
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
Relly memang sudah berniat pergi sejenak dari rumah. Dia ingin menghindari pesta ini. Itu sudah ingin dia lakukan sejak orangtuanya tidak mengabulkan keinginannya memutus ikatan pertunangan dengan Ve.
Sejak tadi dia punya firasat bakal ada pembicaraan baru orangtuanya dengan tuan Henry selaku ayah biologis Ve. Dia merasa harus menemui Sherry. Sekarang.
"Kamu mau kemana Relly?" Suara bas yang menekan terdengar di belakang Relly. Cowok ini sempat terperanjat kaget. Bola mata Relly memejam kesal sambil tetap memunggungi lelaki di belakangnya. Dia ketahuan.
Tanpa menoleh saja dia sudah tahu siapa pemilik suara rendah dan tenang di belakangnya itu. Dia sadar pasti akan ada yang menyadari kepergiannya. Hanya saja dia tidak menyangka itu papanya. "Berbaliklah. Jika ada yang mau kamu bicarakan, bicaralah. Jangan main pergi begitu saja. Itu pengecut, Relly."
Dengan enggan Relly memutar tubuhnya. Di belakangnya berdiri sosok pria paruh baya. Juga ada Erick bersama beliau. Bola mata Relly memandang Erick tajam.
Jadi Erick yang memberitahu bahwa dirinya hendak pergi lewat jalan belakang?
Pria itu tampak jadi seorang pengkhianat sekarang. Di saat begini dia malah berada di kubu papanya. Erick menunduk melihat tatapan tajam tuan mudanya. Dia tahu Relly pasti sedang mengucap mantra merutuki dirinya.
"Karena tidak bisa di bicarakan dengan baik-baik lagi, aku harus mengambil langkah nekat, Pa." Relly membela diri. "Aku sudah pernah mengatakan soal Sherry, tapi papa menolak."
"Jadi ini masih soal gadis itu?"
"Ya," jawab Relly jujur.
"Masuklah lebih dulu. Di dalam ada keluarga Ve. Tidak baik jika kamu bersikap seperti ini," ujar Welly dengan sikap tenang.
"Aku tidak bisa, Pa. Aku sudah berjanji pada seseorang. Aku tidak bisa masuk ke dalam untuk bertemu keluarga Ve."
"Mamamu tahu tentang kepergianmu ini?" tanya beliau. Relly diam.
__ADS_1
"Mamamu pasti sedih jika melihatmu sekarang Relly," ujar papa.
"Maaf, jika sikap dan keputusanku membuat kalian kecewa. Sebagai laki-laki aku harus menepati janji. Itu yang di ajarkan papa selama ini. Namun, papa sendiri yang mengingakri janji." Relly mengucapkannya dengan kesal.
"Papa tahu."
"Jika begitu biarkan aku pergi, Pa."
"Hh ... kamu ini sangat keras kepala. Kamu tetap akan pergi meskipun papa akan membuat keputusan baru?"
"Ya. Karena janjiku, aku tidak mau menerima keputusan baru papa. Aku akan keluar dari sini sementara waktu. Soal pesta dan sebagainya biar papa dan mama yang mengurusnya. Ini pesta kalian. Bukan pestaku." Tubuh Relly berbalik. Kakinya melangkah hendak menjauh dari sana.
Mama Relly yang hendak memberitahu suaminya sudah ada di sana. Beliau mulai berjalan keluar mendekat ke arah suaminya. Sambil menghela napas, mama Relly melihat putranya berjalan pergi.
"Bagaimana ini, Pa?" tanya mama khawatir. "Jangan terlalu keras sama Relly. Dia satu-satunya putra kita. Mama enggak setuju Relly di buat putus asa sama papa," gerutu mama Relly mulai mengambek.
"Kita lihat saja nanti. Apa dia akan terus pergi atau kembali lagi? Dimana 'dia'?" tanya Welly.
"Dia ada di dalam bersama Sigi."
"Aku tidak tahu. Sepertinya sudah. Hanya saja dia kebingungan dengan semua ini."
"Tidak apa-apa. Ini juga akan membuat mental mereka kuat."
"Kalau ada apa-apa, mama tidak tanggung jawab lho. Mama juga akan marah sama papa yang punya ide gila," ancam mama.
Welly tergelak mendengar ancaman istrinya. "Iya. Papa mengerti." Erick hanya menundukkan kepala sambil manggut-manggut mendengar suara tawa tuan besar yang sangat jarang terdengar.
...----------------...
Relly sudah berhasil sampai di pintu belakang dengan bantuan seorang penjaga. Meskipun penjaga itu bersikeras melarang tuan mudanya pergi. Hh .. sebelum melangkah keluar, Relly menghela napas sejenak.
"Jangan menyesal jika kamu berhasil keluar dari rumah ini, Rel ...." Suara seseorang membuat Relly menghentikan langkahnya. Dia hapal suara itu. Suara seorang gadis.
__ADS_1
Relly segera membalikkan tubuhnya. Di sana, Sherry sedang berdiri di samping Sigi. Gadis itu muncul di rumah ini. Padahal dia sudah bilang tidak akan muncul di sini. Namun gadis itu sudah berada di sini. Bahkan datangnya dari arah rumah utama.
"Sherry ... Kamu datang ke pesta ini?" tanya Relly tidak percaya.
"Aska mengajakku datang karena tidak sopan jika tidak memenuhi undangan orangtuamu," ujar Sherry sambil melihat ke arah lain.
"Dan ... baju apa itu? Kenapa kamu muncul dengan gaun seperti itu?" tunjuk Relly dengan mata herannya. Namun di balik rasa herannya, Relly sempat takjub dengan penampilan gadis ini sekarang. Terlihat istimewa. Sigi tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu. Aku hanya memenuhi permintaan seseorang untuk memakai gaun ini." Sherry terlihat enggan dengan gaun yang begitu mahal menurutnya itu.
"Permintaan? Permintaan siapa?" cecar Relly ingin tahu. Sherry melirik pada Sigi lalu menoleh pada Relly.
"Orang yang paling kamu sayangi," ujar Sherry penuh arti. Kali ini suara Sherry terdengar sangat lembut. Seperti penuh dengan kehati-hatian menyebutkannya.
"Siapa? Sekarang yang aku sayangi adalah kamu ..." Blush! Wajah Sherry seketika memerah. Malu. Apalagi ada Sigi di sebelahnya. Sigi tersenyum mendengar keterus terangan sepupunya.
Gadis ini mengibaskan tangannya tanpa sadar dengan sikap canggung mendengar kalimat indah itu. "... dan aku rasa kamu tidak suka dengan gaun seperti itu. Sherry akan merasa terbebani dengan baju itu," imbuh Relly.
"B-bukan. Bukan aku. Selain aku." Sherry jadi gugup. Sigi tersenyum lagi mendengar kakak Aska ini gugup. Relly mengerutkan keningnya.
"Aku tidak tahu." Relly enggan berpikir keras.
"Hhh ... kamu ini tidak romantis sama sekali. Coba berpikir sebentar kenapa," gerutu Sigi.
"Diamlah. Aku lelah. Aku enggak mau berpikir lagi. Jika memang begitu, apa rencanamu kesini?"
"Aku tidak tahu. Mungkin ingin bertemu denganmu?" tanya Sherry seraya mengusap rambutnya pelan. Relly tersenyum mendengar itu. "Atau ... mungkin Sigi yang menemukanku di luar gerbang, iba. Aku tidak memakai pakaian yang layak. Ya ... kamu tahu sendirilah. Jadi Sigi menarik tubuhku masuk untuk ganti baju." Sherry memberi keterangan.
"Jadi dia orang yang aku sayangi? Tidak masuk akal," dengkus Relly mencela Sigi.
"Aku juga tidak begitu. Jangan repot-repot menyayangiku," balas Sigi. "Soal gaun ini memang aku yang mengajaknya. Ya ... ada gaun yang cocok dengan kak Sherry di dalam. Jadi sekalian saja aku menyuruhnya ganti. Enggak usah ribut. Tidak apa-apa kan?" tanya Sigi.
"Tentu saja tidak apa-apa. Dia tampak manis," ujar Relly sambil menatap Sherry. Lagi. Kalimat Relly indah di telinga. Sherry merasa wajahnya memerah. "Namun bukan soal ganti baju yang aku ributkan, tapi soal kemunculan dia disini. Seharusnya dia enggak ada di sini. Seharusnya kamu tetap di rumahmu Sherr ...," protes Relly.
__ADS_1