
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
"Kalian sedang apa?" tanya Daniel lagi. Karena tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya.
"Anu, Daniel... kita ... sedang mengajari Ve menjadi anak ..." Nyonya Julia mulai menjawab dengan putus putus. Namun tidak jadi meneruskan kalimatnya karena Daniel sudah menatapnya tajam. Nyonya Julia kembali diam.
"Ijah, ganti Ve cuci piring!" perintah Daniel ke Ijah.
"Tapi ...," kata Ijah tertahan saat matanya menatap ke arah Ibu tiri. Dia tidak berani melawan Nyonya Julia. Daniel mulai paham.
"Tenang saja aku tidak apa-apa," seloroh Sherry. Daniel menatap tajam ke arah Mamanya lagi. Nyonya Julia salah tingkah dan langsung pergi meninggalkan dapur.
"Semua cepat bubar! Masih banyak pekerjaan lain yang bisa di kerjakan," teriak Daniel. Ijah dan Elda beranjak pergi sambil menatap Sherry.
"Hei ... mereka sedang menemaniku. Jangan usir mereka," cegah Sherry. Elda dan Ijah ragu untuk meninggalkannya.
"Kalian bisa pergi, biar aku yang menemani Ve," ujar Daniel membuat lainnya mundur. Aku di temani dia? Itu justru lebih tidak aman. Sherry meringis kesal. Dapur ini menjadi sepi karena tinggal mereka berdua.
"Kenapa repot repot melakukan ini? Kau bisa menyuruh mereka bukan?" tanya Daniel tidak sabar. Dia terkesan sebal.
"Ini tugas. Tidak boleh tidak di kerjakan," jawab Sherry tanpa menoleh.
"Mama yang menyuruhmu?" Selidik Daniel tepat sasaran.
"Semua mama pasti menyuruh putrinya melakukan ini. Sudah jangan di besar-besarkan." Sherry memberikan jawaban bijaksana. Daniel memperhatikan gadis di depannya yang sedang mencuci banyak perabot dapur.
Mama keterlaluan. Tapi dia cukup tangguh menerima perlakuan Mama.
__ADS_1
Laki-laki itu membuka jasnya dan meletakkan di bahu kursi meja makan. Lalu melepas dasi dan membuka satu kancing kemeja bagian atas. Kemudian menggulung lengan kemeja sampai siku.
Dia mau apa? Pikir sherry yang sedang melihatnya dari samping. Sherry memerhatikannya sampai Daniel mendekati tempat cuci piring.
"Mana yang perlu aku bilas?" tanya dia dengan serius. Daniel berniat membantu Sherry menyelesaikan tugas.
"Kenapa jadi ikutan soal beginian sih," sungut Sherry tidak suka. Karena itu dia harus berlama-lama dengan kakak tiri Veini.
"Sudah berikan saja." Daniel acuh tak acuh dengan Sherry yang merasa terganggu. Lalu Sherry menyodorkan piring yang mau di bilas. Daniel menerima dan mulai membilasnya.
Akhirnya Sherry terdiam juga sambil terus mencuci peralatan dapur.
"Aku baru tahu beliau seperti ini," sesal Daniel lembut.
Kenapa dia baru tahu? Padahal Ve sudah melalui banyak hal karena Nyonya Julia. Seandainya saja dia menyadari lebih awal, mungkin Vermouth akan sedikit berbahagia.
Elda mengatakan Daniel memang tidak sesering sekarang bertamu di rumah papa tirinya. Makanya Elda bilang harus berhati-hati karena Elda tidak bisa menebak dia ini laki-laki baik atau jahat seperti ibunya. Namun belakangan ini, Daniel sering terlihat muncul seperti hari ini. Lelaki ini jadi rajin mendatangi rumah papa tirinya.
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukannya," kata Daniel lagi. Dia masih merasa tidak enak dengan sikap mamanya. Dia merasa sangat bersalah. "Maafkan mama. Ini sangat memalukan," lanjut Daniel makin merasa bersalah. Sherry jadi terenyuh juga mendengarnya. Pasti dia sangat kecewa orang yang di hormatinya melakukan penindasan terhadap anak tirinya. Lelaki yang selalu tampak tenang dan misterius ini terlihat lemah hari ini. Tingkahnya yang mampu membuat Sherry selalu waspada tidak ada. Sherry jadi ingin menenangkannya.
"Hmm ... ," jawab Daniel menanggapi Sherry. Mata Sherry mengerjap.
Hanya itu? Benar hanya itu? Apa dia tidak mendengar apa yang aku katakan barusan? Mana mungkin Ve di suruh ibunya mencuci piring saat ibunya sudah meninggal saat dia masih kecil. Sudahlah biarkan. Kalau aku mempersoalkan ini bisa-bisa aku langsung mengungkap semuanya.
Daniel menengok ke samping, semua anak rambut berjatuhan ke pipinya. Rambut yang tidak di ikat itu mengganggu kegiatannya.
Daniel mengelap tangannya lalu mendekati Sherry. Menyisir rambut panjang Sherry dengan kedua tangannya lalu mengikatnya. Retina Sherry melebar.
"Kamu sedang apa?" bahu Sherry menegang. Tangannya berhenti mencuci.
"Mengikat rambutmu," jawab Daniel tenang dan santai.
"Kenapa harus mengikat rambutku?" tanya Sherry enggak terima. Tangan Daniel masih berusaha mengikat rambut dengan rapi. Sherry merasakan rasa menggelitik yang menjalar di sekujur tubuhnya saat jari-jari itu menyentuh kulit kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak suka rambut ini mengganggumu. Saat tanganmu masih mengerjakan yang lain biar aku yang mengurusnya," kata Daniel dengan wajah bahagianya. Sherry tidak habis pikir. Tampang tengil lelaki itu mulai nampak lagi.
"Biar aku sendiri yang melakukannya. Ini sangat tidak nyaman." Sherry juga berusaha menggerakkan badannya agar Daniel tidak berhasil mengikat rambutnya. Dia hendak menghindar.
"Jangan. Diamlah. Kau ingin mengurangi kesenanganku?" pinta Daniel sangat lembut di telinganya. Membuat Sherry merasakan perasaan menggelitik lagi.
"Memangnya menyenangkan mengikat rambut orang lain? Karena aku tidak merasakannya saat mengikat rambutku sendiri," ujar Sherry. Akhirnya dia membiarkan lelaki itu bermain dengan rambutnya sambil mencebik.
"Iya. Ini sangat menyenangkan apalagi orang itu patuh saat aku melakukannya, tapi ... lebih menyenangkan lagi kalau orang itu adalah orang spesial bagi kita."
"O ... Siapa orang yang spesial bagi kamu?" tanya Sherry iseng.
"Mama." Daniel sudah selesai mengikat rambut Sherry.
Yah... Ibu tiri merawatmu dengan baik sendirian saat ayahmu sudah tidak ada. Jadi kau sangat menghormati dan menyayangi Mamamu yang berjuang keras sendirian demi dirimu. Bagus Daniel! Kamu anak yang baik.
"Kau sangat ahli mengikat rambut seorang perempuan. Pasti banyak perempuan yang sudah kau ikat rambutnya," ujar Sherry sinis. Laki-laki dengan mata yang selalu menatapnya tengil itu pasti sudah ahli dalam memperlakukan wanita.
"Mungkin. Sampai aku tidak bisa mengingatnya lagi," Sherry memutar matanya karena sudah tahu jawaban Daniel.
"Dasar playboy ..." gumam Sherry. Daniel tersenyum mendengarnya.
"Ada lagi orang yang terasa spesial saat aku melakukannya."
"Kalau banyak itu bukan spesial namanya," protes Sherry sambil menengok ke arah Daniel. Tangannya menyodorkan nampan yang belum di bilas ke Daniel.
"Tidak. Hanya ada satu. Orang itu adalah ... kamu," ucap Daniel sambil menerima nampan itu dari tangan Sherry. Karenanya tangan itu mengambang di sana dengan raut wajah tertegun saat mendengarnya. Lalu melepas nampan yang sudah di terima oleh Daniel dan kembali mempusatkan pandangan ke arah tempat cuci. Ia tidak berani menengok. Terus saja mencuci dengan lambat.
Ada yang janggal. Apa ini Daniel? Apa yang kamu katakan Ini tidak seperti hubungan seorang kakak dan adik. Apa kamu sedang merayu Ve?
"Aku adikmu, jelas saja aku adalah orang special untukmu," ucap Sherry akhirnya.
"Begitu ya ... Benar juga. Kita adalah kakak adik. Hubungan kita jelas spesial. Berarti kamu adalah adikku yang spesial," kata Daniel seraya tergelak. Adik? Benarkah dia terlihat sebagai adik bagi Daniel?
__ADS_1