
...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)...
.......
.......
.......
"Ada apa ini?" tanya Relly bingung. Tidak ada jawaban. Lalu cowok ini mengalihkan perhatian ke arah pria paruh baya yang saat ini sedang menaikkan alisnya. Beliau mengerjapkan mata sekilas. Tidak ada raut wajah marah di sana.
Mengapa papa terlihat biasa saja? Padahal dia adalah gadis yang sudah membuatku ingin pergi dan tidak mematuhi perintahnya.
"Tuan, tuan Henry menunggu Anda." Erick yang tadi sudah pergi, kali ini muncul lagi.
"Ya," sahut Welly.
"Bagaimana Relly? Kamu percaya kan kalau kita_ terutama papamu tidak akan menyakiti Sherry. Ayo Sherry, kita masuk ke dalam." Tangan mama Relly mengayun untuk mengajak gadis ini berbaur dalam pesta.
Namun Sherry masih diam dengan bola matanya menatap Relly. Dia butuh persetujuan dari cowok ini.
"Bolehkan sayang?" tanya mama Relly lembut.
"Biarkan Sherry ikut mamamu. Lalu kamu ikut papa menemui Henry," kata Welly memberi usulan. Relly melepaskan barikadenya. Kepalanya mengangguk pada Sherry. Cowok ini mengijinkan mamanya membawa Sherry.
Senyum mama Relly mengembang. "Ayo. Kita ke tempat pesta. Sigi juga mungkin sedang menunggu di sana bersama adikmu." Tangan mama Relly menarik tangan Sherry lembut. "Sherry mama ajak dulu, ya sayang ..." pamit mama ke putranya yang sebenarnya masih kebingungan.
Erick melihat tuan mudanya yang masih termangu di tempatnya. Kemudian mengerutkan kening pertanda dia sedang berpikir. Bibir Erick tersenyum samar melihat ekspresi Relly.
"Ayo, kita ke tempat Henry," ajak Welly. Tanpa bertanya lagi Relly mengikuti papanya. Matanya sempat melirik ke arah Erick.
"Sepertinya kamu menertawakanku barusan, Erick," desis Relly pada pria itu saat berjalan sejajar dengannya. Kemungkinan pri tahu ada apa ini. Senyuman Erick seperti sedang menertawakan tuan mudanya.
"Tidak mungkin, Tuan." Karena masih ada tuan besar, Erick tidak berani menyebut Relly dengan nama saja. Dia perlu menambahkan embel-embel 'tuan'.
"Sungguh menyebalkan jika ternyata hanya aku yang tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang," bisik Relly geram. Erick diam. "Mungkin kamu dan kedua orangtuaku sedang merencanakan sesuatu," bisik Relly lagi. Erick masih diam dan mendengarkan. "Benarkan?" desak Relly, tapi Erick tidak menjawab.
Di depan, Welly menolehkan kepalanya sebentar. Dia mendengar samar-samar suar di belakangnya. Bibirnya juga tersenyum mendengar percakapan barusan.
**
Di sudut pesta, Aska tengah berdiri sambil bersandar pada pohon besar di taman.
"Sekarang dia sudah muncul," ujar Sigi saat melihat Relly keluar dari rumah.
__ADS_1
"Ya. Pemeran utama memang seharusnya muncul di saat genting. Itu namanya pahlawan." Aska menanggapi.
"Kebanyakan nonton anime action, nih," ejek Sigi.
"Tahu darimana aku suka anime?" tanya Aska menoleh pada gadis itu. Heran.
"Kak Sherry."
"Ngomong apa saja dia?" selidik Aska seraya mengernyitkan dahi.
"Enggak banyak."
"Pasti ngomong yang aneh-aneh. Enggak banyak itu apaan?" desak Aska tidak sabar.
"Nona Sigi di harap menghampiri nyonya." Penyampai berita datang menghampiri. Erick memberitahu Sigi untuk bergabung bersama Sherry dan tantenya di depan.
"Oke. Aku ke depan, ya. Sepertinya kakakmu ada di sana."
"Ya. Silakan. Titip Sherry. Kali saja dia pingsan setelah dapat berita mengejutkan itu. Aku akan tetap berdiri disini."
"Soal itu kan sudah ada pihak yang berwajib. Kak Relly. Biar dia saja yang akan menolong kak Sherry jika pingsan nanti," kata Sigi.
"Benar." Aska setuju.
Di tempat pesta, Henry dan Daniel menunggu kemunculan keluarga Welly.
"Akhirnya kalian muncul juga. Apa ada masalah?" tanya Henry melihat raut wajah Relly di belakang papanya, terlihat tidak antusias.
"Tidak. Hanya sebuah candaan saja." Welly tersenyum menanggapi. Daniel melihat cowok yang pernah jadi saingannya itu dengan teliti. Cowok ini sedang murung. Tanpa sadar Daniel juga mendengkus lucu saat melihat Relly. Sama seperti yang di lakukan Erick tadi. Lalu dia mendekat.
"Bersemangatlah," ujar Daniel sambil menepuk pundak Relly. Kepala Relly menoleh sebentar dan tersenyum samar. Setelah berbincang dengan Henry dan Daniel, Welly memberi kesempatan Relly untuk memisahkan diri sejenak.
"Kenapa murung?" tanya Hansel yang melintas. Cowok ini datang juga rupanya. Relly di perkenankan berbaur tapi dengan pengawasan ketat dari Erick.
"Ada banyak hal yang membuatku murung. Termasuk pesta ini," sahut Relly seraya mengedarkan pandangan ke arah seluru penjuru area taman.
"Pesta? Kenapa dengan pesta ini?" Hansel ikut melihat ke sekeliling.
"Aku tidak suka," jawab Relly singkat
"Karena ini terlalu sederhana untukmu yang seorang putra orang penting?" tanya Hansel mencemooh. Relly menatap Hansel lurus.
"Diamlah. Aku sedang badmood." Hansel terkekeh pelan.
__ADS_1
"Negoisasimu dengan Ve tidak berjalan lancar? Aku lihat kamu sempat berbicara dengannya tadi. Ya ... walaupun hanya sebentar."
"Tidak. Kita belum sempat membicarakan apapun kecuali soal aku yang terus saja menghubunginya tanpa ada respon."
"Wahh sayang sekali," sesal Hansel.
"Bagaimana denganmu?"
"Apa? Aku tidak punya obrolan khusus dengannya." Relly mendengkus.
"Tidak ada perubahan juga? Kita berdua sama."
"Tidak. Tidak sama. Kalau kamu salah jalan. Sementara aku belum berjalan. Masih diam di tempat." Hansel mulai terbuka. Sedikit dia mulai mengakui soal tertarik pada gadis cantik bernama Ve.
"Kamu akan diam saja saat keluargaku memaksa Ve tetap jadi tunanganku?" tanya Relly.
"Berhenti membahas itu. Aku bosan." Hansel menunjukkan wajah malas.
Di balik ke ikut sertaannya kembali ke dalam pesta, Relly selalu saja berdebar dan tegang saat papanya mengobrol dengan tuan Henry. Dia selalu berucap, inilah waktunya. Dan jika demikian, dia akan menyiapkan hati untuk mendengar keputusan baru yang di bahas papanya tadi.
Bukan? Tidak?
Berulang kali pula Relly keliru. Mereka berdua tidak mengatakan sesuatu apapun yang berkaitan dengannya dan Ve. Relly melihat ke tempat Sherry dan Ve berada. Mereka masih bersama. Jika memang tidak bisa di hindarkan, bagaimana mereka nantinya?
"Kamu benar tidak mendengar apa-apa soal pesta ini, Erick?" tanya Relly pada Erick yang menjaganya. Dia perlu menyelidiki.
"Aku mendengar bahwa pesta ini adalah rasa syukur tuan besar atas selamatnya dua keluarga di insiden waktu itu."
"Hanya itu?"
"Iya."
Relly mendesah. "Baiklah. Jika memang tidak ada hal lain yang akan di bicarakan, aku yang akan bicara."
"Apa maksudmu?" tanya Erick heran. Mendadak dia juga tidak tenang dengan ucapan tuan mudanya barusan. Sepertinya akan ada sesuatu yang menggemparkan terjadi sebentar lagi.
"Sesuatu yang tidak terduga," sahut Relly dengan sorot mata penuh arti.
"Tunggu. Apa yang akan kamu lakukan?" cegah Erick seraya menarik tangan Relly untuk tidak melangkah.
"Kita lihat saja nanti."
__ADS_1