Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Pesta


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


Pesta pertunangan Relly dan Vermouth di resmikan malam ini. Bukan hari spesial, tapi tiba-tiba di percepat oleh pihak Gio. Hingga keluarga Relly juga terpaksa mengikuti alur yang di buat oleh mereka.


Tubuh Ve sebenarnya masih belum sembuh benar. Namun saat mendengar acara pertunangannya di percepat, dia bertekad untuk terlihat sehat. Rasa gelisah dan khawatir selalu menghantuinya. Apalagi setelah mendengar bahwa Relly berada di sekolah yang sama dengan Sherry. Dia harus bisa menjadikan Relly tunangannya, segera.


Gadis itu tidak mau hal buruk terjadi. Ini kesempatan langka. Selama dia bisa menjadi Sherry, dia akan bisa terus bersama Relly.


"Kamu tidak terlihat bahagia," ujar Erick yang mendekati tuan mudanya sendirian di luar. Pemuda ini meninggalkan pesta dan menyendiri.


"Hmm ... bagaimana mungkin aku tidak bahagia, saat aku bisa menjalin hubungan dua arah yang di restui, Erick." Relly mendengkus. Mengelak.


"Aku tidak tahu, tapi yang aku lihat hanya satu sisi yang menunjukkan wajah bahagia saat ini. Hanya dia. Gadis itu." Erick melemparkan pandangan ke dalam. Dimana pesta di laksanakan. "Sementara kamu sendiri, seperti sedang terpuruk dengan keputusan orangtuamu."


"Kamu jeli Erick." Tanpa berkata iya, Relly mengakui sedang dalam keadaan yang di katakan Erick. Perasaannya terombang-ambing sendiri. Bukan kebahagiaan yang ia rasakan, tapi tertekan. Pertunangan ini justru membuatnya tertekan.


Erick menatap tuan mudanya kasihan dan bingung. Sebenarnya ada apa dengan Relly? Kenapa justru sedih saat pesta pertunangan berlangsung? Bukankah gadis itu adalah pilihannya?


Berbeda dengan Relly, Ve tampak bersemangat dan bahagia. Ya. Inilah impian gadis itu. Erick pergi meninggalkan Relly. Kemudian di gantikan oleh sepupu Relly yang manis.


"Akhirnya kalian resmi sebagai pasangan ya." Sigi yang muncul mensejajari sepupunya. Relly hanya tersenyum tipis.


"Begitulah."


"Hei, kenapa tidak bersemangat? Ini hari bahagia." Lagi-lagi Relly hanya tersenyum tipis. "Heran ini orang. Ini pesta kak Relly, kenapa malah terlihat sebuah paksaan?"


"Entahlah ..."


"Oh, ya. Besok hari upacara lepas pisah studymu di sekolahku usai."


"Benar." Relly baru ingat bahwa besok adalah terakhir dia menginjakkan kaki di sekolah itu. Dia lupa. Karena terlalu memikirkan soal hari pertunangan dan juga keanehan Sherry setelah bangun dari koma.


...----------------...


Sudah satu bulan Relly menjalani masa pertukaran pelajar. Menjadi bagian dari sekolah ini. Saat ini upacara pelepasan dan ucapan terima kasih pada mereka di adakan di sekolah.

__ADS_1


Relly celingukan ke kanan kiri tidak melihat gadis itu, Sherry. Gadis itu tidak muncul di area parkir, kelas dan bahkan upacara lepas pisah ini. Sungguh aneh.


"Sherry? Dia tidak masuk hari ini." Karena begitu ingin tahu kemana gadis itu, Relly berniat menanyakan Sherry pada Yura.


"Dia sakit?"


"Tidak tahu. Maaf ya," jawab Hanin. Relly masih belum puas, akhirnya dia bertanya ke Runo si ketua kelas.


"Ya, hari ini dia tidak masuk. Soal sakit enggaknya memang enggak paham, tapi ya ... Sherry kan kadang bolos juga. Mungkin juga kali ini dia bolos karena tahu ada upacara lepas pisah seperti ini."


Jadi gadis itu bolos?


Relly menghela napas. Sedikit kecewa karena saat terakhir berada di sekolah ini, dia tidak bisa bertemu dengannya.


"Hei, pasangan baru. Kenapa menghela napas?" tegur Sigi sambil menepuk lengan Relly pelan.


"Tidak ada."


"Susah berpisah dengan sekolahku ini yah?" Sigi bangga. Relly mendengkus, bermaksud mencela kepercayaan diri Sigi yang tinggi. "Mengaku sajalah. Aku tidak apa-apa kakak mengatakannya."


"Tidak." Yura dan Hanin melintas.


"Ya. Aku sudah tanya Runo. Terima kasih." Hanin dan Yura tersenyum dan pergi.


"Sherry? Kak Relly lagi mencari kak Sherry?" Relly hanya melirik. "Jadi sejak tadi menoleh ke kanan ke kiri itu buat nyari kak Sherry?" Sigi baru paham. "Ini yang di maksud, Sherry anak sini kan? Gadis yang pernah bertemu di area parkir itu?"


"Kenapa kamu ingin tahu? Sudah urusi saja kepentinganmu." Relly mengacak rambut Sigi.


"Hei, jangan meremehkan. Aku ini bisa dianggap dekat dengan kak Sherry. Bahkan aku mengenal ibu dan adiknya?" Sigi membanggakan diri.


"Lalu? Aku sudah tahu, dia kemungkinan bolos hari ini."


"Bolos? Mmm ... sabtu malam itu aku sempat keluar buat jalan-jalan bareng dia. Terakhir kabarnya dia sedang sedih karena ibunya sedang sakit. Aku bisa tanyakan kabar kak Sherry jika kak Relly ingin tahu kenapa dia tidak masuk pada adiknya. Mungkin bukan bolos."


"Dia punya adik yang sekolah disini?" tanya Relly tertarik.


"Ya. Adiknya cukup populer karena ganteng dan punya sikap dingin yang menggemaskan." Sigi senyum-senyum sendiri membayangkan Aska.

__ADS_1


"Ganteng? Adiknya cowok?"


"Ya. Kak Relly enggak tahu?"


...----------------...



...----------------...


Sherry men-dribble bola dan ... plung! Masuk ke dalam keranjang dengan sempurna. Gadis ini iseng bermain basket sendirian di lapangan basket umum. Bolanya milik anak-anak sekolah yang tak sengaja menggelinding ke arahnya.


"Terima kasih ya," ujar Sherry menyerahkan bola ke seorang cowok SMP. Lalu duduk di bangku. Tepat di bawah pohon rindang. Sherry tidak begitu saja bolos memakai seragam sekolah, dia bisa kena razia. Dia membawa perlengkapan yang cukup untuk membolos. Sudah di niatin saat upacara lepas pisah mau bolos. Entah ada teman atau tidak ada.


Tekad membolos sudah kuat.


Rasa perih di mata karena menangis masih terasa. Sherry memang seperti menumpahkan semua airmatanya malam itu. Malam dimana dia mendengar bahwa Relly akan bertunangan dengan Vermouth. Tadi malam. Mereka resmi sebagai pasangan yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.


Sebenarnya dia bisa mengabaikan keberadaan Relly di sekolah karena ini hari terakhir. Namun, dia masih enggan bertemu. Takut, air matanya tidak tertahankan lagi seperti di depan Sigi. Itu bisa menjadi momen memalukan.


Sherry tadi membeli jajanan yang berada di pinggir jalan. Perutnya kelaparan karena ini sudah merambah siang. Matahari mulai naik. Panas. Sinar matahari mulai terik dan panas. Sherry melihat ke pergelangan tangannya. Beberapa jam lagi, sekolah bubaran.


...----------------...


"Aska kamu bilang?" Mendengar nama itu Relly terkejut. Namun dia tidak langsung berasumsi, nama itu adalah nama orang yang dia tahu.


"Ya. Aska. Kenapa?" tanya Sigi heran melihat keterkejutan sepupunya. Itu juga sedikit aneh.


"Bisa kamu tunjukkan padaku, siapa Aska itu?" Relly begitu antusias.


"Ada hal penting apa, aku perlu menunjukkan Aska ke kak Relly?" Sigi tidak langsung mengiyakan. Dia butuh kejelasan dari Relly. Melihat keantusiasan sepupunya, dia semakin ingin tahu. Apalagi ini Aska. Aska yang itu. Tidak bisa dia membiarkan Relly melakukan sesuatu padanya.


Relly diam. Dia tidak bisa mengatakannya.


"Aska!" teriak seseorang menyebut nama yang baru saja di perbincangkan mereka berdua. Relly menoleh dengan cepat. Mencari ke sekeliling. Dimana ada seorang cowok merespon dengan mengangkat tangan ketika namanya di panggil.


Aska yang tidak menyadari bahwa tengah di perhatikan bersikap seperti biasa. Sigi memperhatikan sepupunya dengan seksama. Ekspresi, emosi yang terbaca dengan mudah.

__ADS_1


Ya. Itu dia. Aska yang aku kenal.



__ADS_2