
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...
.......
.......
.......
"Ada apa?" tanya Sherry enggan.
"Aku punya informasi soal mereka yang menyerangmu di gedung belakang," Hansel menunjuk gedung belakang dengan ibu jarinya.
"Aku tidak memerlukannya," tolak Sherry dengan sangat jelas.
"Wow, sangat disayangkan. Karena aku tidak punya lagi alasan untuk menemuimu," kata Hansel sambil menggaruk kepalanya. Sherry tidak ambil pusing dengan kekecewaan cowok di depannya itu. Matanya tertuju ke arah tangan Hansel yang memegang minuman.
"Sepertinya kau tidak menyukai itu." tunjuk Sherry ke sebotol minuman dingin. Hansel terkejut dengan minuman yang dipegangnya.
"Kau mau?" Hansel mengangkat botol minuman itu. Sherry mengangguk senang. Hansel tersenyum sambil menyodorkan minuman itu. Sherry menerima minuman yang masih tersegel itu dengan sangat bahagia.
Slruppp!!
"Kau sangat lucu. Aku memberimu informasi penting tapi kau menolaknya. Sekarang justru kau tertarik dengan minuman ini."
"Karena saat ini aku kehausan, bukan menginginkan informasi apapun." pungkas Sherry.
Sherry melempar botol minuman yang isinya sudah di habiskan dalam sekejap, tepat dalam keranjang sampah. Tembakan bagus, Sherry!
"Tidak masalah kamu tidak mau mendengar informasi dariku, aku akan mencari alasan lain untuk menemuimu," Setelah melihat kejadian barusan, Hansel punya ide baru untuk bisa menemui gadis yang mulai tampak menarik, sejak dia muncul dengan sikap cueknya diatas atap itu.
Apalagi saat mengintimidasi cewek-cewek yang merisaknya. Gadis ini yang awalnya penakut, berubah menjadi gadis tangguh. Itu sangat misterius bagi Hansel. Kakinya berjalan mengikuti Sherry yang mulai melangkahkan kaki. Sherry tidak memperdulikan cowok yang memiliki tubuh tinggi itu mengikutinya.
__ADS_1
"Kenapa perlu mencari alasan buat menemuiku?" tanya Sherry tanpa menengok kesamping. Itu membuatnya tidak menyadari telah membuat cowok di sebelahnya sempat terkejut. Sherry tidak tahu roman muka Hansel yang langsung berubah gembira saat mendengar kalimat barusan.
"Berarti... aku boleh menemuimu tanpa berpura-pura ada alasannya?" Hansel menjawab pertanyaan Sherry dengan pertanyaan. Cowok itu sangat tertarik dengan pertanyaan Sherry. Itu terasa seperti undangan secara terbuka bagi Hansel untuk mendekatinya. Walaupun sebenarnya Sherry tidak berpikir ke arah yang sama, seperti yang di pikirkan oleh Hansel. Tapi cukup membuat bad boy ini tersenyum simpul.
"Aku tidak peduli sih. Itu kan terserah kamu, yang penting aku tidak terganggu saja," Sherry sempat bingung menjawab pertanyaan barusan.
"Tapi aku tidak paham kenapa kamu memaksa harus menemuiku?" tanya Sherry lagi sambil mengambil sepotong permen cokelat dari saku kemeja seragamnya. Ya ampun ini anak punya kantung yang selalu di isi dengan makanan sepertinya.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu berpikir soal itu. Itu hanya hal kecil. Jangan terlalu di pikirkan. Abaikan." Hansel tersenyum sambil mencoba mengambil alih. Mengarahkan Sherry untuk tidak memikirkan apa yang barusan dikatakannya. Anehnya Sherry menurut. Dia sangat malas harus berpikir keras soal hal yang tidak penting.
Sepertinya Hansel mulai paham gadis di depannya adalah orang simpel dan polos. Dia gadis yang sangat tidak peka pada hal semacam ini, meskipun itu sudah terlihat jelas. Sherry mengedikkan bahu dan akan kembali ke kelasnya.
Dari koridor kelas di gedung seberang, Relly melihat Sherry yang melintas dengan Hansel. Dua orang yang terlihat aneh apabila sedang bersama. Perpaduan dua anak manusia itu sungguh kontras. Ve di kenal penyendiri, penakut dan pemalu. Sementara Hansel di kenal orang sebagai berandal ganteng yang di takuti banyak orang yang pastinya bukan penakut ataupun pemalu.
Selama ini hanya Relly yang selalu di ikuti gadis pemalu itu. Seorang Ve tidak pernah terlihat melangkah bersama cowok lain selain Relly. Itu pun karena Relly membiarkan gadis itu berjalan tanpa menegurnya. Kalau seandainya Relly menegurnya, semakin langka menemukan Ve terlihat berjalan bersama seorang cowok.
Walaupun sebenarnya Sherry dan Hansel jalan sendiri-sendiri tanpa ada percakapan di antara mereka berdua, tapi yang terlihat mereka sedang berjalan berdua. Sherry masuk ke kelas dulu. Sementara Hansel masih melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya. Setelah memutar, Relly sampai di depan Hansel yang akan masuk ke kelasnya.
Sesampainya di dalam kelas, Relly menemukan gadis itu sedang di kerumuni anak-anak. Entah apa yang di lakukan mereka. Frans yang ada di bangkunya hanya melihat sebentar tanpa ingin tahu kenapa Hansel mencarinya. Setelah Relly berhasil duduk di tempat duduknya dia paham apa yang di bicarakan mereka. Itu perihal Hansel yang mendatangi kelas untuk mencari Ve.
Hansel mencari Ve? Bukankah mereka baru saja jalan bareng?
Mata Relly melihat ke arah dia yang menatap heran kepada mereka yang sedang menggebu-gebu bertanya soal Hansel. Mata itu hanya di kerjap-kerjapkan tanpa henti.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Hansel?"
"Kamu membuat masalah dengannya? Kenapa dia mencarimu?"
Berbagai pertanyaan seputar kedatangan Hansel ke kelas untuk mencarinya mengalir begitu banyak. Namun bibir gadis itu hanya diam sambil mencoba mendengarkan mereka yang mencecarnya dengan pertanyaan.
Hansel mencariku? tanya Sherry dalam hati. Padahal baru saja dia bertemu dengan bad boy itu. Cowok itu juga tidak memberitahu kalau sempat mencari dirinya di kelas.
__ADS_1
Jadi dia sempat kesini?
Setelah mendengar dari Allen bahwa Hansel mencarinya, Sherry tidak terlalu terkejut. Hanya saja merasa heran.
"Pasti dia mengikutinya terus seperti saat dia mengikuti Relly. Itu kan menyebalkan. Mungkin begitu juga bagi Hansel." Mora menyimpulkan tanpa bertanya ada apa sebenarnya kepada Sherry. Beberapa temannya mengangguk setuju dengan pendapat Mora.
Relly mulai terusik dengan obrolan-obrolan seputar Sherry dan Hansel. Frans yang mendekati Relly mulai berkomentar.
"Penggemarmu beneran pensiun nih?" Frans bermaksud melucu, tapi temannya tidak tersenyum. Justru semakin menipiskan bibir sambil menggertakkan gigi-giginya. Mata Frans menangkap raut wajah aneh itu.
Ada apa dengannya? Ada yang salah dengan ucapanku? Frans memiringkan kepala sambil bergumam.
"Jadi beneran nih, soal kamu yang enggak ingin lagi tergila-gila sama Relly?"
Pembahasan ini mulai merujuk ke arah pembicaraan Sherry waktu itu. Dimana gadis itu meminta kepada Relly untuk membuatnya berhenti menggilai cowok itu. Sherry tidak menyangka ucapannya waktu itu akan di bahas lagi saat ini.
Bel istirahat selesai berbunyi. Namun mereka masih enggan beranjak dari bangku Sherry.
"Waahhh... kamu mulai berubah haluan ke Hansel, ya."
"Cowok itu memang misterius sih. Mungkin saja di balik kegarangannya tersimpan hati baik, lembut dan hangat. Seperti mafia-mafia ganteng di film gitu." Semua tergelak mendengar celotehan ini. Mereka terlalu asyik menghebohkan soal kedatangan Hansel di kelas mereka sampai bel berbunyi pun di abaikan.
Dan kebetulan lagi, Guru mata pelajaran yang sehrusnya mengisi belum juga datang. Frans yang tadi di beritahu oleh Pak Sandy segera ambil alih.
"Teman-teman, tolong duduk di bangku masing-masing." pinta Frans teruntuk mereka yang masih bergerombol di bangku Sherry. Tapi rupanya mereka larut dalam pembicaraan yang heboh. Jadi suara Frans juga tidak bisa di dengar.
Brak!!
Gebrakan meja yang lumayan keras berasal dari meja di sebelah. Semua yang berkumpul di situ berjingkat kaget karena suara keras barusan.
"Bisa enggak sih, kalian tidak ribut-ribut di dalam kelas? Bukankah bel selesai istirahat sudah berbunyi tadi. Sebaiknya kalian cepat kembali ke bangku masing-masing dan dengarkan apa yang sedang di bicarakan oleh Frans!" tunjuk Relly marah ke arah Frans yang berdiri di depan kelas.
__ADS_1