
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
Sherry tetap meminum jus menyebalkan yang sudah dipegangnya. Dia merasakan ada yang tersangkut di tenggorokan. Itu menjadi kebiasaan tidak menyenangkan bagi Sherry saat meminum jus wortel. Makanya dia tidak suka jus wortel. Rasa pekat sayur wortel terasa masih melekat di dinding tenggorokan. Menyisakan rasa tidak nyaman dan mengganggu.
Daniel berdiri dan mengajak kakinya menuju sofa gadis itu.
"Minum ini. Jangan memaksa meminum minuman yang tidak kamu suka." Daniel mengambil gelas jus wortel dari tangan Sherry lalu menggantinya dengan gelas berisi air putih. Dalam sekejap gelas jus wortel itu lenyap di gantikan oleh gelas berisikan air putih. "Minumlah."
Sherry memandang gelas air putih yang dipegangnya. Kemudian menipiskan bibir dan meneguk air putih itu. Meminumnya dan berharap rasa mengganggu itu hilang. Daniel masih memperhatikannya dengan masih berdiri di depan meja nakas.
"Kamu tidak menanyakan sesuatu?" tanya Sherry akhirnya tanpa melihat ke Daniel yang membungkuk mengambil nampan. Tangan Sherry meletakkan gelas di atas meja. Gadis itu hanya memandang gelasnya. Dia merasa malu harus mendesak laki-laki di depannya untuk bertanya tentang takdirnya. Kenapa harus menyuruhnya bertanya. Sherry beranjak berdiri. Awalnya dia ingin menceritakan takdirnya tapi melihat reaksi Daniel biasa saja, Sherry enggan meneruskan.
"Benarkah di depanku ini bukan Ve?" tanya Daniel sambil menahan tubuh itu pergi tanpa menyentuhnya. Hanya meletakkan tangan kirinya tepat di depan tubuh itu. Sherry yang sudah tak berniat bicara menoleh. "Kamu ingin aku bertanya seperti itu?" tanya Daniel berusaha memenuhi permintaan gadis ini. Daniel bisa membaca dari matanya
Lalu ia meletakkan nampannya lagi dan menarik tubuhnya untuk mendekat ke Sherry. Sekarang lelaki itu berdiri tegak di depan Sherry sangat dekat. Tidak ada jawaban dari gadis ini.
Daniel menghela napas sejenak, "Aku tidak perlu bertanya lagi tentangmu, Sherry ..." Daniel menatap gadis di depannya dengan lembut. Sherry menatap Daniel tidak percaya. Perasaannya selalu campur aduk ketika seseorang mulai menyadari siapa dirinya. Ada perasaan senang juga sedih. Ada rasa bahagia juga takut. "Aku belum seratus persen percaya saat Elda mengatakan semua hal itu. Namun... aku percaya padamu ..." Daniel mengulas senyum manis di bibirnya.
"Kamu percaya dengan semua hal tidak masuk akal yang di bicarakan Elda?" tanya Sherry memastikan.
"Ya. Kenapa? Ini terlihat konyol dan bodoh?" jawab Daniel seakan hal ini memang konyol namun dia tetap percaya. Ucapan itu membuat Sherry mengerjap tidak percaya. Bagaimana mungkin dengan mudah begitu saja mempercayai hal yang aneh ini.
__ADS_1
Sherry tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Reaksi Daniel yang tetap tenang membuat Sherry tertegun. Daniel yang masih berada di depan Sherry paham gadis itu masih ragu.
Ini memang bukan hal yang mudah untuk di pahami. Daniel bukan sedang mempercayai cerita itu. Dia hanya ingin berharap. Mengharapkan semua yang Elda katakan adalah benar. Berharap benar bahwa gadis di depannya bukanlah Ve, adik tirinya.
Berharap perasaannya tidak salah. Tidak mungkin dia mempunyai rasa begitu menggelitik ini untuk Ve. Daniel mengulurkan tangannya ingin menyentuh wajah gadis di depannya. Mata Sherry membelalak mengikuti tangan besar yang menelusuri wajahnya tanpa menyentuhnya. Hanya meletakkan tangannya dengan mengambang di atas permukaan kulit Sherry.
Apa yang sedang dilakukannya? Sherry menatap mata lelaki ini.
Aku sangat berharap dirimu bukan Ve ... Aku sangat menginginkan dirimu bukan Ve ...
Daniel meremas tangannya sendiri sebelum bisa menyentuh kulit wajah Sherry. Saat ini dia ingin menyentuh gadis di hadapannya. Namun entah mengapa dia rasa tidak bisa. Setelah menyebut nama baru itu Daniel merasa tidak ingin menyentuh tubuh Ve.
"Aku ingin menyentuhmu," ujar Daniel jujur. Sherry merasakan jantungnya bergemuruh kencang. Berdebar keras yang membuat dirinya sendiri tidak paham. "Namun tidak mungkin. Karena aku bukan menginginkan tubuh ini. Aku menginginkan jiwa yang ada dalam tubuh ini," ucap Daniel tanpa peduli dengan raut wajah Sherry yang tertegun, lalu tersenyum. Tubuhnya membungkuk untuk meraih nampan dan mengangkatnya.
"Kamu sudah menyelesaikan makanmu. Tidurlah ... jadi besok bisa bangun pagi ke sekolah," pinta Daniel lembut dan bergegas berjalan menuju pintu.
Dia tidak menyangka dirinya merasa gelisah saat ada yang mengetahui identitasnya. Bukankah seharusnya dia bahagia ada orang yang menyadari keberadaan jiwanya. Apalagi bibir tadi menyebut namanya dengan lembut.
Di balik pintu, Daniel juga terdiam. Dia masih berpikir tentang gadis di dalam kamar ini.
Tanganku tadi ingin menyentuh lalu menciumnya...
Daniel tersenyum geli sendiri saat mengingat tingkahnya tadi. Tubuh Daniel bergerak sendiri mengikuti kata hatinya. Gadis yang menjadi adiknya itu memang mulai mengusiknya dengan banyak tingkah laku baru yang menggemaskan.
Daniel sebenarnya heran melihat perubahan baru yang sangat mencolok itu. Dia pikir itu efek dari kecelakaan. Namun dia berpikir lagi bahwa itu tidak mungkin. Kadang matanya menangkap sosok gadis lain saat melihat gadis itu.
Takdir aneh?
__ADS_1
Sepertinya pria ini merasa bahagia dengan takdir itu. Konyol, mustahil, tapi sangat menggembirakan baginya.
Selamat tidur, Sherry...
Kaki Sherry berjalan gontai melewati koridor sekolah. Menatap kosong ke depan. Saat ini pikirannya masih berisi tentang Daniel tadi malam. Masih ingat dengan jelas sorot matanya yang terlihat berbinar saat mendengar bahwa Sherry bukan Ve sangat menyejukkan. Bibirnya yang mengulas senyum dan menyebut nama Sherry. Tangan yang ingin menyentuhnya dengan tatapan lembut.
Dia juga masih teringat saat dirinya yang mendesak Daniel seperti memohon lelaki itu untuk menemukan dirinya yang terjebak dalam tubuh orang lain. Dan justru dirinya sendiri yang merasa campur aduk ternyata Daniel paham dirinya bukan Ve, tetapi orang lain.
Apalagi tatapan hangat itu ... Sherry jadi ingin melihat lagi. Sorot mata itu berubah saat menyebut nama Sherry. Seperti memang ditujukan untuknya, Sherry Anugrah. Tatapan itu mampu menembus ke jiwanya.
Tanpa sadar ada tubuh seseorang yang mendekat dan mensejajarinya. Kemudian menahan punggung Sherry agar tidak lunglai. Kaki Sherry berhenti berjalan.
Sherry menolehkan kepala ke samping. Netranya mendapati sosok tinggi yang juga membuat pikirannya berkecamuk, Relly. Seorang yang mendesaknya untuk mengaku bahwa dirinya adalah orang lain. Dia yang juga menganggap Vermouth bukanlah Vermouth.
"Langkahmu gontai," ujarnya memberi tahu.
Relly melihatnya dari belakang. Sebenarnya sejak tadi dia sudah berada di belakang gadis ini. Diam dan hanya memandanginya dari belakang. Matanya terus memperhatikan tubuh Sherry yang berjalan dengan gontai. Namun dia terpaksa menunjukkan dirinya dan berdiri di samping Sherry karena melihat tubuh itu seperti kehabisan energi untuk berjalan.
"Hm," jawab Sherry.
"Kamu sakit?" tanya Relly seraya mengulurkan tangan memeriksa kening gadis ini. Bola mata itu membulat dan bergerak mundur untuk menghindar. Namun tangan Relly yang sejak tadi menahan punggung itu menariknya mendekat agar tidak menghindar. Tak terelakkan lagi Relly berhasil menyentuh kening Sherry.
"Aku sedang memeriksamu," kata Relly yang tidak peduli dengan tatapan banyak mata di sekitar. Mereka memandang Sherry dan Relly sambil tersenyum. Mungkin mereka masih menganggap Sherry meminta perhatian Relly seperti yang biasa di lakukan Ve dulu.
Sherry membiarkan tangan itu memeriksanya karena tertarik dengan mata-mata yang kadang sinis kadang tersenyum geli seperti mencemooh.
__ADS_1