Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Penelusuran


__ADS_3

"Helm ini milik seorang gadis. Aku bisa mencium aromanya," kata Sherry membuat Relly terkejut. Lalu Relly menatap Sherry dengan menyipitkan mata.


"Kamu tidak suka? Apakah kepala ini sedang berpikir macam-macam?" tanya Relly sambil mengetuk helm yang sudah di pasang di kepalanya dengan pelan.


"Apa? Macam-macam apa?" tanya Sherry. Relly tersenyum yang artinya itu tidak baik. Cowok ini sedang berpikir sesuatu yang membuat dirinya sendiri senang dan membuat Sherry cemas.


"Kamu cemburu?"


"Apa?! Itu jelas tidak mungkin!" bantah Sherry yang membuat rona malu pada kedua tulang pipinya. Kedua mata Sherry mengerjap bingung. Ini membuat senyum Relly mengembang. [ Episode sebelumnya ]



(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


Karena sudah malam, Relly menghentikan penelusuran. "Sebaiknya kita pulang dulu. Besok, pulang sekolah kita melanjutkan lagi penelusuran ini." Sherry menghela napas lelah.


"Ini tidak mudah dan memakan waktu lama. Apakah kamu tidak lelah jika harus selalu menemaniku mencari kebenaran ini?"


"Tidak. Aku bahkan ingin selalu mencari selembar demi selembar teka-teki ini seharian denganmu tanpa putus."


"Itu sangat ekstrim. Seharian penuh harus denganmu tanpa pulang?" Sherry memutar mata gemas. Bagi Sherry itu hal yang tidak menyenangkan tapi bagi Relly tidak. Seperti yang di jabarkan olehnya, Relly sangat senang menemani gadis ini. "Sebaiknya kita memang harus pulang. Otakmu sangat tidak beres." Relly hanya tersenyum sambil menyodorkan helm.


"Aku akan membawa helm baru untukmu, besok. Tanpa ada aroma dari siapapun."


"Aku iseng. Itu tidak serius. Abaikan. Jangan dipikirkan." Sherry perlu mengatakan empat kalimat penyangkalan soal itu. Dia heran Relly masih ingat soal celetukan asal dari mulutnya.


"... dan aku serius," pungkas Relly. Sherry melihat Relly serius. Cowok itu menatap Sherry lekat.


"Terserah." Sherry melihat ke arah lain. menghindari tatapan Relly.


***


Pulang sekolah, Relly benar-benar menanti Sherry di dalam kelas saat kelas usai.


"Masih mau keluar main Rel? Atau ada latihan basket? Seingatku tidak ada latihan." tanya Frans. Relly menggeleng. "Lalu apaan, Rel? Kok masih diam di dalam kelas? Tumben-tumbennya."


"Aku nungguin dia," tunjuk Relly ke arah Sherry yang masih sibuk mengerjakan sesuatu. Pasti tugas yang belum selesai barusan. Frans melotot tidak percaya.

__ADS_1


"Dia?" Tangan Frans juga menunjuk ke arah Sherry yang tengah berpusing ria dengan tugasnya.


"Iya. Si jagoan itu perlu bimbingan dalam mengerjakan tugasnya."


"Jagoan? Oh... karena dia sudah melawan Edgar itu? Masih jadi pengasuhnya?" Relly mengangguk sambil tersenyum geli mendengar pertanyaan itu. Dia memang seperti jadi walinya. Saat pingsan saja anak-anak malah sibuk memanggil Relly untuk menolongnya. Frans manggut-manggut. Dia sebenarnya tidak paham arah pembicaraan Relly, tapi otak pintarnya bermain. Mencoba mengingat bahwa Relly memang secara terbuka mengakui bahwa dia sedang mendekati gadis yang memang selalu mengikutinya itu. "Okelah. Lanjutkan. Aku harus pulang."


"Oke," sahut Relly sambil mengangkat satu tangannya sebagai tanda sudah mempersilakan Frans untuk pergi. Matanya melihat Sherry yang keningnya berkerut karena mengerjakan soal yang sepertinya cukup sulit baginya. Bel pulang sekolah berdentang tapi Sherry masih belum bisa menyelesaikan tugas matematikanya.


Guru pembimbing mata pelajaran ini memberi kelonggaran Sherry untuk tetap mengerjakan dengan syarat harus selesai siang ini dan segera di kumpulkan di meja beliau. Semua di maklumi karena Sherry yang baru saja sakit.


"Rel, aku tidak bisa segera menyelesaikan tugas ini. Kemarilah. Bantulah aku," rengek Sherry. Sebenarnya bukan rengekan manja yang muncul dari bibir itu. Namun di telinga Relly seperti permintaan tolong yang imut. Relly duduk di bangku depan Sherry.


"Mana?" tanya Relly dengan penuh perhatian.


"Ini, ini dan ini. Semua deh sepertinya." Telunjuk Sherry menunjuk soal-soal itu dengan geram. Dia memang tidak pandai dan sedikit malas mengerjakan tugas.


"Aku akan mengajarimu cara mengerjakannya."


"Tidak. Itu terlalu lama. Lebih baik kamu tulis jawabannya di sini jadi aku bisa menyalin dengan mudah." Sherry merobek kertas kosong dari buku tugasnya.


"Kamu ingin menyalin jawaban?" Ulang Relly. Sherry mengangguk. Sangat yakin. Bahkan mengalahkan seorang presiden yang begitu yakin saat membuat keputusan.


"Apa kamu memang seperti ini?" tanya Relly sambil menggeser buku bacaan itu untuk bisa di bacanya. Dia menerima permintaan Sherry untuk memberinya kunci jawaban. Merebut bolpoint di tangan Sherry, lalu mengerjakan soal itu di kertas kosong yang sudah di sediakan gadis itu. Sherry berkedip.


"Seperti apa?" tanya Sherry yang memerhatikan jari-jari Relly menuliskan jawaban di atas kertas dengan mudah dan cepat.


"Kamu tidak peduli orang berkata apa tentangmu. Citramu." Sherry terkekeh.


"Aku bukan artis atau idola atau apalah itu. Aku tidak membutuhkan citra. Juga... bukannya ini bukan tubuhku?" ucap Sherry seenaknya. Merasa tidak punya kepedulian yang tinggi kepada cangkang tubuh yang sedang di pakainya. Relly tersenyum masih dengan menuliskan jawaban di atas kertas. Pemuda itu serius juga saat mengerjakan soal ini. Sherry merasa kagum melihat jari-jari lincah itu. Otak Relly sangat encer. Dia cowok yang komplit. Visual keren, wajah ganteng dan otak encer. Apakah tidak ada kelemahan di dalam dirinya?


"Sudah. Cepat salin jawaban ini." Tangan Relly menyodorkan kertas jawaban itu untuk di salinnya. Senyum Sherry mengembang. Enak juga ternyata dekat dengan cowok bernama Firelly ini. Dengan tangkas Sherry menyalin jawaban Relly pada bukunya.


"Lain kali kerjakanlah sendiri. Itu juga berguna bagi kamu, jika memang bisa kembali pada tubuh aslimu." Walaupun Sherry tidak melihat, Sherry tahu ada nada sedih terselip dalam kalimat ini. Gendang telinganya mendengar dengan baik.


***


"Kita melupakan satu cctv penting. Kita harus memeriksa cctv di atas tiang lampu lalu lintas itu." Relly menunjuk kamera cctv di atas.

__ADS_1


"Benar. Kita harus memeriksa itu. Bukankah itu semakin sulit karena cctv itu hanya milik dinas perhubungan?" Sherry ikut melihat senang awalnya, tapi jadi putus asa.


"Tidak sulit jika memakai koneksiku." Perkataannya sangat tegas. Walaupun begitu tidak ada nada angkuh tidak terbantahkan di sana. Yang biasanya terselip dengan mudah di dalam mata seorang putra orang kaya. Sherry menatap Relly. Cowok itu sedang mengeluarkan ponselnya. Menekan tombol panggil. Entah kepada siapa. Relly menolehkan kepala ke arah Sherry yang sedang menatapnya. Tangan pemuda itu meraup wajah Sherry dengan gemas. "Apa yang sedang kamu lihat? Mata itu seperti ingin menelanku bulat-bulat." Relly tersenyum. Sherry hanya mengerjap dan menjauhkan wajah.


"Tidak." Sherry mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Aku senang bisa menemukanmu. Jiwa Sherry yang terjebak dalam tubuh ini." Relly mengusap kepala Sherry tanpa permisi. Mulut Sherry menggeram. Sebisa mungkin jangan membiasakan dirinya merasakan sentuhan cowok ini.


"Erick, tolong periksa cctv pada perempatan jalan ...." Relly menjabarkan lokasi yang di maksud dengan rinci. Yah ... semua sangat mudah dan gampang kalau Relly menyuruh Erick yang mengurusi semuanya, tapi itu akan berlangsung sangat cepat. Dia tidak bisa menikmati waktu berdua dengan Sherry.


Setelah menunggu sekitar setengah jam, Erik sudah memberi informasi. Ternyata cctv di dinas perhubungan pada hari itu rusak. Jaringannya kacau. Tidak bisa menampilkan gambar sama sekali. Jalan menuju kebenaran terputus lagi. Langkah selanjutnya adalah menemui satu persatu pemilik outlet di jajaran lampu merah. Mungkin saja ada salah satu dari mereka yang mempunyai kamera cctv.


Meminta setiap outlet untuk menunjukkan isi rekaman cctv mereka pada Relly dan Sherry tidak mudah. Mereka tentu sangat protektif pada keamanan mereka. Namun hanya dengar menunjukkan kartu yang sepertinya menunjukkan identitas Relly sebagai keluarga pengusaha besar, mereka percaya dan mau menunjukkan cctv mereka.


Sayang, cctv mereka ternyata hanya abal-abal belaka. Hanya di pasang tanpa menyalakannya. Ada juga yang ternyata hanya cctv mainan yang nampak seperti sesungguhnya. Terakhir mereka memasuki sebuah cafe mini bertuliskan, pink love cafe. Melihat nama cafe ini saja Sherry tahu, bahwa nuansa cafe penuh dengan warna lembut itu. Sherry tidak suka itu.


Saat pintu di buka, nuansa pink menyerbu mata mereka.


"Sangat pink," gumam Sherry.


"Kamu menyukainya?" tanya Relly.


"Tidak. Sama sekali."


"Yah... itu memang kamu." Relly tersenyum. Seperti kesenangan telah membuat Sherry meringis melihat warna-warna lembut itu dalam gradasi. Seorang kakak perempuan menyambut mereka.


"Selamat datang..." sapa kakak itu ramah. Sherry dan Relly tersenyum. "Aahhh, kamu datang lagi rupanya." Kakak itu seperti mengenali wajah Vermouth.


"Kakak kenal aku?" tanya Sherry sambil mengkedipkan matanya. Relly mengamati.


"Aku pernah melihatmu di sekitar sini. Kemudian kamu masuk kesini hanya karena aku bilang, kamu bisa mendapat cinta orang yang kamu sukai jika meminum teh yang berisi ramuan cinta." Kakak itu sangat bahagia saat mengatakannya. Bentuk promosi baru dalam menjual dan mengajak orang tertarik ke cafenya.


"Dan aku percaya?" tanya Sherry dengan bodohnya. Kakak itu mengangguk sambil tersenyum. Itu bisa diterima karena itu pasti Vermouth yang asli. Sherry menghela napas.


"Bukankah itu menjadi kenyataan? Bukankah cowok ini yang ada dalam handphone yang kamu tunjukkan padaku waktu itu." Telunjuk kakak itu menunjuk ke arah Relly. Benar. Namun itu juga tidak benar. Dulu itu Vermouth, sekarang adalah Sherry. Relly melirik. "Berarti teh berisi ramuan cinta itu manjur. Akhirnya kamu benar-benar kembali kesini dengannya, seperti harapanmu." Kakak itu bangga dan mengulas senyuman.


Mana mungkin.

__ADS_1



__ADS_2