
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
"Mereka melihatku dengan mata yang mengartikan suatu hal yang tidak aku sukai. Menyebalkan," gerutu Sherry. Matanya melihat ke arah semuanya yang sedang memandanginya. Relly yang sudah selesai memeriksa berpindah menarik matanya melihat mata Sherry yang melihat mereka-mereka yang berbisik-bisik. Relly melirik kearah anak-anak itu.
"Kamu tidak tahu kalau Ve sering melakukannya?" tanya Relly yang membuat Sherry menatapnya dengan heran. Kemudian mendengus lucu karena sadar bahwa pemuda di depannya sudah mengatakan akan memperlakukan Sherry seperti orang lain sesuai imajinasinya. Relly menganggap tubuh di depannya ini bukan Ve, jadi wajar dia bersikap seperti itu.
"Soal apa itu? Aku tidak tahu," kata Sherry dengan raut wajah tidak peduli.
Tiba-tiba Relly mendekat dan berbisik di telinga Sherry, "Ve selalu mengikutiku dan meminta perhatianku dengan mata penuh cintanya," ujar Relly puas. Sherry mendengkus lagi.
.
.
"Aku mungkin sudah gila, jika masih saja menganggapmu adalah orang lain. Tapi cobalah untuk menerima itu. Aku tidak bisa lagi menganggapmu sama seperti Vermouth yang aku tahu. Aku mulai menginginkanmu lebih dari aku menginginkan seorang Vermouth yang mencintaiku."
.
.
Samar-samar Sherry jadi teringat lagi kalimat posesif Relly saat itu. Sherry menghela napas dan membuang wajah dengan lelah.
__ADS_1
"Walaupun kamu menghela napas lelah untuk menerimaku yang menganggapmu bukan Ve, aku tidak peduli." Relly memberi penegasan lagi, "Ayo jalan ke kelas. Tidak perlu tertekan dengan tatapan mereka," ajak Relly membuat Sherry terpaksa mengikuti pemuda ini.
Berjalan berdua seperti ini terasa asing bagi Sherry. Berada dalam tubuh ini membuat Sherry sendirian dan kesepian meskipun berada dalam keramaian. Di lingkungan asing sendirian sedikit menakutkan. Semua melihat dan mendengarkan tapi tidak menyadari keberadaannya. Bukankah itu menyedihkan?
Namun sekarang ada orang di sebelahnya, berjalan menemaninya. Bukan hanya menemani, tapi juga menyadari dan memahami keberadaan Sherry dalam tubuh asing. Sungguh menakjubkan.
Mereka berdua memasuki kelas lagi-lagi dengan tatapan para penghuni kelas yang sama seperti mereka yang ada di koridor tadi. Sherry geleng-geleng kepala tidak mau berpikir terlalu lama. Terserah!
"Kamu berangkat bareng dia?" tanya Frans.
"Enggak. Kita ketemu di koridor tadi," jawab Relly.
"Dia nempel lagi ke kamu, Rel?" tanya Andra yang lagi ada di dekat Relly. Telinga Sherry mendengar pertanyaan semacam itu lagi. Masih sama topiknya. Ve adalah penggemar Relly abadi.
"Padahal kemarin-kemarin sudah berhenti, sekarang kumat lagi nih?" tanya Andra lagi semakin menyebalkan. Maksudnya bercanda, tapi Sherry sedang tidak ingin bercanda.Telinga Sherry sudah panas mendengar kalimat-kalimat itu. Relly melihat ke arah Sherry yang diam saja duduk di bangku. Melihat dia membuang muka, Relly tahu bahwa gadis itu sedang tidak mau mendengarkan omongan-omongan barusan.
Gila! umpat Sherry dalam hati. Dia juga kaget mendengar kata-kata Relly barusan, tapi tidak mau membuatnya kentara. Relly melirik ke arah gadis itu. Seakan mengatakan dia memang melakukan hal itu pada Sherry.
Sejak tadi pagi Sherry masih enggan bercerita ke Elda tentang Daniel tadi malam. Sherry masih ingin bungkam. Namun Siang ini sepulang sekolah, dia sudah bisa menceritakan soal tadi malam dengan tenang.
"Dia percaya?!" tanya Elda menaikkan alisnya mendengar penuturan Sherry kalau Daniel percaya bahwa dirinya bukanlah Vermouth. Dia yang berada pada belakang kemudi masih mencoba fokus pada jalan di depan.
"Ya. Bahkan dia menyebut namaku, Sherry, dengan mudah dan tidak canggung," ucap Sherry menceritakan tentang Daniih dengan mobil yang melaju mulus, Elda menoleh sesekali mendengarkan cerita Sherry. Dia merasa takjub mendengar tuan muda Daniel mampu menerima cerita tidak masuk akal ini.
"Apa dia akan cerita ke semua orang?" tanya Elda seraya menggigit bibirnya dengan cemas. Karena terbongkarnya soal takdir aneh ini dari mulutnya. Meskipun sebenarnya itu tidak sengaja.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Namun kita tidak perlu khawatir soal itu. Tidak mudah menerima cerita ini sebagai kenyataan. Jadi tidak semua percaya apabila dia membicarakan hal ini pada orang lain," Sherry mendesah lelah.
"Tapi melihat kejadian Tuan muda Daniel, dia dengan mudah percaya tentang jiwamu yang tertukar. Bukankah orang lain juga akan begitu?"
"Tidak apa-apa. Aku percaya padanya," jawab Sherry pelan. Lalu melihat ke samping ke arah jalanan. Sherry mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan pelan. Dia menjadi gelisah.
Sherry bisa mengatakan percaya padanya karena lelaki itu bisa juga mempercayainya dirinya dengan mudah. Bibir itu mengucapkannya dengan yakin. Bisa di percaya dalam keadaan seperti ini, merupakan sebuah anugrah.
"Apa yang di lakukan Daniel setelah menerima takdir aneh ini dan menganggapmu orang lain?" tanya Elda ingin tahu. Pasti ada yang terjadi saat dia keluar dari dalam kamar itu.
"Tidak ada. Dia hanya diam dengan menatapku," jawab Sherry pelan.
Lelaki itu hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Akulah yang mengusiknya dengan pertanyaan, mengapa dia diam saja dan tidak mempertanyakan tentang cerita yang sangat aneh itu.
"Benarkah?" Elda tidak percaya. Bagaimana mungkin bisa tenang dan tetap cool mendengar cerita yang aneh ini.
Dia juga secara terbuka menyatakan ingin menyentuhku. Menatap mataku dengan tegas bahwa aku adalah orang lain yang hanya memakai tubuh Vermouth sebagai cangkang. Dan juga... aku menyadari satu hal yang membuat jantungku bergemuruh, dia ingin menciumku, Elda...
"Apa mereka memang bersikap seperti itu, ke Ve?" tanya Sherry. Elda menoleh lagi.
"Untuk Vermouth memang seperti terlihat takut pada Daniel. Dia menjadi gelisah saat Daniel datang kerumah ini. Tidak ada pembicaraan yang panjang antara mereka berdua. Ve selalu diam dengan gemetar saat Daniel melihatnya. Jadi mereka berdua jarang berinteraksi. Makanya aku tidak pernah menyangka dia berada di dalam kamar itu tadi malam." Elda mencoba menjelaskan dengan matanya yang sesekali melebar masih merasa wow soal Daniel.
"Lalu siapa lagi yang kamu tanyakan? Bukankah hanya satu orang yang tahu siapa dirimu bukan Ve? Mengapa kamu berkata mereka?" Sherry memijat-mijat dahinya yang seperti terasa pening di kepalanya yang berpusat pada tengah-tengah antara dua alisnya. Di atas tulang hidung.
"Tidak mereka ada dua orang," ungkapnya membuat Elda terkejut. Elda langsung menepikan mobil dan berhenti.
"Benarkah?! Siapa dia?" tanya Elda yang terkejut melihat ke Sherry dengan lengannya yang bersandar pada kemudi mobil.
__ADS_1