
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
Malam ini Sherry ikut bersama keluarga ke pesta ulang tahun perusahaan papa Vermouth. Papa dan mama di antar supir keluarga, sementara Sherry ikut Daniel. Entah kenapa pembagiannya jadi seperti itu. Nyonya Julia yang sengaja menyuruh Daniel mengantar Sherry.
"Kamu terlihat cantik malam ini, Sher..." puji Daniel.
"Serius? Kau sedang memuji wajah ini? Ya. Wajah ini memang cantik. Kamu sangat pintar memuji. Vermouth memang cantik." jawab Sherry. Ya.. untuk kecantikan, Vermouth memang tiada duanya. Hanya perlu mengubah sifatnya saja dia akan jadi primadona. Juga dia perlu banyak makan yang membuatnya akan nampak berseri-seri. Karena kurang makan gizi yang masuk dalam tubuh berkurang ini membuatnya nampak selalu lesu.
Daniel tergelak. Dia tidak menyangka pujiannya akan menjadi senjata makan tuan.
"Rupanya aku juga tidak bisa memujimu ya.." kata Daniel tersenyum tipis.
"Benar, ini wajah Vermouth. Kalau kamu mau memuji, akan aku sampaikan ke Vermouth kelak..." kata Sherry sambil bersandar di bahu bangku mobil. Daniel tersenyum tipis. Walaupun mereka berdua merasa aneh dengan keadaan ini, Sherry harus tetap menjalankan peran sebagai Vermouth. Daniel mulai memperlakukan Sherry bukan sebagai adiknya. Melainkan seorang perempuan.
"Kalian akan kembali pada tubuh masing-masing?" tanya Daniel ternyata memikirkan hal ini juga.
"Tentu saja. Aku tidak ingin menjadi orang lain selamanya," Sherry mengatakannya dengan tegas.
"Siapa Sherry?" tanya Daniel sambil memutar kemudi ke arah kanan. Sherry menoleh. Sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. "Sesungguhnya dirimu yang sebenarnya itu siapa?" tanya Daniel sambil menengok ke samping. Sherry tidak menjawab.
Menjawab ini tidak akan mengubah keadaan dia bisa langsung menjadi Sherry dalam sekejap. Dan bisa saja keluarganya akan tidak aman.
"Saat ini aku Sherry yang memakai tubuh Vermouth. Kamu hanya perlu tahu itu," kata Sherry dengan nada bicara yang getir. Daniel mengangguk. Bukan paham atau menerima begitu saja. Mendengar nada bicara Sherry yang terasa sedih, pasti ada banyak pertimbangan yang membuat Sherry tidak ingin bercerita soal dia.
Akhirnya mereka sampai di ballroom perusahaan. Daniel menjelaskan satu persatu tentang keluarga Vermouth yang lain. Lalu Sherry mulai menyadari suatu.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengatakan padaku semuanya?" tanya Sherry dengan menoleh ke Daniel dengan cepat. Mendengar pertanyaan itu, Daniel melihat ke Sherry juga.
"Aku yakin Vermouth tahu semuanya tentang keluarganya, tapi Sherry tidak. Aku ingin kamu -Sherry- terbiasa mendengar nama-nama itu," kata Daniel sambil tersenyum hangat.
"O... Terima kasih," ucap Sherry lalu melihat ke arah lain. Sungguh aneh mendengar Daniel mengucapkannya dengan tenang. Laki-laki ini sudah membiasakan dirinya untuk berbicara kepada Sherry, dengan tenang. Terdengar sangat tidak masuk akal. Namun Laki-laki ini sungguh menerima jikalau saat ini dirinya bukan Vermouth.
"Dia Henry, adik Papa Vermouth...," Daniel mengatakannya saat seorang pria setinggi Daniel dengan tatapan lembut masuk ruangan. Tiba-tiba saja ekor matanya memandang ke arah Sherry. Kaki pria itu mendekati tempat Daniel berdiri.
"Selamat malam, Tuan Henry," sambut Daniel membungkuk. Sherry masih tertegun menatap pria tua tetapi masih tegap dan tampan itu. "Apa yang kamu lakukan, berilah hormat pada pamanmu," kata Daniel.
"Ah, iya. Selamat malam oom...," Sherry memberi salam dengan membungkuk juga.
"Berdirilah. Kamu Vermouth?" tanya Tuan Henry dengan ramah. Pertanyaan ini sungguh aneh bagi Sherry. Apakah paman ini tidak pernah tahu rupa dan bagaimana Vermouth keponakannya? Apakah pertanyaan itu terlontar karena lama tidak bertemu? Entah apa itu Sherry merasa sangat aneh dengan cara memandang paman ini melihatnya.
"Kamu mengajaknya Daniel? Aku baru tahu kamu sedekat ini dengan dia?" tanya Tuan Henry melempar tatapan mata ke arah Daniel. Tatapan itu seakan mempertanyakan kenapa laki-laki di sebelah Sherry itu baru sekarang mengajak Vermouth mengikuti acara kantor.
Daniel tidak menjawab hanya mengangguk.
"Baik, om," kata Daniel sambil membungkuk. "Silahkan nikmati pestanya. Om akan berbincang dengan para tamu," Sherry masih menatap Tuan Henry dari belakang. Melihat punggung itu, dia merasa aneh. Tubuhnya tiba-tiba seperti merasa rindu yang tidak biasa. Bahu lebar itu mengingatkan Sherry pada seseorang,
Rindu? Pada Relly? Hansel? Siapa? Tidak mungkin Daniel. Aku tidak sedang merindukan dia. Lagipula dia ada di sebelahku.
Ada beberapa mata mengawasinya di antara kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul di pesta perusahaan ini. Pandangan tidak biasa. Dari balik punggungnya dia menyadari pandangan mata ingin menyerang ini. Aura gelap yang terasa seperti ingin melenyapkannya. Sherry merasa sekujur tubuhnya merinding merasakab aura gelap yang kental ini.
Sherry memutar tubuhnya. Tidak ada yang mencurigakan. Semua tampak sama seperti tadi. Namun Shery selalu merasa ada yang sedang mengawasinya.
"Kau kenapa? Tubuhmu menggigil. Kau kedinginan?" tanya Daniel merasa cemas.
"Tidak. Aku tidak apa-apa,"
"Tubuhmu berkeringat dingin," Daniel menyentuh kening Sherry. Kepala gadis ini masih menggeleng. Mengatakan dia tidak apa-apa.
__ADS_1
"Antar aku kebelakang. Aku ingin muntah," kata Sherry akhirnya. Tiba-tiba perutnya terasa sakit dan mual. Daniel terkejut dan segera membawa Sherry ke toilet. Saat Sherry masuk ke toilet, Daniel menunggu di luar. Saat itu handphone-nya berdering.
"Aku sedang menunggui Ve, Ma. Dia sedang di dalam toilet. Dia merasa tidak sehat," ujar Daniel tidak setuju.
Sementara itu di dalam toilet Sherry mersakan sakit perut yang luar biasa sakitnya. Perihnya seperti perutnya di remas-remas dan diperas. Sherry mengira ini adalah maag. Tapi sepertinya bukan.
"Tapi kamu harus memberi sambutan pada acara ini, Daniel. Tinggal sebentar adikmu di sana.. Aku akan menelepon Elda untuk menjemputnya sekarang. Jadi kamu bisa tenang meninggalkannya," lanjut mama Daniel takut papa Vermouth marah.
"Ve, bisa aku tinggal sebentar? Papa menyuruhku memberi sambutan," ujar Daniel dari balik pintu toilet, "Kamu sudah mendingan?"
"Ya. Aku sudah tidak apa-apa," jawab Sherry dari dalam toilet. Walaupun wajahnya pucat, dia sudah tidak merasa mual karena sudah memuntahkan isi perutnya. Mualnya sedikit mereda. Sherry menyandarkan tubuhnya di dinding toilet.
**
Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam toilet dan muncul di depan Sherry. Melihat dari gelagatnya, Sherry menangkap niat buruk dari lelaki yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker.
"Siapa kau?" teriak Sherry sambil meringis memegangi perutnya, tetapi orang tak di kenal itu diam. Mungkin orang itu justru menyeringai melihat gerakan mulut dari balik maskernya.
Tangan besar lelaki itu menarik tangan Sherry dengan paksa. Sherry melawan dengan melayangkan tinju dari tangan yang lainnya. Tepat mengenai pipi lelaki itu. Karena tidak bertenaga, sudah pasti lelaki itu tak bergeming menerima perlawanan Sherry.
"Aaghhh!" jerit Sherry saat lelaki itu menarik rambut Sherry. Dia yang sedang merasakan kesakitan pada perutnya tidak bisa menghajarnya. Lelaki itu menarik tubuh sherry. "Lepaskan!" teriak Sherry dengan suara tercekat karena perutnya masih sakit. Karena Sherry selalu berusaha berontak dan berteriak. Lelaki itu menutup mulut Sherry dengan sehelai kain. Orang itu tetap memaksa tubuh Sherry masuk ke dalam pintu darurat.
Di area ini sepi karena semua sedang berpesta di dalam ballroom. Hingga akhirnya Sherry berhasil di bawa masuk ke dalam pintu darurat. Berdiri tepat di atas anak tangga. Dengan pelan, sebuah tangan mendorong tubuh Sherry ke bawah. Mata Sherry nyalang menatap lelaki bermata runcing yang mendorongnya. Sherry akan terjatuh dari lantai atas sini. Mata tajam itu menutup pasrah.
Aku akan jatuh.
Mendadak tubuh Orang itu tersungkur ke tanah. Namun Tubuh Sherry terlanjur terdorong ke bawah, ke anak tangga. Sebuah tangan menarik tubuh Sherry dan memeluknya erat. Namun karena separuh tubuh Sherry sudah terlempar, tangan itu tidak membuat tubuh Sherry kembali berdiri tegak. Mereka berdua sama-sama terjatuh dari tangga.
__ADS_1