Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Egois


__ADS_3

Terima kasih banyak yang masih dan mau membaca cerita ini. Selamat membaca! ❤


.


.



.


.


(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


.


.


.


Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Daniel dan Sherry diam. Tidak ada obrolan apapun setelah Daniel melontarkan pertanyaan itu. Hanya sesekali Daniel menoleh untuk melihat gadis yang duduk di sampingnya itu. Akhirnya usailah perjalanan yang sunyi senyap itu saat Daniel mengatakan sesuatu, "Kamu sepertinya egois juga, Sher." Tiba-tiba Daniel berkata demikian yang membuat Sherry menoleh cepat ke Daniel dan membelalakkan matanya.


"Apa maksudmu?" tanya Sherry tidak suka.


"Ini sangat tidak adil bagiku. Kamu yang seperti memintaku untuk menemukanmu, sekarang bersikap tidak ingin ditemukan olehku. Kamu ingin bersembunyi lagi. Meminta agar aku bisa bersikap seperti biasanya," tiba-tiba Daniel mengatakan kalimat penuh amarah tertahan. Masih menatap Daniel dengan kerutan samar di dahinya, Sherry mendengarkan apa yang di katakan Daniel.


"Apa yang sedang kau bicarakan ini?" tanya Sherry dengan mata nanar.


"Jangan pernah meminta di temukan kalau kamu ingin bersembunyi. Walaupun aku tidak mengungkapkan, kamu pasti tahu aku..." ucap Daniel.


"Jangan memakai hatimu untuk hal-hal lain saat sedang menghadapiku, Daniel. Itu tidak perlu. Kau hanya perlu baik pada tubuh ini," potong Sherry segera. Kata-kata Daniel yang membuat Sherry melebarkan mata tidak percaya membuat dia harus memangkas kalimat panjang yang sebenarnya sudah di ketahui olehnya. Lelaki ini memakai hatinya di luar jangkauan. Daniel menggunakan hatinya pada jiwa yang menumpang pada cangkang kosong ini.


"Begitu? Aku yakin kamu sangat egois," cemooh Daniel dengan nada dingin. Sherry tidak peduli. Dia membiarkan Daniel di selimuti aura marah dan kecewa yang tidak terbantahkan.

__ADS_1


Kamu akan tahu dan paham, kalau tidak perlu memakai hatimu untuk jiwa ini yang hanya menumpang. Suatu saat aku pasti akan menghilang bukan?


Mobil sampai di depan gerbang besar milik sekolah Sherry. Mata Sherry terkejut saat tangan Daniel terulur untuk mengusap kepalanya yang tertunduk hendak keluar mobil.


"Ini di luar rumah. Tidak ada para pekerja di rumah itu melihat dengan aneh," kata Daniel sebelum Sherry melontarkan celaan. Karena raut wajahnya sudah terlihat terkejut dan akan memberi pertanyaan atau celaan bertubi-tubi.


"Mataku masih bisa melihat ini," tunjuk Sherry ke arah telapak tangan Daniel yang masih berada pada pucuk kepalanya. Daniel tersenyum.


"Aku tidak peduli itu." lalu Daniel menarik tangannya setelah berhasil mengusap kepala Sherry sekali lagi.


"Hentikan!" pekik Sherry menggoyang-goyangkan kepalanya ingin menolak sentuhan itu. "Lain kali beri aku uang saku untuk membeli banyak makanan daripada memberiku usapan tidak berguna itu," pesan Sherry setelah menutup pintu di atas kaca mobil yang terbuka. Lalu ia pergi sebelum Daniel membalas perkataannya.


"Jelas Vermouth dan Sherry itu berbeda...," desah Daniel. Kemudian menjalankan mesin mobil. Menghilang dari Sekolah itu. Sherry berjalan menuju halaman sekolah dengan di ikuti tatapan mata Hansel yang sejak tadi melihatnya. Sejak Sherry berada di dalam mobil. Saat tangan besar Daniel mengusap rambutnya. Tiba-tiba Sherry berhenti. Dia masih teringat ucapan Daniel yang mengesalkan.


"Huh. Daniel memang kurang kerjaan," dengkus Sherry kesal sambil menghentakkan kaki. Egois? Aku? Huh, tahu apa Daniel tentang aku selain aku yang mengalami takdir aneh. Selain aku tampak menarik hanya karena aku bersikap berbeda daripada Vermouth. Dia tidak mengenalku. Lelaki ituuuu....


.



.


Dari kelas di seberang, Sherry tahu pemuda itu sedang memperhatikannya. Bahkan sepertinya akan mengikutinya. Mencegatnya di belokan depan. Itu pun terjadi seperti apa yang di pikirkan barusan.


"Kamu tidak sedang dalam mood baik hari ini?" tegur Hansel. Sherry memutar matanya malas. "Jangan berekspresi ingin memakanku seperti itu. Aku tidak tahu apa-apa soal bad mood-mu hari ini." Sherry ingin kabur dari lelaki-lelaki ini. Namun tangan Hansel berhasil meraihnya. Sherry melebarkan matanya ke arah tangannya yang di cekal Hansel. melihat itu Hansel langsung melepas pegangan tangannya.


"Sorry..." ucap Hansel meminta maaf. "Aku hanya bilang jangan kabur. Aku tidak akan membuatmu tidak nyaman seperti di tempat latihan. Jangan kabur lagi." janjinya dengan wajah paham.


"Lalu? Kalau aku gak kabur, ngapain?" tanya Sherry enggan.


"Jalan bareng aku. Janji tidak akan membuatmu kesal," kata Hansel sambil menunjukkan dua jarinya.


"Cepetan, udah mau telat nih," kata Sherry tidak sabar yang berlebihan. Jam masuk masih dua puluh menit. Hansel segera mengikuti langkah Sherry. Semua mata memandang ke arah mereka. Untuk Hansel bad boy ganteng ini memang sering jadi perhatian semua orang. Baik itu yang takut ataupun kagum.  Memandang tubuh Vermourt yang lebih dikenal  sebagai pemuja Relly dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


Dalam benak mereka mungkin mulai saat ini Vermouth berganti idola. Yang awalnya menggemari Relly, sekarang beralih ke Hansel. Walaupun tidak di ajak ngobrol, Hansel tetap berjalan di sisi Hansel dengan tenang. Layaknya serigala yang sudah di jinakkan.


Dexy dan Eliot yang berada di belakang mereka segera mendekat.


"Aura kalian berdua sudah selayaknya masuk dalam award dan sedang melewati red carpet," kata Dexy sambil melingkarkan lengan di leher Hansel. Sherry hanya menoleh sekilas. Yang awalnya berdua kini malah jadi ramai.


"Kenapa?" tanya Hansel.


"Semua orang seperti sedang memberi jalan pada kalian berdua dengan tatapan tercengang," Eliot yang berdiri di sebelah Sherry menimpali.


"Oh ya?" tanya Hansel tidak sadar lalu melihat ke sekeliling dengan tatapan ingin tahu. Perkataan dua temannya benar adanya. Mereka semua memandang ke arah mereka berdua. "Benar juga," ujar Hansel seraya mendengkus.


"Iya. Mereka sedang memandang antara kagum dan muak," timpal Sherry yang membuat semua menoleh padanya.


"Kenapa?" tanya Dexy.


"Mereka kagum saat melihat Hansel berjalan, tapi menjadi muak saat lihat aku yang berdiri di sebelahnya," jawab Sherry datar. Walaupun mengatakan itu Sherry tidak sedang dalam keadaan marah dengan pilihan cara pandang mereka terhadapnya dan Hansel. Itu sudah di dapatnya jauh sebelum jiwanya terperangkap dalam tubuh ini. Dia tidak harus mengubah pandangan mereka kepada Vermouth. Karena dia sudah mencoba tidak terkagum-kagum pada Relly mereka masih saja menghujat dengan ekor matanya.


Di dalam kelas Relly menyambutnya dengan tatapan dingin. Sherry berjalan tanpa mencoba menghindari tatapan dingin milik Relly. Lalu menghempaskan punggung di bangku dengan bantalan empuk di atasnya.


Kali ini ada jam pelajaran olah raga pada jam pertama di kelas Sherry. Anak-anak ada yang sudah memakai seragam olahraganya ada yang belum. Sherry sendiri belum mengganti seragamnya. Sherry segera mengambil seragam olahraga dari dalam tasnya yang terlihat menggelembung karena ada jaket jumper dalamnya. Lalu pergi keluar ke kamar mandi untuk ganti baju.


***


"Aku tidak menyangka kamu sedekat itu dengan Hansel," tukas Relly yang bersandar di dinding luar. Dia mengikuti Sherry dan menunggu Sherry mengganti pakaian di kamar mandi. Mungkin dia tahu kalau Sherry adalah orang terakhir yang berada di dalam kamar mandi. Karena itu dia menunggu sampai Sherry keluar. Rupanya dia sempat melihat ke arah Hansel dan dirinya yang melintas lewat jendela kelas tadi.


.


.



__ADS_1


__ADS_2