
.
(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)
.
.
Sherry sempat terkejut dengan keberadaan dia di depan toilet.
"Tidak. Masih ada jarak di antara kita. mungkin Satu senti," jawab Sherry asal sambil mulai melipat seragamnya agar tidak kusut. Dia juga belum mengikat rambutnya dengan rapi.
"Aku merasa aneh saat melihat kau bersamanya. Aku tidak suka itu," ungkap Relly jujur. Sherry menolehkan kepala ke dia yang masih berdiri tidak jauh dari dinding.
"Kau tidak bisa melarangku dekat dengan cowok manapun meskipun kau tidak suka. Kita tidak dalam hubungan yang membuatmu berhak mengatakan boleh atau tidak kepadaku tentang hal itu," tukas Sherry tenang. Ini nyata. Vermouth yang dulu memang mencintainya dan tidak berpaling ke yang lain. Namun ini bukan Vermouth. ini Sherry.
"Apakah kamu tidak mau mencoba hubungan dimana aku boleh melarangmu dekat dengan cowok lain?" tawar Relly yang membuat Sherry mengangkat alis mempertanyakan apa yang sudah di katakan pemuda itu.
"Apa maksudmu?" tanya Sherry dingin. Relly memajukan tubuhnya dan menarik lengan Sherry yang membuat tubuh yang tidak siap itu membentur ke dinding dengan pelan. Lalu memerangkap tubuh Sherry dengan satu tangannya yang menempel ke dinding, sementara tangan yang lain memegang tangan Sherry yang membawa seragam.
"Maukah kamu jadi kekasihku?" tanya Relly lembut. Seketika Sherry merasa gemuruh di dadanya. Sesaat ketenangan tadi menghilang, menjadi debaran tidak jelas. Padahal dia yakin dan paham di depannya adalah Relly.
"Jangan lakukan itu untuk keinginan semu. Bukankah kau bilang aku bukan Vermouth? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sherry sengaja membalikkan keyakinan Relly.
"Justru karena kamu bukan Vermouth, aku mau memberikanmu tawaran ini," ujar Relly menang. Dari matanya terlihat dia sedang bersungguh-sungguh.
"Yang benar saja. Kau bukan orang gila yang mencintaiku, saat aku adalah orang yang memiliki wajah orang lain," Sherry mendengkus.
"Kau memang sudah membuatku tergila-gila," bisik Relly yang membuat Sherry harus menggeser tubuhnya dan memaksa melepaskan perangkap tangan Relly yang mengendor.
__ADS_1
"Tidak ada kesempatan semacam itu untuk kita, Rel.." ungkap Sherry akhirnya. Lagi-lagi Relly menunjukkan mata mirip dengan Daniel yang kadang tidak bisa di tolaknya.
"Kenapa?"
"Bukankah kamu bilang aku adalah orang lain? Bukankah itu berarti tubuh ini adalah milik orang lain? Apa yang kau harapkan? Sudahlah. Waktunya kita segera ke lapangan. Aku yakin mereka menunggu kita," ujar Sherry mengingatkan lagi siapa dirinya. Bukan kepada Relly, tapi untuk dirinya sendiri. Kalaupun dia akan mengabulkan keinginan Vermouth untuk menjadi kekasihnya bagaimana hati Relly saat dirinya sudah bisa kembali pada tubuhnya.
Apakah dia bisa menerima Vermouth?
Relly berdecih dengan kesal. Sherry meninggalkan Relly di sana sendirian.
***
Handphone Sherry berdering. Ada nama Aska.
Tumben ini anak telepon.
"Ada apa? Tumben nelfon?" tanya Sherry dengan ketus walaupun yang sebenarnya juga senang saat adiknya menelepon. Rasanya seperti berada di dalam rumah.
"Aku sedang ingin melihat kakakku yang berjalan sendirian di depan sekolahnya," kata Aska yang membuat kepala Sherry menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok adiknya, "Aku ada di seberang jalan," ungkap Aska. Sherry langsung menoleh keseberang dan mendelik. Tanpa berkata-kata lagi, kakinya berjalan ke pinggir jalan besar. Lalu mencari jalan dengan mencoba menghentikan kendaraan yang melintas dengan terburu-buru, karena Aska memang sedang ada di seberang jalan.
"Sher, Kamu tidak apa-apa?" tanya Aska balik tanpa menjawab pertanyaan kakaknya. Sherry tidak segera menjawab juga, karena terkejut dengan kemunculan adiknya di area sekolah Vermouth.
"Aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa?"
"Aku merasa harus menemuimu karena firasat burukku," ujar Aska menunjukkan kekhawatirannya. Sherry tidak jadi meneruskan protesnya.
"Kenapa?" tanya Sherry memiringkan kepala menyelisik respon adiknya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat keadaanmu," ujar Aska berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Dari seberang, di depan gerbang sekolah, keberadaan Aska yang di datangi Sherry dengan terburu-buru menarik perhatian dua orang. Celana seragam abu-abu pada umumnya itu menunjukkan bahwa pemuda itu bukan anak sekolah ini. Ini jelas tidak mungkin, di karenakan Vermouth itu hampir tidak mempunyai teman dari sekolah lain.
__ADS_1
Relly dan Hansel yang berjauhan memperhatikan ke arah gadis dengan ransel warna merah menyalanya. Karena ketertarikan mereka akan diri Sherry, walaupun orang lain tidak bisa menemukan Sherry yang sudah menyembunyikan diri dengan hoodienya, mereka berdua bisa menemukannya.
"Baik hati sekali kau mau melihat keadaan kakakmu ini," ejek Sherry sambil mengusap punggung Aska dengan sebelah tangannya dengan gemas. Interaksi ini membuat dua cowok yang masih terpaku ke arah Sherry menatap tajam.
Siapa cowok yang memakai jaket berwarna abu-abu itu? Pertanyaan itu menyerang benak mereka saat ini.
"Aska cepat kemari! Sherry di serang anak sekolah X!" teriak Aldo di sambungan telepon dengan khawatir. Aska melebarkan mata nanar dan terkejut mendapat berita itu.
"Ada apa?" tanya Sherry yang menjadi tidak tenang melihat raut wajah Aska yang terkejut.
"Sherry di serang anak sekolah X. Ayo cepat kita segera kesana!" jawab Aska panik. Sherry juga merasakan raut wajah yang sama yang di lihatnya pada Aska saat ini. Sherry mengangguk. Dengan di bonceng Aska mereka segera menemui Aldo. Relly dan Hansel yang melihat, juga mengikuti dua orang itu.
Sepanjang perjalanan Aska dan Sherry berharap Vermouth yang tinggal di dalam tubuh Sherry tidak apa-apa. Sherry teringat lagi perbincangan dengan Aska malam itu.
"Bahaya?" tanya Sherry tidak paham.
"Kamu lupa siapa Sherry sebenarnya. Sherry itu punya banyak kasus dengan banyak berandalan dari sekolah lain karena kebodohannya mengikuti di arena pertarungan," ucap Aska dengan geraman sambil menatap tajam ke arah kakaknya. Sindiran keras untuk Sherry dari adik tercinta Aska. Sherry hanya meringis saja tanpa dosa. Aska melanjutkan bicaranya, "Jika mereka tahu Sherry menjadi lemah seperti sekarang, mereka akan menghajar Vermouth tanpa ampun. Karena yang mereka tahu itu tubuh kamu,"
"Tidak semua tahu siapa Sherry, Ka." kilah Sherry.
"Kamu yakin?" tanya Aska serius. Di todong begini membuat Sherry berpikir dua kali untuk jawab, ya aku yakin. Tangannya menggaruk kepala karena bingung. "Mungkin dulu mereka takut karena kamu kuat, tapi lihatlah tubuh Sherry yang sekarang yang tidak pernah dipakai untuk latihan.. Itu membahayakan Vermouth yang ada pada tubuhmu," jelas Aska masuk akal.
Mata Sherry melebar dan mengusap wajahnya kesal. Dia lupa akan itu.
"Saat ini mungkin aman karena Vermouth
jarang keluar. Juga seperti katamu, tidak semua orang tahu ada gadis bodoh yang mengikuti Aska berkelahi. Bisa bisa nanti akan ada waktu dimana Vermouth akan sendirian dengan tubuh Sherry di sana," jelas Aska yang terasa merinding saat Sherry membayangkannya.
Aska memang sangat cerdas, dia memikirkan jauh-jauh soal ini.
"Aku sendiri bakal susah kalau harus selalu melindunginya yang tidak bisa apa-apa," kata Aska. Takdir aneh ini ternyata tidak semudah itu. Takdir ini sepertinya menyulitkan.
__ADS_1