Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Pendekatan


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


Ve bertugas untuk mendekati Julia. Dia harus bisa membuat Julia mau bekerja sama. Saat sarapan pagi, Ve yang hendak berangkat sekolah mendekati Julia yang sedang berada di dapur.


"Selamat pagi, Ma." Julia terkejut gadis ini sudah berada di sampingnya.


"Pagi," jawab Julia ketus. Bik Sarah melihat itu. Beliau terlihat kurang setuju dengan sikap ibu tiri yang kurang menyenangkan padahal Ve sudah bersikap baik. Namun Julia memang begitu.


"Mama sedang buat apa?"


"Tidak perlu bertanya. Kamu bisa langsung sarapan pagi jika mau." Lola yang ada di samping Julia untuk membantu membuatkan teh lemon juga mendengkus sebal melihat nona Ve mendekat.


"Aku akan menunggu papa." Ve berkata begitu seraya menuju kursi makan. Julia melirik Ve dari balik cangkir bening yang di pegangnya. Sorot matanya berubah sekilas barusan. Ada rasa iba di sana.


Kemungkinan Julia merasa kasihan dengan nasib Ve yang ternyata hidup serumah dengan penjahat yang berpura-pura menjadi papanya. Julia mengira Ve tidak tahu.


"Kita bisa makan bersama karena papamu sudah pergi sejak tadi," Julia memberitahu. Masih mempertahankan sikap judesnya, Julia memberitahu putri tirinya.


"Benarkah? Baiklah. Kita makan berdua saja ya, Ma..." Ve menampakkan senyuman manis dan polosnya.


"Huh, menyebalkan senyuman polos itu. Kalau bukan kasihan aku tidak akan bersikap seperti ini ..." gumam Julia tidak jelas. Ve tidak ambil pusing. Dia harus bisa membuat perempuan ini mau mendengarkan kata-katanya.


"Seandainya kak Daniel ada di sini... " gumam Ve berwajah sedih. "Aku yakin kak Daniel baik-baik saja dan akan segera pulang menemui kita." Julia melirik terkejut mendengar kalimat Ve barusan. Raut wajah berubah menjadi sedih. Dia teringat lagi dengan putra tunggalnya itu. Segera bibirnya menyesap teh hangat dengan sedikit lebih cepat. Sepertinya itu pengalihan akan kesedihannya.


Ve melihat itu. Julia merespon jika berkaitan dengan putra kandungnya, Daniel. Sebelum itu, Ve mulai mengisi perutny dengan sarapan pagi. Akan ada banyak aksi ke depannya. Dia harus punya banyak energi.


Penjaga gerbang memberitahu ada seorang pemuda di pintu depan. Memakai seragam yang sama dengan milik nona mudanya.


"Itu temanku, Pak. Biarkan dia masuk. Aku akan berangkat sekolah dengannya," ujar Ve memberi ijin untuk masuk. Setelah meneguk jus, Ve beranjak dari kursi makannya. "Ma, aku berangkat sekolah."


Ve berjalan menuju pintu depan.


"Tunggu." Sungguh mengejutkan. Rupanya Julia mengikuti Ve hingga pintu depan.


"Ada apa, Ma?" tanya Ve menghentikan langkahnya.


"Berhenti berbicara seolah Daniel masih ada. Kamu tidak tahu apa-apa. Jika kamu terus saja seperti itu, maka aku pun tidak bisa tenang merelakan kepergiannya," ucap Julia dengan geraman penuh luka dan kesedihan.


"Memangnya kak Daniel sudah tidak bisa kembali, Ma?"

__ADS_1


"Tutup mulutmu, bocah. Aku sudah menahan diri untuk tidak membicarakan Daniel, tapi pagi ini kamu secara lugas berkata soal Daniel."


"Kenapa, Ma? Bukankah tidak apa-apa jika aku berharap kak Daniel kembali dari berita kehilangannya." Ve masih bersikap tidak tahu apa-apa.


"Salah. Daniel sudah tidak bisa di harapkan lagi. Gio sudah membunuhnya. Papa palsumu sudah membunuh putraku satu-satunya," lirih Julia penuh dengan amarah. Tangisan perempuan ini merebak.


Dari luar jendela, Hansel bisa tahu ada Ve dan ibu tirinya di dekat pintu. Hansel yang takut akan terjadi sesuatu pada Ve segera mendekat. Namun gadis ini sudah muncul di depan pintu.


"Kamu tidak apa-apa? Aku melihatmu dengan mamamu."


Ve menggeleng. "Aku tidak apa-apa Hansel. Ayo kita bergegas ke sekolah dan menemui Relly dan Sherry," bisik Ve. Hansel mengangguk.


...----------------...


Kini empat sekawan ini sering terlihat bersama. Bahkan sempat membuat semua orang heran. Bagaimana bisa Relly yang sekarang berstatus menjadi tunangan Ve, melenggang dengan santai berdekatan dengan Sherry. Begitu juga sebaliknya. Ve juga terlihat lebih nyaman bersama Hansel dan Relly tidak marah melihat itu.


"Jangan dengarin apa yang mereka gunjingkan. Kita sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi kan?" Relly memaksa kepala Sherry untuk berhenti melihat ke arah lain.


"Bukan aku. Aku lebih cemas ke kamu."


"Aku?"


"Imagemu bisa hancur gara-gara aku."


"Aku enggak butuh image baik jika harus mengambil keputusan yang salah. Biarlah mereka berpikir dengan informasi yang mereka dapat. Kita cukup berusaha menemukan cara agar kejahatan Gio terungkap." Relly melihat ke arah Sherry dengan hangat.


"Oke. Aku yakin kamu memang tidak apa-apa." Sherry tersenyum yakin.


Ve mendekat dengan Hansel yang datang ke kelas mereka. Kali ini mereka memilih atap sekolah tempat Hansel biasa nongkrong sebagai tempat berbicara.


"Mama mengaku jika beliau diberitahu sendiri oleh Gio bahwa dirinya palsu. Juga soal Daniel yang mama bilang sudah di bunuh oleh penjahat itu. Karena mama yang tak sengaja mendengar bahwa Gio palsu segera di seret ke hadapan Gio," ujar Ve memulai bincang siang ini.


"Ancaman apa yang membuatnya bungkam?" tanya Relly.


"Aku." Semua terkejut. "Gio menggunakan aku sebagai ancaman bagi mama. Semua itu berhubungan dengan perlakuan mama padaku yang semena-mena. Semacam itu." Ve tidak menjelaskan secara rinci tapi semua orang paham.


"Hanya itu?" tanya Sherry.


"Ya."


"Mungkin mama Ve takut tidak punya tempat lagi untuk tinggal jika melawan Gio. Jadi dia membiarkan kenyataan yang dia ketahui dengan diam dan tidak membantah," tambah Hansel. Ve paham tentang itu. Semua mengangguk mengerti.


"Jadi ... dia bisa di percaya?" tanya Relly. Ve menoleh pada Hansel.


"Aku rasa iya. Saat ini Daniel adalah harapannya. Aku rasa mama Ve bisa jadi sekutu." Hansel mewakili Ve untuk bicara.


"Baiklah. Jalankan seperti yang sudah kita rencanakan. Aku akan menunggu disana bersamanya." Relly menunjuk Sherry dengan dagunya. "Aku harus bicara dulu dengannya lalu kalian bisa membawanya besok."

__ADS_1


"Apakah ... apakah dia ..." Ve berucap terbata.


"Ya. Dia mulai bangun. Keajaiban buat kita." Sherry menepuk bahu Ve pelan. Mata Ve berkaca-kaca.


...----------------...


"Mau di bawa kemana, aku?" tanya Julia judes.


"Aku akan mengajak mama menemui seseorang." Ve yang berjalan di sampingnya berkata dengan lembut.


"Jangan membohongi nyonya Julia, ya ... Kamu tahu akibatnya." Lola ikut mengintimidasi.


"Diam, Lola!" hardik Julia membuat Lola terkejut. Jika biasanya nyonya Julia mengijinkan Lola ikut menganiaya anak tirinya, tapi kali ini tidak. Julia marah saat Lola bermaksid bersikap tidak baik pada Ve.


Lola menepuk bibirnya sendiri. Dia tidak menyangka akan di bentak nyonya karena ikut memperlakukan Ve tidak baik. Mata pelayan ini berkedip-kedip. Ve melirik Lola dengan senyum penuh kemenangan.


Jadi ini rasanya tersenyum saat melihat orang lain menderita? Sungguh menyenangkan. Haha. Tidak, tidak, jangan terlena. Fokus pada rencana.


Hansel yang menemani Ve mengantar mamanya tersenyum. Geli melihat tingkah Ve yang menikmati adegan pelayan yang sering menyiksanya di bentak.


Dia lucu. Dia menikmatinya ...


Sebelum mereka sampai pada tempat yang di tuju, Julia memberi Lola tugas. Yaitu membelikan buket bunga yang lupa dia bawa.


"Bunga, nyonya?" tanya Lola heran.


"Emm ... iya. Coba kamu carikan buket bunga cantik untuk kesembuhan orang yang akan kita temui." Julia melirik ke arah kamar yang akan mereka tuju.


"Bukannya sudah tanggung, Nya. Kita sudah ada di depan kamar orang yang akan kita jenguk bukan?"


"Kamu membantahku, Lola?" tanya Julia dengan wajah sengit.


"B-bukan nyonya. Baik. Baik. Akan saya carikan buket bunga seperti yang anda suruh."


"Begitu ya. Bagus. Ini uang untuk membeli buket bunga. Sisanya ambil. Pasti banyak."


"Benarkah? Terima kasih Nyonya."


"Cepatlah pergi."


"Baik Nyonya. Aku pergi." Lola berjalan dengan gerak cepat demi memenuhi keinginan majikan juga untuk memperoleh uang saku.


"Aku sudah menyuruh dia pergi. Lalu apa?" tanya Julia pada Hansel. Dia menemukan kode yang di buat Hansel untuk membuat pelayan itu pergi. "Aku sudah bertindak bodoh dengan mengikutimu bocah. Awas jika terbukti, kalian membohongiku. Gio juga tidak akan tinggal diam."


"Kami tidak akan membohongi mama," ucap Ve. "Ayo. Kita segera masuk." Ve berjalan di depan dan di ikuti Julia dan Hansel. Setelah berbelok, Ve membuka pintu kamar.


Semua orang di dalam kamar menoleh pada pintu yang terbuka. Julia melangkah perlahan sambil memperhatikan seluruh ruang perawatan ini.

__ADS_1


"Mama."



__ADS_2