Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Yang terpenting adalah saudaraku


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


"Ya, Elda ada apa?" tanya Sherry di seberang dengan suara yang serak. Mungkin gadis ini sudah tertidur tadi. Hingga lama tidak bisa menerima telepon dari Elda.


"Sherry, tolong aku. Tolong Ve dan nyonya Julia ...," ujar Elda dengan suara gemetar bercampur tangis. Sedikit berbisik karena tidak ingin terdengar oleh penjaga di luar.


"Ada apa Elda?" tanya Sherry yang awalnya masih sulit membuka mata, kini mampu membuka matanya dengan lebar. Mendengar isak tangis Elda dan kata minta tolong, Sherry langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidur. Berusaha fokus dengan suara Elda.


"Gio menemukan mereka berdua yang sedang mencari berkas operasi yang kamu maksud. Sepertinya Gio berniat akan membunuh mereka. Dia juga akan menghabisi nyawa semua orang di dalam rumah ini. Termasuk aku," ujar Elda dengan suara tidak beraturan. Napasnya juga tersengal-sengal.


"B-baik, Elda. Tenangkan dulu dirimu. Tetap tenang." Meskipun itu tidak mungkin, tapi hanya kalimat pemberi semangat yang bisa dia ucapkan sekarang. lKamu belum telepon kantor polisi?"


"Tidak, Sherry. Laporanku akan di mentahkan oleh mereka. Gio pasti sudah memblokir semua Karena keluarga Ve tidak pernah menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke kriminal. Aku juga tidak berani."


"Oke. Aku akan mencari cara mencegah hal itu," ujar Sherry panik. Mencari cara? Dia? Bagaimana mungkin? Namun tidak ada lagi kata-kata yang bisa dia ucapkan. "Tenangkan dirimu, Elda. Tenanglah ... Itu akan mengurangi kita bertindak ceroboh."


"Ya, Sherry. Ya ... " Elda menitikkan airmata. Dia juga ketakutan.


Tidak ada ide lain selain menemui Relly.


Setelah perbincangan dengan Elda barusan, Sherry mencari nomor Relly dalam kontak ponsel dan meneleponnya.


"Ada apa, Sherry? Kamu ingin bertemu denganku?" tanya Relly yang langsung menerima panggilan ponsel Sherry setelah satu kali nada tunggu berdering.


"Ya. Aku sangat ingin bertemu denganmu, Rel. Namun ini bukan soal kita."


"Apa maksudmu?"


"Ini soal Elda. Soal keluarga Ve."


"Ve? Ada apa?" Relly segera menyingkirkan gurauannya untuk fokus mendengarkan Sherry. Mendengar nada serius gadis ini bicara, menunjukkan bahwa apa yang akan di bicarakannya adalah penting.


"Bisa temui aku Rel? Aku butuh bertemu."

__ADS_1


"Oke. Tunggu di depan rumahmu. Aku akan menyusulmu."


...----------------...


Menunggu dalam keadaan sekarang sangatlah membuat tidak tenang. Relly muncul setelah kegelisahan merayapi Sherry.


"Ada apa, Sherry?" tanya Relly saat membuka helmnya. Lalu turun dan mendekati Sherry.


"Kita harus segera pergi. Aku takut mereka tidak punya banyak waktu," ujar Sherry.


"Haruskah kalian keluar saat malam begini?" tegur Aska yang muncul di belakang kakaknya. Kaki mereka berdua berhenti. Kemudian menoleh belakang bersamaan.


"Ini penting, Aska. Kamu harus membiarkan aku keluar." Sherry memberi kode adiknya bahwa ini begitu genting.


"Sepenting dan segenting apapun itu, buatku tetap penting kamu  Kamu saudaraku." Aska menatap kedua manusia ini lurus dan tegas. "Aku lebih memikirkanmu daripada yang lain, Sher ..." Sherry menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Relly mengerti apa yang di katakan Aska.


"Aku tahu kecemasanmu, Ka." Relly berusaha mengerti. "Aku mengerti."


"Aku tidak butuh pengertianmu soal kekhawatiranku pada Sherry, Rel." Bola mata Aska menunjukkan bahwa dia serius. "Aku hanya ingin Sherry tidak terlibat lagi soal kamu dan Ve." Meski telunjuk Aska tidak menunjuk. Bola matanya cukup tajam mewakili dirinya menunjuk Relky dan Sherry.


"Ayolah Ka ... Ini gawat." Sherry kembali merajuk.


"Aku tidak peduli, Sherr ..." Aska tetap pada pendiriannya. "Semakin kamu bersama Relly, semakin kamu terjerumus dalam persoalan kehidupan mereka," tuding Aska.


"Apa yang kamu dapat setelah membantu Ve dan Relly?" tanya Aska tiba-tiba.


"Itu ... " Relly melirik gadis di sebelahnyam. "Aku hanya merasa perlu membantu mereka. Aku tidak menginginkan imbalan."


"Lepaskan kehidupan Sherry saat menjadi Ve. Sherry yang menjadi Ve sudah usai. Kamu cukup jadi Sherry yang tidak ada hubungannya dengan Ve atau Relly. Sherry kakak perempuanku."


Sherry diam.


"Jangan membahayakan dirimu, Sherry ... Demi apapun, jangan. Aku tidak rela saudaraku terjebak dalam situasi berbahaya demi orang lain."


"Dia Ve, Ka. Mungkin saja Ve tidak akan selamat."


"Aku tahu. Walaupun begitu aku tidak rela kamu yang jadi korban." Aska tidak mengubah pendiriannya.


"Aku yang tahu jika papa Ve bukan asli, Ka. Aku saksinya."


"Aku enggak peduli. Jika kamu terluka, ibu juga pasti sedih. Aku enggak mau ibu sedih."

__ADS_1


Sherry menelan ludah. Dia juga tidak ingin ibu bersedih. Itu benar, tapi bagaimana?


"Jika yang kamu khawatirkan adalah kamu tidak akan bisa memiliki Relly kalau tidak bisa mengungkap masalah itu, lupakan. Kamu tidak harus membahayakan dirimu, Sherry ..." ujar Aska membuat Relly menatap Sherry lama. Gadis itu diam lagi.


"Maaf, Ka. Aku enggak bisa." Aska menggeram kesal mendengarnya.


"Ayo Rel. Kita harus ke rumah Ve." Sherry langsung menyambar tangan Relly dan mengajaknya pergi. Namun Langkah Sherry terhenti karena Relly tidak segera melangkahkan kaki mengikutinya. "Rel ..." panggil Sherry. Pemuda itu tetap berdiri di tempatnya sambil melihat ke arah Aska.


"Tidak Sherry. Cukup disini," bantah Relly sambil menoleh pada Sherry. Menarik lengan gadis ini dengan lembut dan membawanya berdiri sejajar di sampingnya. "Hanya berbicara, Aska. Ijinkan aku bicara dengan Sherry di sini."


"Rell ..." Sherry tidak setuju.


"Lalu?" tanya Aska dingin.


"Aku perlu berbicara dengannya. Setelah itu aku akan pergi. Aku tidak akan melibatkan Sherry. Aku juga tidak ingin dia masuk lebih jauh ke dalam hal yang berbahaya. Ini urusanku dan Ve."


Sherry berdecih. Aska melirik ke arah kakaknya.


"Oke. Silakan berbicara. Aku akan mengawasi kalian disini." Aska memberi Relly kesempatan.


"Terima kasih." Relly menarik tangan Sherry ke kursi di teras. Dengan kesal Sherry duduk di sana.


"Katakan apa yang kamu ketahui." Relly meminta Sherry menceritakan apa yang di bicarakan Elda dengannya di telepon. Sherry menceritakan apa yang di bicarakan Elda.


"Bagaimana bisa aku tidak segera membantu mereka. Mereka sedang dalam bahaya, Rel. Aku yakin mereka sedang di tahan dan menunggu kapan mereka akan lenyapkan."


"Aku paham. Namun, Aska benar. Aku tidak harus membuatmu masuk dalam keadaan yang berbahaya." Relly setuju akan pendapat adik Sherry itu. Di sebut namanya, Aska yang duduk tidak jauh dari mereka menoleh. Dia mendengar apa yang mereka bicarakan, hanya saja dia berpura-pura tidak peduli.


"Namun di sana Ve, Elda dan ...."


"Sssh ... aku tahu," potong Relly. "Aku akan menolong mereka sesuai keinginanmu. Kamu harus tetap disini, Sherr ..." Relly meminta pengertian gadis ini bahwa dirinya ingin gadis ini aman. Buat Relly tentu saja keamanan Sherry yang terpenting.


...****************...


Brak! Pintu kamar tempat Elda di sekap terbuka dengan keras. Saat Elda melongok, itu rupanya anak buah Gio. Sepertinya ini sudah siang. Jadi dia masih utuh dan hidup? Gio tidak membunuhnya pagi ini? Atau jangan-jangan Nona Ve atau nyonya Julia terlebih dulu yang di bunuh.


Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan dirinya yang masih hidup. Kenapa mereka tiba-tiba masuk ke dalam sini? Apakah itu berarti mereka menemukan bahwa Elda membawa ponsel?


"Keluar! Bantu semuanya menyiapkan jamuan makan untuk nanti!" panggil anak buah Gio pada Elda.


Jamuan makan? Kenapa tiba-tiba membahas jamuan makan? Mereka tentu salah bicara atau bahkan salah makan.

__ADS_1



__ADS_2