Diary Sherry

Diary Sherry
Mencoba bertanggung jawab


__ADS_3

...(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku sedang terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth. )...


.......


.......


.......


Terlintas di benak Frans kalau Vermouth terlihat mulai dekat dengan Hansel. Bad boy keren dari kelas sana.


"Tidak. Aku tidak akan coba menghentikanmu untuk terus tergila-gila padaku. Aku tidak punya hak untuk itu. Silahkan saja kalau kau ingin meneruskan atau menghentikan rasa sukamu kepadaku. Itu hakmu. Dan hakku adalah menolakmu atau menerimamu," ujar Relly membuat seisi kelas menaikkan alis bertanya. Ada apa dengan cowok ini?


Guru datang menghentikan perdebatan Relly dan Sherry. Frans kembali ke tempat duduknya.


"Terima kasih, ya ..." bisik Sherry ke Allen yang sudah memberikan ikat rambut kepadanya. Lalu mengikatnya supaya keadaan rambutnya tidak mencolok.


Apaan itu tadi... Tidak akan menghentikanku untuk terus tergila-gila padamu? Maksudnya kamu tidak terganggu dengan tubuh ini yang selalu jadi penggemar abadimu? Huh!



"Ada apa dengan rambut kamu?!" teriak Elda histeris saat menjemput Sherry di sekolah. Sherry hanya menengok sebentar tanpa ekspresi lalu masuk kedalam mobil. Walaupun di ikat, Elda yang sudah menemani Vermouth sangat lama paham ada yang salah dengan rambut itu.


Ikat rambut tadi sengaja dilepas Elda jadi terlihat lagi rambutnya yang amburadul. Elda penasaran dengan bentuk aneh rambut yang di kuncir itu. Setelah di lepas Elda justru tambah histeris dan tidak percaya dengan bentuknya.


"Kenapa bisa rambut indah Ve jadi begini?" Elda memegang rambut itu dengan mulut ternganga. Dia syok berat melihat keadaannya.


"Ini untuk menyelamatkan Ve dari para pembully."


"Bully? Apa Ve di bully?" tanya Elda serius.


"Ya. Aku menyelamatkannya dengan memotong rambut ini." Maksud Sherry berbangga hati. Tapi Elda justru marah.


"Apa?! Kamu sengaja memotongnya sendiri? Sherry, kamu sangat tidak masuk akal!!" Elda semakin histeris. Sherry perlu menutup telinga untuk meredam amukan Elda.


Tok! tok! seseorang mengetuk kaca mobil. Membuat Elda perlu menghentikan amukannya dan membuka kaca mobil.


"Selamat siang." Seseorang membungkukkan badan di samping mobil Elda. Mata Elda mengerjap heran. Sherry terkejut.


"Siang. Ada apa?" tanya Elda ramah.


"Bisa bicara dengan Ve sebentar?" Elda menengok ke belakang. Sherry sudah beringsut menyembunyikan tubuhnya. "Oh, teman Ve Ada perlu apa?"

__ADS_1


"Aku ingin membicarakan sesuatu." Elda menengok kebelakang lagi. Sherry memohon untuk tidak menuruti permintaan cowok itu sambil bisik-bisik.


"Ini sangat penting," pinta Relly sungguh-sungguh. Elda tidak sanggup lagi untuk menolak. Dia menekan tombol pembuka kaca jendela mobil belakang. Sherry menjerit tertahan dengan suara tercekat di kerongkongan. Relly sedang menunggu kaca mobil turun dengan sabar. Sherry segera memperbaikinya duduk dengan benar.


"Turunlah. Aku ingin bicara denganmu," kata Relly saat melihat Sherry.


"Aku mau pulang. Aku sedang dalam perjalanan penting," kata Sherry gawat. Elda melihat ke kaca spion mobil dengan membelalakkan mata. Menanyakan hal penting apa yang di maksud Sherry.


"Turunlah dan ikut denganku. Aku akan bertanggung jawab apa yang sudah mereka lakukan kepadamu," ujar Relly tidak mau mendengar alasan Sherry. Matanya memandang dengan sorot mata yang lembut. Sorot mata yang belum pernah di temukan Sherry semenjak masuk dalam tubuh Ve. Elda mencoba mendengarkan baik-baik percakapan mereka berdua. Karena dia jadi penasaran, apa yang sedang mereka berdua perbincangkan. Ini pengalaman pertama Elda menjumpai seorang pemuda sengaja mendatangi mobilnya demi menemui Ve.


"Tidak perlu." Sherry mengibaskan tangannya.


"Aku memaksamu." Kali ini Relly mengatakannya dengan serius. Sherry mengerutkan kening.


"Turunlah Ve. Aku bisa menunggu," ujar Elda membuat Sherry mendelik tidak setuju dengan ucapannya yang seperti mendukung pernyataan Relly. Namun akhirnya dia turun juga dari mobil.


"Ayo ikut denganku," ucap Relly masih memaksa.


"Aku bilang tidak perlu. Aku tidak apa-apa," sanggah Sherry yakin. Relly menghela napas.


"Aku coba menjadi baik. Jadi bantu aku. Akan terasa tidak nyaman bila aku diam saja saat mengetahui bahwa dirimu jadi begini karena aku." Telunjuk Relly menunjuk rambut Sherry yang rusak, juga pakaiannya yang kotor.


"Kamu bisa mengabaikannya. Aku sudah tidak ingin menyalahkanmu," kata Sherry dengan nada bicara biasa. Tanpa kesal ataupun marah.


"Maaf. Saya ingin mengajak Ve sebentar. Bolehkah?" Relly cukup sopan. Dia meminta ijin ke Elda yang masih berada di dalam mobil. Elda melihat ke Sherry. Gadis itu melebarkan mata memberi kode.


"Kamu ingin aku tinggal, Ve?" tanya Elda. Kode Sherry tidak tersampaikan.


"Terserah," jawab Sherry pasrah


"Baiklah. Satu jam lagi kita bertemu lagi. Tidak bisa lebih. Ve akan terkena masalah bila itu terjadi," kata Elda memperingatkan Relly. Pemuda ini mengangguk yakin.


"Terima kasih." Lalu dia menuju ke motor yang di parkirnya tak jauh dari mobil.


"Pakailah. Kamu harus menaiki motorku," Relly menyerahkan helm ke Sherry. Cowok ini sudah mempersiapkan semua rupanya. Sherry menerimanya dengan menipiskan bibir. Dia merasa aneh harus didikte oleh cowok itu.


"Kamu tidak merasa aneh terus saja mendesakku mengikutimu? Padahal selama ini kamu bersikap dingin karena aku mengikutimu," dengus Sherry sambil menaiki sepeda motor Relly.


"Iya, aku merasa aneh. Namun biarkan saja," jawab Relly seenaknya yang membuat gadis ini berpura-pura memukul kepala Relly dengan kepalannya sambil menggerutu kesal. Sherry memperhatikan jalanan dari atas motor Relly. Kemudian motor berhenti di depan sebuah salon. Salon yang lumayan besar. Sherry turun dan membuka helm.


Maksudnya ini bertanggung jawab? Kalau hanya potong rambut sih aku juga bisa.

__ADS_1


"Sini." Tangan Relly terulur. Sherry hanya melihat telapak tangan itu bingung. "Helm kamu," lanjut Relly. Ow ... Sherry menyerahkan helm. Lalu mereka masuk.


Mbak Betty tersenyum melihat kedatangan Relly bersama dengan seorang cewek. Sherry tersenyum menyapa saat Mbak Betty mulai memperkenalkan dirinya sesaat kemudian memeriksa rambut Sherry.


"Memang agak kasar cara potongnya. Siapa yang memotong?" tanya Mbak Betty. Sherry diam. Relly yang bersandar di dinding memandang ke arah Sherry yang duduk di depan kaca.


"Seseorang yang mulai tampak tidak punya akal. Sedikit nekat dan serampangan," sahut Relly. Sherry melihat dari pantulan kaca kalau cowok itu sedang bermain dengan gadgetnya.


Sialan. Apakah dia sudah tahu itu aku makanya mengatakan itu dengan gampangnya. Kenapa aku merasa dia sedang memakiku.


Mbak Betty masih memeriksa rambut panjang itu.


"Aku yakin kamu sangat mengenalnya. Kamu menyebutkannya dengan rinci gambaran pemotong rambut indah ini." Mbak Betty berdecak menemukan ide. Merasa sudah bisa mulai memotong rambut.


"Tidak. Aku tidak begitu mengenalnya."


"Dia orang baru?" tanya Mbak Betty ramah.


"Bukan. Dia hanya orang lama yang mulai terlihat seperti orang baru." Kali ini Relly mengatakannya dengan nada suara lembut. Dia mulai duduk di atas sofa yang terletak di belakang Sherry.


Kenapa lagi-lagi Sherry merasa Relly sedang membicarakan dirinya? Sherry mengalihkan pandangan ke arah lain saat Relly mulai melihatnya lagi dari pantulan kaca.


Woi, woi, woi ... Kenapa aku memalingkan muka? Sherry mencoba fokus membaca majalah fashion yang di sediakan salon. Potong rambut sudah selesai.


"Dia cantik, pantas saja kamu mau repot-repot membawanya kesini," bisik mbak Betty setelah selesai memotong rambut Sherry sambil mendekati Relly dan tersenyum menggoda.


"Aku tidak butuh cantik," sanggah Relly sambil memainkan ponselnya.


"Jadi paras cantik itu tidak berguna?" tanya Betty mulai gencar meledek Relly.


"Cantik kalau enggak bikin nyaman ya percuma."


"Lalu karena apa nih yang membuatmu sampai harus membawanya datang kesini? Ini bukan dirimu. Kamu yang biasanya tidak akan pernah mengurusi hal semacam ini. Sangat tidak perlu." Wanita yang berumur sekitar 25 tahun itu gencar bertanya.


"Penasaran," tegas Relly. Betty tersenyum melihat Relly sedang ingin mengenal seorang gadis. Sherry sedang mematut diri di cermin.


"Ayo cepat pulang. Berapa biayanya, kak?" ajak Sherry seraya menanyakan biaya memotong rambutnya. Sungguh tidak ada i'tikad baik si Relly ini. Dia yang membawa Sherry kesini, tapi membiarkan Sherry menanyakan biayanya.


"Tidak untuk teman Relly kali ini aku tidak memungut biaya," sahut mbak Betty sambil tersenyum menatap Sherry yang mengerjap senang.


"Jadi gratis niih... Terima kasih kakak." Hanya karena gratis, Sherry langsung berubah ramah. Sangat jelas sekali kekuatan gratis bagi Sherry. Yuhuu!!

__ADS_1



__ADS_2