Diary Sherry

Diary Sherry
Vermouth_Mencari mobil yang di kenal


__ADS_3

..."Aku tidak menyangka kamu akan menemukan gadis ini di belakang sana," kata Lido sambil terus saja memperhatikan Sherry yang melangkah dengan tangan mereka yang berpegangan. Bukan, tetapi Relly yang terus saja memegang tangan Sherry karena takut gadis itu akan kabur. Jika seperti ini mereka berdua terlihat seperti pasangan yang baru saja jadian....


..."Aku juga tidak menduga menemukannya, disaat aku sudah berpikir dia sedang menyelesaikan urusannya di suatu tempat." Sherry mengikuti Relly dengan duduk di sampingnya....


...Saat itu seorang pria yang menabrak Vermouth ada di luar cafe. Dia sedang berbicara dengan seseorang yang duduk di dalam mobil. Sherry yang duduk di dekat dinding kaca melihat dengan mata melebar. Tanpa di komando, kaki Relly dan Sherry segera keluar dari cafe. Mengejar laki-laki itu....


...[ Episode Sebelumnya ]...



(Aku Sherry. Gadis yang mengalami sebuah takdir aneh. Jiwaku tertukar dengan seorang gadis lain. Saat ini jiwaku terperangkap dalam tubuh seorang gadis bernama, Vermouth.)


"Siapa orang yang kau temui tadi?"


"Dia orang paruh baya yang juga bertanya tentang siapa yang menyuruh aku menabrakmu. Aku tidak tahu dia orang perusahaan Smart atau bukan. Yang aku tahu dia juga punya banyak uang. Tidak banyak yang di tanyakannya. Pria itu tidak menuntutku memberikan semua informasi yang aku punya, dia menanyakannya dengan tenang." Kepala Sherry segera melihat ke sekeliling. Mencari tahu apa orang itu masih ada di sekitar sini. Mobil yang dirasa pernah di lihatnya.


"Apa saja yang di tanyakannya?"


"Tentang kecelakaan anak ini. Hanya itu." Pria itu menunjuk Sherry.


"Apakah orang ini bertanya siapa yang melakukannya?"


"Tidak. Dia hanya terfokus dengan kabar dia saja."


"Sebutkan ciri-ciri orang itu?" tanya Relly yang memaksa Sherry untuk tetap di tempat tanpa pergi kemana-kemana. Gadis itu ingin berlari setelah mendengar bahwa yang di temuinya tadi adalah orang yang juga sedang menyelidiki kasus kecelakaannya. Namun saat laki-laki ini menyebutkan ciri-ciri dari pria itu, mereka berdua tetap tidak mengenalnya.


Ada dua orang yang patut di ketahui siapa mereka. Pertama, orang yang mencelakai Vermouth. Kedua, orang yang menelusuri kecelakaan ini. Untuk orang pertama jelas berniat buruk. Namun untuk orang yang kedua, belum di ketahui apa tujuan sebenarnya.


"Kau memberitahunya, bahwa kita juga sedang mencari informasi?" tanya Relly yang sadar, kalau pria ini bisa saja mengatakan tentang dia dan Sherry untuk mendapatkan uang.


"Tidak. Orang itu memang menanyakannya tapi aku menutup mulut tidak memberitahu."


"Kau menunggu uang datang dan akan memberi informasi padanya." Relly tahu maksud laki-laki ini.


"Tentu saja." Orang itu terkekeh tapi kemudian diam saat Relly menatapnya serius." Tidak, tidak. Aku tidak akan membocorkan informasi pada orang lain. Aku menutup mulut."


"Berikan semua informasi yang kau punya. Jangan berbelit-belit." Relly tahu lelaki ini masih punya banyak informasi lain. Tangannya menggaruk tengkuk lehernya sendiri.


"Apa kau pernah di serang belakangan ini?" tanya laki-laki itu pada Sherry.


"Apa maksudmu?" tanya Sherry.


"Sebenarnya aku di tawari untuk menyerangmu lagi, tapi sebelum aku menyetujui, sepertinya ada orang lain yang lebih cocok."


Sherry teringat pria yang menyerangnya di tempat kecelakaan itu.


"Ya. Aku pernah di serang."


"Pernah? Kenapa kau baik-baik saja?" tanya penabrak itu heran.


"Apa kau berharap aku akan babak belur, ha?!" Sherry mengangkat tangannya untuk memukul. Laki-laki itu meringis sambil melindungi diri. Relly hanya melihat. Sherry mendengkus. Rupanya Sherry hanya menggertak saja. Orang ini berguna sebagai mesin informasi.


"Aku bukan berharap. Hanya saja kau tampak aneh dari biasanya. Aku tahu bagaimana tentangmu karena aku sudah menyelidikimu." Relly dan Sherry menoleh bersamaan. "Aku heran kau bisa kuat, anak ingusan. Karena informasi yang aku dapat, kau bocah kecil yang penakut. Aku tidak menyangka aku bisa di hajarmu." Matanya melebar karena gemas dan kesal telah di kalahkan bocah. Seorang gadis pula.


"Jadi kau juga menyelidiki soal dia ya?" tanya Relly menunjuk Sherry.


"Tentu saja. Aku tidak boleh salah target kan?"


"Jadi orang itu menyuruh orang baru lagi sekarang." Relly bersidekap. "Ada informasi lain?"


"Tidak. Hanya itu."


"Baiklah, kau boleh pergi."

__ADS_1


"Tidak ada uang sama sekali kah? Aku juga butuh makan." Laki-laki itu tidak ingin pergi.


"Kau mengancam?"


"Tentu Tidak. Aku hanya sedang mengemis. Berapapun yang kau beri, tidak masalah. Berilah aku uang." Sherry mengkerucutkan bibir. Ada yang membuatnya gusar. Relly mengeluarkan selembar uang dari dompetnya. Mata laki-laki itu berbinar.


"Ternyata berbisnis dengan anak muda, menyenangkan juga." Laki-laki itu terkekeh. "Aku yakin kau bisa menemukan dalang penyerangan ini. Juga sepertinya kau orang yang mampu melindungi gadismu itu. Yah... meskipun tampaknya gadis itu juga terlihat kuat. Terima kasih atas uang sakunya anak muda!" laki-laki itu pergi meminggalkan Relly yang harus menghadapi kegusaran Sherry.


"Aku tahu mobil tadi. Aku pernah melihatnya." Sherry mengernyitkan dahi sedang berpikir. "Seandainya kamu tidak menahanku waktu itu, aku rasa aku sudah bisa menemukan siapa sebenarnya yang menyuruh mereka," sungut Sherry menyalahkan Relly. Karena waktu itu Relly memang yang menahan Sherry untuk tidak mengejar.


"Aku lebih memilih menyelamatkanmu dari kelaparan daripada harus menemukan orang yang ingin mencelakai Vermouth. Karena itu lebih berhubungan dengan dirimu yang sebenarnya daripada soal penyerangan ini." Mata Relly serius.


"Sekarang aku jadi Vermouth. Apapun yang terjadi, aku juga perlu memperhatikannya. Aku juga harus peduli."


"Pikirkan kesenanganmu dulu, Sher. Kau bisa abaikan Vermouth." Mata Sherry melihat Aska dan Vermouth keluar cafe. Mungkin Ve sudah memberitahu Aska untuk kabur sekarang.


Sepertinya aku tidak bisa.


"Kalau memang tidak bisa, sepertinya aku yang harus menyenangkanmu. Silahkan lakukan apapun yang menurutmu sesuai. Aku akan memperhatikanmu. Jadi saat ada celah dirimu lelah, lemah dan sedih aku akan menutupinya." Relly mengusap kepala Sherry dengan sayang. "Ayo masuk." Selalu saja Relly peduli padanya. Itu menyenangkan juga menyesakkan.



...****************...


Seperti kata Relly, Sherry harus lebih sering ke perusahaan Smart. Dengan begitu dia mungkin bisa menemukan beberapa petunjuk. Pulang sekolah ini, Sherry berencana ke perusahaan. Dia sudah siap melangkah keluar dari kelas saat kelas berakhir.


"Kita berangkat bersama-sama." Relly bersiap melangkah untuk menemani.


"Aku dan kamu?" tanya Sherry menghentikan langkah.


"Kenapa? Kau keberatan jika kutemani?" tanya Relly ikut berhenti.


"Tidak."


Mereka masih berada di dalam kelas, yang dimana masih ada beberapa murid di sini. Frans yang akan memanggil Relly tidak jadi, karena mereka terlihat sedang ingin berdua. Tak lama kelas sepi. "Kamu jarang menjawab saat aku bertanya soal pria itu. Apakah kamu masih menyimpan rasa padanya?"


"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin orang memperhatikan kita saat berdua di kantor. Orang yang menyerangku mungkin saja berada disana," ucap Sherry.


"Maka dari itu aku menemanimu."


"Jangan. Ini akan terlihat seperti penyelidikan. Itu bisa membuat orang yang menyerangku, waspada. Kuingin hanya terlihat seperti putri yang datang berkunjung."


"Aku khawatir, Sherr." Relly memberitahu alsannya ingin menemani gadis ini. Raut wajah itu memang sedang khawatir.


"Aku akan meneleponmu jika terjadi sesuatu. Aku janji," ujar Sherry meyakinkan. Relly menghela napas.


Sherry sengaja datang ke kantor dan langsung menuju area parkir. Berusaha menemukan mobil yang dilihatnya kemarin. Seorang security menghampiri.


"Sedang apa, Nona?" tanya security itu tahu bahwa Sherry adalah putri pemilik perusahaan.


"Ah, tidak. Hanya melihat apakah mobil kak Daniel dan papa ada disini? Jika begitu, aku tahu mereka ada di ruangannya." Sherry memasang senyum.


"Anda bisa meneleponnya, Nona," kata security itu tersenyum. Seperti menertawai tingkah Sherry.


"Oh, iya." Sherry berpura-pura menertawakan dirinya sendiri. Karena takut mencurigakan, Sherry langsung menuju lift ke kantor papa.


Daniel melihat Sherry yang muncul dari balik pintu ruang kerjanya. Sedikit tertarik atas kedatangan gadis ini, tapi kemudian mengurungkan niat saat ingat bahwa adik tirinya itu sudah jadi kekasih pemuda lain.


Tanpa sadar Sherry terpaku melihat lelaki itu tidak jadi beranjak dari tempat duduknya. Sedikit kecewa yang tidak perlu muncul. Sherry akui, dia sempat menaruh hati pada lelaki ini. Kakak tiri Vermouth. Lelaki ini juga sepertinya selalu memberi perhatian yang lebih dari sekedar adik tiri padanya. Namun Sherry sadar sepenuhnya, mereka hanya tokoh khayalan dalam dunia ajaib ini.


Dunia dimana akan berakhir saat jiwanya kembali ke tempat asalnya. Kaki Sherry berjalan menghampiri ruang kerja Daniel. Lelaki itu sedikit terkejut dengan kehadiran gadis ini.


"Halo, Daniel," sapa Sherry.

__ADS_1


"Halo. Kamu baru pulang sekolah?" tanya Daniel berusaha bersikap tenang. Padahal dalam hati dia ingin memeluk gadis yang mencuri hatinya.


"Ya."


"Kamu terlihat sehat."


"Benarkah? Aku makan banyak rupanya." Itu tidak bisa di bantah. Bersama Relly membuatnya banyak makan. Cowok itu selalu saja menyuruhnya makan dan makan. Anak pengusaha itu memenuhi perutnya dengan berbagai makanan. Daniel melihat itu. Melihat mata Sherry yang terlihat menerawang jauh.


"Sepertinya kau sedang memikirkan seseorang. Aku yakin bukan aku," tegur Daniel menunjukkan bahwa dia tidak suka bahwa yang berada dalam benak Sherry bukan dirinya. Dia harus menerima itu.


"Ya. Aku memikirkan Elda," jawab Sherry beralasan. Entahlah kenapa dia melakukannya. Dia merasa tidak ingin Daniel terlihat kecewa. Bibir Daniel mendengkus. Dia sangat tahu Sherry berbohong. Sherry baru menyadari. Keberadaan Relly, membuatnya menjauh dari Daniel dan... Hansel.


Bagaimana kabar cowok itu?


Datang ke ruangan Daniel malah membuatnya memikirkan dua cowok itu. Tiba-tiba Sherry menggaruk rambut belakangnya dengan kesal.


...****************...



Di tempat lain pada jam-jam pulang sekolah. Hansel masih saja ingin tahu soal kehidupan Sherry. Dia sengaja mendatangi sekolah Vermouth dan Aska. Dexy dan Elliot kali ini ikut. Karena sudah lama Hansel kesana kemari tanpa mereka. Cowok ini seakan punya dunia sendiri yang tidak di ketahui mereka berdua.


"Aku pikir kau sedang memburu seseorang dari sekolah lain dan ingin menghajarnya, ternyata kau sedang memburu seorang gadis, Han," ujar Elliot yang menemukan senyum di bibir Hansel saat seorang gadis muncul.


"Ya. Aku punya kebiasaan baru. Kalian boleh pergi bermain tanpaku," sahut Hansel menanggapi keheranan teman-temannya.


"Tidak. Sepertinya disini juga banyak cewek cantik." Rupanya Dexy enggan pergi. Elliot terpaksa mengikuti. Dexy menarik Elliot untuk mendekati beberapa cewek yang melintas di depan mereka. Kali ini memang Hansel tidak menunggu Ve di depan gerbang. Dia memarkir motornya agak jauh dari gebang.


Tidak seperti biasa, kali ini Ve tidak mundur dan berusaha menghindari. Dia tetap berjalan meskipun dengan wajah menunduk karena tahu kemunculan Hansel. Karena dia bisa menyadari, apa saja yang di lakukan cowok-cowok ini pasti karena Sherry. Mereka peduli pada tubuh ini, bukan pada dirinya.


Vermouth menerima bahwa mereka lebih memperhatikan Sherry. Hatinya berusaha menerima kenyataan. Entah itu jiwanya berada dalam tubuhnya sendiri atau tidak, orang-orang lain tetap tidak memperhatikannya.


"Kamu sendirian, Ve?" tegur Hansel.


"T-tidak. Aska sebentar lagi datang mengantarku pulang." Walaupun Vermouth kadang masih menundukkan kepala karena gugup, dia sudah bisa bersikap lebih baik. Tidak menghindar. Hansel berdiri di sampingnya.


"Kamu mulai berani menghadapiku. Kamu tidak lagi takut padaku."


"Aska sering berkelahi. Aku mulai terbiasa."


"Dia jagoan disini? Aska itu?" tanya Hansel. Vermouth menatap Hansel dengan mata menunjukkan keterkejutan. "Aku bukan ingin menghajarnya. Aku tidak punya masalah dengannya." Vermouth langsung menunduk.


"Aku tidak tahu. Aku hanya sering melihatnya melindungiku dari para berandalan itu."


"Kenapa para berandalan sering ingin menyerangmu?"


"Karena Sherry sepertimu," kata Vermouth membuat Hansel mengernyitkan dahi.


"Sepertiku?" tanya Hansel ulang karena heran. Namun dia teringat soal Edgar. Dia berpikir soal itu. Vermouth melihat ke arah pintu gerbang. Aska tidak muncul. Matanya melihat ke arah ponselnya. Tidak ada pesan dari Aska. "Aska tidak muncul. Aku bisa mengantarmu pulang."


"Tidak," jawab Vermouth segera. "Aska akan marah. Dia tidak suka kamu dekat dengan tubuh ini. Bukankah Sherry tidak mau identitas aslinya ketahuan oleh orang-orang dari kehidupanku?" Vermouth panik.


Hansel tersenyum ramah. "Aku tahu itu." Vermouth mengerjap. Cowok berandalan yang di takuti di sekolahnya ini ternyata punya senyum yang manis. Dengan senyuman itu, Hansel tidak semenakutkan seperti apa yang di bayangkan dulu olehnya.


"Ada yang salah?" tanya Hansel merasa di perhatikan.


"T-tidak ada." Vermouth terkejut dan melihat ke arah lain. Aska keluar dari gerbang sekolah. Setelah berjalan agak menjauh dari gerbang, cowok-cowok yang ada di pinggir jalan menghampiri Aska dan berdiskusi. Melihat ini, Hansel tahu mereka sedang apa. Wajah serius dan tegang yang meliputi mereka sangat di pahami olehnya. Mereka hendak berkelahi.


Aska menoleh dan menemukan Ve sedang bersama Hansel. Lagi-lagi_saat melihat Hansel, cowok-cowok itu langsung berdengung soal ketenaran Hansel sebagai jagoan.


"Masih saja muncul tiba-tiba. Kalau kau peduli pada Sherry, sebaiknya kau tidak selau muncul disini dan perhatikan saja dirinya di sana," sembur Aska.


Ya. Lebih baik Hansel mendekati Sherry, bukan kesin, gumam Vermouth. Hansel melirik. Menatap Vermouth yang menunduk merasa terabaikan.

__ADS_1



__ADS_2