
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Sepulang sekolah, Sherry berniat ke kantor Papa Ve tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dia ingin tahu juga bagaimana kantor tempat orang tua Ve bekerja. Mumpung masih dalam tubuh gadis cantik ini. Mungkin dari sana bisa mendapatkan suatu petunjuk. Semua menunduk hormat saat Sherry datang. Awalnya Sherry kaget dan canggung. Dia lupa kalau dia sedang berada dalam tubuh Ve. Makanya saat semua memberi hormat, Sherry menatap heran.
Ternyata seperti ini rasanya menjadi anak seorang pimpinan. Sherry jadi bisa merasakannya. Saat itu Daniel melintas. Entah kenapa spontan Sherry bersembunyi. Dia menenggelamkan tubuhnya di balik meja-meja para pegawai. Semua sontak melihatnya dengan terkejut dan keheranan. Bagaimana bisa puteri keluarga atasan mereka bertingkah seperti itu. Dan lagi kenapa harus seperti itu. Tingkah Sherry ini membuat para pegawai tertarik untuk melihatnya
"Anda tidak apa-apa nona?" tanya para pegawai yang ada di dekat Sherry cemas.
"Ssst.. Iya, iya aku tidak apa-apa. Kembali ke tempat kalian," ujar Sherry menyuruh pegawai itu diam dan segera kembali ke posisi semula sembari mengibaskan tangannya. Untuk bersikap seperti tidak ada apa-apa. Karena seandainya mereka berkerumun akan terlihat mencolok bagi Sherry. Namun rupanya itu sudah terlanjur terjadi.
"Sedang apa kamu di sana?" tanya seseorang dengan tegas. Sherry memejamkan mata dengan menggertakkan gigi kesal. Dia tidak hapal suara siapa itu, tapi Sherry tahu. Tidak akan ada orang lain yang akan bertanya dengan nada seperti itu kalau bukan dari 'golongan sendiri'. Di sini orang yang termasuk dalam golongan itu tak lain adalah pria itu. Daniel. Lelaki itu berhasil menemukannya.
Sherry menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berdiri. Dia masih berseragam. Jelas mencolok bukan. Siapa lagi yang berani masuk area perkantoran dengan memakai seragam kalau bukan putri atasan. Dia berdiri sambil membersihkan tubuhnya. Dia memang bersembunyi dengan jongkok di lantai.
Tangannya membenahi rambut dan mulai memutar tubuhnya. Dugaannya benar. Disana berdiri lelaki bernama Daniel. Kakak tiri Ve!
__ADS_1
"Aku tanya sekali lagi sedang apa kau disana?" tanya Daniel.
"Emm ... olahraga?" jawab Sherry malah menjawab dengan asal. Daniel mengangkat alisnya mendengar jawaban dari gadis SMA yang mulai terlihat berubah itu. Kedua alisnya terangkat karena sebenarnya dia tahu jawaban atas pertanyaannya. Dia hanya ingin gadis itu memberikan pengakuan atas tingkahnya yang mencurigakan. Sherry mendekati lelaki itu. "Sudah jelas kan, aku sedang bersembunyi. Dimana letak kantor papa? Aku ingin menemuinya." Sherry mengakui dengan tegas dan bertingkah judes.
"Beliau sedang rapat. Kau tidak bisa menemuinya sekarang," cegah Daniel saat Sherry langsung saja berjalan melewati Daniel.
"Baiklah. Aku tunggu di ruanganmu saja," kata Sherry dengan wajar. Namun kemudian dia kaget sendiri karena lelaki itu justru menatapnya takjub. Matanya berkilat bahagia mendengar Sherry yang ingin ke ruangannya. Sherry mengerjap. Ada apa ini? Setelah beberapa detik beku, akhirnya Daniel tersenyum.
"Kau sendiri yang memintanya ..." ucapnya membuat Sherry heran. Kedatangan Sherry ke ruangannya Daniel juga bukan karena ingin. Tidak mungkin dia menunggu papanya muncul di ruangan lain yang tidak di kenalnya. Meskipun Sherry sendiri harus merasa was-was dengan lelaki misterius ini.
Daniel membukakan pintu untuk Sherry. Ruangan kecil, tapi bersih. Sherry mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Aroma ruangan yang khas.
"Kalau aku bilang ingin duduk di situ, bagaimana?" tunjuk Sherry ke arah kursi kerja Daniel. Mata Daniel membulat sebentar dan bibirnya tersenyum.
"Kalau untukmu silahkan ...," jawab Daniel sedikit terdengar aneh. Sebenarnya Sherry hanya ingin mengerjai lelaki penuh misteri ini. Dan awalnya Sherry berpikir pasti Daniel tidak akan membiarkan orang lain duduk di 'singgasana' miliknya. Melihat laki-laki itu sepertinya orang yang sangat ambisius. Ternyata tidak. Justru Daniel mempersilahkan dengan tangan terbuka. Atau dia berpikir itu hanya sebuah kursi. Tidak ada hubungannya dengan ambisi dan sebagainya itu. Sherry menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mau berpikir lagi.
"Kau tidak jadi duduk di sana?" tanya Daniel yang melihat Sherry malah mendekati rak-rak buku yang berdiri di samping dinding kanan.
"Tidak. Aku tidak perlu sebuah kursi. Hanya sebuah kursi, tidak menarik," kata Sherry tanpa melihat ke Daniel. Sherry mulai tertarik melihat-lihat kumpulan buku-buku di rak. Selama ini Sherry selalu penasaran dengan buku-buku yang selalu di pajang di rak pada sebuah ruang kantor. Buku apa saja yang sebenarnya di pajang di sana.
"Benar. Sebuah kursi tidak menarik," ucap Daniel menirukan kalimat Sherry sambil tergelak. Lalu dia duduk di sofa. Sherry masih saja mengelilingi rak buku. "Kursi adalah benda mati yang tidak punya rasa dan jiwa," imbuhnya.
__ADS_1
"Bena," ujar Sherry setuju. "Kau boleh pergi meninggalkanku. Tidak harus menungguiku di sini karena aku bukan anak kecil. Pastinya kau punya pekerjaan lain yang harus di kerjakan bukan?" Sherry mengatakannya tanpa menoleh. Tangannya meraih buku buku di rak. Dibuka dan di baca sebentar. Lalu di kembalikan lagi ke tempat asalnya.
"Kau memang bukan anak kecil. Kalaupun terlihat masih memakai seragam kau memang sudah bukan gadis kecil." Sherry tidak tahu laki-laki ini sedang memperhatikannya. Melihat secara menyeluruh. Dari atas sampai kaki. Bukan tatapan mesum tetapi tatapan menyelidik. Daniel sedang mencoba menyelidiki Sherry.
"Kau menyukai ini?" Sherry menunjukkan sebuah novel legendaris karya Arthur Conan Doyle. Mata Daniel melihat ke arah novel yang di pegangnya.
"Ya. Kau tahu novel itu?" tanya Daniel berbinar. Dia sangat menyukai novel detektif itu.
"Sedikit," jawab Sherry sambil menatap novel itu sebentar. Lalu membukanya. "Kau tidak pergi dan kembali mengerjakan pekerjaanmu?" tanya Sherry lagi saat melihat Daniel tidak beranjak dari ruangan.
"Ini ruangan ku. Pekerjaanku ada di sini," sahut Daniel yakin. Sherry mengangguk paham. Dia lupa bahwa sedang dalam ruangan Daniel. "Kau terlihat berbeda dari sebelumnya," kata Daniel.
"Ya. Tentu saja. Sebelumnya aku bertemu denganmu dengan pakaian ala kadarnya. Sekarang justru kau sedang melihatku dengan seragam sekolah. Itu jelas berbeda," jawab Sherry lagi-lagi tanpa menoleh. Daniel tergelak.
"Apa yang lucu? Itu kejadian yang sebenarnya bukan?" tanya Sherry heran. Dia tidak sedang melucu. Hingga terasa aneh jika di tertawakan.
Apa pria ini mengejekku? Kurang ajar, umpat Sherry mulai sadar. Fokusnya tidak lagi pada buku yang di pegangnya, tapi pada pria itu. Sherry menatap pria ini lurus-lurus.
"Menggemaskan," ucap Daniel dengan senyum miringnya.
__ADS_1