Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Rumah Ve


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...


"Kamu tahu, ada apa dengan Ve? Belakangan ini dia tidak masuk sekolah. Apa dia sakit?" tanya Relly gelisah.


"Sepertinya." Hansel juga sempat mendengar kalau gadis itu sedang sakit.


"Kamu sudah menjenguknya?"


"Belum." Meskipun kabar Ve yang sakit sudah di terima oleh telinganya, dia belum bisa menjenguknya.


"Tidak masalah. Ikut denganku ke rumah Ve sebentar lagi. Kamu juga bisa menjenguknya sekalian."


"Temui saja Ve sendiri. Tidak harus denganku. Bukannya kamu harus menyelesaikan apa yang kamu katakan tadi. Jika ingin lepas dari ikatan itu, ya ... ajak ngobrol dengan orangnya."


"Itu dia. Gadis itu sulit sekali di temui belakangan ini."


"Hm..." Hansel mengangguk-anggukkan kepala mendengar Relly yang sangat frustasi.


"Aku akan ke sana. Tolong ikut aku. Bantu aku meminta padanya untuk memutuskan ikatan ini."


"Kenapa aku harus menemanimu? Ini urusan kalian berdua. Emm ... mungkin bertiga. Kamu, Ve dan Sherry. Aku tidak harus ikut dalam persoalan kalian." Hansel menolak menolong cowok ini.


"Jika aku dan Ve memang harus bertunangan, bagaimana denganmu?"


"Apa? Kamu akan mengatakan lagi aku tertarik pada Ve?"


"Jangan berbohong Han. Kita sama-sama cowok. Aku tahu." Relly menatap Hansel lurus. Bibir Hansel menipis seraya menggeleng pelan melihat tingkah Relly yang jauh dari kesan cool seperti selama ini. Karena kebingungan yang sangat, Relly jadi panik.


"Walaupun mungkin aku ada rasa sama Ve, lalu kenapa?"


"Kamu harus memperjuangkan dia, dong!" Relly tampak antusias. Merasa Han mulai ada respon positif untuk membantunya.


"Aku enggak mau." Ternyata tidak.


"Kenapa?"


"Kenapa juga kamu malah bertanya? Itu kan hakku. Aku mau memperjuangkan Ve atau tidak."


"Tapi Han ... Arggh!" Relly mengusap rambut dan wajahnya dengan frustasi. Hansel hanya memandangi cowok di depannya dengan santai. "Lalu bagaimana dengan Sherry? Aku menyayanginya, Han ..." lirih Relly.


"Ya, perjuangkan saja dia."

__ADS_1


"Orangtuaku tetap berpihak pada Ve."


"Lalu kamu menyerah?"


"Jelas tidak. Aku sudah berjuang demi Sherry sejauh ini. Tidak mungkin aku membiarkan semuanya tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan."


"Bagus. Aku suka semangatmu. Itu mirip Sherry yang bersemangat dan pantang menyerah."


"Sherry tahu, kalau orangtuaku tetap memaksaku melanjutkan ikatan pertunangan dengan Ve?"


"Entahlah. Aku jarang bertemu dengannya. Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri padanya?"


"Tidak mungkin! Itu pasti menyakitinya." Relly menepuk meja dan menyandarkan punggungnya pada bahu kursi.


"Pasti, tapi aku yakin dia akan menerima apapun keputusan orangtuamu. Dia orang yang tahu diri."


"Itu yang tidak aku inginkan, Han. Dia akan pergi dan tidak lagi bersamaku. Aku akan terpuruk karena hal itu," lirih Relly. Hansel tidak lagi mengatakan apa-apa. Relly terlihat begitu putus asa.


"Aku akan menemanimu ke rumah Ve," ujar Hansel akhirnya. Cowok ini jadi merasa kasihan pada Relly.


"Benarkah? Terima kasih."


...----------------...


"Masuklah ..." Julia mempersilakan dua pemuda itu masuk. Setelah di suguhi minuman dan makanan ringan, Julia mulia menemani mereka duduk di sofa. "Bagaimana kabar mamamu, Relly?"


"Baik. Mama sehat."


"Baguslah."


"Tante sehat juga, bukan?"


"Benar. Setelah semua keadaan tenang, kehidupanku terasa aman dan tentram." Terlihat jelas sekali bahwa perempuan ini begitu bersyukur dengan keadaannya sekarang. Raut wajah jahat tidak lagi tampak. Julia benar-benar berubah menjadi orang baik.


"Kata teman-teman, Ve sakit?" tanya Relly. Saat Relly bertanya ini, bola mata Julia melirik sebentar ke arah rumah bagian dalam.


"Emm ... ya begitulah."


"Bisa aku melihat keadaan Ve sekarang tante?" pinta Relly.


"Maaf Relly. Ve tidak bisa di temui. Dia harus benar-benar banyak istirahat dan mengurangi bertemu dengan orang banyak karena kesehatannya."

__ADS_1


"Bukankah aku tunangannya tante? Jadi aku punya hak lebih daripada orang lain." Hansel melirik sekilas. Tadi saja cowok ini begitu frustasi dengan persoalan ikatan pertunangannya dengan Ve. Namun sekarang Relly justru memanfaatkannya demi bisa bertemu Ve. Bukan benar-benar ingin menjenguk gadis yang tengah sakit itu. Melainkan ingin bertemu dan membahas soal pemutusan ikatan pertunangan mereka.


Rupanya Relly mencoba cara memaksa.


"Tante tahu soal itu, tapi mamamu sudah berpesan padaku untuk menjaga kesehatan Ve hingga acara pesta besok."


Mama rupanya sudah memberitahu Julia soal kedatangan Relly. Meskipun memaksa, Julia tetap tidak akan memperbolehkan mereka bertemu.


"Ini ... Hansel, ya?" tanya Julia menoleh pada Hansel. Mata Julia berbinar seakan sudah lama ingin bertemu dengan pemuda ini.


"Iya, tante," jawab Hansel sambil mengangguk.


Jika tadi perhatian Julia hanya terfokus pada Relly karena dia tunangan Ve, kali Julia ingin lebih berbincang banyak dengan teman satu sekolah Relly dan Ve, yaitu Hansel.


"Sering-sering saja Hansel datang kesini dengan teman-teman yang lain. Tante perlu lebih mengenal teman-teman Ve," ujar Julia tersenyum.


"Iya tante."


Di saat Julia larut dalam obrolan bersama Han, Relly berulang kali mendesah. Jika Ve tidak bisa di temui, nasib ikatan mereka akan terus berlanjut hingga orangtuanya sendiri akan mengerti bahwa dirinya memang tidak bisa meneruskan ikatan pertunangan ini.


"Ve, memang tidak bisa di temui ya tante?" tanya Hansel.


"Eh, iya Hansel. Anak itu perlu beristirahat." Julia terkejut saat obrolan mereka kembali ke awal. Dimana tujuan mereka ingin bertemu Ve secara langsung.


"Sayang sekali, padahal aku juga ingin bertemu dengannya langsung," ucap Hansel mengungkapkan kekecewaannya.


"Maafkan tante, ya. Ini demi Ve." Julia merasa kasihan juga pada mereka yang sudah berniat baik menjenguk putrinya. "Emm ... Hansel akan datang di pesta keluarga Relly bukan?"


"Kalau tidak ada halangan tante."


"Usahakan datang ya, Han. Jadi bisa kumpul-kumpul dengan teman-teman. Ve juga akan datang. Kalian bisa mengobrol di sana. Kemungkinan besok Ve akan sehat." Julia seperti sedang memaksa.


"Saya tidak bisa janji, tante. Saya usahakan."


...----------------...


Pesta syukuran di adakan di taman depan rumah keluarga Relly. Meski diadakan kecil-kecilan tetap saja terasa mewah karena keluarga Relly bukan orang biasa. Henry dan Daniel juga pasti di undang sebagai anggota keluarga dari Ve.


Relly berjalan mondar mandir di kamarnya. Dia gelisah. Jelas. Sebentar lagi, kemungkinan dua keluarga akan berbicara soal pernikahan. Jika ada pertunangan, kedepannya pasti ada pernikahan.


"Aargggh!" Relly benar-benar frustasi. Relly mengambil ponsel dan menekan nomor Sherry. Mencoba menghubungi gadis itu. Nada dering memang terdengar di sana. Itu artinya panggilannya tersambung. Namun Sherry tidak segera menerima panggilannya.

__ADS_1


Apa Sherry tahu bahwa akan ada hal tidak menyenangkan saat pesta nanti? Relly sebenarnya juga tidak tahu ada rencana apa di balik pesta syukuran ini. Karena Welly juga mengundang keluarga Ve. Apalagi mama Relly juga terlihat sangat antusias dengan pakaian couple yang di tunjukkan padanya. Relly tidak tahu, tapi dia paham pasti ada pembicaraan lain selain hanya sebuah pesta syukuran. Dan pengumuman pernikahanlah yang di khawatirkannya.



__ADS_2