Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Nama yang sama


__ADS_3


...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


Relly datang bersama Frans dan dua teman yang lain ke lapangan basket. Mereka mungkin juga akan ikut berlatih.


"Sekolah ini sebenarnya juga sudah lengkap. Hanya saja fasilitasnya tidak sebagus sekolah kita," ujar Frans berkomentar. Tidak terlalu keras. Karena takut membuat murid sekolah ini tersinggung. "Benarkan, Rel?" tanya Frans yang ternyata tidak di gubris cowok itu.


Bola matanya tengah asyik memandangi lapangan basket. Dimana saat ini ada beberapa anak yang sedang bermain di sana. Sepertinya pelatih basket belum datang. Karena tidak ada tanda-tanda ada orang dewasa di sana.


Seseorang telah berhasil memaku perhatian Relly. Dia gadis dengan nama yang sama dengan gadis yang di sukainya, Sherry.


Berlarian dengan lincah dan penuh tenaga sambil mendribble bola. Melihat dari gerakannya, gadis itu cukup pandai memainkan bola berwarna oranye itu.


Apalagi kali ini lawannya adalah cowok. Dia tidak kerepotan dengan lawan mainnya. Sepertinya dia memang punya kemampuan dalam bermain basket.


Sherry yang tengah memasang wajah serius dengah peluh membasahi lehernya tidak menyadari tatapan mata itu. Dia terlampau menyukai permainan kali ini. Sudah sangat lama dia tidak seantusias ini bermain.


Ketika akhirnya Sherry yang berlari mengejar bola hingga ke pinggir lapangan menabrak Relly yang sudah berdiri di pinggir. Raut wajah Sherry terkejut melihat Relly berdiri tepat di dekatnya.


Menyadari dirinya menabrak, tubuhnya membungkuk meminta maaf. "Maaf," ucap Sherry dengan suara serak seperti tercekat.


"Ya," sahut Relly tanpa berhenti melihat Sherry yang menghindari tatapan mata mereka beradu.


Lalu segera menjauh dari sana dan ke tengah lapangan lagi. Mengerjap dan menghela napas berat.


"Dia jago. Mirip kamu," ucap Frans.


"Dia cewek. Aku cowok, Frans." Relly merasa pernyataan Frans keliru.


"Tahu. Pintar main basket maksudku," ralat Frans. "Dia satu kelas dengan kita, kan? Siapa namanya? Aku lupa."


"Sherry," sebut Relly tanpa ragu.


"Ya. Itu. Jadi kamu ingat nih, nama teman sekelas kita?" ledek Frans. Karena mereka masih di anggap siswa baru disekolah ini. Namun Relly sudah bisa mengingat.


"Tidak juga." Itu tidak aneh, karena nama Sherry memang selalu dingatnya setiap hari. Karena pemuda ini masih terus menjenguk gadis itu di rumah sakit.


Sherry. Ada gadis yang punya nama yang sama denganmu. Andai kamu sudah bisa membuka matamu dan mendengarku. Aku akan banyak bercerita banyak hal denganmu. Bangunlah Sherry. Aku rindu kamu yang selalu membuat keseharianku menyenangkan.


...----------------...



...----------------...


Pulang sekolah Sherry melihat Relly di tempat parkir. Sedang berbincang dengan seseorang. Seorang gadis. Karena itu dia tidak segera mendekat.


Rupanya dia sudah bisa begitu dekat dengan salah satu cewek. Dasar idola.


"Bagaimana saat mencoba sekolah disini?" tanya gadis ini.


"Begitulah," jawab Relly seadanya. Dia tidak terlalu berminat. "Apa yang kamu rencanakan hingga menyuruh kepala sekolah mengadakan pertukaran pelajar seperti ini?"


Menyuruh kepala sekolah? Ada gadis hebat seperti Relly di sekolah ini? Siapa dia? Dari belakang, Sherry tidak bisa melihat bagaimana rupa gadis yang berbincang itu.


"Hei, jangan begitu. Aku hanya senang sekolah disini."

__ADS_1


"Jadi, karena senang sekolah disini, kamu seenaknya menyuruh anak buah papamu untuk membuat ide seperti ini?"


"Bukan begitu. Mungkin saja ada orangtua mereka yang tertarik berinvestasi pada sekolah ini."


"Kenapa sudah memikirkan investasi? Ayahmu akan memberikan sekolah ini padamu kelak?"


"Ya."


"Jadi kamu sudah yakin akan mengelola sekolah ini saat lulus nanti?"


"Ya. Aku suka menjadi bagian dari sekolah ini."


"Pemikiran hebat untuk gadis yang masih baru menginjak sekolah menengah."


"Aku ingin sukses seperti om," seru gadis itu gembira.


"Papa?"


"Ya. Maka dari itu aku sengaja meminta tinggal bersamamu. Mungkin saja kesuksesan om akan menular padaku."


Om? Jadi ada sepupu Relly sekolah di sekolah swasta ini?


"Lebih baik bersenang-senang dulu saat masih bisa. Misalkan jalan bareng teman. Kencan. Atau mengisi dengan hobi."


"Aku sudah cukup bersenang-senang kok. Masalah kencan, apa kakak juga tidak akan berkencan dengan seorang gadis?"


"Aku?"


"Ya. Kakak juga lumayan keren untuk cepat dapat teman kencan."


"Tidak. Aku cukup bersenang-senang melakukan hobiku. Basket."


Mendengar ini Sherry yang ada di sana tertegun. Jadi Ve masih koma? Jadi tubuh itu tetap berada di rumah sakit seperti terakhir aku berada dalam tubuh Ve. Sepertinya kecelakaan itu lumayan hebat. Bahkan terbilang sangat hebat. Jiwanya bisa kembali lagi berkat kecelakaan itu.


Jadi sepupu Relly tahu soal Sherry juga? Aku tidak aman nih ...


Brak! Kakinya tak sengaja menendang tempat sampah di dekatnya. Hingga membuat tempat sampah kosong itu terjatuh dan menggelinding ke arah mereka.


Sial.


Relly dan gadis itu menoleh. "Itu kak Sherry?" tebak gadis itu yang membuat Sherry mati kutu. "Benar kan?" Apalagi saat gadis itu menghampirinya.


"Sigi?" tanya Sherry takjub. Dia terkejut ternyata gadis yang menjadi sepupu Relly adalah Sigi adik kelasnya.


"Hai, kak. Bagaimana keadaan ibu?" tanya Sigi ramah.


"Baik. Sangat baik." Sherry berusaha nampak tidak canggung. Dia menata hatinya baik-baik di depan cowok itu.


"Syukurlah. Kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumah kakak."


"Ke-ke rumahku?" tanya Sherry terkejut dan panik.


"Ya. Aku ingin berbincang dengan ibu." Sherry mengangguk-anggukkan kepala.


"Memangnya kamu tahu rumahku?" Sekali lagi Sherry panik.


"Tidak. Kalau sudah waktunya ke sana, aku akan mencari rumah kakak." Sigi tertawa pelan. Relly memperhatikan. Gadis itu. Sherry. "Ada perlu apa kakak kesini?"

__ADS_1


"Bukan. Aku tidak ada perlu. Aku hanya mau pulang." Sherry menunjuk  area parkir.


"Oh, iya. Ini kan tempat parkir." Sigi tertawa.


"Aku nyari motorku dulu."


"Ya silakan." Sherry melangkah ke area parkir. Mencari motor yang di maksud Aska. Ada. Di sana. Di dekattt ... Relly.  Hhh ... makanya Aska tidak langsung pulang. Sherry mendekati motor jadul milik Aska.


Relly yang berdiri di dekatnya memperhatikan. Sherry tahu. makanya jantungnya berdetak kencang tak keruan. Ini membuatnya berdebar-debar tidak jelas. Antara sakit dan senang.


...----------------...



...----------------...


Sherry menyerahkan motor ke Aska.


"Ada Relly disana," ujar Sherry.


"Aku tahu."


"Bersama Sigi."


"Ngapain?"


"Berbincang. Kamu tahu, Sigi itu sepupu Relly?"


"Benarkah?" tanya Aska terkejut. "Kamu menanyainya?"


"Tidak mungkin. Aku hanya menguping. Memangnya kamu enggak tahu? Dia kan seangkatan denganmu. Dan lagi dia datang mengunjungi ibu layaknya kalian teman akrab. Aku pikir kamu lebih tahu."


"Aku tidak akrab. Hanya tidak sengaja menemukan kesalahannya."


"Kamu memerasnya karena dia anak orang kaya?"


"Aku bilang aku tidak tahu soal itu, Sher." Aska gemas.


"Ini gawat Ka, kalau dia bercerita kamu ke Relly."


"Bukannya kamu sudah siap kalau memang akhirnya Relly tahu kamu adalah Sherry sebenarnya?"


"Emmm ... itu ...."


"Apapun keputusan Relly soal nanti bakal ketahuan bahwa kamu adalah Sherry yang asli, kamu memang harus menerimanya. Seperti takdir aneh saat kamu dan Ve tertukar. Senang atau sedih tetap tidak bisa di tentang." Aska memberi masukan panjang lebar.


"Sepertinya begitu," ujar Sherry pasrah.


"Kalau Relly tidak menyukaimu yang berada dalam tubuhmu sendiri, memangnya kenapa? Masih banyak cowok lain yang tulus suka sama kamu." Sherry jadi terharu saat mendengar adiknya memberi semangat. "Itu kalau ada sih ..."


"Hah? Apa maksudmu?!" Aska terkekeh. Sherry memukuli adiknya.


...----------------...


Relly tidak pernah berhenti mengunjungi rumah sakit. Dimana tubuh yang di anggapnya Sherry masih terbaring disana.


Saat ini ia terus saja duduk di dekat ranjang. Menatap tubuh Sherry yang terbaring lemah tak berdaya. Sepulang sekolah dia memang banyak menghabiskan di rumah sakit. Dengan berbagai alasan, Sigi membantunya.

__ADS_1


"Sherry bangunlah. Bangunlah dan buka matamu. Kita bisa melewati hari hari bersama lagi," bisik Relly sambil menggenggam tangan gadis itu. Tubuh itu tidak bergerak. Tidak merespon apapun yang di katakan Relly.



__ADS_2