
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan pulang dulu. Diamlah disini dulu denganku."
"Denganmu?" Sherry mengangguk. Gadis ini tidak sadar, ajakan semacam ini akan terdengar lain di telinga seseorang. Memang, Sherry berkata seperti itu untuk menghindarkan Relly melihat Hansel dan Aska bukan karena hal lain, tapi apa yang di tangkap otak Relly tentu berbeda. "Oke ... Baik. Namun kita harus ke pinggir dulu. Motorku menganggu mereka."
Karena berhenti mendadak, Relly dan Sherry berada di jalan dimana semua siswa siswi bubaran sekolah.
"Oh, benar." Sherry menuju ke pinggir jalan duluan. Relly mengikuti sambil mendorong motornya. Mereka berdiri berdua sambil melihat yang lain jalan menuju pintu gerbang.
"Kenapa mendadak ingin diam disini seperti ini denganku?"
"Tidak, itu ..." Hei, jangan-jangan aku terlihat aneh mengajaknya begini. Tidakkk ... Sherry baru sadar. Gadis ini menoleh ke samping. "Sorry, ajakanku terdengar aneh." Sherry terdengar tidak bisa memberi alasan dengan baik kali ini. Dia merutuki diri sendiri karena tidak sanggup memberi alasan.
"Tidak apa-apa. Ini menyenangkan." Relly tersenyum tipis. Sherry mengerjap dan kembali melihat lurus ke depan.
Sementara itu di luar gerbang, Aldo dan Sabo berbincang dengan Hansel. Aska yang muncul belakangan langsung di todong pertanyaan seputar kakaknya oleh cowok itu.
"Dimana kakakmu?"
"Sudah pulang."
"Oh, ya? Aku tidak melihatnya sama sekali."
"Mungkin sebelum kamu datang," bohong Aska.
"Aku ikut denganmu pulang."
"Aku enggak pulang, aku mau nongkrong." Aldo dan Sabo sudah heran mendengar jawaban Aska sejak pertama. Namun mereka tidak menyela.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Soal apa?"
"Sherry."
Hansel yang juga mendengar kabar menghilangnya putri Gio sedang merasa cemas. Dia yakin bahwa Relly pasti tahu sesuatu, tapi dia merasa pasti cowok itu sudah melakukan pencarian terlebih dahulu. Makanya siang ini dia berencana mengunjungi sekolah Aska untuk menemui Ve. Jika beruntung, dia akan bertemu Relly dan bertanya soal Sherry.
Mendengar Hansel menyebut nama kakaknya, dia yakin pasti soal jiwa yang tertukar. Mereka berdua, Relly dan Hansel tidak tahu, bahwa kini jiwa Sherry dan Ve sudah ada pada tubuh masing-masing.
"Aku akan berbicara sebentar dengannya. Kalian bisa pergi dulu bawa motorku. Nanti aku hubungi kalau sudah beres." Aska menyuruh Aldo dan Sabo pulang dulu.
"Oke."
...----------------...
"Bicaralah, kita hanya berdua." Aska mengajak Hansel ke pinggir jalan. Dimana ada tempat duduk beton di luar pagar.
__ADS_1
"Kamu sudah dengar soal menghilangnya Sherry?" Aska diam. Dia tidak mendengar berita apapun. "Melihatmu kebingungan, sepertinya kamu belum dengar." Aska bingung karena saat ini Sherry asli ada bersamanya. Sementara Ve, ada di rumah sakit bersama Relly.
Hansel tidak tahu apa-apa rupanya.
Hansel menyarankan Aska untuk mencari Sherry demi keselamatannya.
"Kamu pasti tahu ada Relly di sekolahmu. Aku juga ingin bicara dengannya. Aku yakin dia pasti tahu sesuatu."
Gawatt!
Kemunculan Hansel ternyata memusingkan juga.
...----------------...
...----------------...
Ve masih dalam perawatan di rumah sakit. Meskipun kadang merasa hampa, Relly tetap menjenguk gadis itu. Ada rasa tanggung jawab yang di embannya.
"Papa sepertinya sudah memberitahu keluargamu kalau kamu ada disini," kata Relly.
"Benarkah? Terima kasih," ujar Ve. Relly memperhatikan gadis berambut panjang itu.
Kenapa reaksi Sherry datar? Ada yang berbeda. Banyak. Namun haruskah aku mengabaikannya? Aku yang menginginkannya bukan dia. Jadi tidak mungkin saat gadis ini sudah membuka hatinya, aku akan membuangnya.
"Kamu banyak pikiran ya?" tanya Ve yang melihat kemelut di mata Relly.
"Bagaimana suasana sekolah? Sudah lama aku tidak berangkat sekolah karena kecelakaan itu."
"Seperti biasanya." Ve mengangguk-anggukan kepala. Pintu kamar terbuka. Muncul Sigi di ambang pintu.
"Hai kakak ..." sapanya ramah. Ve tidak tahu ini siapa.
"Siapa?" tanya Ve sambil menoleh pada Relly.
"Sepupuku, Sigi." Relly mengenalkan.
"Aku Sigi. Kita akan menjadi saudara jika kak Relly dan kak Sher ... Mmmm ... kak Ve." Sigi kebingungan menyebut nama siapa. Yang dia tahu putra pemilik perusahaan SMART itu bernama Vermouth, tapi Relly selalu menyebutnya Sherry. "Aku manggil apa, ya?" Sigi meringis.
"Dia Sherry," ujar Relly memberitahu. Ve melirik ke arah Relly. Hatinya teriris barusan. Relly tetap beranggapan dia adalah Sherry. Masih.
Tidak apa.
"Ya. Panggil aku Sherry saja." Ve mencoba mengikuti.
"Ah, ya. Kalau kalian berdua menikah, kita akan jadi saudara." Sigi membuat Ve tersipu dengan kata menikah.
"Kita hanya akan bertunangan Gi, bukan menikah," ralat Relly.
"Iya. Sekarang dalam tahap mau bertuanangan, tapi nanti pasti menikah, kan?" ujar Sigi bersemangat. Relly hanya tersenyum tipis. Ve kembali tersipu.
__ADS_1
Aku tidak tahu. Kenapa tiba-tiba aku bimbang. Ada apa ini? Bukankah ini membahagiakan, saat Sherry mau menjadikanku tunanganku?
"Kamu sekolah dimana?" tanya Ve melihat gadis ini masih berseragam. Ve merasa seperti tidak asing dengan seragam yang di pakai gadis itu.
"SMA Merdeka," jawab Sigi sambil tersenyum. Jawaban Sigi membuat Ve terhenyak kaget. Sekolah itu pasti tidak asing untuknya. Beberapa bulan terakhir, dia tercatat sebagai siswi sekolah itu walaupun bukan dengan tubuh ini.
"K-kamu sekolah di sana?" tanya Ve gugup. Relly memperhatikan.
"Iya. Kak Relly juga sekarang kan sekolah di sana." Sigi menunjuk sepupunya.
"S-sekolah disana? Apa maksudnya?" Tidak mengerti, cemas dan takut sedang meliputi Vermouth. Gadis itu merasa ada yang tidak di ketahuinya dan itu membuatnya akan ketahuan.
Wajahnya meminta penjelasan ke Relly, tapi cowok ini hanya melipat kedua lengannya tanpa memberi keterangan. Melihat keluar jendela seakan tidak mendengar apa yang di tanyakan Ve barusan.
Aku di abaikan.
"Memangnya kak Relly enggak cerita, kalau ada pertukaran pelajar?"
"Aku tidak mengerti." Ve tidak melihat ke Relly lagi. Dia ingin tahu dari bibir Sigi.
Sigi menceritakan soal pertukaran pelajar dengan baik. Tentu tanpa menyebut bahwa ini adalah usulannya. Sigi menceritakan garis besarnya saja. Ve mendengarkan dengan seksama.
"J-jadi, Relly juga sekarang menjadi siswa sekolahmu dalam satu bulan?" selidik Ve gugup.
"Iya. Kok kak Sherry jadi gugup sih. Takut kak Relly jatuh cinta dengan gadis yang ada di saja ya...," ledek Sigi. Ve menelan ludah. Lalu tersenyum getir. Ledekan keponakan Relly ini mengena. Tepat sasaran. Ya. Sekarang dia takut cowok ini menyukai orang lain. Yaitu, Sherry yang asli.
Relly tidak pernah menceritakan ini padaku. Dia lupa atau sengaja? Apakah dia sudah tahu soal aku? Bahwa Sherry yang selalu di lindungi Relly sekarang adalah palsu? Tidak. Ini tidak mudah di mengerti orang. Relly tidak akan mudah tahu.
...----------------...
...----------------...
Karena sudah beredar kabar bahwa putri Gio akan bertunangan dan menikah kelak dengan putranya atasan mereka, para petugas memberi kebebasan orang-orang dari keluarga Gio masuk ke area lorong pribadi kamar Ve.
Welly mengijinkan Gio mengunjungi putrinya. Ini di lakukan tanpa pemberitahuan lebih dulu pada Relly. Untung saja Erick cekatan. Dia segera memberitahu Relly perihal kedatangan Gio. Relly yang hendak keluar, segera kembali ke kamar Ve.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu putriku ...," Gio memeluk Ve dengan wajah haru yang palsu. Ve lupa, bahwa Sherry pernah bercerita ada yang aneh dengan kecelakaan itu. Namun tentu saja tidak akan berpikir itu ada hubungannya dengan papa yang dia ketahui menyayanginya.
Relly menemani di dekat dinding dengan mata nyalang. Dia terus saja bersikap waspada. Menurutnya penyelidikan dia dan Sherry dulu perlu di pikirkan. Pasti ada orang dalam yang mengenal baik kehidupan Ve. Jadi bisa merencanakan sesuatu dengan baik. Seperti kecelakaan Ve sendiri.
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya papa, aku baik-baik saja."
"Terima kasih sudah menolong putriku, Relly," ujar Gio sambil menoleh ke Relly. Pemuda ini hanya tersenyum samar. Dia masih perlu menyelidiki banyak hal. Tentang lokasi kecelakaan Sherry, kantor perusahaan SMART. Dimana itu adalah awal gadis itu putus kontak dengannya. Juga ... sikap aneh gadis yang saat ini berbincang santai dengan papanya.
Kamu tidak seperti itu, Sherry. Kamu gadis yang selalu waspada.
__ADS_1