
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Sherry pulang di jemput Elda dengan mobil.
"Aku pulang," kata Sherry membungkuk memberi salam kepada ibu tiri yang duduk di ruang tengah.
"Darimana saja kamu, jam segini baru pulang?!" Ibu tiri marah. Sherry sudah menyiapkan jawaban.
"Mulai hari ini aku akan pulang sekolah agak sore karena aku mengikuti kegiatan ekskul di sekolah. Karena selama ini aku tidak pernah ikut, sekolah mempertanyakan. Dan ini juga bisa menambah nilai," jawab Sherry meyakinkan. Dia sudah mempersiapkan jawaban tadi.
Ibu tiri mengerutkan kening sedikit tidak percaya. Namun karena ini pertama kali anak tirinya itu pulang terlambat, dia cepat mengabaikan.
"Ganti bajumu dan cepat makan. Jangan beralasan sakit perut dan sebagainya. Kamu tidak boleh menunjukkan tubuh kurus tak bergizimu dihadapan papa nanti," lanjut nyonya Julia.
Sherry diam melongo. Tidak menduga ibu tiri membicarakan soal makan.
"Kenapa berdiam disana. Cepat pergi ke kamarmu. Kamu tidak mendengar apa yang ku katakan barusan?" tegurnya ketus.
Ya ampun..
"Mama sungguh baik hati sekali. Aku bisa ganti baju secepatnya dan makan. Aku akan makan yang banyak sampai tubuhku sehat dan kuat." Sherry mengatakannya dengan senyum lebar yang di buat-buat.
Ibu tiri terkejut. Karena selama ini Ve hanya menunduk lesu dan takut apabila mendengar titah ibu tiri. Bahkan tubuhnya bergetar saat namanya di panggil. Setelah beberapa langkah Sherry berbalik, "Oh iya. Mama jangan marah ya kalau persediaan bahan makanan habis karena aku akan sangat berselera untuk makan," ujar Sherry sengaja.
Mata ibu tiri membulat geram. "Apa-apaan anak itu? Sejak kapan dia menjawab perkataanku." Sherry cekikikan sambil terus menuju ke kamarnya.
Huh, bikin sebal. Nyuruh makan aja begitu. Gak perlu di suruh juga aku bakal makan. Membiarkan tubuh ini kelaparan sungguh tidak mungkin.
Bruk!
Sesampainya di kamar, Sherry langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
Aaahhhh ... capeknya. Masuk sekolah sungguh melelahkan. Mana bisa aku sampai kelelahan seperti ini padahal aku belum latihan karate ataupun bertarung. Apa kabar pemilik tubuh ini ya? Apa dia juga khawatir tentang dirinya dan keluarganya? Sepertinya tidak. Dia terlihat lebih menikmati kehidupannya sebagai aku.
__ADS_1
Aku harus mencoba ke rumah dulu kapan-kapan. Coba meyakinkan lagi apakah memang benar, Ve menjadi diriku, tapi ... kalau aku kesana, aku bakal enggak sanggup lihat ibu. Aku pasti enggak mau ke rumah ini lagi. Walaupun semuanya tersedia, tapi disini kasih sayang kurang. Apalagi Ibu tiri itu. Ngomong biasa aja sakitnya bukan mai
"Sherry..." Ada suara memanggilnya pelan.
Apakah aku ada di rumah?
Bukan. Ternyata Sherry hanya ketiduran.
"Kenapa kamu langsung tidur dengan seragam mu?" ternyata Elda yang ada di situ. Sherry melihat ke tubuhnya. Seragam berwarna putih dan kotak-kotak merah itu masih di pakainya. Sherry menepuk jidat.
"Aku ketiduran. Jam berapa sekarang?"
"Sudah malam. Jam 7 lebih."
"Kenapa kamu baru membangunkanku?" tanya Sherry panik.
"Aku kasihan melihatmu terlihat sangat lelah."
"Iya. Aku memang lelah. Sekolah menyenangkan juga melelahkan."
"Cepat turun. Tuan Gio sudah datang."
Benar, Elda tadi siang sudah memberi tahu lewat hape bahwa Papa Ver akan datang dari luar kota. Mungkin karena lelah aku melupakannya. Dan juga mungkin lelah karena memikirkan Aska.
"Seperti apa orangnya?" Walaupun sudah tahu lewat bingkai foto yang di pajang di ruang tamu tapi Sherry belum tahu persis bagaimana tuan Gio itu.
"Beliau..." Elda tidak jadi meneruskan kalimatnya karena nyonya Julia datang dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit.
"Kenapa dia belum bersiap, Elda? Kau tahu kan tuan sudah datang. Seharusnya dia sudah bersiap dari tadi. Malah sekarang ngobrol di sini tanpa segera berbenah diri." Nyonya Julia marah. Elda langsung berdiri.
"Maaf," ucap Elda.
"Berdiri di luar!" perintah Nyonya Julia.
Elda terpaksa keluar kamar. Sebenarnya dia khawatir kalau Sherry di tinggal berdua dengan Ibu tiri, tapi dia segera hilangkan rasa khawatir karena di dalam kamar itu bukan Ve yang lemah, dia adalah Sherry. Gadis cuek dan pemberani.
Mata Nyonya menatap tajam Sherry yang masih di atas tempat tidur. Dengan langkah angkuh dia mendekat.
__ADS_1
"Ayo cepat bangun! Kalau kmau ingin jadi anak berguna bagi papamu, bersikaplah kalau kau memang anak yang baik. Segera turun!"
"Ya."
Sherry segera mandi dan berganti pakaian. Rasa penasaran dan gugup bercampur jadi satu. Dia akan bertemu pengusaha kaya yang ada di kota ini. Yang tidak akan pernah terjadi kalau dia adalah Sherry.
Di meja makan orang-orang sudah bersiap. Ada seorang laki-laki berumur sekitar lima puluh enam tahun duduk di kursi makan yang biasanya di tempati seorang tuan besar.
Dia pasti tuan Gio. Wajahnya tampan dan lembut. Pantas saja Ve jadi sempurna. Mamanya cantik, papanya tampan.
Melihat kedatangan puteri semata wayangnya wajahnya sumringah, tapi siapa pemuda di depan Ibu tiri itu?
Sherry membungkuk memberi salam.
"Ayo duduk," ajak tuan Gio. Sherry duduk di samping Ibu tiri tepat di depan cowok itu.
"Kanu sudah lumayan sehat, anakku?" tanya Gio. Sherry mengangguk. "Papa bersyukur kamu mulai pulih. Mama merawatmu dengan baik rupanya." Mama tersenyum manis karena di puji.
Whatt? Gak salah tuh senyum seperti itu? Jadi begini sikapmu di depan papa Ve ... jelas aja tuan ini tidak percaya kalau dia itu seenaknya sendiri. Kasihan sekali anda tuan. Jadi inget Ayah di rumah. Aduh! jadi inget kehangatan asli yang ada di rumahkuuuuu....
"Kamu tidak menyapa Daniel, Ve?" tanya Papa lagi.
Cowok ini Daniel? Siapa pula dia. Eldaaaaa!!! kenapa kamu tidak cerita.
"Ve...." Ibu tiri menyentuh lengan Sherry pelan.
Puuuhhhhh akting wanita ini hebat bangettttt. Dia memang bagaikan ibu yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Eh, hai." Karena tidak tahu harus menyapa dengan cara bagaimana, spontan Sherry menyapa seperti itu. Di luar dugaan laki-laki itu tersenyum.
"Ya," sahut pria itu.
"Ve sudah sangat sehat rupanya," kata Papa bahagia. Wanita itu tersenyum bahagia juga.
Hahahaha palsu.
Papa tidak membahas soal bunuh diri Ve. Entah beliau tahu tapi pura-pura tidak tahu Atau dia memang tidak tahu karena seseorang menghalanginya mendengar berita itu supaya tidak pulang ke rumah. Ini mencurigakan.
Papa, ibu tiri dan cowok yang lebih tua sekitar 5 tahunan dari Sherry asyik ngobrol. Sherry cuma diam tidak paham mereka ngomong apa.
__ADS_1
Menikmati makanan sajalah. Ayo makan. Makan yang banyak. Tubuh ini sepertinya tidak akan berubah gendut dengan cepat walaupun makan 4 kali sehari. Tubuh ini lemah.