Diary Sherry

Diary Sherry
Pertanyaan itu lagi


__ADS_3

Terima kasih yang masih setia menunggu dan membaca cerita ini. Selamat membaca ❤


.



...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


.......


.......


.......


Mereka melakukan latihan tanding tanpa mengurangi tenaga. Hingga Sherry kewalahan karena Hansel sangat berbakat. Cowok ini bersungguh-sungguh melakukannya. Bruk! Tubuh Sherry terlempar di atas matras.


Aku kalah. ujar Sherry dalam hati.


"Siapa kamu?" pertanyaan biasa tapi membuat Sherry terkejut. Tiba-tiba saja Hansel bertanya seperti itu. Sherry lelah dengan pertanyaan ini lagi. Padahal masih banyak triliunan pertanyaan, kenapa dia malah mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama dengan Relly.


Sherry menghela napas.


"Kenapa bertanya suatu hal yang sudah jelas?" Sherry membalikkan tubuhnya dan melihat Hansel yang masih duduk di atas matras. "Aku Ve," kata Sherry. Dia tersenyum paham.


"Aku tidak begitu mengenal nama yang kamu sebut," kata Hansel seraya beranjak duduk. "Aku jarang tahu dengan nama itu. Aku hanya mengetahui wajah yang ada di hadapanku. Namun yang aku tahu wajah itu bukan orang seperti yang aku temukan di atas matras tadi," Hansel menunjuk dengan ibu jarinya ke arah belakang. Tubuh Sherry merasakan bahaya dalam pertanyaan Hansel. Kalau Hansel juga berpikir dia adalah orang lain, berarti begitu banyak hal tidak masuk akal yang terjadi padanya. "Apalagi dengan gadis yang barusan," imbuh Hansel. Ujung matanya menunjuk ke arah matras lagi. Dimana mereka sudah melakukan latihan tanding. Itu suatu hal yang mustahil dilakukan Ve. Duh! Sherry membuang muka dan berdecih. Setelah itu melihat ke Hansel lagi.


"Lalu, menurutmu? Kamu ingin aku bersikap manis padamu?" tanya Sherry dengan wajah seperti itu tidak mungkin terjadi. Menggeleng-gelengkan kepala sambil mendengus, seperti mengatakan itu sangat lucu. Cowok itu juga tersenyum tapi berbeda. Senyuman itu mengartikan kalau itu memang manis.


Apa maksud cowok ini?


"Dulu, saat melihatku menggertak seseorang dan akan menghajarnya, dia akan menggigil ketakutan, tapi kamu tidak." Hansel tahu perbedaan Ve dan Sherry. "Saat melihatku mencengkeram tangannya. Bahkan sebelum aku melakukan itu, dia pasti sudah merasa takut. Aku yakin. Namun hari ini aku melihatnya lain. Kamu menghadapiku dengan tenang. Seorang gadis yang aku tahu itu tidak akan pernah bersikap setenang ini." Walaupun Hansel menyebut nama, tapi dia seperti membicarakan orang lain.


Aku memang tidak bersikap seperti Ve. Aku bersikap bagaimana diriku seperti biasanya. Tanpa sadar Sherry menyentuh daun telinga dan mengusapnya berkali-kali. Itu kebiasaan Sherry saat dirinya lagi gugup. Wajahnya mencoba tenang tapi dia sempat gugup. Hansel memperhatikan cewek didepannya secara seksama.


Ekspresinya datar. Tapi kenapa tubuhnya tidak tenang. Dia pasti gelisah dengan perkataanku barusan. Hmm ... jadi seperti ini saat dirimu gelisah. Hansel juga memperhatikan raut wajah Sherry


"Terserah." Akhirnya Sherry merespon kalimat-kalimat itu sekedarnya. Hanya untuk menghentikan pertanyaan Hansel.


Aku harus segera pergi. Aku harus kabur. Kalau tidak, dia akan terus mengejarku dengan pertanyaan serupa. Bisa-bisa aku gelisah lagi melihat ada orang yang mudah percaya takdir aneh ini.


Setelah membereskan perlengkapan latihan, Sherry beranjak keluar. Meninggalkan Hansel yang masih memandanginya.

__ADS_1



Sherry masih berdiri di depan tempat latihan. Bukan tidak ingin pulang. Dia masih mencoba menghubungi Aska, biar segera di jemput.


Aska sempat bilang kalau lagi ada di sekitaran tempat latihan karena nongkrong sama anak-anak klub motor.


"Apa?"


"Ka, bisa kau jemput aku di depan gedung klub karate xx?"


"Kenapa kau disana?"


"Latihan. Ayo cepetan jemput. Gak usah banyak nanya."


"Minta tolong malah judes."


"Biarin. Cepat. Darurat."


"Kalau enggak lihat keadaanmu yang sekarang, aku gak sudi jemput."


"Aduh, ni anak. Iya, iya...Cepetan!" Sherry menutup telpon. Matanya melihat ke tempat parkir di depan gedung. Motor Hansel masih ada di sana. Dia berharap cowok itu jangan keluar dulu, sebelum Aska datang menjemputnya. Angkot disini memang sering enggak ada kalau sudah jam 8 malam ke atas. Sherry enggak mau minta supir rumah jemput, karena bisa heboh nanti. Ve yang mereka kenal tidak pernah punya kegiatan yang berhubungan dengan otot seperti ini.


Kenapa cowok itu sudah muncul sih. Jangan kesini. Jangan kesini.


Melihat Sherry masih disana Hansel mendekat.


Tuh, kan ... Dugaan Sherry benar.


"Belum pulang? Gak ada yang jemput?" Sherry diam. Pura-pura enggak dengar. "Ve?" Merasa yang di ajak tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya, Hansel malah mendekatkan kepalanya. Sherry menjauh.


"Bicara dengan jarak yang tepat. Ada apa?" tanya Sherry terkejut. Hansel tersenyum. Dia mulai terbiasa dengan gaya bicara Sherry yang seperti sedang menantang dan songong. Dan juga sikap cuek bebeknya. Justru dengan sikap dan bicaranya yang seperti itu membuat Hansel mau menoleh karena penasaran.


Cukup seru, Hansel berpikir demikian.


"Kenapa belum pulang? Kamu menungguku?" tanya Hansel tidak serius. Sherry hanya mengangkat sebelah bibirnya.


"Tentu saja tidak," sahut Sherry galak. Tiba-tiba tangan Hansel meraih pergelangan tangan Sherry. "Hei!" sergah Sherry terkejut.


"Ini pasti sakit. Maaf," ucap Hansel dengan raut wajah lembut. Itu karena latihan tanding tadi. Sherry menarik tangannya. Berusaha melepaskan tangan Hansel. Otomatis Sherry membuang muka. Suasana menjadi canggung.


Sementara itu Aska sudah sampai disana. Karena melihat Sherry tidak sendirian, dia menepi tidak jauh dari mereka. Sedikit bersembunyi.

__ADS_1


Apaan-apaan dia. Menyuruhku cepat kesini malah maen drama romantis sama cowok, gerutu Aska sambil menipiskan bibir. Aska mengirim pesan ke Sherry.


"Jadi pulang gak?" tanya Aska langsung.


"Iya dong," jawab Sherry merasa aneh dengan pertanyaan Aska.


"Kenapa malah maen drama sama cowok?"


"Gila. Siapa yang maen drama? Dimana kamu?"


"Deket halte. Sembunyi kayak penjahat."


Sherry mencoba mencari lokasi Aska dengan diam-diam supaya Hansel enggak tahu.


"Cepet usir dia, kalau kamu mau pulang." ancam Aska.


"Aku lagi usaha, nih..."


"Atau aku pulang aja. Kamu balik sama dia."


"Jangan!"


Sherry gelisah sendiri karena Hansel tidak cepat pulang. Sedari tadi dia memperhatikan Sherry yang terlihat cemas.


Tolong pulanglah ... Aku juga mau pulang nih.


"Aku anterin kamu," kata Hansel tanpa di minta. Dan Sherry memang tidak pernah meminta diantarin. Saat Hansel menghampiri motornya, Sherry segera kabur. Setengah berlari menuju ke arah Aska.


"Ayo cepat!"


Aska yang sudah siap, langsung menyalakan mesin motornya dan menghilang.



.


.


.


Terima kasih buat yang sudah vote, like, favorit dan komentar 💋

__ADS_1


__ADS_2