Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Bingung


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


Relly berdecih berulang-ulang karena keputusan papa. Saat mengatakan keinginannya untuk mengenalkan Sherry sebagai gadis yang di pilihnya sebagai tunangan, papa tersenyum tipis.


"Maaf, Relly. Walaupun apa yang kamu katakan soal keanehan Gio memang terungkap dan itu benar, papa tidak bisa begitu saja melepas Ve sebagai tunanganmu. Ini sungguh tidak adil baginya. Mungkin Sherry adalah gadis yang kamu cintai sesungguhnya, tapi ... Ve juga punya perasaan. Jangan mengabaikan itu karena keegoisanmu. Kamu juga harus memikirkan perasaan Ve." Begitu nasehat beliau.


"Rel!" panggilan mama mengalihkan lamunan Relly.


"Relly ...." Mungkin karena Relly tidak segera muncul maupun menjawab panggilan mamanya, beliau langsung mendatangi kamar putranya. Membuka pintu tanpa mengetuk pintu.


"Ya, Ma."


"Coba lihat pakaian yang akan kalian kenakan nanti," ujar mama gembira.


"Pakaian apa, Ma?" tanya Relly malas.


"Apa? Kamu masih menanyakan apa? Ini jasmu yang akan di pakai saat pesta nanti Relly ..." ujar mama sambil membawa dua pasang gaun malam dan setelan jas.


"Pesta apa, Ma? Aku tidak tahu." Relly enggan membahas ini. Dia ingin segera mencari cara agar lepas dari ikatan pertunangan dengan Ve.


"Pesta syukuran atas keselamatan semua keluarga kita. Juga jamuan makan atas keberanian teman-temanmu."


"Kenapa ada gaun perempuan?" tanya Relly mengernyit.


"Ini untuk Ve. Kita akan mengundangnya."


"Ma. Aku sudah bilang pada papa kalau aku tidak mencintai Ve."


Mama mendesah seraya memandang putranya. Sepasang baju tadi di tekuk dan di letakkan pada lengan beliau. Kemudian mendekati Relly yang duduk bersandar di atas ranjangnya. "Jangan salahkan papa, Rel. Jika sejak awal kamu tidak mengajukan pertunangan ini, papa tidak akan melakukannya."


"Itu bukan hanya karena aku meminta pertunangan ini, Ma. Semuanya juga karena papa tidak mau kehilangan muka karena aku menyembunyikan tubuh Ve. Mama pasti sudah dengar soal itu, bukan?" Mama menghela napas lagi.


"Iya, mama tahu. Maaf, Rel. Mama tidak bisa berbuat apa-apa. Itu soal lain, jika Ve sendiri yang memutuskan pertunangan ini. Semua ini bisa di batalkan. Papamu pasti tidak bisa melanjutkan lagi pertunangan ini karena dua orang yang bersangkutan tidak menginginkannya."


"Dan aku tidak bisa menghubungi Ve. Entah kenapa dia seakan menghilang. Seperti tidak bisa di hubungi lagi. Bahkan di sekolah juga. Dia seperti sangat licin sampai enggak bisa di temukan." Lidah Relly mendecak


Mama memperhatikan putranya lama. Mungkin beliau juga kasihan putranya tidak berkenan bertunangan dengan gadis itu.


"Berdoa dan berharap saja takdir memihakmu, putraku."


"Aku harus berharap keajaiban datang, Ma?" tanya Relly lalu tersenyum. Seakan mencibir dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mungkin. Sudah. Mama akan menyiapkan ini dan mengirimkannya pada Ve."


"Biar aku sendiri yang memberikannya pada Ve. Aku ingin bertemu dengannya," pinta Relly segera menemukan ide untuk menemui Ve di rumahnya.


"Benarkah? Mmm ... baiklah. Mama bungkus dulu dengan rapi."


"Memangnya mama sudah memberitahu Ve soal gaun dan acara itu?"


"Mama sudah berdiskusi dengan Julia. Mama yakin dia sudah menyampaikan pada Ve. Buktinya tidak ada penolakan soal pemilihan gaun ini."


Relly menghela napas lagi. "Lebih baik tidak usah di bungkus dehgan rapi segala. Bukannya nanti akan di pakai, jadi lebih baik langsung masukkan tas saja. Sini berikan padaku." Relly hendak merebut gaun itu, tapi mama dengan cepat menghindarkan dari tangan Relly.


"Eits, tidak boleh. Harus rapi. Mama malu jika nanti di lihat oleh Julia besan mama."


"Kalau begitu cepatlah mama bungkus. Aku akan bersiap kerumah Ve sebentar lagi."


"Tetap tidak bisa. Biar mama saja. Lagipula ada perbaikan dulu pada gaun ini. Jadi tidak bisa langsung di berikan pada Ve."


"Ahhh ... terserah."


Berulangkali Relly mencoba menghubungi Ve, tapi tidak bisa. Bahkan belakangan ini Ve tidak masuk sekolah. Usahanya membahas soal melepaskan ikatan pertunangan mereka belum terlaksana. Jika papanya tidak bisa melepaskan ikatan pertunangan dia dan Ve yang sudah di ketahui publik, maka dia harus berdiskusi dengan Ve. Jika tidak bisa, dia perlu memohon pada gadis itu untuk memutuskan tali ikatan pertunangan yang sudah terjalin.


Apabila Ve yang bersangkutan sudah memutuskan untuk melepas ikatan itu, maka tidak ada alasan bagi Welly menolak. Relly perlu mengatakan pada Ve bahwa pilihannya adalah Sherry.


Tangan Relly mengacak rambut belakangnya dengan kesal. Rencana yang dibuatnya berantakan. Padahal dia sudah mengatakan kalimat indah untuk menjadikan Sherry tunangannya.


"Ya," jawab suara di seberang. Karena tidak berhasil menelepon Ve, Relly mencoba menghubungi ponsel Daniel.


"Daniel, ini Relly."


"Relly? Ada apa meneleponku? Sangat aneh sekali."


"Ya ... sedikit aneh." Relly mengakuinya.


"Walaupun aneh bicaralah, aku berhutang nyawa padamu."


"Jangan membahas soal itu lagi. Aku ingin berbicara dengan Ve. Apa dia ada di apartemenmu?"


"Mungkin, tapi aku tidak bisa menyambungkan dengannya. Karena aku sedang berada di luar."


"Bisa kamu sampaikan padanya aku ingin berbicara dengannya. Jadi tolong hubungi aku segera."

__ADS_1


"Sepertinya penting. Ada apa?" tanya Daniel ingin tahu. "Aku bisa memberitahunya."


"Tidak. Kita harus bicara berdua. Bukan melalui pesan."


"Oh ... ternyata sangat penting ya. Sampai kamu hanya ingin bicara berdua dengannya."


"Ya."


Ini penting. Karena jika aku mengabaikan dan membiarkan soal ini berlarut-larut, ini akan membuat Sherry terluka lagi. Dan itu untuk kesekian kalinya. Aku memang harus mendatangi rumahnya!


...****************...


Sebelum ke rumah Ve, Relly menemui Hansel terlebih dahulu.


"Kenapa ingin bertemu denganku?" tanya Hansel yang muncul dengan celana pendek di bawah lutut dan jumper. Mereka bertemu di sebuah cafe di sekitar rumah Hansel. Setelah menarik kursi, Hansel duduk. "Pesanlah sesuatu. Karena ini agak lama," ujar Relly sambil memanggil pelayan cafe. Lalu Hansel memesan.


"Bukankah soal Gio sudah usai?" tanya Hansel setelah usai memesan minuman.


"Ini bukan soal Gio, tapi Ve."


"Ada apa lagi dengannya? Bukannya sekarang dia tinggal bersama ayah biologisnya dan di pastikan aman."


"Dia memang aman, tapi aku enggak."


"Kamu? Apa maksudmu?" tanya Hansel mengerutkan kening.


"Minumannya," ujar seorang pelayan membawa pesanan Hansel.


"Terima kasih." Hansel tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Aku akan tidak aman jika masih saja terikat oleh tali pertunangan dengan Ve." Hansel memandang Relly lurus.


"Oh, ya. Ada undangan dari orangtuamu. Apakah itu asli?" tanya Hansel mengalihkan pembicaraan.


"Ya. Memang akan ada pesta kecil di rumahku. Lalu bagaimana pendapatmu tentang ikatan pertunanganku dengan Ve?" tanya Relly masih mendesak membahas soal yang sama.


"Apa hakku di sini untuk membahas soal itu, Rel? Aku tidak ada hubungannya dengan ikatan kalian berdua. Aku orang luar."


"Ada. Kamu ada hubungannya. Kurasa kamu mulai tertarik dengan Ve."


"Dia tunanganmu Rel ... Jangan berkata macam-macam."

__ADS_1


"Jangan pura-pura tidak tahu, Hansel. Aku membuat ikatan itu hanya untuk menolong jiwa Sherry yang aku pikir saat itu masih berada di tubuh Ve. Itu bukan keinginanku untuk mengikat Ve yang asli dengan hal semacam itu. Tidak mungkin aku dengan Ve saat aku ingin bersama Sherry." Relly tampak frustasi.



__ADS_2