tercipta karena Gio tidak lagi menyembunyikan siapa dia sebenarnya, kemungkinan dia menemukan fakta baru soal Gio jika mereka mendatangi rumah itu. Kemudian itu bisa jadi bahan papanya memikirkan sekali lagi menjadi besan mereka.
***
Welly datang bersama satu keluarga ke rumah Ve. Ada Sigi juga yang turut serta. Awalnya Relly enggan mengajaknya. Mama setuju dan akhirnya Sigi jadi tamu juga.
Sempat Relly bercerita secara singkat pada sepupunya itu situasi yang sebenarnya. Rupanya Sigi sempat berbincang dengan Aska.
"Aku tidak begitu paham, tapi ... aku akan bantu kak Relly. Seperti kata Aska, aku tidak akan mudah percaya begitu saja meskipun banyak orang yang bercerita soal pertemuan kakak dengan kak Sherry. Itu bagaikan dongeng."
Suasana rumah Ve tampak biasa saja. Semua pelayan yang bertemu saat tamu datang menyambut ramah. Bola mata Relly beredar ke sekeliling rumah. Dia melihat begitu banyak orang yang mungkin di jadikan sebagai penjaga.
Dalam keluarga kaya seperti mereka itu mungkin hal wajar. Namun penjagaan kali ini kelewat batas. Di pintu depan Gio menyambut kedatangan keluarga Relly dengan semangat.
"Ve kemana Oom?" tanya Relly tidak berbasa basi.
"Ada. Dia di belakang membantu menyiapkan jamuan makan untuk kalian." Gio menjawab dengan ramah.
"Tidak perlu repot Gio." Welly berujar.
"Tidak masalah Welly. Kita besan. Memang harus begitu." Gio tersenyum. Tidak lama, dia mengajak mereka semua menuju ruang makan yang sudah di siapkan. Dari sini tampak terlihat Ve dan nyonya Julia. Mereka menyiapkan hidangan di meja.
"Oh?!" Sontak Ve terkejut dengan kemunculan Relly dan keluarganya. Elda juga demikian. Namun mereka berusaha membungkam mulut mereka sendiri agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Julia langsung bisa bersikap wajar dengan membungkuk memberi salam. "Selamat datang di rumah kami ..." Dalam hati dia juga merasa senang ada orang lain di dalam rumah ini. Rasa tegang karena anak buah Gio, berkurang. Namun seperti Ve dan Elda, dia juga harus bersikap biasa dan tidak berlebihan.
__ADS_1
Jika itupun berlebihan, harus pas dengan skenario. Bahwa mereka cukup bahagia keluarga Relly datang karena pemuda itu adalah tunangan Ve. Bukan menunjukkan kebahagiaan karena berharap Relly bisa menolong mereka.
"Ah, harum masakan yang menggugah selera," ujar mama Relly menanggapi masakan yang di hidangkan di meja.
"Ini memang sengaja di siapkan untuk kalian." Julia berbohong. Dia bersikap seperti sudah mengetahui kedatangan mereka. Gio mengangguk dan tersenyum tipis. Menyukai sikap perempuan ini yang seakan-akan tidak ada tekanan apapun darinya. Padahal tadi pagi adalah hal menakutkan dalam hidupnya. Moncong pistol di todongkan pada pelipisnya.
"Ayo, semuanya duduk." Gio mempersilakan. Semua mengambil tempat duduk untuk masing-masing. Bola mata Relly melihat ke sekeliling. Elda dan Ve yang masih berdiri di dekat meja pantry menunjukkan bahwa mereka butuh pertolongan lewat tatapan mereka. Sesuai yang di katakan Sherry.
"Istrimu sendiri yang memasaknya?" tanya Welly.
"Benar. Semua di lakukan Julia dengan tangannya sendiri," puji Gio sambil melemparkan senyuman pada Julia. Layaknya seorang suami yang perhatian pada istrinya.
"Ayo, Ve. Mendekatlah. Ikut gabung bersama kita," ujar Welly. Ve mengangguk sambil tersenyum di paksakan.
"Benar. Istri dan putriku harus segera ikut bergabung dalam jamuan makan ini." Gio menimpali. Dia mempersilakan mereka duduk. Ve mendekat. Mata Relly melihat ke arah gadis ini. Ve sesekali melirik ke arah Relly juga. Dia berusaha memberi kode pada Relly bahwa mereka sedang terperangkap. "Ve, ayo. Segera duduk. Tidak sopan kamu berlama-lama," tegur Gio mengagetkan Ve yang sedang berusaha memberi isyarat pada Relly.
"I-iya, Pa," sahut Ve gugup. Julia menoleh pada gadis itu. Dia mengerti bahwa gadis itu sedang mengirim sinyal SOS pada pemuda yang duduk di kursi makan.
Sementara itu Elda yang masih di pantry membereskan sisa masakan, bersyukur dengan kedatangan Relly. Dia yakin kedatangan pemuda itu karena dirinya berhasil menelepon Sherry. Pasti ada suatu rencana yang sudah di bicarakan mereka berdua, hingga mendadak ada pertemuan dua keluarga ini.
Namun, jika hanya mereka berempat, apa mungkin bisa melawan anak buah Gio yang tersebar di seluruh penjuru rumah? Elda senang tapi juga khawatir. Tangannya bergerak membersihkan pantry dengan otak berpikir keras, apa rencana yang akan di lakukan pemuda itu?
Sigi hanya memperhatikan. Dia mencoba memahami situasi. Bagaimana sebenarnya keadaan di dalam rumah ini? Tegang yang Relly rasakan menular padanya.
"Lama tidak bertemu denganmu, Relly ...," sapa Gio pada pemuda ini. "Sepertinya terakhir kita bertemu di ruang kerjaku. Saat Ve mengajakmu singgah di perusahaanku."
Relly yang sejak tadi melihat situasi sekeliling rumah, menoleh dengan cepat.
"Ya?" Relly berusaha menanggapi perkataan Gio. Walaupun sebenarnya dia tidak begitu mendengar apa yang di katakan penjahat itu.
__ADS_1